Senin, 05 Juni 2017

INSPIRASI KOPDAR SAHABAT PENA NUSANTARA (SPN) #1



Bersama Sahabat Kopdar IV SPN di ITS Surabaya

Kopdar selanjutnya komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) berlangsung pada hari Minggu, 21 Mei 2017 kemarin. Senang sekali tentunya saya bisa hadir di kopdar keempat SPN. Ini adalah rejeki.

Ajang kopdar ini memang begitu saya tunggu-tunggu. Saya semakin penasaran karena kopdar yang keempat SPN dihelat di kampus ITS Surabaya. Ya, kampus bergengsi yang berada di Kota Pahlawan ini yang menjadi tuan rumahnya.

Pengalaman kopdar SPN ketiga di Ponpes Darul Istiqomah yang pertama kali saya ikuti lalu juga menghadirkan buah candu untuk bisa bergabung lagi di kodpar selanjutnya. Bagi saya kopdar ini salah satu yang istimewa bersama SPN.

Bagaimana tidak, bermula dari komunikasi maya lewat grup WA itu dapat terjalin hubungan persahabatan literasi yang terjalin erat dan terbina hangat di kehidupan nyata. Ini sangat berkesan dan luar biasa sekali.

Kali ini, lokasi kopdar yang tidak dekat dari tempat tinggal, saya memutuskan untuk bermalam sebelum menjelang acara. Sesuai dengan informasi sebelumnya bahwa penginapan untuk peserta kopdar berlokasi di asrama haji Sukolilo yang tidak jauh dari ITS. Saya pun memutuskan untuk menginap disana.

Saya yang semula janjian sama sepupu yang sedang sekolah di Surabaya gagal. Ternyata waktu hari-H ia tidak diijinkan keluar dari asrama kampus. Akhirnya saya berangkat sendiri. Jarak Kediri-Surabaya yang katanya hanya 3-4 jam, saya tidak naik bus. Saya ingin naik motor saja.

Saya berangkat selepas Dhuhur, sekitar jam 12 lebih. Panas perjalanan Kediri-Jombang tidak seberapa, saya nyaman-nyaman saja. Begitu sampai di Mojokerto hingga Surabaya, perjalanan siang hari itu disambut udara yang sangat panas.

Sungguh, berkendara di Kota Surabaya sangat rumit. Selain sangat ramai, juga banyak cabang jalan yang membuat saya bingung karena belum pernah melaluinya. Tulisan di papan penunjuk arah pun juga sangat asing bagi saya. Tapi, Alhamdulillah berkat kesabaran saya menakhlukkan keramaian kota dan jalan rumit Surabaya membuat saya lega ketika hampir lima jam saya berhasil sampai di lokasi.

Asrama haji yang saya kira hanya untuk penginapan calon haji saja, ternyata bisa untuk umum. Lucu juga menginap di asrama haji, serasa jadi rombongan yang mau berangkat haji. Langsung, saya menuju kamar yang sudah dipesan. Rupanya disana sudah ada Ibu Nyai dan putrinya (Ning Faila), Bu Hiday, dan Bu Sita. Hati ini rasanya bersyukur sekali bisa berjumpa dengan mereka. Tidak lama kemudian datang Ibu Rita dan Bu Atiqoh.

Malam harinya kami diajak ke kampus ITS untuk melihat lokasi acara, tepatnya di gedung rektorat. Setelah sebelumnya kami makan malam bersama. Pak Dr. Choirul Mahfud selaku pihak ITS menunjukkan lokasi acaranya. Tempatnya bagus. Disana sudah ada beberapa meja bulat dan kursi berhias selendang mengelilinginya.

