Jumat, 27 Mei 2022

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi

Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Juli 2021, saya periksa ke dokter untuk kali pertama. Terhitung hingga saat ini, saya bolak balik ke dokter sudah hampir satu tahun. Periksa tiga bulan pertama, dokter memberi resep obat untuk dikonsumsi satu minggu, jadi saya harus kembali lagi satu minggu kemudian. Bulan berikutnya, saya periksa dan menebus resep satu bulan sekali.

Saya bukan tipe orang yang sangat gampang minum obat, kecuali memang karena terpaksa. Dan kini saya harus minum obat rutin. Bosan? Pastinya. Beberapa bulan berjalan, bukan hal mudah saya lakukan. Belum terbiasa dan sangat terpaksa. Tapi saya harus sadar, saya harus bersyukur dipertemukan dengan salah satu jalan kesembuhan atas penyakit ini. Bagaimana jadinya jika hingga detik ini saya membiarkannya. Pasti kondisi tubuh saya sudah tidak karuan.

Semoga lantaran minum obat rutin, bisa mencegah pembesaran kelenjar tiroid yang ada di organ tubuh saya. Setiap saat memang saya perlu berpikir optimis jika saya pasti sembuh. Pikiran seperti itu perlu saya tanamkan dalam diri, agar saya tidak merasa terbebani dan seakan tidak sedang terjadi apa-apa.

“Sampai kapan, dok saya harus minum obat?” Tanyaku pada suatu waktu.

“Sabar ya, Bu. Obat ini fungsinya untuk menghambat produksi tiroid berlebih dan menormalkan kadar tiroid yang ada dalam tubuh. Selama belum normal, obat harus dikonsumsi rutin,” terangnya.

Memang dua kali cek lab terbaca jika hormon tiroid dalam tubuh saya belum normal. Kadar TSH (thyroid stimulating hormone) masih rendah. Artinya ketika kadar TSH rendah, maka kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang banyak. Hormon tiroid dalam tubuh ini punya peran penting untuk proses metabolisme. Akibatnya, ketika tubuh memproduksi hormon tiroid berlebih, proses metabolisme tubuh pun bekerja lebih cepat dari kondisi normal dan akan membuat segala sesuatu di dalam tubuh berjalan lebih cepat dari seharusnya.   

Sejauh ini sudah banyak perubahan kondisi kesehatan yang saya rasakan. Tremor saya sudah berkurang, denyut jantung yang dulunya terasa sangat berdebar kini berangsur membaik, tidak lagi mengeluarkan keringat berlebih, nodul atau benjolan di leher semakin lunak, meskipun masih merasakan ada benjolan saat meraba leher sebelah kanan, dan masih banyak lagi perubahan yang saya rasakan. Alhamdulillah.

Bukan foto narsis 😁 Terlihat mataku lebar sebelah

Memang ada beberapa kondisi tubuh yang masih saya keluhkan. Salah satunya mata saya yang sebelah kiri lebih lebar dan sedikit menonjol. Sebenarnya, sudah tidak separah dulu, sebelum saya minum obat rutin. Menurut penjelasan dokter, mata saya ini sudah sulit kembali normal, karena saat diobati kondisinya memang sudah parah dan terlambat. Ketika diperiksakan ke dokter mata sekalipun hasilnya juga demikian, tapi saya belum mencoba mengkonsultasikan.

Selain masalah mata, juga masalah rambut rontok berlebih dan berat badan saya yang sulit sekali bertambah. Selama menderita hipertiroid, nafasu makan saya bertambah. Saya gampang sekali merasa lapar. Porsi makan pun terkadang bisa dibilang ‘porsi kuli’. Banyak juga yang bilang ‘okeh tibake panganane cah iki’. Tapi anehnya berat badan saya berhenti di angka yang sama. Selama kadar hormon tiroid belum seimbang, saya masih kesulitan menaikkan berat badan, karena proses metabolisme dalam tubuh belum bekerja secara normal.

Obat tiroid dosis rendah yang saya konsumsi secara rutin

Obat tiroid yang selama ini saya minum rutin adalah  propanolol dan Propylthiouracil. Obat ini berbentuk pil dengan dosis paling rendah. Sehari saya minum dua kali, diminum rutin selama satu bulan. Dan bulan depannya saya kembali mengulang hal yang sama. Selain dua obat khusus ini, obat tambahannya berbeda-beda, seperti Lupred, Kalbion, dll. Karena keluhanya sudah berkurang, jumlah obat yang diberikan juga semakin sedikit, tidak seperti awal-awal periksa. Alhamdulillah.

Selama ini tindakan yang dilakukan untuk merekam perkembangan kesehatan saya, masih dengan wawancara medis dan pemeriksaan kondisi tubuh. Setiap kali periksa, dokter menanyakan semua keluhan yang saya alami dan juga melakukan pemeriksaan seperti denyut nadi, detak jantung, tekanan darah, meraba benjolan di leher, menimbang berat badan, dll. Juga setiap 3 bulan sekali dilakukan pemeriksaan lab hormon tiroid.

Rencana tindakan selanjutnya yaitu harus melakukan USG leher untuk mengofirmasi pembesaran kelenjar tiroid. Jika memang nodul/benjolanya tergolong kecil dan masih bisa dicegah dengan pengobatan rutin, tidak perlu dilakukan operasi. Tapi, jika benjolannya mengharuskan untuk diangkat, saya pun siap untuk itu.

Saya sadar sepenuhnya jika sakit itu sebuah ujian dan untuk menghadapinya saya memilih untuk berupaya sembuh. Sebuah ungkapan “setiap penyakit ada obatnya” juga menjadi pengingat diri, sebagai isyarat perintah untuk berobat. Sebagaimana saat kita lapar lalu mencari makanan, saat haus kita mencari minum, dan kondisi lainnya yang memang perlu diatasi bukan hanya dihadapi dengan diam. Dalam kondisi seperti ini kesabaran pun sedang diuji.

“Setiap penyakit memiliki obat. Bila cocok obat dengan penyakitnya maka akan sembuh dengan izin Allah”

BISMILLAH

Panggul-Trenggalek, 28 Mei 2022

 

 

 

2 komentar:

  1. Sangat menyentuh sekali. Kebetulan istri saya juga sepertinya kena penyakit yang sama.
    Kalau boleh tau, konsultasi ke dokternya itu dokter umum atau dokter spesialis?
    Kalau dokter spesialis itu ke dokter yang spesialis apa ya Mba. Terima kasih sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya periksa ke dokter spesialis dalam, semoga lekas sembuh istrinya

      Hapus

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...