Selasa, 13 September 2016

Perjalananku Ala Jobseeker

Segera mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan adalah keinginan kuat saya setelah lulus kuliah. Sepertinya banyak teman-teman juga yang terjun ke dunia ini, ada yang mengabdikan dirinya di TK, SD, SMP, maupun LBB. Saya terkesan sekali pada teman-teman, lebih utamanya pada mereka yang sudah memberanikan diri untuk mengajar di sekolah-sekolah.

Entah kenapa, saya masih belum siap saja untuk mengajar di sekolah. Saya masih takut, saya takut kalau belum bisa menjalankan tugas saya dengan baik. Saya memutuskan untuk pemanasan dulu, tidak langsung mengajar di sekolah. Saya mendaftarkan diri di lembaga kursus. Beberapa lembaga kursus yang saya masuki diantaranya, Primagama dan GO di Trenggalek dan beberapa kursus Bahasa Inggris yang ada di Kampung Inggris Pare.

Saya tidak langsung menyerahkan surat lamaran, namun terlebih dahulu saya bertamu dan bertanya-tanya. Jika sekiranya memungkinkan untuk merekrut tutor baru, maka keesokan harinya saya menyempatkan diri untuk datang lagi sambil membawa surat. Saya tidak tahu, kesempatan mana yang datang lebih dulu.

Setelah menunggu, akhirnya ada nomor baru masuk dan memberitahukan lewat pesan singkat berbahasa Inggris yang intinya saya diminta untuk datang ke tempat kursus binaanya di kampong Inggris Pare untuk adakan test wawancara dan test tulis. Test tersebut berlangsung kemarin.

Sesuai dengan kesepakatan, saya meminta untuk datang pukul 10. 30. “Assalamualaikum…Excuse me Mr, I think I will have got there about at 10. 30 am.” Beliau mengiyakan. Perjalanan sebelumnya yang telah saya tempuh menuju Pare, Kediri kurang lebih hampir enam jam. Itu yang pertama kali. Jadi banyak waktu yang saya habiskan untuk bertanya-tanya arah menuju kesana, belum lagi kalau salah arah dan harus putar balik. Namun, untuk kali berikutnya perjalanan sudah lancar. Waktu lima jam setengah bisa saya tempuh dari rumah. Saya berangkat dari rumah pukul 05. 30.

Kemarin hujan cukup deras. Saya tetap berangkat dengan senang hati dan semangat. Siapa tahu kesempatan ini bersahabat di pihak saya. Dari rumah saya membawa bekal untuk makan siang dan juga baju ganti.

Ternyata sampai disana pukul 11. 00. Saya langsung menuju ke kantor, lalu meminta izin untuk menemui Mr. Gio. Saya diminta masuk ke ruanganya. Hmmm pertama kali berjumpa, saya langsung dihadapkan dengan Bahasa Inggrisnya yang cas cis cus. Saya kira berbincang-bincang dan wawancaranya pakai Bahasa Indonesia begitu. Tapi saya tidak nervest waktu ditanya-tanya. Saya jawab saja sesuai dengan kata hati saya. Banyak pertanyaan yang dilontarkan, mulai dari pertanyaan personal hingga menyangkut pengalaman mengajar saya, tentang akomodasi, quality time, dsb. Setelah berbincang-bincang dan interview agak lama, akhirnya satu tahapan selesai.

Dilanjutkan setelah Sholat Dhuhur adalah untuk test tulis. Selama istirahat saya menuju Masjid terdekat, setelah selesai kembali lagi. Saya diberikan soal-soal Bahasa Inggris yang menyangkut berbagai aspek. Ada sekitar 100 pertanyaan. Ada pronunciation, grammar, pengusaan kosa kata, translating, dan open question untuk pengetahuan umum. Hampir dua jam saya mengerjakannya. Tidak semua soal bisa saya kerjakan. Ada yang sangat mudah, tapi karena lupa akhirnya jadi blank. Ada juga yang tidak saya kerjakan karena memang belum tahu. Namun, sudah saya kerjakan semaksimal mungkin, entah bagaimana hasilnya.

Ternyata tidak selesai sampai disini. Padahal saya sudah mau berpamitan untuk pulang. Hari itu juga saya masih ingin di test seberapa jauh kemampuan saya untuk meng-handle kelas. Test microteaching akhirnya dilaksanakan pada hari yang sama. Beliau menjelaskan kalau ada kelas speaking di jam sore, yaitu jam 4. Kebetulan mentornya tidak datang, jadi saya diminta untuk adakan test microteaching di kelas tersebut.

