Minggu, 07 Februari 2016

Cerita Ghita dalam Novel “Nyanyian di Bawah Hujan”




Penampakan cover novel


Novel ini sudah selesai saya baca sejak Bulan November yang lalu. Menyesuaikan dengan cerita yang mengambil Bulan November sebagai setting-nya, maka tidak salah jika saya menyelesaikan membaca novel ini juga di Bulan November. Saya sedikit kesulitan memahami alur cerita, bahkan hampir putus asa karena penulis telah mengambil setting cerita di luar negeri, yaitu Milan, Italia. Karena belum familiar dengan tempat-tempat yang digunakan, jadi saya harus mengulang-ulang untuk menemukan kejelasan perannya. Untuk memahami penokohan ceritannya, saya juga harus jeli mengingat-ingat peran setiap tokohnya agar tidak keluar dari alur cerita. Pelan-pelan dan sedikit demi sedikit saya baca, pada akhirnya bisa khatam.

Kisah Ghita dalam novel ini bermula ketika cobaan datang bertubi-tubi menghampiri Ghita kala Bulan November. Bagi-nya Bulan kesebelas ini seolah mati dan kering. Ghita tengah kehilangan nenek kesayangannya dan juga ibunya, selain itu rintangan yang tidak mudah dilalaui oleh Ghita untuk mewujudkan mimpinya di Bulan November ini. Mimpinya sangat kuat untuk menjadi pemain opera seperti sang nenek.

Sesaat sebelum meninggal, Nenek Ghita, Lestari Larasati atau Nonna (Panggilan kesayangan) meninggalkan sepucuk surat wasiat untuk sang cucu. Surat wasiat tersebut berisi tentang petualangan Ghita yang harus dilewati untuk mewujudkan cita-citanya seperti sang Nenek, pemain opera Rigolleto di Milan, Italia.

Tantangan terberat untuk mewujudkan mimpinya adalah Papanya sendiri. Ia tidak ingin anaknya terjun ke dunia seni. Meskipun terhalang dengan sikap ayahnya yang sangat otoriter, Ghita tetap ingin memperjuangkan mimpinnya.

Dalam perjalannya ke Italia, Ghita dijemput dengan sahabat kecil Ghita pada waktu di Italia dulu, namanya Benigno. Papa Ghita menyuruh Benigno untuk menjemput anaknya di Bandara Malpensa, Italia. Teman kecil Ghita itu ternyata tidak sebaik dan setulus ketika menjadi sahabatnya dulu. Perlakukan Benigno seringkali membuat Ghita benar-benar kecewa.

Ketika baru bertemu, seraya Benigno menunjukkan tampang baiknya untuk juga mendukung apa yang ingin Ghita lakukan. Ghita juga terlelap dalam cerita masa kecil yang berusaha Benigno ungkapkan kembali, seolah-olah persahabatan masa kecil itu akan terulang kembali. Namun ulah menyakitkan bagi Ghita berulang kali dilakukan oleh Benigno. Ternyata, ia adalah orang kepercayaan Papa Ghita yang bersekongkol untuk menggagalkan mimpi Ghita menjadi pemain opera. 

Perlakuan Benigno yang sempat membuat saya geram (lhooo saya kok ikut-ikutan main,  ha ha) ketika Ia mengajak Ghita mengunjungi Museum Alla Scala di salah satu gedung opera di Italia.Nie tempatnya, he he

Museum Ala Scala, Italia

Bukannya Ghita malah senang diajak ke gedung opera, tapi malah sebaliknya. Di dalam gedung tersebut bertemu dengan salah seorang teman waktu SMA, namanya Rosalia. Ternyata ia sudah janjian sebelumnya dengan Rosalia tanpa sepengatuhan Ghita. Tidak sengaja Ghita mendengar perbincangan antara Benigno dan Rosalia yang membicarakan tentang dirinya. Benigno benar-benar berkhianat dengan Ghita.

“Tadi Benigno menyadari bahwa aku mendengar semua perkataanya. Aku telah melihat pribadi Benigno yang sebenarnya. Dia bukanlah teman masa kecilku yang baik hati dan jahil. Kini ia berubah menjadi lelaki sombong dan manipulative. Tak sudi berurusan dengannya sehingga aku memutuskan berlari menghindari kejarannya – Pg. 35

Dengan membawa sepucuk surat wasiat dari nenek sebagai petunjuk jalan menggapai mimpinya, Ghita menjauh dari Benigno. Saat kabur, di jalan raya Ghita melihat sosok nenek yang ingin menyebrang jalan. Menolong Nenek atau menghindari kejaran Benigno? Ghita begitu bimbang saat akan menolong nenek tersebut, karena takut Benigno melihatnya. Dengan ketulusan hatinya, Ghita berhasil menyalamatnya nyawa nenek itu.

