Senin, 02 Mei 2016

Di Bawah Langit Sore Simpang Lima Gumul, Kediri




Sebenarnya sudah beberapa kali saya datang ke Kota Kediri, sayangnya belum pernah saya mampir di taman Simpang Lima Gumul (SLG). Bahkan ketika saya melewati kompleks simpang lima, tidak sempat berhenti dan menikmati tempat tersebut. Malah, ada orang yang bilang “Tandanya pergi ke kota Kediri, kalau sudah bersinggah di monumen SLG.” Sebagai wisata ikonis Kota Kediri, memang sayang sekali kalau ke Kota Kediri, tidak mampir ke SLG.


Setelah selesai menghadiri sebuah seminar kepenulisan di STAIN Kediri, saya berencana mengajak teman yang rumahnya Kediri untuk jalan kesana. Sebelum datang ke Kediri, saya sudah menghubunginya kalau akan ke rumahnya selepas acara. Dengan senang hati ia mengiyakannya. 


Setelah acara selesai, saya langsung SMS dan menanyakan posisi rumahnya. Ia bilang rumahnya di Pesantren, Kediri. Untuk kesana, Saya diminta untuk menanti di depan SMAN 4 Kediri, lalu teman saya akan menjemput.


Karena belum tahu persis tempatnya dimana, saya bertanya Pak. Satpam dulu sebelum meninggalkan kampus STAIN Kediri. Beliau sangat baik hati, karena tidak hanya menunjukkan arah-arahnya, tetapi sampai bersedia menggambarkan denahnya. Untuk ke Pesantren, kami harus mengambil arah menuju RS. Baptis. Setelah ketemu rambu-rambu RS. Baptis, kami harus ambil arah belok kanan, maka SMAN 4 Kediri tidak ada 1 KM, berada tepat di sebelah kanan jalan. 


Ternyata tidak terlalu jauh perjalanan yang kami tempuh, sekitar 15 saja kami sudah sampai di SMAN 4 Kediri. Kami menanti di depan sekolah, kebetulan ada tempat duduk disana. 


Setelah menunggu beberapa menit, teman kami datang. Kami berada di belakangnya, mengikuti arah jalan pulang. Setelah meewati belok kanan, belok kiri berkali-kali, sampailah kami di rumah teman.


Cukup lama kami di rumahnya, karena menunggu waktu Sholat ‘Asar tiba. Selepas Sholat ‘Asar, kami bersama-sama berangkat ke SLG. Dari rumah teman saya, tidak ada 15 menit sudah sampai.


Sore hari di SLG, suasana tampak ramai. Tempat parkir sudah dipadati oleh kendaraan bermotor, mobil, dan beberapa bus pariwisata. Apalagi saat kesana menjelang malam minggu, sehingga lebih ramai dari hari-hari biasa. Di sekitar area parkir yang cukup luas, para pedagang mulai membuka lapaknya. Kulirik, berbagai masam barang dagangan dijual disana, mulai souvenir, makanan, minuman, camilan, pakaian, dll. Untuk masuk ke monument SLG, kami tidak dipungut biaya tiket masuk, namun hanya membayar parkir (motor) sebesar Rp. 2. 000,-. 


Setelah parkir motor, kami langsung menuju pintu masuk monument SLG, dengan melewati terowongan bawah tanah. Sore itu banyak juga orang-orang yang baru masuk.


Sampai di taman SLG, sudah banyak sekali pengunjung yang meramaikan suasana sore itu. Mungkin sekalian mereka semua akan menikmati malam Minggunya di SLG ini. Ada yang bersama rombongan keluarga, bersama pasangannya, dan bersama teman-temannya. 

Disini, kami tertarik untuk mengabadikan gambar dari taman hijau nan bersih membentang tepat di sebelah tugu SLG. 


Sebenarnya pas sekali mengabadikan mentari sore dari sini, sayangnya waktu itu mendung pekat menggelayut di langit sore Kota Kediri ketika itu, jadinya pesona senja tidak bisa kami rasakan. Namun, menikmati megahnya monumen bersejarah SLG sudah lebih dari cukup. 


Cukup lama kami duduk santai di taman SLG, karena kami berencana menikmati suasana SLG di malam hari. Kata teman saya, saat malam hari tiba, kita akan disuguhi bangunan SLG yang sangat cantik, temaram lampu penerangan malam semakin menambah keindahannya.


Waktu semakin malam, langit pekat akhirnya membuncahkan segala isinya. Hujan yang sangat lebat turun disertai angin dalam waktu yang cukup lama. Banyak pengunjung yang semula berfoto-foto sambil menikmati seuasa SLG, mendadak riuh untuk mencari tempat berteduh. Kami mencari tempat duduk yang nyaman untuk menunggu hujan reda. 


Sekitar pukul 18. 00 hujan sudah semakin reda. Kami langsung menuju tempat parkir dan segera kembali. 


Sebelum perjalanan pulang, terlebih dahulu kami ke rumah teman saya lagi karena belum berpamitan dengan kedua orang tuanya. Karena hujan lebat, kami harus  melewati jalanan tertentu yang genangan airnya cukup tinggi. 


Ketika ingin berpamitan sempaat kami tidak diperbolehkan, namun kami memaksa untuk pulang. Akhirnya setelah Sholat Maghrib dan suasana sudah cukup terang , kami melakukan perjalanan pulang. 


Kondisi jalan cukup licin, suasana jalanan juga ramai, dan keadaanya sudah malam, saya mengendari sepeda motor dengan kecepatan sedang. Pelan-pelan yang penting selamat. Selama diperjalanan menuju ke rumah, kami diiringi dengan rintik hujan. Tetapi, sampai perbatasan Kediri-Tulungagung tidak ada bekas turun hujan, suasana terang benderang.  Hampir satu jam setengah perjalanan malam kami tempuh dan Alhamdulillah selamat sampai rumah. 

       Berfoto dengan latar belakang tugu/monumen SLG, sayangnya tidak berhasil 
                                                     memperlihatkan tugu seluruhnya

                        Diatas rumput menghijau nan bersih di bawah langit sore Kota Kediri




 
                      Menikmati senja yang gagal, karena mendung terlalu pekat 
                                                     menggelayut di langit sore

                                          Masih dengan latar belakang tugu SLG
 


 Diatas rumput hijau

Tulungagung, 02 Mei 2016

           

           

3 komentar:

  1. asyik aja lah klo jadi mahaiswa...hehehe

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah bisa menunggu bedug maghrib ditemani hujan. Indahnya dunia mhs

    BalasHapus
  3. jadi kangen jaman mahasiswa :-)

    BalasHapus

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...