Senin, 30 Mei 2016

Menjadi Umat Mulia Dihadapan Allah



Sebuah banner yang terpasang di pinggir jalan menarik perhatian saya dan adik saya waktu itu. Ketika lewat, tidak sengaja melihatnya. Sayangnya banner tersebut hanya dipasang ala kadarnya, tidak dipasang meninggi atau diberi penyangga seperti halnya banner pada umumnya.

Kebetulan lewat pas malam hari, semakin tidak jelas tulisan dalam banner tersebut. Awalnya kami abaikan, namun tetap bikin penasaran saja. Tidak sia-sia, balik arah untuk mengamati info di banner tersebut, ternyata ada sesuatu yang spesial di dalamnya. Intinya ada pengajian umum yang menghadirkan penceramah asal Madiun, yaitu Kharisma Yogi Noviana Abrory, bertempat di halaman panti asuhan Ahamd Yani, Kepatihan-Tulungagung. Sepertinya, yayasan panti asuhan tersebut yang menjadi penyelenggaranya. 

Mengetahui info tersebut, sontak membuat kami kegirangan. Apa pasal? Pertama, kami mendapati banner tersebut di waktu yang tepat, sehingga belum expired dan yang kedua, nama penceramah adalah seseorang yang sungguh tidak asing lagi di telinga kami, bahkan kami berdua mengidolakan beliau karena gaya ceramahnya yang khas. Dulu waktu masih SD, kami berdua sering mendengarkan ceramah beliau (waktu Kharisma masih jadi mubaligh cilik) lewat kaset atau mendengarkan lewat radio dan kini kami bisa hadir langsung dalam majlis yang mendatangkan penceramah energik ini. 

Guyuran hujan kemarin malam sempat pikir-pikir mau berangkat. Untungnya hujan reda saat waktunya berangkat. Selepas sholat ‘isya, kami berangkat menuju lokasi yang tidak jauh tempat kami tinggal. Sampai disana, ratusan warga sudah memenuhi kursi yang disediakan, bahkan terlihat banyak yang sampai memenuhi halaman-halaman pertokoan yang berada tepat di samping kanan-kiri panggung. Guyuran hujan rupanya tidak menyurutkan niat warga untuk datang ke tempat pengajian ini. 

Tepat pukul 20. 15, iringan sholawat Nabi menggema dari balik panggung. Para hadirin berdiri menyaksikan Hj. Kharisma dengan dikawal oleh grup rebana dan para pihak yang terkait memasuki panggung. Beberapa jamaah putri berkesampatan untuk berjabat tangan. Karena saya mendapatkan tempat duduk di kursi paling tepi, saya juga mendapatkan kesempatan itu. Sambutan yang sangat meriah … 

Mauidhoh dimulai tepat pada pukul 21. 00. Sebelumnya, serangkaian acara pembukaan dilaksanakan, diantaranya pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari pengasuh yayasan Yatim Piatu Ahmad Yani, sambutan dari Bapak. Lurah, dan terakhir di tutup dengan do’a yang di panjatkan oleh anak yatim di yayasan tersebut. 

Acara pengajian dimulai, Hj. Kharisma Yogi mulai naik ke panggung. Dari suaranya, gerak-geriknya, masih sama seperti yang dulu pernah saya lihat lewat CD. Tidak ingin ketinggalan ceramahnya, kami berdua menikmati setiap sajian yang beliau sampaian. Dua jam bukan waktu yang singkat untuk menyaksikan pengajian, namun karena pembawaanya sangat menarik, jadi waktu tersebut terasa sangat singkat. Selain mengaji juga ada selingan-selingan tembang jawa, qasidah, dan humor, yang dibawakan dengan suara khasnya dan gaya centilnya. 

Dalam pengajian yang dilaksanakan dalam rangka Isra’ Mi’raj dan menyongsong bulan Ramadhan ini, ada beberapa hal yang beliau sampaikan kiranya menjadi penting untuk saya abadikan agar bisa saya ingat-ingat, tentunya berharap sekali untuk bisa saya terapkan. 

Pertama, untuk menjadi umat yang mulia baik dihadapan Allah maupun manusia. Hal penting yang harus dilakukan adalah berusaha menjadi orang yang berilmu; berusaha memanfa’atkan waktu yang sebaik-baiknya untuk mencari ilmu. Orang hidup di dunia ini butuh ilmu, semua butuh ilmu meskipun itu sesuatu yang sepele. 

Contoh kecilnya, ketika bisa menghadiri majlis seperti ini, itu juga merupakan bentuk mencari ilmu, yang sangat dibuthkan sebagai bekal akhirat kelak. 

Tholabul 'ilmi faridhotun 'alaa kulli muslimin wal muslimat”. Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. 

