Rabu, 08 Juni 2016

Nulis Blog Ala Surya


Menulis di blog cenderung bebas, bahkan bisa saya menulis sebebas-bebasnya. Saya bisa menulis dari mana saja, tidak harus mengikuti kaidah atau aturan menulis (berita) yang memuat unsur 5W + 1H. Ibaratnya, saya seperti anak kecil yang tengah menemukan lahan bermain yang luas, sehingga saya bisa berlarian sebebas mungkin disana. 
 
Beberapa hari yang lalu, tepatnya sebelum mudik, saya mencoba (lagi) menulis untuk saya kirimkan di Surya. Itu lhoo media yang bisa buat belajar menulis, bonus nangkring di Koran, he he begitulah aku menyebutnya. Jadi tidak bebas lagi, karena ada beebrapa aturan yang harus dipatuhi. 


Saya suka membaca tulisan para kontributor di rubrik CiPo Surya (versi online). Berbagai macam variasi tulisan bisa dimunculkan disana, salah satunya ada beberapa citizen reporter yang melaporkan hasil dari mengikuti kegiatan seminar atau workshop. He he, intinya saya ingin tiru-tiru mereka. 


Sehari sebelumnya memang saya tengah mengikuti serangkaian kegiatan seminar yang diadakan di kampus. Kiranya kesempatan ini saya bisa gunakan untuk coba-coba. Beberapa poin penting yang saya catat dari hasil seminar tersebut, sampai di rumah saya olah. Awalnya memang saya tulis dengan bebas, agar apa yang ingin saya tuliskan bisa dengan mudah diungkapkan. Baru sekiranya semua sudah keluar, saya baca ulang dan dibuat tulisan ala-ala berita begitu.Ternyata belum berhasil.


Daripada mengendap di email, sepertinya alangkah baiknya diposting di blog, hitung-hitung buat nambah postingan he he. Maka jadilah blog ala surya …




Kenali Problematika Belajar Anak Sejak Dini

Oleh: Eka Sutarmi

 Bersama pemateri



Setiap pembelajar pasti memiliki problematika belajar, khususnya ketika anak mulai memasuki usia sekolah.” Demikian ungkap Ibu. Ayu  Imasria Wahyuliarmi, M. Si, M. Psi, sebagai pemateri seminar psikologi bersama himpunan mahasiswa jurusan tasawuf psikoterapi IAIN Tulungagung, Selasa (31/05/2016).


Seminar yang di gelar di aula utama IAIN Tulungagung itu bertemakan pendidikan, “mengoptimalkan belajar dan mengatasi problematika belajar pada anak.” Sebagai calon pendidik maupun orang  tua, kesempatan ini sangat tepat sekali diikuti.


Materi yang banyak dibahas adalah bagaimana mengenali anak yang mengalami problematika belajar, serta bagaimana membuat perencanaan dan penangananya. Problematika belajar dalam kesempatan ini lebih ditekankan pada bidang kognitif atau akademik anak.


Ketika menjadi pendidik, khususnya untuk anak yang baru memasuki usia sekolah, pasti akan mendapati para peserta didik dengan berbagai macam karakteristik, ada yang memiliki daya tangkap cepat ataupun sebaliknya, bahkan ada yang belajar mengenal angka dan huruf saja kesulitan. Itu lazim dialami oleh anak-anak dan menjadi bagian dari proses belajar.


Problematika belajar yang dibahas kali ini, terlepas dari anak yang memiliki keterbelakangan mental, authisme, atau anak hiperaktif. Namun, mereka layaknya murid pada umumnya, yang mampu berbicara normal, bisa berinteraksi sosial dengan teman sebayanya, bisa menyampaikan ide dengan baik, dll, akan tetapi ada yang menjadi persoalan di dalamnya, ketika dihadapkan pada aspek kognitif, seperti membaca, menulis dan berhitung ia tidak mampu. 


Ibu. Ayu yang merupakan dosen tetap IAIN Tulungagung sekaligus praktisi anak ini memberikan sekilas contoh tentang gejala pada anak yang memiliki problematika belajar. 


Beliau menunjukan karya siswa, sebuah paragraf singkat. Dari tulisan tersebut telah menunjukkan indikasi bahwasanya ada problematika belajar dari anak ini. 


Saat para audien diajak membaca bersama-sama karangan anak tersebut, tulisanya cukup sulit dipahami; banyak kesalahan bahasa, beberapa huruf ditulis terbalik, kata yang digunakan tidak terstruktur, ada beberapa suku kata yang hilang, dsb. Permasalah seperti ini, ranah psikologi menyebutnya disgrafia atau anak mengalami kesulitan menulis. Selain kesulitan menulis (Disgrafia), hambatan kognitif yang sering dialami siswa adalah kesulitan membaca (Disleksia), dan kesulitan mengenal angka (Diskalkulia).                  
   

Ketika menemukan indikasi dari ketiga permasalahan tersebut, guru atau orang tua tidak boleh serta merta memberikan label bodoh pada anak karena akan malah mempengaruhi kondisi psikologisnya. Maka, menjadi keharusan orang tua maupun guru untuk segera mengambil tindakan, seperti dengan memberikan support, menumbuhkan motivasi belajarnya, atau dengan memberikan serangkaian treatment yang dapat mengubah pola belajar anak, sehingga kemampuan akademiknya bisa meningkat. Pada akhirnya, anak yang mengalami problematika belajar akan mampu seperti anak-anak pada umumnya. 


“Problematika belajar pada anak harus dikenali sedini mungkin oleh para pendidik, baik orang tua maupun guru, karena jika terlambat akan timbul masalah lebih besar lagi yang dihadapi oleh anak tersebut.” Pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...