Benar saja, akhirnya Benigno bisa  bertatapan kembali dengan Ghita. Benigno memaksa Ghita untuk mau kembali ke rumah papanya. Sempat terjadi pertengkaran antara keduanya, tetapi Ghita berhasil memenangkan perlawanan. Ia melanjutkan perjuangannya kembali dengan naik kereta menuju Sicilia.

Rintangan apalagi yang akan dihadapi Ghita setelah berhasil melarikan diri dari kejaran Benigno (orang suruhan Papa Ghita, Tn. Allonza)?

Sicilia adalah salah satu di Italia. Untuk bisa mengukir mimpinya, dalam surat wasiat dari nenekna bahwa ia harus pergi ke Sicilia untuk menemui Tuan Elmo Castrogiovanni, seorang komposer. Sepanjang perjalanan yang ia lalui, ia masih harus berhadapan lagi dengan berbagai macam hambatan. 

Pelabuhan Messina

Untuk menuju ke Sicilia, Ghita terlebih dahulu harus bersinggah di Pelabuhan Messina dengan menggunakan kapal Fery. Sembari menunggu kapal Fery datang, ada sesorang lelaki yang tiba-tiba memperkenal diri, namanya Marcello. Tidak mau terulang lagi seperti saat bersama Benigno, maka Ghita tidak gampang percaya dengan wajah sok baik dengan laki-laki bernama Marcello ini. Lekaki itu juga ingin naik kapal Fery untuk menuju ke pelabuhan Messina. Ia menjadi teman Ghita selama perjalanan dengan kapal Fery, tapi setelah sampai di Pelabuhan Messina mereka berpisah.

Apakah tantangan selanjutnya yang harus Ghita lalui?

Sesuai dengan arah yang di tuliskan di surat wasiat, bahwa setelah turun dari kapal di Pelabuhan Messina seharusnya ia harus naik Bus dengan jalur Taormania-Catania, tapi ternyata Bus yang naiki itu jalur Taormania-Milazzo. Berdasarkan ceritannya, antara Catania dan Milazzo itu berlawanan arah, antara Utara dan Selatan. Bus yang Ghita naiki tidak bisa sembarangan berhenti (apa sejenis bus patas ya, ha ha) sebelum sampai di tempat tujuan. Tiket bus-pun Ghita tidak punya ketika naik Bus sejenis patas ini =D, sebagai gantinya ia harus membayar denda sebesar 100 euro. Padahal uang Ghita sangat mepet sekali, belum lagi harus memikirkan juga kebutuhannya ke depan selama di Italia. Agar bisa terlepas dari masalah ini, mau tidak mau ia bersedia mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit itu.

Menyusuri jalan Milazzo dengan kesendiriannya, tanpa sengaja Ghita menabrak seorang pria. Pria itu tanpa basi-basi langsung marah-marah dan tidak meminta ma'af. 

Di jalan Milazzo tersebut, Ghita mendapati sebuah tempat yang begitu dipadati pengunjung, yaitu Piazza Maggiore. Ia mampir di tempat itu untuk melihat pertunjukan seni yang ditampilkan. 

Piazza Maggiore

Lelaki yang tidak sengaja ditabrak Ghita ternyata juga ada disitu, mereka berdua bertemu lagi ditempat yang sama. Konflik dalam cerita ini lagi-lagi terjadi, apa yang selanjutnya terjadi pada mereka?

Setelah mereka bertemu, lelaki itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, namany Francesco. Ia sempat mengungkit-ungkit kejadian itu, tetapi Ghita dengan berat hati segera meminta ma’af. Francesco menerima permintaan ma’afnya selama ia mau mengikuti tantangannya, yaitu battle dance, Francesco menantang Ghita untuk Battle Dance . Saya juga bingung apa alasan Francesco tiba-tiba menawarkan tantangan Battle Dance kepada Ghita, padahal Ghita kurang mengusai tantangan ini. Ghita lebih berbakat untuk menyanyi Seriosa.

