Senin, 20 Juli 2015

Catatan Ramadhan #22: Islam, Iman, & Ihsan



            Dalam rangka menyambut lailatul qodar, setelah sholat tarawih, kami diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu karena akan ada siraman rohani. Malam ini, masjid tempat kami sholat tarawih di datangi oleh Kyai. Mansur, pengasuh salah satu pondok pesantren di kota panggul. Setiap bulan ramadhan, menjadi kegiatan rutin beliau untuk menyampaikan tausiahnya dari satu masjid ke masjid yang lain. Beliau namai kegiatan ini sebagai safari ramadhan. Sangat bermanfa’at sekali bagi kami karena ngaji bersama beliau bisa menambah pengetahuan tentang agama.
            Saya sangat menyesal karena tidak membawa kertas dan pena untuk mencatat hal-hal yang beliau sampaikan, padahal banyak sekali yang beliau sampaikan saat itu. Hanya ada sedikit poin saja yang masih saya ingat. Agar poin yang saya ingat itu tidak keburu hilang, langsung saja setelah pulang sholat tarawih, saya buka laptop saya untuk segera memindahkannya dari ingatan.
            Yang paling menancap dalam ingatan saya ketika beliau menyampaikan tentang “ Islam, Iman, dan Ihsan”. Tidak begitu muluk-muluk beliau dalam menyampaikan dakwahnya, sehingga semua jama’ah bisa memahami dengan mudah, cukup di jelaskan sedikit dan disertai dengan contoh-contoh yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
            Antara Islam, Iman, dan Ihsan itu ternyata memiliki keterkaitan, ketigannya adalah hal dasar yang harus di lakukan setiap umat muslim. Yang pertama adalah Islam. Kita di lahirkan dari keluarga Islam, sehingga secara otomatis Islam sudah melekat dalam diri kita sejak kecil (Fitratul Islam). Yang kedua adalah iman. Belum sempurna predikat islam kita, jika kita tidak punya iman. Berbicara tentang iman, berarti kta harus menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala laranganya. Untuk memahamkan para jama’ah tentang iman ini,  contoh-contoh sederhana  yang di berikan, seperti saat adzan sholat Jum’at berkumandang, maka bagi mareka, khususnya kaum adam yang ber-iman akan meninggalkan segala aktivitasnya untuk bersiap menunaikan sholat Jum’at. Begitu juga saat adzan sholat fardhu berkumandang, sesegera mungkin kita di anjurkan untuk segera pergi ke masjid dan menunaikan sholat, begitu juga dalam menjalankan kewajiban-kewajiban yang lain. Kalau kita bisa melakukannya berarti selain memiliki predikat orang islam, kita juga menyandang orang yang ber-iman. Dan ternyata tidak hanya Islam, dan iman saja, tanpa Ihsan ibadah kita masih belum sempurna, sehingga antara Islam, Iman, dan Ihsan ini satu kesatuan yang salah satunnya tidak bisa di pisahkan. Ihsan ini berkaitan dengan kekhusukan kita dalam beribadah kepada Allah.  Tak jarang saat kita menjalankan sholat (misalnya), seringkali memikirkan hal yang macam-macam di kala sholat, sehingga membuat tidak sempurnannya ibadah kita. Jika belum bisa menghadirkan Allah di setiap ibadah kita, setidaknya kita bisa merasakan bahwa saat beribadah itu, kita sedang dilihat oleh Allah, sedang berkomunikasi dengan Allah, sehingga ketidak khusukan bisa diminimalisir.
Sebanarnya masih banyak pembahasan lain yang disampaikan. Karena tidak di catat, jadinya hanya ingat segelintir saja.

Panggul, 14 Juli 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...