Sangat penting juga untuk mengenalkan ilmu dimulai sejak anak-anak , lebih utamanya pada ilmu agama, seperti sholat, mengaji, dll. Jika anak dibekali ilmu sejak masih kecil, maka lebih mudah menyesuaikan daripada sudah terlambat tua.
“Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana bagai mengukir diatas air.” 

Syair tersebut dinyanyikan oleh Hj. Kharisma dengan suara merdunya. Dari lagu itu, menunjukkan bahwa ilmu yang diberikan saat masih anak-anak akan mudah diterima. Otak anak kecil itu sangat cepat untuk menangkap sesuatu, meniru dan mempelajari sesuatu, anak kecil juga punya ingatan yang masih sangat baik, pikirannya belum tercampir dengan macam-macam. Oleh karena itu apabila sesuatu dipelajari sejak kita kecil maka akan bisa membekas, yang diibaratkan dengan mengukir di atas batu. Ukiran di batu kan memang awet, begitu juga dengan ingatan yang terbentuk sejak masa kecil. Oleh karena itu mengajari ilmu sejak masih anak-anak adalah penting. 

Terlebih jika sudah tua masih memantapkan dri untuk mau belajar juga merupakan sesuatu yang luar biasa. “Utlubul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi.” 

Mengajarkan pada anak tentang ilmu agama bagaikan orang tua punya tabungan deposito (untuk akhirat). Anak yang sholih dan sholihah berperan adanya untuk kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Orang tua akan mulia dihadapan Allah, karena anak sholih tersebut yang akan senantiasa mendoakan orang tuanya. 

Ilmu agama juga akan membuat anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan yang haram, serta mana haq dan yang batil. Warisan ilmu akan sangat bermanfa’at daripada yang lainya. Tidak hanya ilmu akhirat saja yang dibutuhkan, selama hidup juga sangat perlu adanya ilmu dunia. Kedua ilmu ini, baik ilmu dunia maupun akhirat bila bisa dikerjakan secara beriringan, maka insyaallah bisa hidup bahagia di dunia dan mulia di hadapan Allah SWT. 

Allah SWT telah mengingatkan bahwa menjalani hidup di dunia itu akan rugi, jika tidak bisa menggunakan waktu dengan baik. 

وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّاالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِوَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3). 

Surah tersebut mengingatkan kepada kita bahwa manusia itu akan rugi jika ia lalai terhadap waktu. Ayat tersebut juga secara tegas menjelaskan bahwa bagi manusia yang tidak menghargai waktu untuk hal-hal yang bermanfaat niscaya manusia itu akan rugi. Mencari ilmu termasuk wujud kita selama hidup bahwa telah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ya, karena hidup di dunia ibarat hanya mampir ngombe, maka harus bisa menggunakan kesempatan hidup dengan sebaik-baiknya. Kita harus belomba-lomba untuk berbuat kebaikan.Orang yang bisa menggunakan waktunya dengan baik, insya’allah akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Kedua, untuk menjadi umat yang mulia baik dihadapan Allah maupun manusia, yang harus dilakukan adalah untuk senantiasa beribadah kepada Allah, selalu mengingat Allah pada saat dalam keadaan apapaun dan bagaimanapun. Hidup di dunia ini penuh dengan ujian, tidak terlepas dari ujian akan kenikmatan dunia. Banyak orang yang terpedaya pada kenikmatan dunia, hingga terlena untuk beribadah kepada Allah. 

"…Wamal hayatud-dunya illa mataa'ul ghurur." Tidaklah kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Ali ‘Imran: 185). 

Ujian atau peringatan yang datang dari Allah itu ada yang terlihat dan yang tak terlihat. Yang terlihat seperti contohnya, banjir, penyakit melanda, gunung meletus, tanah longsor, dll. Sedangkan ujian yang tidak terlihat seperti halnya nikmatnya dunia, karena seolah-olah gebyarnya kehidupan dunia bukan ujian. 

“Karena banyak yang terpedaya pada kenikmatan dunia, hingga terlena untuk beribadah kepada Allah, maka rasa nyaman untuk bersujud kepada Allah SWT menjadi hilang. Secara tidak kasat mata, itu merupakan hukuman dari Allah (hukuman berupa kenikmatan) dan ini sebenarnya ujian yang menakutkan dari Allah.” Jelas beliau.

Dalam hal ini, agar kenikmatan dunia bisa barokah, hati bisa tenang dan tentram, maka Allah harus selalu dihadirkna setiap saat. Dalam hal ini Hj. Kharisma mencontohkan orang yang suka korupsi, bisa saja mereka merasakan kehidupan mewah, namun dibaliknya pasti ada sesuatu dalam hidupnya yang membuat tidak nyaman, seperti was-was kalau ketahuan KPK, takut dipenjara, dll. 