Untuk memenuhi tantangannya ini, Francesco punya teman namanya Maria. Ia yang akan berduel dengan Ghita. Maria terkenal dengan Battle Dancer yang mahir, tekhnik-tekhnik khusus sudah berhasil ia kuasai. 

Saat Maria tampil, ghita hampir patah semangat melihat penampilan Maria, ia takjub, kagum, belum lagi cibiran Francesco yang dilontarkan kepada Ghita, bahwa pasti tidak bisa melakukan battle Dance seperti yang dilakukan ole Maria. Suasana semakin memanas…..

Tidak mau menelan kekalahan mentah-mentah, akhirnya di tengah kota Milazzo, ia berhasil menyanyikan lagu seriosa yang baginya sangat special, karena sering dilantunkan oleh sang Nenek, Nonna. 

Ternyata Francesco masih belum terima, karena tantangannya bukan menyanyi tetapi menari. Tidak kehabisan akal, Ghita menantang sang jagoan untuk menyanyi seperti dirinya. Tapi, Maria tak juga menghiraukan. Maria pergi meninggalkan mereka berdua. Sesaat setelah pergi, ada kecelakaan kecil yang menimpa Maria. Ia terjatuh saat pergi dari mereka karena tertabarak oleh lelaki misterius berkacamata hitam. Tumitnya kesakitan setelah menerima tantangan Battle Dance dari Francesco.

Ketika Maria terjatuh, Francesco tak juga tanggap menolongnya. Ia ditolong oleh Ghita. Pria misterius berkacamata hitam yang menabraknya juga tidak mau bertanggung jawab.

Siapa sebenarnya pria misterius itu?

Singkat cerita, Pria tersebut bernama Lanzo. Ditengah kehadiran Lanzo, Ghita masih pusing dengan sikap Francesco kepada Maria.  Ghita begitu dikejutkan dengan pernyataan Francesco yang memberitahu tahu Ghita bahwa Maria adalah pacarnya. Tidak terlihat dari gelagak Francesco jika Maria adalah pacarnya, namun mau bagaimana lagi, kenyataan yang ada seperti itu.

“Maria mungkin hanya salah satu diantara ribuan gadis Milazzo yang membalut kembali luka dihatinya, meski berkai-kali disakiti dan dikhianati.” – Pg. 7.
Inikah kekuatan cinta????? hmmmmm

Sebenarnya Francesco dan Maria ingin mengajak Ghita ke apartemennya, tetapi Ghita tidak mau, ia ingin pergi seorang diri. Sebelum berpisah Maria menitipkan sebuah Liontin kepada Ghita. Semalam Ghita bercerita jika ingin bertemu Tn. Elmo Castrogeovanni. Katanya liontin ini penuh dengan kenangan. Jika ia sudah berhasil bertemu dengannya, Ghita harus mengembalikan liontin tersebut kepada Maria. Diminta untuk menemui Maria di Milazzo, tepatnya di piazza Maggiore, tempat mereka bertemu saat itu. Masih belum tahu juga apa hubungannya dengan liontin itu??? *Sampai di akhir cerita tentang liontin tersebut tidak diceritakan kembali.

Sementara Maria dan Francesco pergi, Ghita melanjutkan perjalanan kembali. Ia pergi ke sebuah Hotel Locanda Del Bagatto. Ia menghampiri hotel tersebut karena disana ada pameran seni. 

Locanda Del Bagatto

Sebelum memasuki hotel, Ghita harus terlebih dahulu harus metitipkan barang bawaannya ke penjaga, menukarkan ranselnya dengan kunci loker. Lalu, melihat pameran seni lukis yang menghiasi dinding hotel itu.

Locanda del Bagatto Galery
Di hotel itu ia bertabrakan dengan sosok pria misterius lagi (lagi-lagi ada pria misterius). Cereitannya, ketika bertabarakan tersebut, kunci lokernya tertukar tanpa sepengetahuan keduannya. Pria misterius ini sifatnya cuek, dingin, penulis bilang tak memiliki rasa, seperti manusia robot. Meminta “ma’af” sambil melanjutkan perjalan kembali, tanpa berkata-kata. Mengabaikan segalan keadaan.
Ketika ia menuju penitipan barang, Ghita kaget karena yang di dalam loker bukan lagi ranselnya. Tiba-tiba ia mengingatnya, mungkin kunci lokernya telah tertukar dengan pria misterius ketika menabraknya. Ghita yakin jika ia masih disekitar sini, langsung Ghita mengejarnya. 

