Sabtu, 25 Juli 2020

IBU, SEMOGA KHUSNUL KHOTIMAH

Oleh: Eka Sutarmi

Aku merasa sangat kehilangan ibuku mertua. Aku benar-benar tidak mengira jika Allah menggariskan usia beliau sedemikian singkat. Sungguh, masih banyak anganku yang ingin aku lakukan bersama ibu mertuaku.

Entah kenapa, semenjak ibu sakit aku merasakan kasih sayang lebih dan perhatian penuh dari beliau. Aku selalu berdoa untuk kesembuhannya. Suamiku juga pernah bilang bahwa harapan terbesar dalam hidupnya ketika nantinya aku melahirkan dengan lancar, dede bayi sehat dan mertuaku sembuh dari penyakitnya.

Kurang lebih satu tahun ibu berjuang melawan sel kangker dalam tubuhnya.

Awalnya, ada benjolan sebesar telur ayam di paha kirinya. Karena tidak merasakan sakit, suamiku menganggap itu tidak bahaya. Lama-lama benjolan itu membesar dan tubuh terasa panas ketika ibu kecapekan.

Suamiku memeriksakan ibu ke spesialis bedah di RSUD. Setelah menjalani beberapa kali periksa, ternyata terdeteksi ada sel kanker dalam tubuh ibuku. Dokter menyarankan 3 rumah sakit yang bisa menangani penyakitnya, RS Dr Soetomo Surabaya, RS Saiful Anwar Malang, dan RS Bayangkara Kediri.

Karena pertimbangan jarak tempuh, suami memilih memeriksakan ibu ke RS Bhayangkara Kediri. Jarak tempuh sekitar 4 jam perjalanan menggunakan mobil.

Satu tahun wira-wiri berobat ke Kediri bukan hal yang mudah dijalani, terutama suami dan ibuku. Suamiku memang anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara, jadi ia harus bertanggung jawab penuh untuk mengurus pengobatan Ibu.

Perlu perjuangan yang luar biasa, terutama bagi Ibu saat awal-awal berobat ke Kediri. Jarak tempuh yang jauh, capek sudah pasti.

Karena dari rumah berangkat naik travel, jadi waktu tiba di sana tidak bisa disesuaikan dengan jam praktek dibuka. Sampai di sana ibu harus mengantri berjam-jam menunggu praktek dokter onkologi buka. Belum, kalau mendapatkan nomor antrian yang banyak. Kalau sudah dilayani, Ibu tidak bisa langsung pulang, karena harus menunggu travel dari Surabaya datang.

Perjalanan ke Kediri dilakukan Ibu selama serangkaian pengobatan sebelum operasi. Butuh berkali-kali tatap muka dengan dokter sebelum Ibu dioperasi.

Perjalanan PP yang melelahkan seringkali dijalani. Jika esok hari diminta dokter untuk kembali ibu dan suami memilih mencari kos terdekat dengan rumah sakit. Beberakali ibu diajak menginap di kos.

Pernah juga, karena keterbatasan informasi mengenai rumah sakit, sampai di tempat mendadak ditempel pengumuman jika poli di hari tersebut tidak buka. Sungguh, kasihan.

Ya Allah mudahkanlah Ibuku menjalani proses pengobatan. Doa yang setiap kali kuucapkan saat ibu diantar berobat.