Berbeda dengan, meskipun punya harta pas-pasan,tapi selalu bersyukur atas nikmat Allah tersebut, maka senantiasa hidupnya akan diliputi dengan rasa aman dan nyaman. Insya’allah. 

Sebagai penutupnya, Hj. Kharisma begitu mewanti-wanti kepada para jamaah yang hadir untuk tidak lupa beribadah kepada Allah, karena itulah salah satu kunci untuk mendapatkan kemuliaan dihadapan Allah, utamanya dalam melaksanakan Sholat lima waktu. Sholat adalah kunci surga. 

Kita senantiasa menjalankan amal ibadah selama di dunia, namun menunaikan sholat masih belum dijadikan kebutuhan. Hj. Kharisma mengibaratkan kalau kita sudah bisa membangun rumah yang bagus, namun tidak punya kunci untuk membukanya. 

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya.” 

Kiranya tepat sekali untuk membahas Sholat, karena peristiwa Isra’ Mi’raj tidak lepas dari perintah melaksanakan Sholat. Berikut sedikit kisah Isra Mi’raj dan hubungannya dengan perintah Sholat yang beliau sampaikan;

Alkisah, Isra’ Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab ini memberikan peristiwa penting bersejarah umat islam akan perintah sholat. Rajab…perkara loro kang mustajab, inggih punika Isra dan Mi’raj,” Jelas Hj. Kharisma dalam memberikan ceramahnya tentang peristiwa isra Mi’raj. 

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad mulai Masjidil Haram hingga Masjidil Aqhsa (perjalanan darat), sementara Mi’raj adalah perjalanan Nabi mulai dari Masjidil Aqhsa hingga Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di tempat itulah beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Hikmah yang bisa diambil dari peristiwa Isra Mi’raj ini dirangkum oleh Hj. Kharisma menjadi dua, yaitu kebesaran dan kepatuhan. 

Kebesaran berarti dalam peristiwa ini Allah telah menunjukkan kebesarannya. Kebesaran Allah ditunjukkan atas perjalanan Nabi dari Masjidil Haram hingga sidratul muntaha lalu kembali lagi ke dunia yang hanya ditempuh dalam waktu semalam saja, logika manusia tidaklah sanggup menggapainya, tidak masuk akal jika dipikir oleh logika manusia, maka hanya kebesaran Allah-lah yang menjadikan itu semua. Kun Fayakuun. Maha suci Allah yang telah menjalankan. Ibarat pewayangan, yang jadi wayangnya adalah Nabi Muhammad, sementara Allah yang menjadi dhalangnya. Apapun yang dikehendaki Allah, maka akan terjadi, salah satunya akan peristiwa Isra Mi’raj tersebut. Kebesaran Allah hanya milik Allah, tidak ada yang mampu mengalahkan. 

Sementara himah kepatuhan berkaitan dengan perintah Sholat. Ketika bertemu dengan Allah SWT, Rasulullah SAW menerima perintah untuk menunaikan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Namun, mengingat kemampuan umat manusia sangat terbatas, maka Nabi Muhammad memohon kepada Allah untuk meringankan. Terjadi tawar-menawar (begitu kata Hj. Kharisma), hingga Allah memberikan keringanan pada umatnya sebesar hampir 100%. Dan pada akhir kesepakatanya, waktu sholat menjadi lima kali dalam sehari. 

Setelah itu, maka kembali dari peristiwa Isra Mi'raj itu Rasulullah SAW membawa perintah shalat bagi umatnya. Tak heran jika ibadah shalat menempati posisi yang istimewa dan paling penting sebagai kewajiban umat islam. Untuk itu, sholat lima waktu tidak boleh bolong-bolong. “Bahkan, mengerjakan sholat tidak hanya sebatas kewajiban saja, namun untuk kebutuhan.” Terang Hj. Kharisma ketika meanti-wanti kepada para hadirin untuk selalu merutinkan sholat lima waktu. 

Dalam ceramah Hj. Kharisma, setiap gerakan sholat itu mengandung symbol-simbol kepatuhan. 

Dengan mengangkat kedua tangan saat takbir, kata beliau, itu berarti seorang hamba menghormat dengan penuh khidmat kepada Allah SWT. ''Makanya, mengangat kedua tangan sambil mengucapkan Allah Akbar, berarti menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih besar kecuali Allah SWT.'' 

Kedua tangan di atas dada, tutur dia, merupakan tanda kepatuhan, kepasrahan yang total seorang hamba kepada Allah SWT. Selain itu, gerakan ruku dalam shalat pun merupakan tanda kepasrahan serang hamba kepada Allah. 