Berusaha mengejarnya tapi belum bertemu juga. Niatnya ingin mengetahu identitas pria itu, dibukanya ransel yang ia bawa. Pria ini sepertinya penggemar seni juga, karena dari dalam tasnya ditemukan buku kuno yang sampul luarnya tertuliskan Donatello. Sepengat ahuan Ghita, ia adalah seniman. Ghita menemukan juga kamera di dalam tas pria itu, ketika membuka kamera tersebut, ada sesuatu yang membuat Ghita terkejut. Dalam folder video, ada rekam pada saat Ghita bernyanyi seriosa di Piazza Maggiore. Ternyata pria misterius itu diam-diam telah merekamnya.

Perjalanan-pun dilanjutkan, dibalik kaca ia melihat pria misterus yang tengah duduk sambil menyandarkan kepalanya. Setelah Ghita memanggil pria tersebut, bukannya malah menghapiri, tetapi malah berlari menjauhi Ghita. Ada apa gerangan?

Ghita tak kehabisan akal, dengan menerobos jalan akhirnya bisa menghadang pria misterius itu. Disaat Ghita memperkenalkan diri dihadapannya, tiba-tiba pengawal papa Ghita datang, berteriak memanggil Ghita. Tanpa basi-basi ia harus segera melarikan diri sebelum mereka menangkapnya. Ghita menarik tangan pria yang baru saja ia kenal untuk diajak kabur. 

Setelah ia berlari dengan jarak yang cukup jauh dari pengawal Papa Ghita. Ghita berlanjut bertanya kepada pria misterius itu, karena ia belum sepat berkenalan. Awalnya ia tak mau menjawab saat ditanya namannya oleh Ghita. Pria misterius yang kesekian kalinya itu bernama Lanzo Giardino. Ia pria yang sangat datar, tidak begitu eksptesiif yang kadang membuat Ghita bingung dengan sendirinya.

Perjalanan selanjutnya yang akan ditempuh Ghita yaitu Taormina. Sekarang tidak lagi sendirian karena ada Lanzo yang bersedia menemani. Sifatnya yang dingin, membuat Lanzo termakan dengan ancamannya. Ghita akan menghapus semua folder di kamerannya, jika  tidak mau menemani pergi ke Taormina. Akhirnya ia mau pergi bersamannya. Dengan Naik bus ditemani dinginnya malam dengan sikap Lanzo yang cuek, sampailah akhirnya di Taormina. Meskipun Lanzo sangat cuek, setidaknya ia bisa menjadi teman kedendirian Ghita.

Bersama Lanzo, Ghita menginap di Hotel Mamma Maria Hotel. 

Mamma Maria Hotel

Selama di Hotel tersebut Lanzo tidak begitu memperhatikan Ghita, cuek dan dingin. Setiap ingin melontarkan pertanyaan kepada Lanzo, pikir-pikir dulu karena jawabannya selalu cuek.

“Sumpah, rasanya berjuta kalimat tanya yang telah sampai diujung bibirku. Tapi langsung tertahan begitu teringat jawban-jawaban Lanzo yang selalu tidak mengenakkan.” --Pg. 98

Lanzo begitu tampak pucat waktu itu. Segera ia manarik ranselnya yang ada dipunggung Ghita, karena ada obat pil yang harus diminum lanzo. Terlalu lama ia di luar rumah, membuat kondisinya tidak stabil.

Cerita berlanjut saat Ghita melihat sebuah bangunan berdiri megah, Ghita masih ingat saat Nonna, sang nenek sering cerita akan pertemuannya dengan Tn. Elmo Castrogiovanni di tempat ini, namanya Palazzo Corvajja. 

Palazzo Corvajja

Ghita berharap, kali ini adalah berakhirnya perjalanannya untuk bertemu beliau. Tetapi, seketika telah sampai di depan pintu ingin memanggil nama Tn. Elmo Castrogiovanni, Lanzo saat itu juga mengajak Ghita pulang. Percuma saja menghampirinya, karena Lanzo mengabarkan kepada Ghita, bahwa Tn. Elmo sudah meninggal. Kemarahan Ghita pecah dan kata-katannya sempat membuat Lanzo sakit hati. Lanzo pergi dari Ghita. Tangis Ghita pecah seketika. Apakah Ghita juga akan kehilangan lagi di bulan November ini, kehilangan sosok yang tengah dianggap teman sepinya meskipun sifat Lanzo yang cuek?

