Rabu, 29 Juni 2016

Antara Desa, Kota, dan Puasa

Terhitung dalam satu bulan puasa kali ini, dua minggu (minggu pertama dan terakhir) saya puasa di kampung halaman. Sementara dua minggu yang lainnya, saya puasa di kota. Antara puasa di kampung halaman dan di kota, masing-masing punya kesan tersendiri. Saya bahagia menjalankan ibadah puasa di rumah, begitu juga di kota. 
 
Selain kuliah, saat duduk di bangku SMP dan SMA, saya juga telah berkesempatan menjalankan ibadah puasa di kota, karena waktu itu saya tinggal di rumah saudara yang rumahnya di kota kecamatan. Meskipun keramaianya jauh dari kota saat ini saya tinggal, namun dibandingkan kampung halaman, disana merupakan pusat kota dan keramaiannya.

Menarinya, menjalankan ibadah puasa di kota, saya bisa berkesempatan menikmati pemandangan keramaian kota saat puasa tiba. Apalagi waktu menjelang berbuka tiba. Sambil menunggu bedug maghrib bisa sambil ngabuburit, entah untuk jalan-jalan saja atau sambil membeli takjil untuk berbuka. Banyak pasar takjil yang buka di bulan puasa. Tempat-tempat makan tertentu juga ramai dipadati para pengunjung yang ingin buka disana. Kendaraan semakin padat saja.

Begitu juga ketika saya berada di Kota Tulungagung, selama bulan puasa ini saya memilih keluar membeli menu buka puasa di pasar takjil. Ada sebuah tempat yang menjadi kesukaan saya dan tempat tersebut selalu dipadati pembeli saat menjelang maghrib tiba. Mulai dari masakan sampai minuman manis disediakan disana, tinggal pilih dan harganya juga lumayan murah. Saya biasanya kesana dengan teman saya. Kami membeli menu yang berbeda. Namun, setiap kali kesana, saya selalu membeli masakan berkuah, seperti sayur sop atau sayur bening,  juga lauknya, sekaligus juga membeli untuk persiapan makan sahur. Untuk nasinya, kami memilih untuk menanak sendiri. 

Tentunya, keadaan tersebut bertolak belakang dengan di kampung halaman saat puasa tiba, karena suasa semacam itu belum bisa saya temukan. Suasana ramai tidak terjadi pada saat menjelang bedhug maghrib, melainkan ketika malam datang. Keramaian itu tak lain dari suara Adzan maghrib dari surau nan jauh disana lalu semakin keras saat adzan sudah sampai di musholah kampung yang lumayan dekat dengan rumah. Disusul, waktu menjelang tarawih dan setelah tarawih, karena lantunan ayat-ayat Al-Qur'an terdengar. 

Ketika di rumah, meskipun tanpa ngabuburit atau mencari takjil keluar, tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Malah, jika puasa di kampung halaman, waktu terasa berlalu dengan sangat cepat, karena banyak aktivitas yang harus dikerjakan. Behug maghrib-pun akan tiba dengan sendirinya, tanpa harus menunggu. Heee, meskipun ditunggu kan kalau belum waktunya Adzan, ya tetap belum bisa berbuka.

Orang-orang di rumah, begitu juga kebanyakan orang di desaku, lebih banyak menghabiskan waktu kesehariannya di ladang atau di kebun, istilah kerenya close to nature he he. Sesekali saya juga ikut, kalau pekerjaan rumah sudah selesai saya kerjakan, seperti mencuci piring, menyapu, dll.  Banyak kegiatan yang dilakukan di kebun dan waktu bulan puasa seakan-akan kebun menjadi tempat istimewa waktu bulan puasa. 

Sepertinya sudah menjadi mangsanya saat bulan puasa, tanaman Cengkeh bisa dipanen. Hasil panen dari tumbuhan yang satu ini memang salah satu panen yang ditunggu-tunggu. Harganya yang spesial dibandingkan hasil panen seperti padi, remah-rempah, sayuran, dll, membuat waktu panen Cengkeh tiba menjadi saat yang special, dan kebun adalah tempat yang paling dirindukan. Pokonya Ramadhan semakin semarak saja bagi para petani Cengkeh. Sepertinya begitu gambaranya.

Kadang orang tua saya, pagi-pagi sekali sudah meninggalkan rumah untuk pergi ke kebun dan pulang waktu sholat dhuhur tiba. Untuk sore harinya, pergi ke ladang yang berbeda, yaitu sawah, karena akan mencari rumput untuk para kambing dan pulang waktu Sholat ‘Asar. Sehabis ‘Asar, untuk menunggu bedug maghrib, aktivitas yang dilakukan adalah petil Cengkeh. Karena dari kebun, Cengkeh dipanen masih bersama batangnya (gagang), jadi harus di petil untuk memisahkan antara gagang, daun, dan buahnya. Duduk melingkar, bercengkerama sana-sini, sambil menimati hidangan cengkeh yang ada di hadapan, tak kalah asyiknya sebagai pengganti ngabuburit untuk menunggu bedug maghrib. 

Kalau di rumah, saya dan adik saya ketika sore hari lebih sering diminta untuk uthek  di dapur, mempersiapkan hidangan berbuka. Membatu petil Cengkeh biasanya sehabis Sholat Tarawih atau selepas sahur. Tidak ada istilah membeli takjil di kampung halaman, karena sama sekali tidak ada pasar takjil yang buka, jadi harus masak. Untuk membeli keperluannya, pergi ke toko kelontong yang ada di dekat rumah, namun tidak lepas dari bahan-bahan yang diambil dari kebun dan lebih sering memasak dari hasil kebun, seperti sayur bayam, daun singkong, sayur tewel (nangka muda), dan masih banyak lagi. 

Tentu saja puasa di kampung halaman jauh lebih nikmat, karena bisa berbuka bersama dengan keluarga. 

 Close to nature..ha ha

2 komentar:

  1. wah, boleh saya sesekali nginep di rumah ortumu mbak?

    BalasHapus
  2. Monggo Bund menikmati Desa, dengan senang hati, he he

    BalasHapus

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...