Rabu, 02 Maret 2016

Yey ...Najwa Shihab Jadi Duta Baca Indonesia, Semangat Baru untuk Giat Baca



Sebuah informasi mengenai Najwa Shihab tertuliskan dalam status facebook beberapa teman, intinya mereka menginfokan bahwa sosok Najwa Shihab telah terpilih menjadi Duta Baca Indonesia (DBI).

 Oh, ya … tambah salut saja dengan sosoknya. Sebelumnya, saya memang mengidolakan sosoknya, karena berawal dari acara TV yang cukup popular itu, yaitu Mata Najwa. Kemasan acara yang menarik, terasa pas dengan dengan penampilan Najwa Shihab sebagai pembawa acaranya. Dengan ciri khas mata najwa yang selalu bisa menatap tajam isu-isu kritis yang dibawakan oleh setiap narasumber yang hadir, membuatku tercengang ketika menyaksikanya.

Karena info dari beberapa teman di FB tersebut hanya sekilas saja, tentunya saya ingin tahu lebih jauh tentangnya, yakni tentang sosoknya yang terpilih menjadi Duta Baca Indonesia. Apalagi, saya baru pertama kali tahu tentang hal ini, apa sebenarnya DBI?

Langsung saja, tidak perlu pikir panjang untuk segera mencari artikel terkait. Beberapa artikel teratas dari kata kunci yang telah saya tuliskan di mesin pencari langsung saya baca, diantarannya terkait dengan DBI itu sendiri, lalu artikel dari Metro News dan Tribun News yang membahas tentang terpilihnya Najwa Shihab jadi Duta Baca Indonesia yang selanjutnya, setelah Tantowo Yahya dan Andi F. Noya. Dengan ditambah artikel pendukung lainya, saya jadi tahu tentang berita ini.

Dalam sederet artikel yang berhasil saya dapatkan, juga ada video yang belum terlalu lama diunggah. Saya niatkan untuk juga menyaksikan isi dari video tersebut. Video tersebut merupakan cuplikan salah satu acara Metro TV dengan tuan rumah seorang presenter cantik, Widya Saputra. Program tersebut mengundang Najwa Shihab, yang baru saja mendapat pengukuhan dari PERPUSNAS pada tangal 01 Maret kemarin untuk menjadi Duta Baca Indonesia. Sangat menarik, karena beberapa pertanyaan dilontarkan oleh presenter berkaitan dengan kebiasaan membaca yang tengah ia lakoni dan tentunya tentang rencana kedepan selama menjadi DBI ini. 

Berkaitan dengan video tersebut, saya tengah berhasil mentraskrip perbincangan diantara keduannya. Sangat menginspirasi ketika Najwa Shihab menceritakan tentang kebiasaan membaca yang telah ia lakukan, lalu berkaitan dengan gebrakan beliau kedepan untuk memupuk minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. Berikut traskrip yang berhasil saya abadikan:


Najwa : “Halo Widya (Sambil berjabat tangan dengan presenter sesaat setelah

memasuki ruangan).”


Widya : “Halo Najwa, terima kasih dan juga selamat tentunya akhirnya

terpilih, mengalahkan ratusan kandidat untuk menjadi duta baca

Indonesia.”


Najwa : “Terima kasih, terima kasih sudah diundang untuk berbicara tentang

topik yang menurut saya super penting…”


Widya : “Super penting …”


Najwa : “Super penting …”


Widya : “Iya, ada satu nih yang dari tadi saya baca mengenai speech Najwa

setelah terpilih menjadi Duta Baca Indonesia, perlu satu buku saja

untuk jatuh cinta pada membaca. Pada saat itu jatuh cinta pada buku

apa sih Najwa?


Najwa : “Saya sebetulnya jatuh cinta pada membaca sebelum bisa membaca,

karena dikenalkan oleh orang tua. Jadi dibacakan buku sewaktu kecil

dulu. Sebelum bisa membaca sudah dikenalkan buku, ketika baru

mulai belajar membaca, menjadi hal yang natural begitu, menjadi

kebiasaan, karena sehari-hari rumah selalu penuh dengan buku,

keluar rumahpun selalu mencari buku, jadi saya rasa memang

pengaruh keluarga, kebiaasaan, tuntunan keluarga itu betul-betul

menjadi salah satu faktor penentu mengapa kita bisa jatuh cinta pada

membaca. Cuman … cuman …betul nih saya merasa  tidak perlu

banyak-banyak, kalau menemukan buku yang tepat, pasti kemudian,

yaa.. orang jatuh cinta, ga mau lepas ya …iya kan? (diiringa tawa olah

Najwa dan presenter)


Widya : “Hmmm, Okay … Ya, ternyata membutuhkan satu buku saja untuk

jatuh cinta. Nah, sekarang sudah menjadi duta baca nih, tentunya aka

nada apa ya namanya …gerakan-gerakan yang akan dilakukan oleh

seorang Najwa untuk mengkampanyekan Gerakan Gemar Membaca,

karena data ini berbicara bahwa Indonesia ternyata cukup

memprihatinkan data minat bacanya. Jadi, apakah kaum mudanya

dulu yang mungkin selama ini sudah terpapar buku -buku sekolah

atau mungkin malah generasi-generasi semi tua seperti kami-kami ini

yang sudah jarang terpapar lagi buku bacaan, Najwa?”


