Selasa, 26 Juli 2016

Tentang Arti Sebuah Keluarga


Novel Ayah karya Andrea Hirata


Membaca novel sebenarnya lebih mengena daripada menonton filmnya, namun memahami bahasa novel rupanya juga tidak semudah memahami lakon film. Begitulah kesanku saat mencoba membaca novel Ayah ini. 

Ketika membaca novel ini, saya memang sering kurang paham maksud bahasa yang dipakai yang terlalu metaforis dan puitis. Penggemar tulisan ringan sepertiku, memang perlu upaya untuk bisa paham isinya. Sesekali saya perlu ndakik-ndakik untuk membaca berulang-ulang. Namun, saya merasa terhipnotis dengan jalan ceritanya, sehingga nyaman-nyaman saja meskipun perlu membolak-balikan halaman demi memahami jalan cerita.

Memang saat masih di awal-awal terasa membingungkan. Alur ceritanya tidak dibuat runtut, sehingga terkesan membingungkan. Ada beberapa tokoh cerita yang digambarkan secara bergantian disana. Setelah sub bab sebelumnya membicarakan tokoh A, lalu berikutnya membahas tokoh B, lalu C, dsb. Namun, setelah melahap cerita demi cerita dari novel ini, semuanya terajut menjadi sebuah cerita utuh yang sangat mengesankan.

Tentang arti sebuah keluarga. Bagaimana kekuatan cinta seorang ayah, bernama Sabari, terutama untuk anak yang begitu ia sayangi (Zorro) diceritakan secara apik dalam novel berjudul Ayah ini. Kehadiran Zorro telah merubah hidup Sabari menjadi seorang ayah. Penulis juga menceritakan secara dramatis, bagaimana kerasnya perjuangan dan pengorbanan Sabari untuk cintanya kepada istri. Marlena.

Di bab-bab awal, pembaca disuguhkan akan cerita menarik tentang masa muda Sabari bersama ketiga sahabatnya, Ukun, Tamat, dan Toharun. Mereka adalah sahabat seperjuangan dalam suka dan duka, salah satunya dalam memperjuangkan cinta. 

Sabari dikenal dengan sosok yang sangat dingin terhadap cinta. “Soal cinta? Sabari tak kenal dan tak suka. Cinta adalah kata yang asing. Cinta adalah racun manis penuh tipu muslihat - Hal. 10.” Sedangkan sahabatnya gampang sekali jatuh cinta dengan berbagai gadis, tapi juga sama saja karena mereka tidak berani menyatakan perasaan cintanya pada gadis yang mereka sukai.

Namun ketika Sabari duduk di bangku SMA, benih cinta tumbuh pada sosok wanita bernama Marlena. Dan perjuangan Sabari mengejar cinta Marlena dimulai. Kehidupan SMA dengan benih-benih cinta yang terjadi antara mereka berdua dikisahkan secara detail oleh Bang Andrea Hirata. 

Meski seringkali cintanya ditolak oleh Lena, Sabari tetap saja sabar dan tidak pernah pantang menyerah, ia terus berusaha menarik perhatian Lena.Mencintai seseorang merupakan hal yang fantastis, meskipun orang yang dicintai itu merasa muak – ­Hal.35.” Begitulah filosofi hidup yang Sabari anut.

Segala usaha dilakoni Sabari demi mendapatkan perhatian dan cinta dari Lena. Bagi Sabari, sepasang mata Marlena bak purnama kedua belas yang selalu membuatnya merinding saat menatapnya. 

Sabari punya bakat luar biasa yang diturunkan dari ayahnya bernama, Insyafi, yaitu membuat puisi Memainkan Bahasa perlambang ini, Sabari adalah jagoanya. Tidak semua orang mampu memaknainya.

Dalam sub bab yang berjudul “Merayu Awan”, penulis mengisahkan bagaimana Ayah sabari sangat telaten berpuisi untuk anaknya. Setiap malam menjelang tidur, ayahnya selalu diminta untuk bercerita tentang keluarga langit dan melantunkan nyanyian untuk merayu awan, yang dinamai puisi merayu awan. 

Wahai awan
Kalau bersedih
Jangan menangis
Jangankan turunkan hujan
Karena aku mau pulang
Untukmu awan
Kan kuterbangkan layang-layang …
(Novel Ayah - Hal.63)

Kegemaranya dalam berpuisi, membuat Sabari mendapat nilai tertinggi ketika ujian Bahasa Indonesia. Bu Norma (Guru Bahasa Indonesia Sabari) sampai heran dengan sosok sabari yang pandai merangkai kata-kata yang sangat spektakuler. 

Kepiawaianya dalam berpuisi juga dimanfa’atkan oleh Sabari untuk mencuri perhatian Lena. Sabari selalu membuatkan puisi kepada marlena. Sudah tidak dapat terhitung lagi puisi-puisi cinta sabari kepada marlena. 

