Rabu, 23 Maret 2016

Uniknya Tradisi Jamuan Kenduri di Narathiwat, Thailand Selatan


Di Thailand ternyata ada tradisi “kenduri” juga dan istilah yang mereka gunakan juga sama dengan yang biasa dipakai di Indonesia. Meskipun kadang ada juga yang menyebut “genduren”, tetapi saya lebih familiar dengan “kenduri”. Ternyata saya lihat di kamus, memang ada istilah ini, berarti sudah sesuai dengan kaidah penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, he he. Menurut KBBI "kenduri" berarti perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat, dan sebagainya. 
 
Tepat sekali, kenduri memang biasanya untuk memperingati suatu peristiwa tertentu, seperti kenduri untuk selametan kelahiran atau kematian, kenduri yasinan, kenduri khitanan, kenduri pernikahan, dll. Begitu juga dengan tradisi kenduri yang ada di Thailand Selatan ini, kurang lebih seperti itu.


Kali ini adalah kedua kalinya saya diajak ke acara kenduri. Kebetulan kedua-duannya di acara kenduri pernikahan, yang pertama pernikahan seseorang yang saya tidak tahu, karena waktu itu tiba-tiba diajak begitu saja dan yang kedua ini kenduri pernikahan salah seorang guru di sekolah, Kak. Fuziah.


Ah, saya pikir yang kesana hanya segelintir para guru disekolah saya, sehingga menggunakan mobil sekolah saja sudah cukup. Hari ini pergi ke rumah Kak. fuziah di Naratiwat bersama para guru dan para warga yang rumahnya dekat dengan sekolah, dan ada juga yang membawa anak-anaknya. Jelas hanya mobil sekolah saja tidak muat. Pergi kesana naik bus tinggi (bukan bis dowo, he he). Ada sekitar 75 orang jama’ah kenduri yang pergi kesana. 


Sesuai dengan kesepakatan bahwa semua orang yang ikut kesana jam delapan  harus sudah berkumpul di sekolah. Karena tinggal melangkah saja, saya berangkat tepat pukul delapan, Bus masih belum datang, yang lain juga ada yang baru datang. Tidak lama kemudian Bus tinggi  datang. Setelah bus siap, satu per satu masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk. Karena sebelumnya sudah diatur oleh yang bertugas, sehingga tempat duduk sudah pasti mencukupi. Saya duduk bersebelahan dengan ibu penjaga kantin, duduk di bangku nomor dua dari belakang.


Setelah semua masuk, guru yang bertugas membawa data siapa saja yang ikut, mengecek satu per satu. Semua sudah lengkap, lalu berangkat. Do’a naik kendaraan di ucapkan bersama-sama sebelum bus mulai melaju. Kami akan melaksanakan perjalanan yang lumayan jauh, sekitar empat jam dari Songkhla ke Narathiwat. 


Perjalanan kali ini cukup seru karena anak-anak yang duduk di belakang meramaikan suasana, yaitu menyanyi. Ada fasilitas LCD di dalam bus. Petugas bus memutar lagu, lalu anak-anak diberi mic dan mereka diminta untuk menirukan bersama-sama lagu yang diputar. Serunya lagi karena ada beberapa guru yang bersedia menjadi guide perjalanan kami, bagaimana wilayah yang dilewati, ada apa saja, dll. Hampir pukul 12, Bus sudah memasuki wilayah Pathoni. Kami ditunjukkan sebuah Masjid Agung Pathoni yang menjadi masjid kebanggaan muslim Melayu di Wilayah Thailand Selatan. Rencanannya perjalanan pulang kami diberhentikan terlebih daahilu di masjid ini.


Satu jam kemudian, sampailah kami di tempat yang kami tuju, rumah Kak. Fuziah. Ia rumahnya di dekat bukit-bukit, bahkan di samping rumahnya banyak tumbuh pohon karet yang menjulang tinggi. Untuk sampai di halaman rumahnya  melewati jalan kecil terlebih dahulu dan menyebrang jembatan pohon yang rupanya baru saja dibuat, mungkin sebelumnya harus menyebrang sungai kecil dulu, he he.


Sesampainya kami di halaman rumah, pasangan pengantin sudah siap menyambut kedatangan kami rupannya. Kami bersalaman dengan pasangan pengantin, kemudian duduk di tempat yang di sediakan. 


Saya kurang tahu persis bagaimana seremonial adat pernikahan di sini. Seperti halnya kalau seremonial adat Jawa ada pecah telur, siraman, dll, saya tidak tahu bagaimana adat seremonial perneikahan disini,  ada semacam itu atau tidak, atau mungkin upacaranya sudah diadakan pada pagi harinya.