Najwa : “Menurut saya, ini harus menjadi gerakan yang dilakukan oleh semua

orang, bahwa ya memang duta baca mempunyai misi bekerja sama

dengan …, nah, saya ditunjuk oleh perpustakaan nasional untuk

mengkampanyekan gerakan membaca, tapi saya merasa ini

sesungguhnya kebiasaan yang harus dengan mudah bisa dilakukan

semua kalangan. Tadi, menyebutkan soal data-data yang memang

sangat memprihatinkan. Emmm, minat baca?


Widya : “Iya.”


Najwa : “UNESCO tahun 2012 ada data. Di tahun 2012, 0,001, jadi hanya dari

seribu penduduk hanya satu yang suka membaca, yang serius

membaca. Kita bandingkan misalnya dengan negara-negara maju

yang datanya itu angkanya 0,45 artian diantara 45 ada satu yang

gemar membaca. Kita juga ada lagi penelitian, misalnya di Eropa itu

rata-rata anak-anak dalam setahun mampu membaca 25 buku. Di

Singapura, di Jepang 16-17 buku. Di Indonesia rata-rata nol buku.

Kalau dibuat rata-rata, ini sesuatu yang mebuat kita miris. Belum lagi

kalau kita mmebandingkan …. tidak usah jau-jauh di dunia, di Asia

…Asia Timur, tingkat terendah dari 65 Negara Asia Timur,

kemampuan dan minat baca kita. Jadi memang secara umum … Jadi

tradisi membaca kita memang sangat lemah dan menurut saya ini

memang tantangan yang berat untuk semua karena sesungguhnya

kemampuan untuk membaca itu mempengaruhi begitu banyak skill-

skill lain… Membaca itu bukan hanya merangkai huruf ya?"


Widya : “Iya.”


Najwa : “Menurut saya, … Kita membedakan, kita disebutkan 95 persen kita

sudah melek aksara, sudah tidak disebut buta huruf, tapi itu hanya

mengenali  huruf. Kemampuan membaca itu kan untuk bisa membuat

hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain, menemukan

makna dari teks yang terpampang. Errr, mengambil menggunakan

logika untuk mencacah ide-ide dalam  bacaan. Membaca itu seperti

itu, menemukan ide, inspirasi dalam kalimat yang tersusun.

Kemampuan membaca ini yang masih sangat jauh dan menurut saya

memang …ehmmm."


Widya : “Harus dirubah budaya baca Indonesia …”


Najwa : “Iya, memang ada beberapa hal yang memang sudah dilakukan,

misalnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mulai Bulan Juni tahun 2015, wajib anak sekolah membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran harus membaca. Kemudian, juga ada gerakan-gerakan lain yang di banyak tempat , karena menurut saya kita tidak bisa tergantung pada institusi tertentu, pada PERPUSNAS misalnya, kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Pendidikan tinggi. Ini harus menjadi gerakan semesta yang dilakukan oleh semua orang dan  saya rasa makin kesini makin banyak komunitas-komunitas di masyarakat yang memang peduli dan melakukan itu dengan serius, mereka membentuk perpustakaan-perpustakan kecil …”


Widya : “Di daerah-daerah juga ya?”


Najwa : “Di daerah-daerah, mereka membuat perpustakaan keliling, ada

gerakan minggu berbagi, di etiap hari minggu membaca bersama. Jadi,

gerakan-gerakan yang menurut saya memang harus terus di dorong,

karena sekali lagi ini urusan bersama , dan tidak bisa hanya pada satu

orang …"


Widya : “Atau institusi terentu ya …"


Najwa : “Institusi tertentu…"


Widya : “kita akan nantikan gerakan-gerakan revolusi apa yang dilakukan

oleh najwa Shihab untuk membangkitan …."


Najwa : “Tentunya bersama Widya… bersama semuanya karena ini urusan

kita semua."


Widya : “Okay, terima kasih Najwa Shihab."


Najwa : “Terima kasih sudah diundang."


Widya : “Duta Baca Indonesia sukses sampai 2020 nanti, semoga terpilih lagi.”


Ada beberapa poin penting yang saya dapatkan dari jawaban Najwa Shihab atas pertanyaan yang diberikan. Pertama, kebiasaan membaca akut beliau telah ditanamkan oleh keluargannya sejak kecil. Jadi, dalam hal ini keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk menumbuhkan minat baca. Kedua, meskipun masyarakat Indonesia tingkat melek aksara sangat tinggi, tetapi hal tersebut tidak sebanding dengan minat bacanya. Gebrakan apa yang akan dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebt?. Ketiga, memang beberapa perencanaan program gemar membaca sudah dijalankan, namun yang lebih penting lagi adalah kesadaran dari pribadi untuk juga membiasakan budaya baca."
Saya tutup tulisan saya kali ini dengan ucapan selamat kepada Duta Baca Indonesia yang baru, Najwa Shihab. Congratulation …. Semoga bisa jadi semangat baruku untuk lebih bisa meningkatkan kebiasan membaca saya, setelah Kak. Najawa Shihab yang jadi DBI-nya, he he he ^__^



 Najwa Shihab ketika diwawancarai mengenai terpilihnya 
Duta Baca Indonesia di salah satu program talk show Metro TV

Thailand, 02-03-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...