Minggu, 14 Februari 2016

Berbekal Satu Lembar Kertas Alamat



Sengaja saya tidak meminta Ustadz disekolah untuk menjemput saya di Stasiun Hat Yai (Stasiun terdekat dengan tempat tinggal saya). Saya ingin mencoba pulang mandiri dengan berbekal satu lembar kertas alamat yang saya peroleh dari Ustadz sebelum berangkat beberapa hari yang lalu. Sebenarnya kertas alamat terebut saya gunakan untuk mengisi form perpanjangan visa. Tidak kepikiran saya gunakan untuk senjata naik angkutan. Tak ada salahnya kan mencoba...baru kalau sudah keadaan gawat darurat saya akan telphon Ustadz di sekolah untuk menjemput, misalnya saya tidak diturunkan di alamat yang benar, tidak ada angkot , dll.


Beberapa teman lainnya juga turun di stasiun yang sama. Kami tidak langsung pulang ke wilayah kami masing-masing, melainkan bersama-sama cari makan siang terlebih dulu. Saya ikut mereka saja, terserah mau dimana makan siangnya (yang penting halal dan tidak mahal he he). Kami sepakat untuk makan siang di food park yang ada di central festival Hat Yai. 


Dari Stasiun, kami naik tuk-tuk (panggilan angkot di Thailand) ke Central Festival. Beberapa tuk-tuk masing kosong parkir di depan Stasiun, akhirnya teman saya meminta sopir tuk-tuk tersebut untuk mengantar kami, beruntung ia mau. Kemudian, kami ber-sepuluh naik dan mengambil posisi masing-masing. Karena yang menawar harga teman saya, jadi saya tidak tahu berapa uang yang harus saya bayarkan. Setelah sampai di depan Central Festival, teman saya meminta uang sebanyak 30 bath kepada masing-masing dari kami. Kami pun membayar sebanyak 30 bath.


Ternyata 30 bath tersebut hanya mengantar kami sampai di Central Festival saja , tidak sekalian mengantar kami pulang. Wahhh...ada yang tidak beres. Saya memberi tahu teman-teman bahwa saya pernah sekali naik tuk-tuk bersama teman di sekolah dari Stasiun ke Sekolah habis 15 bath saja. Padahal jarak antara Stasiun-sekolah dengan Stasiun-Central lebih jauh yang dari Stasiun ke sekolah. Ikhlas saja.


Bersama-sama kami masuk ke Central Festival dan menuju ke lantai paling atas, tempat makanan. Kami tinggal menukar uang 100 Bath (setara 40. 000) dengan sebuah kartu. Dengan kartu tersebut, kita tinggal memilih makanan yang kami suka, dengan syarat hargannya harus dibawah 100 bath. Pesan makanan dan memberi kartu tersebut kepada penjualnya. Jika masih sisa, maka kita menukarkan lagi kartunya dengan uang kembalian di tempat penukaran kartu semula. Kami pun memilih menu makan siang di tempat yang sama, tetapi dengan menu yang berbeda. 


Teman-teman yang cowok selesai makan lebih dulu. Kami menitipkan kartu kami kepada mereka untuk ditukarkan dengan uang kembalian, karena masih sisa, lumayan buat naik tuk-tuk pulang. Mereka pergi lebih dulu, sementara kami menyelesaikan makan. Setelah selesai, kami langsung turun, tidak berkeliling dulu, dan menanti teman-teman cowok di halaman Central Festival. 


Hampir dua jam lebih kami menanti mereka, kelihatannya mereka masih belanja dulu. Eh, bukan menati mereka, tetapi menanti uang kembalian kami buat bayar angkot pulang.


Setelah mereka datang dan memberikan uang kembalian kami, langsung kami menuju ke tempat parkir tuk-tuk yang ada di depan Central Festival. Kami berpisah disini dengan mereka, mereka harus pergi dengan menggunakan Van, karena tempat tinggal mereka jauh. Sedangkan ke-tiga teman saya ingin bermalam di tempat  saya. Ingin beristirahaht dulu, dan melanjutkan perjalanan kembali esok hari. Dengan senang hati saya mempersilahkan mereka menginap di tempat saya. Sebelumnya saya sudah bilang kepada teman asrama bahwa ada teman yang ingin menginap disana, ternyata beliau mengiyakan.


Mereka bertiga megikuti saya saja, karena baru sekali ini mereka pergi ke Hat Yai. Saya memberanikan diri untuk menanyakan satu per satu sopir angkot dengan menunjukkan selembar kertas berisi alamat lenkap yang kami tuju. Dengan penjelasan yang sedikit terbata-bata, akhirnya sopir angkot tahu alamat yang saya maksudkan. Sayangnya, hargannya belum cocok. Ada salah satu sopir angkot yang meminta 300 bath untuk 4 orang, gilaaa, mahal bener. Akhirnya ada salah satu sopir tuk-tuk yang bersedia dengan ongkos 15 bath per orang untuk pergi ke alamat yang saya maksudkan. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa dapat angkot juga.


Saya yakin, sopirnya sudah benar-benar tahu alamat yang telah saya jelaskan dengan menunjukkan selembar kertas yang berisi alamat tersebut. Sempat membuat deg-degan, karena jalur yang biasa saya lewati dengan menggunakan mobil pribadi dan angkutan umum berbeda. Pertanyaan yang sama dilontarkan beberapa kali kepada saya, yang membuat saya tidak tenang, “Benar ini kan jalannya?”..jujur saja saya bilang kepada mereka bahwa saya tidak pernah lewat jalur ini, dan sangat asing. Saya minta mereka tenang dan ikuti saja sang sopir. 


Ploong rasannya, setelah tuk-tuk sampai juga di jalur yang pernah saya lewati. Berarti memang putar-putar dulu untuk mencari penumpang. 


Biasannya saya turun di dekat jalan raya, angkot tidak biasa masuk gang sekolah. Tapi kali ini, kami diantar sampai halaman sekolah. Yang mulannya 60 bath untuk 4 orang, kami kasih 100 bath, karena sopirnya telah baik hati. Senang, akhirnya saya bisa membawa teman saya ke tempat tinggal saya dengan lancar. Kami sampai rumah dengan selamat.


Cerita perjalanan pulang setelah naik kereta pada  11.02.2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...