Selasa, 13 September 2016

Di Hari Eid Al-Adha

Pagi-pagi mereka sudah sudah bangun untuk persiapan ke mushola kampung melaksanakan sholat idul adha. Saya tidak ikut bangun sepagi itu, karena kebetulan puasa dan sholat id di momen idul adha tahun ini tidak bisa saya lakukan. Hujan yang turun cukup deras, kedengaranya menambah keribetan mereka sebelum berangkat.

 Kalau tidak hujan biasanya berjalan kaki menuju mushola kampung sekitar lima belas menit sudah sampai, mungkin tambah lima menit kiranya pas hujan begini. Agar sampai di tempat tidak terlambat, mereka mensiasati untuk berangkat lebih pagi. Mereka berangkat, saya tidur lagi, he he he.

Meskipun saya lagi haid, namun malam harinya saya berkesempatan untuk pergi ke mushola bersama Adik dan Bapak. Kami ikut takbiran bersama. Di saat waktu maghrib, lantunan takbir sudah mulai terdengar di mushola kampung dan juga masjid-masjid. Kami berangkat sudah agak malam, sekitar jam setengah sembilan. Sampai disana sudah banyak juga ternyata jamaah takbiran yang datang. Untuk jamaah perempuan hanya segelintir saja, ada enam orang termasuk saya dan adik saya.

 Lantunan takbir diiringi tabuhan bedhug menambah semarak suasana malam itu. Semakin malam, semakin dikencangkan lantunanya agar tidak mengantuk. Namun, lewat jam 12, saya sudah tidak kuat menahan rasa ngantuk, akhirnya saya mengajak pulang lebih dulu. Untuk yang perempuan jam segitu sudah tidak tersisa, tinggalah jamaah laki-laki.

Pagi harinya, suara takbir tidak terdengar dari rumah. Lampunya padam, sehingga dilkukan tanpa pengeras suara.

Seperti biasa, ketika hari raya kurban orang tua saya membuatkan sarapan untuk orang-orang yang menyembelih hewan kurban. Saya yang tidak ikut ke mushola untuk sholat id diberi tugas untuk mempersiapkanya. Tiga buah kelapa berada di depan pintu dapur. Tak lain kelapa itu diminta untuk mengelupas tempurungnya, lalu diparut. Saya lakukan di depan tungku sambil menjaga api tungku agar tidak padam karena ada air yang direbus. Untuk hangatkan badan juga.

Simbok saya pulang dari mushola, masih tersisa satu kelapa yang belum saya parut. Setelah selesai, baru simbok yang melanjutkan memasaknya, saya tinggal bantu-bantu saja.

Menu sarapan yang akan kami buat ini adalah Nasi Uduk (tanpa lodho lhoo ya, hehe). Lalu dibuatkan tempe goreng sebagai lauknya. it’s so simple, right? Ya, begitulah. Itu sudah nikmat sekali. Bapak saya yang juga ikut menyembelih hewan kurban pulang dari mushola untuk mengambil sarapan. Makanan sudah siap dibawa. Tidak lupa juga, untuk minumnya dibuatkan satu botol kopi panas.

Setelah semuanya selesai, kami sarapan. Menikmati Nasi uduk dan tempe goring yang masih hangat. Ditambah suasana yang dingin karena hujan pagi, pas sekali.

Untuk siang harinya, beberapa jatah hewan kurban diiantar ke rumah. Barulah kami disibukkan dengan dagimg kurban itu. Membersihkanya, lalu dimasak, dan dinikmati bersama. Saya jadi seksi bakar-membakar. Anggap saja mau bikin sate. Karena asal bakar saja, perapianya tidak stabil hasilnya juga tidak selezat sate-sate yang dijual itu. Namun, setidaknya sudah bapak buatkan sunduknya, jadi hampir mirip sate beneran, hehe.

Begitulah dengan cerita hari raya idul adha saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...