Ternyata Lanzo kembali , ia tidak jadi pergi. Dalam episode ini Lanzo bersikap peduli dngan Ghita, menyesali tingkahnya kepada Ghita. Sekarang Lanzo bersikap lebih hangat. 

Perjalanan mereka di Taormina cukup sampai disini, karena dimalam ini Lanzo mengajak Ghita untuk menyebrang selat Messina dengan sebuah kapal besar. Ketika turun dari kapal Ghita merasa sesak karena terkena dinginnya angin laut malam. Karena sepertinya tidak kuat lagi, Lanzo berusaha untuk mneyelamatkan Ghita. Lanzo menggendong Ghita menuju kedai kopi    yang tak jauh dari pelabuhan. Ternyata, Ghita hanya bersandiwara  saja agar Lanzo sesekali bersikap romantis dengan Ghita. Setelah tahu Ghita hanya mempermainkan Lanzo, sempat membuat Lanzo marah, kata-kata Lanzo menyakiti hati Ghita. Lalu, Ghita memutuskan untuk keluar dari kedai kopi tersebut seraya menghindari omelan Lanzo.                                                           

Tokoh baru mmuncul, yaitu Aldi. Ghita melihat ssosok Aldi dari balik jendela. Konon, Ghita dan Aldi adalah musuh bebuyutan, karena gosipnya pernah menjadi pemisah hubungan antara dia dan pasangannya, yaitu karina. Sementara Ghita dan Aldi adalah musuh bebuyutan, namum Lanzo dan Aldi saling kenal baik.  Bagaimana sikap Lanzo, sebagai kenalan baik Aldi kepada Ghita setelah tahu bahwa hubungannya dengan Aldi tidak begitu baik?

Aldi hanya salah paham saja manuduh Ghita telah menghancurkan hubungannya dengan Karina. Ghita dan Karina teman baik, mana mungkin ia mencelakai temannya sendiri. Karina sendiri yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Aldi. Ia meminta sahabatnya Ghita untuk mengirim photo mesra ke akun FB Aldi (padahal Karina tengah berphoto bersama saudarannya). Karina melakukan ini marena ingin menyembunyikan penyakit kanker darah, penyakitnya tidak boleh diketahui oleh sahabatnya dan juga pacarnya. Karina ingin mengakhiri hubungannya dengan Aldi, agar Aldi tidak lagi menerima beban dari penyakitnya. Karina akhirnya pergi selama-lamanya sebab penyakit kanker darah yang di deritannya. Mereka berdua sama-sama kehilangan orang yang disayangi. Pertengkaran kecil terjadi antara Aldi dan Ghita karena saling tidak terima orang yang disayangi meninggalkannya.

Melihat mereka berdua saling adu pendapat, Lanzo kembali naik darah. Ghita kesal, akhirnya meninggalkan mereka berdua. Dalam lubuk hati terdalam Ghita masih menyimpan harapan bahwa Lanzo akan menghampirinya ketika Ghita pergi. Benar saja, Lanzo tidak tiga meninggalkan Ghita seorang diri di negeri yang asing ini.  Akhirnya mereka berdua bersatu kembali.

Setelah mereka akur, Lanzo bercerita kepada Ghita bagaimana ia bisa berteman baik dengan Aldi. Saat itu Lanzo berkesempatan mengikuti seleksi pemahat patung yang diadakan oleh ayah Aldi di Catania. Ia berhasil mendapatkan juara pertama. Dari situlah Lanzo mengenal Aldi. Berarti Lanzo juga memiliki jiwa seni.
Pada saat yang bersamaan, sangat tidak diduga sebelumnya oleh Ghita. Lanzo menemukan selebaran tentang audisi pemeran Rigolleto (yaitu Pemeran Gilda) di Teatro Greco dan mengajak Ghita pergi pada esuk hari. Impian Ghita sedikit demi sedikit terwujud untuk bisa bermain opera. Senang bukan main. Beristirahat untuk makan malam bersama di sebuah restaurant. Sebanarnya ingin sekali kabar gembira ini diceritakan kepada Maria. Ghita ingi bertemu Maria untuk bercerita. Penulis dengan mudahnya mempertemukan Ghita dengan Maria, karena maria juga berada di tempat tersebut bersama Francesco.

