Kamis, 30 Maret 2017

ADA SERPIHAN SURGA DI UJUNG BARAT JAWA TENGAH



Tidak seperti yang kukira sebelumnya, aku bakal menyaksikan kemacetan di setiap pagi tiba. Seperti layaknya di kota-kota pada umumnya. Pemandangan ala pedesaan tidak bisa kusaksikan lagi di tempat ini. Jika pergi ke luar kota tempat tinggalku, memang yang ada dalam bayangku adalah hiruk-pikuk suasana kota.

Entah kenapa? Mungkin karena tempat tinggalku di desa, jauh dari pusat kebisingan kendaraan, sehingga aku menganggap bahwa semua tempat yang lebih jauh dari tempat tinggalku adalah kota.

Ternyata perkiraanku salah. Suasana kota yang mayoritas penduduknya bersuku sunda ini masih sangat asri. Foto itu adalah gambaran kecilnya. Pemandangan tersebut kumbil saat pulang pulang sekolah tadi sore.

Aku mengambil gambarnya dari jalan yang kulewati ke sekolah. Dari tempat tersebut aku bisa menyaksikan pemandangan ala pedesaan yang sangat indah dan asri. Apalagi ketika pagi hari, pemandangannya sangat keren. Aku suka menikmati indahnya pagi disini. 

Hamparan terasering persawahan masih sangat mudah dijumpai disini. Pemandangan padi yang masih hijau dan padi yang mulai menguning seakan bisa disaksikan kapan saja, tidak akan pernah ada habisnya.

Setiap harinya aku juga masih bisa menyaksikan ritual pagi para petani yang berangkat ke sawah, lalu pulangnya aku menjumpai mereka membawa rumput dani kayu bakar. Banyak juga penduduk lokal yang menghabiskan aktivitas hariannya di sungai. Mereka mencari batu untuk dibuat meterial bangunan (koral), menambang pasir, dll.

Pemandangan indah pematang sawah hingga pohon-pohon hijau yang menari disapu sinar matahari pun memanjakan mata setiap harinya. Sungai yang membelah area persawahan dengan gemericik aliran airnya, serta gunung yang menjulang tinggi kiranya menjadi perpaduan yang pas.

Bagiku memang menyaksikan pemandangan alam itu tidak membosankan, bahkan bisa menjadi mood booster atau penyemangat suasana hati yang kadang tidak bersahabat. Seakan bukan menjadi sesuatu yang berlebihan ketika aku menyebutnya “Ada Serpihan Surga di Ujung Barat Jawa Tengah” ini.
 
Alam yang begitu damai
Ada jejak cerita dari Kota Bawang,

14 Maret 2017

Balada Segelas Teh

Segelas Teh
Segelas teh hangat tiba-tiba disajikan begitu saja ketika kami mampir di warungnya untuk makan malam. Kami tidak memesannya. Sengaja tidak memesan minum karena sudah membawa sebotol air minum dari rumah. Apa segelas teh hangat ini disajikan secara cuma-cuma ya? Begitu pikirku. 

Awalnya aku tidak ingin minum teh itu. Namun setelah makanan sudah hampir habis, aku ingin mencoba meminumnya. Busyett..segelas teh hangat itu tidak berasa manis. 

Aku mencoba menenggak yang kedua kalinya. Apa mungkin aku yang tidak peka dengan rasa segelas teh ini. Akhirnya rasanya jadi hambar. Tapi tetap saja, tidak ada rasa manis-manisnya sama sekali. Aku pun meminumnya sambil nyengir-nyengir. 

Aku berbisik dengan temanku. "Mbak, coba sampean rasakan tehnya, punyamu manis ga?" 

Segelas teh temanku masih belum diminum, lalu aku memintanya untuk minum tehnya.

"Iya bener, Ibuknya lupa ngasih gula." Kata temanku.

Tanpa pikir panjang akupun langsung menghampiri ibuknya sambil membawa dua gelas teh itu. "Bu maaf, boleh minta tambah gula, ngomong-ngomong tehnya kurang manis?" Kataku sambil senyum kecut, menahan sedikit malu.

Sambil menuangkan gula di dua gelas teh manis yang kusodorkan padanya, Dengan logat khas sundanya si Ibu menjawab "Ini mah memang bukan teh manis, Teh." 

Lalu ia bertanya rumah asal kami. Kami bilang dari Jawa Timur. Akhirnya ia memaklumi atas ketidakpahaman ini. 

Bagi Sundanese teh tawar memang menjadi minuman yang umum. Kalau kemarin tentang lalapan, kini berganti dengan balada segelas teh. Segelas teh tawar hangat menjadi sebuah tradisi untuk melengkapi menu makan mereka. Bahkan akan disajikan secara cuma-cuma. Salah satunya aku menjumpainya di warung makan tersebut. 

Memang kalau dilihat dari khasiatnya jauh lebih bagus teh tawar dari pada teh manis. Namun, karena lagi-lagi belum terbiasa, setiap selepas menenggaknya harus nyengir-nyengir dulu 😁.