So, I will teach in real class Mr?” Saya bingung saja kalau harus mengajar, karena tidak ada persiapan sebelumnya.

Yes, because Mss. Sisil as speaking teacher couldn’t come today, I will give you chance to change her class.”

Untuk menunggu jam empat, saya berkekliling-keliling di sekitar kampung inggris Pare untuk mencari warnet. Saya ingin mencari informasi tentang pengajaran speaking. Kalau misalnya mengajar pronunciation, grammar, reading atau writing, saya masih sedikit punya gambaran. Namun untuk speaking class, saya benar-benar tidak punya gambaran untuk mengajar apa. Kebetulan hari itu saya lupa membawa HP, jadi repot juga kalau cari informasi mendadak begini. Ada dua warnet yang saya temukan, pertama yang berada di sekitar kampus STIKES Karya Husada, namun beberapa kali saya datangi tidak juga buka. Lalu, ada lagi di tempat lain namun setelah saya tanyakan sudah tidak ada yang kosong karena telah dibuat untuk main PS.

Buku yang saya bawa hanya berupa kamus, panduan pronunciation, dan buku grammar. Di kompleks Kampung Inggris itu ada agen menjual buku-buku Bahasa Inggris. Saya mencoba mendatangi toko buku itu. Saya langsung saja bertanya tentang buku pembelajaran speaking. Ia meminta untuk mencarinya di deretan rak buku nomor dua. Saya menemukan buku yang kiranya cocok untuk sikon saya saat ini. Tanpa ba bi bu, buku berjudul menarik : 100 Games for Teaching English (Pusparagam Permainan Seru untuk Mengajar Reading, Listening, spekin, Writing, dan Developing Vocabulary) saya beli. Saya tidak bisa mengintip isinya terlebih dahulu, karena masih di bungkus plastik.

Segera saya larikan buku itu ke mushola SPBU terdekat untuk saya nikmati isinya sambil istirahat dan menunggu waktu ‘Asar tiba. Buku ini cukup menenangkan saya, karena sehedaknya saya telah menemukan gambaran tentang pengajaran di speaking class. Untuk materi yang akan saya ajarkan, masih diberitahukan sesaat sebelum kelas dimulai.

Dua jam diberikan sepenuhnya untuk saya dan member yang ada di kelas speaking. Tema yang kami pelajari adalah seputar Daily Activities. Yups, waktu satu jam setengah benar-benar sangat menyenangkan. Sudah tidak ada lagi rasa nervest yang saya rasakan, karena hilang seketika setelah berada di kelas. Meminta mereka untuk membuat jadwal harianya, lalu mencoba untuk menceritakan kepada teman-temannya. Di akhir presentasinya, siswa lain harus membuat satu pertanyaan tentang kegiatan harianya dan ia harus menjawab pertanyaan dari teman-temannya tersebut. Masing-masing member mendapatkan kesempatan yang sama.

 Di akhir, saya memberikan contoh-contoh pertanyaan tentang daily activities. Ide masing-masing siswa saya tulis di papan tulis, tapi jika ada susanan katanya yang salah saya memberitahukanya. Saya sertakan juga jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Sebagai penutup, tugas mereka adalah membuat pertanyaan tentang daily activites sebanyak-banyaknya di sebuah kartu dan untuk pertemuan selanjutnya dijadikan acuan untuk bercakap-cakap dengan temanya. Begitulah gambaran skenario pembelajaran yang saya susun untuk test microteaching kemarin.

Adzan maghrib telah berkumandang. Saya berpamitan untuk segera pulang.

Okey, for the next information I will text you soon. Take care on the way.”Kata-kata terakhir beliau setelah saya menyelesaikan serangkaian tahapan test itu.

Secercah harapan untuk bisa diterima pasti ada, namun tetap saja itu adalah kebijakan pihak yang bersangkutan. Berdoa saja apapun hasilnya.

Perjalanan malam saya lalui. Karena sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah, akhirnya saya memutuskan untuk menginap di kos Adik saya. Sedikit ada kendala sebenarnya perjalanan malam saya kemarin, karena tetiba ban saya bocor. Untungnya beberapa meter lagi ada tukang tambal ban yang baik hati. Meskipun sudah tutup, bersedia untuk melayaninya. Akhirnya saya pulang dengan selamat.

That’s my story

Tulungagung, 14 September 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...