Yang semula rencana pertemuan Ghita dengan Tuan. Elmo Casrogiovani pupus sudah karena dikabarkan oleh Lanzo bahwa beliau sudah meninggal. Tapi ada kabar bahagia ketika Ghita bertemu dengan Maria. Maria membawa sebuah Koran yang di dalamnya tertuliskan Biography Tuan. Elmo Castrogiovanni, beliau masih diceritakan dengan detail bahwa masih aktif menjadi seorang composer. Beliau menjadi composer ternama dari Taormina. Seketika itu juga, harapan Ghita untuk bertemu dengan beliau bangkit kembali. Tuan. Elmo Castrogiovanni masih hidup.
Ada Ghita, Lanzo, Maria, dan Francesco. Saat itu Maria sadar jika Lanzo seperti sesosok laki-laki misterius yang pernah menabraknya di Pizza Maggiore hingga membuatnya terjatuh. Maria juga sedikit heran bagaimana Lanzo dan Ghita bisa bertemu dengan mereka yang sudah seperti sahabat baik. Maria tak mau ambil pusing. Fokus kepada temanya, Ghita.

Ghita bercerita dihadapan Maria, Lanzo, dan Francesco bahwa ia akan berjuang untuk bertemu dengan tuan. Elmo Castrogiovani. 

Cerita berlanjut saat Lanzo ternyata secara diam-diam telah mengetahui isi tas ransel Ghita yang didalamnya ada buku Duary Ghita. Ia kaget saat Lanzo bercerita kepada Ghita tentang cuplikas isi Diary-nya. Apakah Ghita marah? Awalnya marah tapi akhirnya Ghita tidak tega juga jika Lanzo tersakiti akibat kemarahannya. Khawatir-lah jika Lanzo meninggalkan Ghita.

“ Kurasa bumi mendadak berubah bentuk layaknya selembar kertas yang dilipat menjadi origami kupu-kupu. Beterbangan kesana kemari, menyelinap diantara kekesalan dan kebencianku pada Lanzo.” –Pg. 135.

Ghita dan Lanzo kembali romantis. Suara lantang Aldi yang memanggil sosok Lanzo membuat mereka mengakhiri adegan romantisnya.  Kedatangan Aldi memunculkan masalah kembali. Ia berusaha membongkar kembali masalah yang pernah ia alami dengan Ghita, yang menuduhnya Ghita menjadi pemicu perpisahan antara Aldi dengan pacarnya, Karina. 

Aldi, sebagai sahabat Lanzo sangat kesal kepada lanzo karena tengah berteman baik dengan seseorang yang pernah menjadi musuh bebuyutannya. Aldi marah dengan Lanzo. bagaimana reaksi Lanzo?

Tak mau persahabatan antara Lanzo dan Aldi pecah, akhirnya Ghita meminta Lanzo untuk mengejar Aldi saat ia pergi sehabis marah-marah. Lanzo setengah tidak tiga meninggalkan Ghita sendirian. Ghita mencoba meyakinkan Lanzo untuk pergi karena Maria akan segera datang sebentar lagi. Ghita tidak mau Lanzo akan kehilangan sahabatnya hanya karena termakan oleh ego masing-masing. 

Akhirnya Lanzo pergi menghampiri Aldi dan berjanji akan kembali kepada Ghita saat hari audisi Opera Rigolleto, Lanzo akan menyaksikan Ghita tampil.

Hari audisi tiba, …

Ghita benar-benar menginginkan kehadiran Lanzo saat ia tampil di panggung audisi. Ternyata setelah ia menunggunya, Lanzo tak kunjung datang. Ghita khawatir jika Lanzo sengaja meninggalkan Ghita atau mungkin lupa. 

Di Teatro Greco, Ghita bertemu dengan seseorang yang sangat ramah disana, ternyata ia rupannya juga menjadi peserta audisi. Mereka berdua saling bercerita akan peran yang mereka mainkan di opera ini. Satu sama lain saling menyemangati.

Lanzo benar-baner tidak datang di Teatro Greco. Maria-pun juga tidak menampakkan batang hidungnya. Ghita merindukannya, ia sekali bertemu dengannya. Ghita akhirnya memutuskan untuk menemui Aldi di Selat Messina, naik bus kesana. Ghita berharap Lanzo masih bersama Aldi disana.