Kata kuncinya, bagi Sundanese kata "teh" adalah untuk teh tanpa gula yang disajikan dengan air hangat. Kalau mau teh yang bergula, harus mengatakan lengkap "teh manis", baru akan dibuatkan segelas teh berasa manis. Kalau mau teh manis segar berarti harus mengatakan "es teh manis".

Begitulah ceritaku tentang "Balada Segelas Teh" ini.

Brebes, 12 Maret 2017

English Program di SMAN 1 SALEM, BREBES



Program Fun English Learning (A Half Day English Program) dimulai pada Sabtu (11/3) di SMAN 1 Salem, Brebes, Jawa Tengah. Sekitar 75 siswa yang akan bergabung. Memang sekolah tidak mewajibkan semua siswanya untuk ikut. Mereka yang bergabung adalah siswa yang bersedia dan punya keinginan, serta niat yang kuat untuk mengikuti program ini. Jadi, mereka belajar tanpa ada paksaan. Salut dengan mereka. Dan saya ucapkan selamat datang di program kami buat mereka yang hari ini sudah menyempatkan waktunya untuk bergabung. 

Dengan segenap ilmu yang saya miliki, saya mencoba perlahan untuk belajar berbagi ilmu dengan mereka. Yang pasti, saya pun akan banyak belajar dari mereka juga. Ya, kita belajar bersama-sama. Hari ini saya merasakan sebuah awal yang indah. Kedatangan kami disambut sangat antusias oleh mereka, baik dari pihak guru maupun siswa. Semoga program ini berjalan dengan lancar dan sukses.

Untuk pertemuan awal ini kami masih membuat kelas besar. Semua siswa berkumpul dalam satu tempat. Mungkin untuk hari ini dan besok saja. Hari selanjutnya kelas akan dibagi menjadi tiga kelas dengan jumlah siswa per kelasnya sekitar 25 siswa. Hari ini kami mengadakan perkenalan terlebih dahulu. Kami memanjakan mereka dengan aneka energizer dan ice breaker untuk membuat mereka senang dan nyaman. Apalagi partner saya termasuk tutor yang sangat konyol, suasana kelas pun menjadi kian seru saja

Selain perkenalan, kami juga mengadakan pre test yang sekaligus placement test untuk menentukan kelas mereka. Satu anak mendapat satu lembar kertas HVS kosong. Selama 15 menit, mereka menuliskan pengalamannya Berbahasa Inggris. Temanya bebas, bisa pengalaman menyedihkan, menyenangkan, menakutkan, atau yang lain.

Yang terakhir kami adakan interview kecil-kecilan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan mereka dalam hal speaking. Pertanyaannya pun juga sederhana, namun mereka harus berusaha menjawabnya dengan Bahasa Inggris. Ya, pre test ini semata-semata dilakukan agar di akhir pertemuan nanti kami bisa mudah mengetahui perkembangan mereka.

The first Meeting

Brebes, 11-03-2017

Catatan Perjalanan bersama Kereta Malam



Terik matahari yang cukup menyengat mengantar perjalananku bersama salah seorang temanku dari Pare menuju Jombang. Memang cuaca hari ini panasnya cukup bersahabat apalagi kami berangkat tepat tengah hari. Panas pun makin menjadi-jadi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, kami sampai di stasiun Jombang. Dari sinilah perjalanan kami bermula. Meskipun baru sekali kesana, lokasinya ternyata sangat mudah dijangkau.

Kali ini kami akan menuju ke sebuah kota yang sepertinya sangat luar biasa. Konon kota ini disebut juga kota bawang dan telur asin. Yups, benar...Brebes. Senang sekali tentunya mendapat kesempatan meninggalkan jejak di kota ini. Selama satu bulan ke depan, kami akan tinggal disana. Bukan tanpa alasan kami pergi. Tempat tujuan kami adalah SMAN Salem, Brebes. Kami berdua diberi kesempatan untuk mengisi kelas Bahasa disana. 

Dan, kereta api Gaya Baru Malam adalah teman perjalanan kami. Seperti yang tertulis di tiket kereta, perjalanan kesana akan memakan waktu sekitar 8 jam, lumayan lama ternyata. Meskipun kereta yang kami naiki kelas ekonomi, tapi bagi saya sangat nyaman. Kiranya betah saja. Ini kan bukan kereta tanpa jendela. Jendela plus kacanya lengkap hehe. Kereta tanpa jendela adalah sebutan yang saya berikan untuk kereta api yang pernah saya naiki ketika di Thailand. Karena memang tidak ada jendelanya. Saat itulah kali terakhir saya naik kereta. 

Untuk mensiasati perjalanan yang cukup lama ini, kiranya segala sesuatunya sudah saya siapkan baik-baik. Karena tadi masih ada waktu menunggu setengah jam, kami sholat Dhuhur terlebih dahulu sekalian menjamak ' asar. Bekal makan pun tidak lupa. Kami membawa bungkusan nasi untuk bekal makan di kereta. Makanan di kereta mahal hehe. Yang juga tidak kalah penting adalah buku bacaan. Saya keluarkan satu buku bacaan dari dalam tas untuk saya niatkan dibaca kala jenuh tiba. 

Kereta Malam Gaya Baru, 09-03-2017
*) Copy tulisan dari akun FB: Eka Sutarmi

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...