Bersambung

Jumat, 24 Juli 2020

MY PREGNANCY STORY

Oleh: Eka Sutarmi
Setelah mengalami keguguran pada kehamilan pertama, rasa was-was terhadap kesehatan janin selalu menghantui pikiran sewaktu-waktu. Namun, berusaha untuk menjaga pola hidup sehat dan senantiasa berpikir positif terhadap kesehatan dan perkembangan janin senantiasa saya tanamkan.
Pada trisemester pertama kehamilan, keluhan demi keluhan memang seringkali saya rasakan. Periksa pertama ke puskesmas, HB dan lingkar lengan saya kurang memenuhi kriteria normal. Tablet tambah darah yang disarankan oleh bidan rutin saya minum dan mengonsumsi makanan bergizi yang bisa menambah kadar HB juga rutin saya lakukan. Syukurlah, setelah dua kali dicek lab, HB saya sudah normal.
Selain kurangnya kadar HB dan lingkar lengan, di semester pertama saya juga sering gemetar, terkadang hingga seperti terkena parkinson. Tapi alhamdulillah, lama-kelamaan keluhan itu tanpa saya sadari hilang dengan sendirinya.
Untuk trisemester kedua dan ketiga ini, alhamdulillah tidak ada keluhan yang saya rasakan. Hanya saja ketika terlalu banyak bergerak atau duduk, kedua kaki saya gampang bengkak.
Mulai awal kehamilan hingga saat ini, saya mendapatkan jatah gizi dari puskesmas. Gizi ini diperuntukkan bagi siapa yang memiliki berat badan dan lingkar lengkar lengan di bawah rata-rata waktu pertama periksa kehamilan. Gizi yang diberikan berupa susu hamil dan biskuit. Saya pun tidak menyia-nyiakan bantuan gizi ini. Susu saya minum rutin dan biskuit sedikit demi sedikit saya buat ngemil. Meskipun saya kurang suka ngemil yang manis-manis, tapi demi kesehatan janin saya paksakan.
Setiap kali periksa berat badan saya semakin meningkat. Senang rasanya. Semoga ini pertanda baik untuk perkembangan janin dalam kandungan saya.
Kehamilan saya kini sudah memasuki usia 7 bulan. Pergerakan janin sudah semakin kuat saya rasakan.
Saya dan suami semakin antusias menyaksikan perkembnagannya lewat USG. Usia kandungan 3 bulan sebenarnya sudah saya USG di puskesmas. Namun karena fasiitas yang kurang canggih, hasilnya pun tidak maksimal. Selain itu, yang menangani juga bukan dokter spesialis, jadi kurang detil saat menjelaskan. Diberitahu mengenai berat janin dan usia kandungan yang sudah sesuai, ada rasa bahagia tersendiri.
Beberapa minggu yang lalu, saya dan suami memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis di Trenggalek. Karena kalau periksa ke RSUD harus mengantri berjam-jam, kami memutuskan periksa ke tempat prakteknya langsung.
Sesuai  rekomendasi dari teman-teman, saya periksa ke Dr. Indri Hapsari yang ada di Surodakan Trenggalek. Sebelumnya saya sudah mendaftar lewat WA untuk shift sore. Berangkat dari rumah pukul  17.00 dan sampai di sana pukul 19.00. Terlihat kursi antrian sudah hampir terpenuhi, tinggal tersisa beberapa saja.
Sampai di sana, saya langsung menuju pendaftaran. Tidak berselang lama setelah menunggu, saya dipanggil. Saya mengajak suami ke ruangan untuk bersama-sama menyaksikan perkembangan dede bayi dalam kandungan.
Subhanallah. Seketika kalimat tersebut terucap secara spontan menyaksikan gerakan yang begitu aktif si janin. Dokter menjelaskan sedemikian rupa mengenai kondisi dan perkembangan janin. Alhamdulillah kondisi janin sehat dan perkembangannya juga baik. Ya Allah, sungguh besar nikmat dan karunuia yang engkau limpahkan kepada kami.
Besar harapan untuk kelahiran buah hati kami, semoga semoga persalinan nantinya berjalan dengan lancar, semoga ibu dan bayi sehat. Aamiin