Setelah sampai disana, Ghita tidak juga bertemu dengan Aldi. Bukannya Aldi atau Lanzo yang ia temui disana, tapi bertemu dengan Francesco. Ia tiba-tiba memanggil Ghita, lalu memaksa mengajaknya pergi. Sempat juga membuat Ghita bingung, karena tidak tahu sebelumnya yang akhirnya dipaksa untuk pergi bersamannya. Ya, Francesco ingin mengajak Ghita ke tempat Maria dan Aldi, ia mengetahu keberadaanya. Farncesco ingin mengajaknya ke rumah sakit Fatebenefratelli. Ghita semakin panic dan pikirannya kemana-mana.

Sampai dirumah sakit, terlihat sosok Aldi disana. Semoga Lanzo maupun Maria akan baik-baik saja. Sejauh ini Ghita belum tahu siapa yang sebenarnya di rumah sakit. Ghita menghampiri Aldi. Ia menanyakan sosok Lanzo kepadannya, karena ia mengira sebelumnya bahwa Lanzo bersama Aldi.

Aldi menceritakan kepada Ghita bahwa Lanzo pingsan, ia kelelahan dan terlalu lama berhadapan dengan sinar matahari. Kata dokter Aldi terkena penyakit ocular albinisnism, sejenis penyakit mata. Tapi dibalik ia pingsan tersebut, ada campur tangan Francesco. 

Ternyata alasan Francsco bersikap baik padaku tak lain karena merasa bersalah. Pantas saja ia bersedia susah payah demi menolongku bertemu Lanzo. Benar-benar cerdik.” –164

Karena tidak dijelaskan dalam cerita, apa maksud Francesco melakukan hal itu pada Lanzo, saya tidak menemukan alasannya. Apa saya yang kuran jeli membacannya …..ho ho ho

Setelah semua masalah ditujukan kepada Francesco yang menjadi penyebabnya, ia benar-banar tidak berdaya kali ini. Aldi meminta Francesco pergi sebelum Lanzo tersadar. Francesco akhirnya pergi.

Di rumah sakit itu ada tokoh baru muncul, namanya Dalila. Siapa Dalila?

Dengan bersepatu hak tinggi ia berjalan menuju arah Aldi dan Ghita yang sedang bersama. Ternyata Aldi mengenalnya, bahwa ia cinta pertama Lanzo. Ghita sedikit gimana gitu akhirnya, matanya jadi berkaca-kaca. Ada seseorang mengabarinya bahwa Lanzo sedang di RS, akhirnya Dalila datang. Ghita begitu khawatir jika Dalila akan merebut sosok Lanzo dari Ghita. Ghita berharap sekali mendapatkan cintanya Lanzo. Dalila segera masuk ke ruangan dimana Lanzo dirawat. Cemburu bukan rasa yang mudah diabaikan bagi Ghita …Cuitt Cuitt

Di tengah-tengah Ghita merasakan campur adhuk akibat kejadian yang baru saja menimpa Lanzo, dan juga dibuat sesak atas kedatangan Dalila, tiba-tiba Maria datang, sebelumnya ia juga berada di rumah sakit yang sama. Maria memberikan kabar kepada Ghita. Maria telah menerima panggilan dari panitia audisi Opera Rigolleto. Lima kali panggilan datang tapi tidak terjawab. Akhirnya Ghita menelphon kembali….Kabar bahagia datang kepada Ghita di saat kesedihan datang. 

Panitia bilang, jika Ghita lolos audisi. Ghita diminta untuk datang esok malam di Piazza IX Aprile. Antara menemani Lanzo di rumah sakit atau menggapai mimpinya yang tinggal selangkah itu. Aldi bersedia menemani Lanzo selama di rumah sakit dan meminta Ghita untuk segera pergi. Sedangkan Maria akan menemani Ghita.

Sampai di Piazza IX Aprile…

Semua peserta telah berkumpul di tempat ini. Satu per satu peserta yang lolos dipanggil, slah stunya Ghita. Ghita telah lolos audisi meskipun peran yang dimainkan di Opera Rigolleto tidak sesuai  dengsn ysng diimpikan. Bukan peran utama yang dimainkan Ghita, melainkan peran pembantu, yakni sebagai Maddalena. Langkah selanjutnya yaitu memainkan peran yang telah ditentukan pada Esok Sore di Teatro Greco. Ghita janjian dengan teman-temannya disitu untuk berlatih bersama-sama.