Foto bersama di depan gedung rektorat UNS

Namun, tempat tersebut ternyata belum sepenuhnya beres, masih perlu perbaikan lagi. Ada yang mengangkat meja dan kursi dan ditata sedemikian rupa, ada yang memasang banner dan LCD, mengarahkan jika ada yang kurang pas, dan melengkapi kekurangan lainnya. Hal teknis semacam itu malam hari dipersiapkan semaksimal mungkin agar esok harinya acara bisa berlangsung dengan sukses.

Menyiapkan ruang acara
Saya sempat tertegun ketika ada bapak dan Ibu SPN dengan sigapnya menjadi bagian dari persiapan teknis tersebut. Betapa tidak, mereka sekelas Dr Choirul Mahfud, Dr Arfan, Ust Husnaini, Bu Atiqoh, Bu Hiday, Bu Rita, Bu Sita yang melakukannya. Orang-orang seperti mereka kiranya seribu satu. Dengan kerendahan dan keikhlasan hati, mereka bersedia melakukannya. Mereka sungguh extraordinary people.


Dari kiri; Bu Lina, Bu Rita, Bu Sita, Bu Hiday, Bu Atiqoh, dan Aku



Pengalaman Pertama Ikut Test TOEFL ITP

Jum’at (21/4) aku berkesempatan untuk mengikuti tes TOEFL ITP di Universitas Sebelas Maret, Solo (UNS). Ini adalah kali pertama aku ikut real test. Lucu kataku pengalaman ini. Seakan aku lagi mengikuti ujian nasional, karena teknis ujiannya yang sangat rumit.

Seperangkat peralatan harus dipersiapkan dengan baik sebelum memasuki ruang ujian. "Before entering the room, make sure that you have these equipments "soft pencil, sharpener, and eraser" in a good quality.

Aturannya sangat ketat sekali. Mulai dari posisi duduk, posisi tas, mengisi data diri di lembar jawaban, kapan harus berhenti sejenak dan kapan harus memulai lagi, kapan membuka soal, dll semuanya harus dilaksanakan sesuai dengan instruksi. Jika tidak, maka akan mendapat teguran dari pengawas ruangan.

Di setiap ruangan ada dua pengawas. Tugas mereka tentunya mengawasi peserta tes. Disamping itu, pengawas ruangan juga bertugas untuk memperjelas instruksi dari instruktor yang perintahnya terdengar lewat speaker. Instruksinya semua pakai Bahasa Inggris. Ketika ada yang kurang jelas, peserta tes diminta untuk angkat tangan dan pengawas ruangan akan memberikan informasi secara personal.

Waktu kuliah kemarin aku sebebarnya sudah mencoba tes TOEFL sebagai mata kuliah prasyarat. Namun sayang, waktu itu aku masih percaya bahwa semua jawaban yang tersedia di dalamnya benar. Aku mengerjakan berdasarkan feeling saja. Ternyata tidak, dari pilihan A, B, C, dan D tentunya hanya salah satu saja yang benar. Jika sebelum real test berkesempatan mengikuti kelas pelatihan mengerjakan soal TOEFL akan sedikit tahu. 




[Memori Perjalanan] Solo yang Terkenang


Part#1

Tepatnya pada 20 April, aku pergi ke Surakarta, Solo untuk test TOEFL di Universitas Sebelas Maret. Rupanya perjalan yang baru pertama kalinya ini perlu dikenang Sebelumnya aku sudah mencari info untuk menuju kesana. Karena infonya sudah jelas, aku memutuskan untuk berangkat.

Aku berangkat lewat Pacitan, sebab lebih dekat. Dari rumah menuju terminal Pacitan, aku diantar. Dua jam perjalanan kutempuh dari rumah menuju Pacitan lewat JLS.

Bus jurusan Pacitan-Batu-Solo rupanya sudah bersiap terminal, yaitu bus Aneka Jaya. Aku langsung masuk ke dalam bus. Aku duduk di bangku paling depan pojok kiri. Meskipun bus ini tidak ber AC tapi nyaman.