“Ketika melakukan Sujud, maka posisi dahi kita diletakkan di tanah, di posisi yang paling bawah. Itu juga merupakan bukti bahwa Allah maha Besar. Sujud juga sekaligus mengingatkan diri kita bahwa kita sesungguhnya berasal dari tanah dan kita akan kembali lagi ke tanah dan disana akan ada siska Allah bagi umat yang tidak memenuhi perintah Allah.” Paparnya. 

Sujud yang kedua membuktikan kembali kalau siksa Allah benar-benar ada. Hj. Kharisma menunjukkan bahwa manusia itu rasa percayanya masih kurang, sehingga harus dibuktikan lebih dari satu kali agar benar-benar percaya. Beliau mengibaratkan seperti halnya ketika mengalami ban bocor, sudah tahu kalau ban bocor, tapi masih saja kadang di pencet bannya untuk membuktikan bahwa ban memang benar-benar bocor. Begitu juga dengan sujud yang kedua, diintip kembali kalau memang siska kubur itu memang benar-benar ada. 

“Ketika duduk tasyahud akhir, sebagai wujud bahwa ketika sudah mendapatkan siksa kubur, manusia tidak bisa berlari menghindarinya. Pada saat sujud, posisi kaki kiri berada dibawah tumpuhan kaki kanan dengan posisi kaki berdiri. Posisi kaki berdiri diibaratkan sebagaimana manusia akan memulai lomba lari (jawa: ancang-ancang), karena posisi kaki kiri berada di bawah tumpuhan kaki kanan, meskipun ingin berlari, tetap saja tidak bisa. Ayo siapa yang bisa … Saya sudah mencobanya ha ha ha, beneran tidak bisa lari. Tuh kan masih belum percaya alias ngengkel eits. 

Sungguh Sholat merupakan ibadah yang memang sangat istimewa, selain karena perintah sholat yang disampaikan secara langsung oeh Allah kepada Nabi Muhammad, juga sholat memiliki kedudukan yang sangat penting. 

Kadang sering malas untuk mengerjakan shalat lima waktu. Oleh Hj. Kharisma, kita diminta untuk merenung sejenak …padahal kalau kita pikirkan, mengerjakan shalat lima waktu tidaklah berat. Coba kalau Nabi Muhammad waktu Isra Mi’raj dulu tidak memberikan keringanan terhadap waktu sholat yang kita lakukan, pasti bakal lebih dari lima waktu dalam sehari. Sehingga, sebenarnya mengerjakan sholat lima waktu itu tidaklah berat. Kita hanya menyisihkan waktu beberapa menit saja untuk mengerjakan shalat. 

Shalat adalah tiang agama dan shalat adalah kunci segala kebaikan.” 

Sebagai seorang Muslim yang ingin menjadi umat mulia disisi Allah, maka tidak boleh meninggalkan Shalat. Karena shalat merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran Islam. Orang yang meninggalkan shalat akan mendapatkan dosa yang sangat besar. Bahkan ibaratkan dengan orang yang meruntuhkan agamanya sendiri. Dengan selalu mengerjakan shalat maka kita akan terhindar dari perbuatan keji dan perbuatan munkar, ini janji Allah SWT dalam Al-Qur'an yang tidak mungkin salah. 

Sebelum memberikan do’a penutup, Hj. Kharisma menyanyikan lagu berjudul “Taqwa/Rhoma Irama” dengan suara emasnya. Berikut saya cantumkan lirik lagunya: 

Yang miskin jangan bersedih
Dan jangan sesali diri
Yang kaya janganlah bangga
Jangan membusungkan dada 

Derajat manusia di sisi Tuhannya
Bukan karena hartanya
Derajat manusia di sisi Tuhannya
Hanya karena taqwanya 

Dari itu bertaqwalah
Dalam hidup yang tak punya
Dari itu bertaqwalah
Dalam hidup yang berharta 

Firman Tuhan di dalam kitab suci-Nya Alqur'an
Miskin dan kaya itu sama
Sesungguhnya keduanya itu hanya ujian
Bagi orang-orang beriman 

Mampukah si miskin menjalani penderitaan
Berimankah dia di dalam kekurangan
Mampukah si kaya mengendalikan hawa nafsunya
Berimankah dia di dalam kelebihan 

Uhhhh, saya sudahi dulu ya catatan saya kali ini. Sesuai judul yang saya tuliskan diatas “Menjadi Umat Mulia Dihadapan Allah”, itulah inti yang bisa saya ambil dari pengajian bersama Hj. Kharisma dan kuncinya adalah dengan bertaqwa, seperti apa yang disampaikan dari lagu diatas. Untuk menjadi umat yang mulia dihadap Allah, yang pasti kita harus bertaqwa kepada Allah, menjalankan segala perintahnya dan meninggalkan larangannya. Sungguh sebuah kesempatan yang tentunya sangat bermanfa’at. 



Tulungagung, 29-30 Mei 2016

1 komentar:

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...