Kali ini saya akan menceritakan bagaimana adat jamuan yang ada di Wliayah Narathiwat ini ketika ada para tamu yang datang. Ada yang berbeda dari cara menjamu tamu dari yang biasa saya lihat bahkan yang pernah saya alami di tempat tinggal saya. Berikut ceritanya,


Setelah bersalaman dengan pasangan pengantin dan juga tuan rumah, kami di persilahkan duduk di kursi yang sudah tertata rapi. Dari penataan kursi dan mejanya sudah berbeda dengan yang biasa saya lihat. Baik kenduri yang pernah saya datangi seseblumnya (di Songkhla), maupun kenduri kali ini sama saja. Ratusan kursi plastik disusun di halaman rumah. Setiap kursi ditata melingkari sebuah meja bundar. Per meja ada  sekitar enam kursi. Di setiap meja bundar tersebut ada tenda payungnya. Semua sudah  dipersiapkan untuk menyambut tetamu. 


Setelah semua duduk, masing-masing meja bundar didatangi pelayan yang mengantarkan jamuan. Uniknya, di atas meja tidak tersedia jajanan seperti yang ada di hajatan pada umumnya, contohnya jenang, rengginang, kue, dll, yang ada hanyalah makanan yang diberikan pelayan tersebut. 


Satu talam berisi jamuan makan tetamu disuguhkan. Salah satu isinya, ada nasi bungkus. Nasi yang sudah dimasak dibungkus dengan plastik gula 2 kg. Umumnya, satu talam ada tiga bungkus nasi. Nasi-nasi itulah yang dihidangkan untuk tetamu dan undangan. Setiap tamu akan menuangkan nasi dari bungkus plastik ke dalam piringnya. Satu plastik cukup untuk dua orang. Jika mereka butuh nasi tambah atau ada sesuatu lainnya yang masih kurang, kami boleh meminta lagi. Untuk yang acara kenduri di Songkhla waktu itu, nasi di tempatkan di sarang plastik kecil, kalau kurang juga boleh minta tambah lagi. Intinya, kenduri disini nasi tidak dibuat rames yang di dalamnya sudah ada lauk yang meyertainya, namun jamuannya sekilas seperti prasmanan.


Selain nasi berbungkus plastik, juga ada ada beberapa jenis masakan yang siap memanjakan lidah, ada masakan ayam, sup sapi, tumis mie putih, teri kecil di goreng sabagai lauk, dan yang tidak ketinggilan lalapan irisan timun muda dan sambal trasi yang berasa sedikit masam. Sepertinya, timun dan sambal terasi adalah lalapan yang mesti ada. Tak hanya di rumah kenduri, di warung-warung nasi pun selalu disiapkan timun dicicah bersama sambal terasi.

Terakhir, yang menjadi jamuan kami di acara kenduri adalah namplau. Namplau merupakan es kosong di dalam gelas. Setiap gelas untuk tetamu akan diberi es kosong. Adapun air putihnya sudah disediakan dalam ceret di atas meja. Tetamu tinggal menuangkan air putih ke dalam gelas mereka. Uniknya lagi, memang sudah menjadi adat jamuan orang sini, bahwa air tradisional (Namplau) tersebut menjadi hidangan minuman popular, hehe. Di warung makanpun namplau selalu ada, dan bisanya disajikan secara cuma-cuma alias gratis. Semua sudah siap, tinggal menyantapi jamuan kenduri bersama-sama.


Setelah semua selesai makan, ada pelayan yang mengantar makan penutup, berupa ubi yang dimasak manis. Ubi kukus , lalu dilumuri rebusan gula merah.


Kuamati juga di sampaing kanan rumahnya ada tenda lainya tempat berkumpulnya para Ibu, ada yang menupas bawang, mngiris mentimun, memeprsiapkan jamuan untuk para tamu, mengelap piring dan sebagainya. Tidak hanya kamum Ibu saya, juga ada Bapak-bapak yang ikut membantu aktivitas disana. Segala aktivitasnya di lakukan di halaman rumah. Tampak sekali gotong royong diantara mereka.


Suasana yang ada di kenduri kali ini juga sangat berbeda dengan di kenduri atau pesta pernikahan yang pernah saya lihat, dimana disitu ada banyak orang yang biasanya kalau ke tempat hajatan seperti itu menggunakan busana yang bagus dan juga dandan, disini hanya pasangan pengantin saja yang dandan, menggunakan gaun mewah dengan make up diwajahnya. Selain itu, mereka berpakaian biasa-biasa saja, bahkan tuan rumahpun juga berpakaian harian biasa. Santai sekali, sederhana dan penuh gotong-royong.


Tidak ada tempat duduk khusus seperti pesta pernikahan pada umumnya. Namun disediakan miniatur berlatar belakang romantis, yang biasannya di tempat itulah para tetamu yang datang, sanak famili akan berpose bersama dengan pasangan pengantin. 


Itulah sedikit cerita tentang segala keunikan tentang tradisi jamuan kenduri pernikahan disini, khususnya yang ada di Wilayah Narathiwat Thailand. 


Thailand, 23-24.03.2016 

2 komentar:

  1. Wah. Mesti
    Sesuk nek mb eka nikahan terus melu2 kaya neng thailand. Hehe pissss

    BalasHapus
  2. Yahh...kan saya pengen cerita saja Bu. Ima he he😄

    BalasHapus

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...