Jam 8 bus mulai melaju. Aku pun siap menikmati suasa jalan yang sebelumnya belum pernah kulalui ini. Di tengah perjalan sang kondektur menarik ongkos bus. Aku harus membayar Rp. 30.000.

Tiga jam kemudian sampailah aku di Surakarta. Namun bus tidak lewat depan kampus UNS. Sang kondektur memintaku untuk turun di perempatan Gemblegan dan naik bus kota.

Bus yang kunaiki selanjutnya adalah bus Damri. Busnya bagus dan ber-AC. Dari perempatan Gemblegan ke kampus UNS yang berada di Palur cukup dekat. Ongkosnya 4.000 saja. Sampai di depan kampus aku dijemput dosenku yang sedang kuliah disana. Kami sudah janjian sebelumnya. Aku bermalam di kosnya.

Esuk harinya aku pun diantar ke kampus, tempat test dilaksanakan. Test selesai pukul 10.30. Setelah selesai, Aku langsung keluar ruangan. Aku pulang jalan kaki. Sekitar 15 menit menuju kos dosenku.

Karena hari itu adalah hari Jumat aku memutuskan untuk pulang setelah Dhuhur. Pukul 1 aku diantar ke terminal bus. Terminal terdekatnya adalah Tirtonadi. Karena bus waktu itu belum datang, aku pun menunggu terlebih dahulu. 15 menit kemudian bus datang. Aku segera masuk bus dan bus pun siap berangkat. Hujan mengiri perjalanan dari Solo menuju Pacitan.

Sampai di Pacitan sudah malam. Tidak mungkin aku langsung pulang. Lagian tidak ada kendaraan menuju rumahku kecuali jasa ojek. Aku memutuskan untuk bermalam disana dan pulang esuk harinya.

Karena malas mencari tempat menginap, aku beristirahat di RSUD Pacitan. Tempat itu tempat terdekat dari terminal. Entah kenapa aku terbesit untuk menginap disana. Aku beristirahat di ruang tunggu. Syukurlah aman.

Part#2

Dua Minggu kemudia aku pergi ke Solo lagi. Ada pemberitahuan dari UPT Bahasa UNS kalau score TOEFL sudah keluar dan sertifikat bisa diambil.

Kalau sebelumnya diantar sampai Kota Pacitan, kini aku memilih berangkat sendiri. Dari naik bus, berganti naik motor. Yang pada akhirnya aku "klenger".

Aku berangkat dari rumah pukul 5 pagi. Sesampainya di sepanjang tepi pantai Soge JLS Pacitan saat matahari pagi mulai muncul. Sungguh indah pemandangannya. Aku mengurangi kecepatan. Selain agar bisa menikmati sunrise Pantai Soge, juga untuk menghangatkan badan.

Pukul 7 aku sudah sampai di Pacitan Kota. Sempat ada pemeriksaan kelengkapan berkendara disana, tepatnya di halaman pasar Minulyo, Pacitan. STNK dan SIM kutunjukkan, beres. Aku bisa melanjutkan perjalanan kembali.

Aku tidak menitipkan motorku di Pacitan, karena tidak lagi berencana naik bus. Aku ingin menikmati perjalananku dengan motor. Kiranya lebih berkesan, pikirku.

Aku juga berpikir kalau naik motor akan lebih cepat dari naik bus, dan aku bisa langsung pulang. Tidak perlu bermalam dulu di perjalanan.

Waladalah, rupanya aku sudah salah perkiraan. Pantas saja aku naik bus terasa sangat cepat, karena aku bisa santai dan tiduran. Jadi aku tidak bisa menyaksikan keseluruhan rute jalan menuju kesana. Hanya jalan-jalan tertentu saja yang kuingat.

Maka bayanganku menuju kesana sangat dekat, bahkan lebih dekat dari naik bus. Aku akan melewati jalan mana saja sudah ada dalam bayangan.

Namun semuanya berkebalikan dengan perkiraanku sebelumnya. Perjalanan terasa lama dan tentu sangat melelahkan.

