Selasa, 18 Agustus 2015

Nomor Antrian Habis

            11 Agustus 2015 saya beserta keempat temanku berniat untuk mengurus pembuatan paspor di kantor imigrasi Kediri. Karena waktu untuk berangkat kami yang mengikuti KKL terpadu di Thailand semakin dekat, maka bagi yang belum memegang paspor diminta untuk segera mengurusnya. Dan hari tersebut sepertinya menjadi  waktu yang tepat untuk kami berempat berangkat ke Kediri. Agar kami berempat bisa berangkat bersama-sama, kami bertemu di perempatan Jepun Tulungagung. Sepertinya sudah siap untuk berangkat karena semuanya sudah berkumpul, perjalananpun dimulai, yaitu sekitar pukul 7. 30. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh teman-teman yang sudah kesana, kantornya buka sampai jam sebelas. Jika perjalanan untuk sampai disana memakan waktu sekitar satu jam, maka berangkat jam segitu sampai di tempat tidak terlalu siang.
            Sudah lama saya tidak menginjakkan kakiku di kota Kediri ini. Saya tanyakan ke teman-teman saat sebelum berangkat, mereka juga jarang pergi ke sana. Untuk itu, agar perjalanan kami bisa berjalanan lancar, salah satu dari teman kami meminta Mbak. Ulfa untuk menunggu kami di pasar Kras. Mbak Ulfa adalah teman kami yang rumahnya Kediri, sebulan yang lalu ia juga sudah membuat paspor terlebih dahulu. Selain kami minta untuk mengantar sampai tujuan, Mbak. Ulfa juga yang akan memberi tahu kami nanti alur pembuatan paspornya.
            Setelah kami sampai di Pasar Kras, kami berangkat berlima, saya, mbak. Inay, mbak. Fitri, Mbak. Diah, dan Mbak. Ulfa. Karena Mbak. Ulfa sebagai penunjuk jalan, maka ia di bagian paling depan, sedangkan saya ada dibarisan paling belakang. Sempat takut saya, karena mereka mengajak jalan agak cepat, Waduh ini…kecepatan 50 km/jam bagi saya sudah cepat sekali. Karena saya mengikuti teman-teman, sayapun berusaha untuk menyesuaikan kecepatanya, rata-rata 60-70 km/jam. Ayat kursi, sholawat selama di perjalanan selalu saya ucapkan dengan harapan semoga kami bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat. Teman-teman ku sangat ahli dalam salip-menyalip, sedangkan saya tidak terbiasa, jadinya saya juga harus berusaha seperti mereka agar tidak kehilangan jejak.
            Selama di perjalanan saya lihat kanan kiri mancari penanda jalan yang mudah saya ingat untuk sampai kantor imigrasi, akhirnya beberapa clue untuk sampai di kantor imigrasi berhasil saya ingat. Setelah hampir satu jam lebih di perjalanan, akhirnya sampai juga.  Sepeda motor kami parkirkan lalu mengambil nomor antrian.
            Teman-teman saya yang bernama Mbak. Diah sudah berjalan menuju meja pengambilan antrian terlebih dahulu, setelah mendapat nomor antrian, ia langsung masuk ke ruangan. Sekarang giliran saya, “Permisi, Pak mau minta nomor antrian?” begitulah pintaku kepada petugas, “Ma’af mbak, nomor antrian-nya sudah habis, sehari cuma dibatasi 40 orang saja.” Kesal sudah pasti, karena sudah perjalanan jauh, tapi sampai di tempat sudah tidak dapat nomor antrian. Ternyata setelah saya bertanya kepada petugas tersebut, sebelum kantornya dibuka, tempat pengambilan nomor antriannya itu sudah dibuka terlebih dahulu, tidak harus menunggu jam 8. Bagi yang datang pagi, akan dapat nomor antrian lebih awal. Oh, begitu....
            Kami tidak langsung pulang, kami juga ikut masuk ke ruangan untuk melihat alur pembuatan paspor ini. Karena kami berangkat bersama-sama, pulang juga harus bersama. Kami pun menunggu satu teman saya yang dapat nomor antrian itu hingga selesai. Semakin cepat, semakin baik, maka besuknya kami akan kesini lagi, dengan waktu yang lebih pagi lagi.
            To be continued in the next story…. 

In Happy writing
           
           
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...