Rabu, 22 Juli 2020

MEMAHAMI KEHENDAK-NYA

Oleh: Eka Sutarmi

Allah sebaik-baik perencana. Maka yakinilah bahwa apapun itu, selalu ada hikmah dibalik rencana-Nya-­Anonim 
Pengalaman yang cukup pahit dan mengerikan itu sama sekali tidak terbayangkan jika harus terjadi pada diri saya. Tepatnya pada 17 Agustus lalu, janin yang ada dalam kandungan saya tidak bisa terselamatkan. Waktu itu usia kandungan saya kurang lebih 3 bulan.
Kami menikah pada awal Oktober 2019. Bulan November saya menyadari kalau telat haid. Saya cek menggunakan test pack, hasilnya pun positif. Alhamdulillah, perasaan senang hadir dalam keluarga kami setelah mengetahui saya hamil, terutama suami saya.
Kecapekan yang berlebihan dan emosi yang tidak menentu saat beradaptasi di rumah mertua membuat si janin yang masih muda ini terganggu. Dan Allah berkehendak lain. Kami harus bersabar.
Karena di rumah mertua masih ada adik ipar dan anaknya, saya dan suami memutuskan untuk mengontrak. Sebenarnya adik ipar sudah membuat rumah sendiri yang rencananya saya dan suami yang tinggal bersama mertua. Namun, karena suaminya masih bekerja rumahnya belum bisa ditinggali.
 Tujuan kami ingin mengontrak tak lain bukan untuk meninggalkan ibu mertua dan tidak memperdulikannya, tapi kami ingin menata perasaan kami sehingga kami berharap ini keputusan terbaik dan bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik.
Memang masih beberapa bulan saya tinggal bersama mertua, jadi mungkin kami belum bisa saling memahami karakter dan ego masing-masing, konflik batinpun sering saya rasakan. Suami saya sangat paham dengan kondisi saya.
Suami saya merupakan anak laki-laki yang sangat disayang ibu mertua dan ia pun sebaliknya. Saya sangat memahami itu. Jadi setelah menikah, seakan ibu mertua saya kurang rela jika melihat suami saya mengasihi dan memperhatikan saya. Sering ibu saya diam tanpa sebab dan selalu ingin tahu semua privasi saya dan suami. Belum lagi adik ipar yang kadang menambah kekesalan saya.
Memutuskan untuk pindahan ke kontrakan di saat hamil muda sebenarnya bukan hal yang mudah untuk kami lakukan. Kami kasihan dengan janin dalam kandungan. Tapi tetap kami lakukan dengan harapan semoga ini menjadi keputusan terbaik kami. Kontrakan kami tidak juah dari rumah mertua, masih satu RT. Jadi kami masih berkesempatan mengunjungi ibu sesering mungkin.
Setelah pindah selama 4 hari, saya merasakan kram perut yang luar biasa. Capek yang tidak begitu saya rasakan dan emosi yang tidak menentu benar-benar mengganggu perkembangan janin dalam kandungan. Suami membawa saya ke puskesmas terdekat. Setelah di cek, saya tidak diminta untuk rawat inap tapi diminta pulang kembali dan bed rest total di rumah.
Ya Allah, semoga janin ini masih bisa selamat.” Harapan terbesar itu senantiasa saya ucapkan dengan air mata yang tidak bisa tertahan.
Keesokan harinya, tepatnya selepas sholat maghrib suami menghibur saya. Saya pun cukup senang  dengan caranya menghibur. Tapi ada yang tidak biasa. Saya merasakan sesuatu yang keluar dari jalan lahir saya begitu deras.
“Mas, sepertinya saya pendarahan hebat,” ucap saya pada suami. Seketika suasana berubah menjadi panik. Saya pun seketika tak berdaya dan sempat hampir tidak sadarkan diri saking banyaknya darah yang keluar.
Karena sudah tidak mungkin jika harus dibawa ke puskesmas dengan motor, sehingga suami saya harus mencari mobil dan sopirnya untuk mengantar kami. Sampai di puskesmas beberapa bidan menangani saya. Keputusan dari dokter bahwa janin saya sudah tidak bisa diselamatkan. Suami saya menguatkan saya berkali-kali, bahwa Tuhan masih punya rencana lain yang lebih baik.
 Sakit yang luar biasa masih saya rasakan selama proses abortus. Pada akhirnya seluruh jaringan berhasil keluar dengan gumpalan darah yang begitu banyak. Sangat mengerikan. Keesokan harinya keadaan saya semakin membaik dan diperbolehkan pulang.
Beberapa hari kemudian saya mengecek kandungan saya di dokter spesialis, ternyata saya tidak perlu kuret selepas keguguran karena sudah abortus komplit, sudah tidak ada lagi jaringan yang tertinggal di dalam kandungan. Syukurlah.
Rencana Allah yang sangat tidak terduga datang di saat yang tepat. Di saat kehidupan saya dan suami mulai tertata dan keluarga juga mulai nyaman dengan situasi yang kami jalani, Allah memberi hadiah untuk keluarga kami.
Enam bulan setelah saya pindah ke kontrakan, saya positif hamil. Saya dan suami masih berkesempatan menjaga karunia-Nya ini dengan sebaik-baik. Tidak hanya saya dan suami yang berbahagia, tapi juga ibu mertua dan seluruh keluarga saya. Pesan-pesan penting di sampaikan oleh mereka demi keselamatan dan kesehatan buah hati kami. Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan.

Panggul-Trenggalek, 23 Juli 2020

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...