Kota Pacitan dan Wonogiri serasa tidak ada habisnya. Sudah berjam-jam perjalanan, masih saja di Wonogiri. Melewati wono satu ke wono lainnya.

Kalau di bus mengantuk bisa diatasi, namun kali ini tidak bisa. Bahaya bukan, jika mengendarai motor sambil tidur. Aku membawa sebotol kopi dari rumah. Sehendaknya bisa mencegah ngantuk. Aku juga berhenti berkali-kali untuk istirahat dan sholat.

Karena sudah capek, aku berkeinginan sekali menitipkan motor dan aku bisa menunggu bus. Tapi aku takut. Aku khawatir kalau pas mengambil motornya lupa tempatnya. Soalnya aku belum familiar dengan lokasi disana. Pelan-pelan aku terus melaju kendaraanku mengikuti papan penunjuk arah hingga sampai di tempat.

Setelah Pacitan, lalu sampai di Wonogiri, maka selanjutnya aku akhirnya sampai di kabupaten Sukoharjo. Dari Sukoharjo ke Surakarta aku berhenti dan bertanya berkali-kali. Kepada tukang becak, tambal ban, dan pengendara jalan aku bertanya. Aku pun mengikuti arah yang mereka tunjukkan.

Sampailah aku akhirnya di Pom dekat kampus. Kulihat Pom tersebut berada 13 km sebelum kampus. Saat itu pukul 12. 15. Aku berhenti disana untuk sholat dhuhur dulu. Kalau mau langsung ke kampus pasti masih istirahat jam segitu. Jam 1 aku baru ke kampus.

Langsung saja aku menuju kantor UPT Bahasa dan menemui petugas untuk mengambil sertifikat. Banyak juga teman lain yang mau mengambil sertifikat. Pelayanannya cepat. Setelah aku menyodorkan formulir pengambilan, petugas langsung malayani. Aku diminta tanda tangan dan selesai. Begitu saja tujuan kesana sebenarnya.

Bisa sebenarnya pengambilan sertifikatnya diwakilkan. Tapi sayangnya formulirnnya saya bawa. Jadi, harus kesana sendiri.

Setelah berkas sertifikat kuterima, aku tidak sabar membukanya. Aku menuju perpustakaan untuk istirahat sambil melihat score yang kuperoleh. Aku memilih kesana karena perpustakaannya sangat nyaman untuk istirahat. Ada kursi empuk dan ber-AC hehe. Di lantai bawah semua orang boleh masuk tanpa harus menunjukkan identitasnya.

Kuamati scorenya dan sebenarnya lumayan ada peningkatan dari test prediksi sebelumnya (ini akan kubahas di cerita selanjutnya).

Jangan enak-enakan duduk manis saja. Aku hampir lupa jika aku tidak di rumah dan harus pulang. Oh aku masih harus mengulangi perjalanan yang sebelumnya. Tapi aku yakin jika perjalanan pulang akan lebih cepat. Aku ingin naik bus saja, tapi kan bawa motor. Hmmm serba salah. Rasanya aku ingin terbang saja hehe.

Berjam-jam perjalanan sampailah aku di Pacitan. Saat perjalanan pulang aku sudah lebih hafal jalannya, jadi tidak perlu tanya lagi. Sudah malam sampai di Pacitan, hampir jam 7. Sungguh lelah sekali. Aku tidak mengulanginya lagi dengan naik motor. Ternyata naik motor pun juga tidak bisa langsung pulang dan harus bermalam lagi.

Bermalamnya tidak di RS lagi tapi aku memilih di masjid agung Pacitan. Disana banyak orang yang juga kemalaman dan memilih istirahat disana. Esok paginya setelah sholat subuh aku melanjutkan perjalanan lagi. Dua jam perjalanan kutempuh dengan sangat terpaksa.

17/05/2016



UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...