Senin, 13 Juli 2015

Catatan Ramadhan #20: Serangkaian Kegiatan Maleman

            Maleman adalah salah satu kegiatan yang dilakukan di Bulan Ramdhan ini. Saya sebenarnya juga kurang tahu betul kanapa kegiatan ini diberi nama maleman, bukan daluan, atau yang lain. Maleman dilaksanakan pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, mulai malem 21 hingga malem 29 yang tujuannya untuk mapak (menyambut) datanganya malam lailatul qodar. Di tempat saya, salah satu kegiatan maleman ini dilaksanakan secara bergantian diri satu rumah ke rumah yang lain, istilahnya yaitu genduren. Tuan ruman yang akan megadakan maleman ini mengundang tetangga terdekat untuk ikut genduren tersebut. Pelaksanakan maleman ini hampir sama sebenarnya seperti megengan saat menyambut bulan ramadhan kemarin, hanya saja waktunnya yang berbeda. Ada yang berbeda lagi, jika saat megengan orang tua saya  membuatkan menu special untuk para undangan genduren, tapi pas maleman ini hanya di buatkan menu seadannya. Yup, sebenarnya menu tidaklah menjadi persoalan, yang terpenting adalah niat kita untuk selalu mencari ridha Allah akan datangnya malam lailatul qadar ini.
            Ada yang unik di tempat saya saat kegiatan maleman maupun megengan ini yang mungkin di tempat lain tidak ada bahkan tidak mengenalnya. Yang pertama, yaitu membuat apem kukus yang berbungkus daun nangka. Aneh bukan, biasannya kan buat apem itu pakai cetakan yang bentuknya bermacam-macam itu … lha yang ini malah pakai daun nangka sebagai cetakannya, orang desa itu memang kreatif, bisa menfa’atkan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya, he e.
            Cukup mudah untuk membuat apem berbungkus daun nangka ini, hanya mencampurkan bahan-bahannya, seperti tepung terigu, pisang, gula merah, dan garam secukupnya di dalam ember dan di buat adonan hingga halus. Setelah semua tercampur lalu di diamkan beberapa menit untuk menunggu adonanya mengembang, setelah adonan mengembang adonan di tuangkan ke dalam cetakan daun nangka, dan yang terakhir yaitu di kukus. Agar tidak tumpah, biasannya ibu saya mengukusnya barengan dengan nasi. Hmm,,simple dan alami, tanpa bahan pengawet …^__^
Setiap kegiatan genduren, juga dibuatkan AMBENG, istilah ini digunakan untuk menamai nasi serta lauk yang akan dijadikan menu para undangan genduren. Sebelum memakan ambeng bersama-sama, tentunnya sang imam membacakan hajatnya melakukan genduren ini dan memanjatkan do’a.
Di siang hari, mengadakan saya dan keluarga mengikuti kegiatan khataman Al-Qur’an dan kirim do’a kepada para leluhur yang diadakan oleh muslimat fatayat di desa saya. Seperti halnya  saat megengan, di kegiatan maleman, pada malam hari-nya para jama’ah sholat taraweh juga diminta untuk membawa takir (nasi bungkus) seikhlasnya. Setelah selesai sholat tarawih, Ustadz memberikan ceramahnya seputar malam lailatur qadar dan keutamaan-keutamaannya. Hampir satu jam beliau menyampaikan tausiahnya. Setelah selesai, takir yang telah kami kumpulkan itu di bagikan dan dimakan bersama-sama.

Itulah serangkaian kegiatan maleman ditempat saya, bagaimana dengan serangkaian kegiatan maleman di rumah kalian?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...