Ghita-pun meminta Matia untuk pergi terlebih dahulu, karena kasihan jika Maria harus menemaninya hingga esok hari. 

Sebelum pergi meninggalkan Ghita, Maria melihat sosok Tuan. Elmo Castrogiovanni di tengah kerumunan orang banyak itu. Elmo Castrogiovanni di tengah kerumunan orang banyak itu. Maria memanggilnya. Dengan sedikit nervest bahagia, Ghita juga berusaha memanggil beliau. Tuan. Elmo Castrogiovanni pun menghampiri. 

Mereka berdua bersyukur akhirnya dipertemukan di tempat ini, Piazza Maggiore. Setelah bertemu dengan Tn. Elmo Castrogiovanni, Ghita bercerita tentang perjuangannya bertemu dengannya sedangkan Tn. Elmo Castrogiovanni menceritakan pertemananya dengan Sang Nenek Ghita. Tuan juga memiliki keinginan untuk pergi ke Indonesia berkunjung ke Peristirahatan Nonna. Tetapi Ghita belum bisa menanggapi sepenuhnya atas keinginan Tuan Elmo, karena jika pergi ke Indonesia, sia-sia perjuangannya. Ghita bercerita kepada Tuan Elmo bahwa esok malam akan bermain bermain Opera Rigolleto dengan peran barunya.
Tuan. Elmo akan menenuinya lagi esok hari saat Pentas Opera, maka saat itu juga ia pergi. Ghita bersama Maria. Sepanjang perjalanan Ghita dan Maria menceritakan Tuan. Elmo dan Nonna, nenek Ghita, salah satunya berkaitan dengan kisah cinta yang mereka duga. Ujung ceritanya berakhir ketika Maria memberitahu Ghita bahwa Tuan. Elmo pernah pernah dituduh membunuh pesaingnya yang juga seorang composer. Sejak saat itu namanya hilang dari dunia opera. Lewat informasi dari Koran yang ia baca, Maria juga mengatakan bahwa Cinta Tuan. Elmo kepada nenek Ghita, lestari Larasati begitu kuat, sampai akhirnya memutuskan untuk tidak menikah demi cintanya. Mendengar cerita tersebut Ghita heran saja, karena tidak ia ketahui sebelumnya.

Penguhujung November menjadi akhir cerita dari Novel ini. Ghita akhirnya berhasil tampil di panggung Opera Rigolleto di Teatro Greco dengan memainkan peran sebagai Maddalena.Ratusan pasang mata menyaksikan penampilannya. Bakat Nonna benar-benar menurun kepada sang cucu, Ghita. Dengan lihai ia memainkan perannya. Binar-binar kekaguman tampak dari wajah pengunjung. Semula Ghita sedih karena teman-temannya disaksikan oleh orang tuannya, sedangkan Ghita tidak. Ternyata, dibalik kerumunan penonton itu hadir sosok papa Ghita. Melihat penampilan Ghita, hati sang papa seketika lunak. Ia baru menyadari akan bakat sang putri. Tak lama mengahadap ghita karena harus ia harus pergi. Papa Ghita sudah baik dengannya.

Dibalik perjuangan Ghita yang akhirnya ia bisa menjemput mimpinya itu tak lain ada campur tangan Lanzo didalamnya. Lanzo yang membuat Ghita begitu yakin jika mimpinya bakal terwujud. Pada akhirnya mimpinya itu benar-benar terwujud. Ghita bahagia pastinya. Lanzo-lah  seakan-akan yang berhasil membuatnya bahagia.

“Lanzo berhasil menghapus jejak-jejak pilu dari bulan November yang seolah mengutukku”. –Pg. 203.

Sesulit inikah untuk memperjuangkan mimpi itu?, yakni harus berani berkorban dan menerima setiap tantangan yang ada. Tapi ketika mimpi tersebut bisa terwujud, pnderitaan itu akan berbuah dengan kebahagiaan. 

Oh, iya, novel ini mengambil setting cerita di Italia. Dengan begitu, aku bisa berkunjung di banyak tempat di Italia dengan membaca novel ini, khususnya di Sicilia. Nice stories. ^__^
                                                                                                                                                                              

1 komentar:

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...