Demi Lena, Sabari juga bersedia melakukan hal konyol. Sabari ikut-ikutan melakukan segala sesuatu yang Lena suka. Seperti berkirim surat dengan sahabat Pena, karena ini merupakan salah satu hobinya. Membaca isi surat Sabari untuk Lena ini, sungguh sontak membuatku tertawa ngakak =D

Sejauh ini memang perjuangan Sabari untuk menjemput cinta Marlena hanya bertepuk sebelah tangan. Air susu dibalas air tuba, begitu kiranya pepatah yang cocok bagi cinta Sabari pada Marlena. Namun, Sabari masih dengan Sabar untuk senantiasa mendapatkan cinta Lena.

Pejuangan Sabari yang selalu gagal untuk mencuri perhatian Lena, membuat ketiga sahabatnya Ukun, Tamat, dan Toharun merasa kasihan. Sudah berkali-kali ketiga sahabat itu mengingatkan Sabari untuk berpikir rasional, tapi Sabari masih juga tetap bertahan akan keinginannya.

Usaha mendapat cinta Marlenapun, masih terus berlanjut selepas mereka lulus SMA. Setelah tamat dari SMA, Sabari memilih untuk bekerja di Tanjong Pandan bersama dua kawannya Ukun dan Tamat. Namun tak lama ia memiliki rencana untuk pindah bekerja ke Belantik demi cinta sebelah tangannya kepada Lena. Disana ia bekerja di Pabrik Batako milik Markoni, bos yang sangat disiplin sekaligus Ayah Lena.

Sabari bekerja dengan penuh tanggung jawab. Pekerjaan berat, ringan saja baginya. Sebagaimana semboyan orang Kampung Belantik yang konon berkeringat kalau makan, tetapi kalau bekerja tidak, benar-benar ada pada diri Sabari. Ia sangat totalitas dalam bekerja, rajin dan disiplin. Bahkan beberapa kali ia mendapat pengahargaan dari CV Nuansa Harmoni (Nama usaha batako milik Markoni) sebagai karyawan teladan.

Medali keemasan berhasil mengalung di lehernya. Ia mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari seluruh karyawan yang lainya. Semangat bekerja yang luar biasa, tidak terlepas untuk gadis pujaannya, Marlena. Ia ingin sekali Marlena kagum padanya. Sayangnya, Marlena tidak juga peduli meski sudah bersusah payah Sabari berusaha membuat Marlena setidaknya melirik kerja kerasnya. Meski begitu, Sabari tetaplah Sabari yang penyabar, ia terus berusaha, dan mungkin ia tidak akan pernah lelah berusaha.

Sabari …. Sabari … Oh Sabari …

“Hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya – ­Hal. 165.” Itu adalah uangkapan  yang dipahami betul oleh Sabari. Meski begitu, Sabari tetap tersenyum.

Cinta sungguh, sungguh ajaib …

­“Awan takjub melihat seorang lelaki yang mencintai perempuan di seberang meja itu lebih dari apa pun di dunia ini, sedangkan peremupuan itu membenci lelaki itu lebih dari apapun di dunia ini, dan mereka akan segera menikah – Hal. 170.” Ya, mereka adalah Sabari dan Marlena. Bagaimana keduanya bisa tetiba akan melangsungkan pernikahan?

Sabari menikahi Lena lantaran Lena terjebak peristiwa hamil di luar nikah dengan seorang cowok. Karena keluarga Marlena sangat menjaga kehormatan dan nama baik keluarganya, maka terpaksa pernikahan ini harus dilangsungkan. Mendengar kabar itu, Sabari bersedia berkorban untuk Lena. Ayah Lena, Markoni juga merestui.

Meskipun usaha sabari untuk menikahi Marlena kesampaian, namun Lena tetap Lena yang dulu. Ia masih membenci Sabari. Rumah tangga yang dijalani Sabari akhirnya tidak pernah bisa dikatakan seperti rumah tangga pada umumnya. Marlena bahkan jarang pulang. Selama pernikahan itu berlangsung, Sabari dan Lena tidak tinggal serumah, sungguh unik.

Bahagia tak terperi pada diri Sabari, karena akan menyambut kelahiran anak yang dikandung Lena. Meskipun Lena hamil dengan pria lain, akan tetapi tidak mengurangi kebahagiaan Sabari untuk menyambut kedatangan buah hatinya. Rumah baru disiapkannya untuk hidup bersama keluarga kecilnya itu.

Saat bayi itu lahir, suka cita kegembiraan tampak membuncah pada diri Sabari. Akhirnya ia menjadi seorang Ayah. Sabari membesarkan putranya yang diberi nama Zorro. Hidup sabari sangat bahagia bersama anak kesayanganya. Baginya, Zorro adalah segala-galanya. Bila melihat Zorro, sakit hatinya seakan terobati kalau mengingat tingkah Lena yang seenaknya. 

Setiap hari Sabari bekerja keras dan merawat Zorro dengan baik. Seperti apa yang telah dilakukan Ayah Sabari kepadanya waktu masih ia masih kecil, pun ia lakukan kepada Zorro. Ia selalu berkisah tentang keluarga langit dan membacakan puisi merayu awan kepada Zorro.

Kalau malam tiba, Sabari selalu susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya. Ia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, memboncengnya naik sepeda setiap sore ke taman kota, dll. Zorro pun menjadi amat lekat dengan Sabari yang selalu menyayanginya.

Singkat cerita, pada akhirnya pernikahan Sabari dan Marlena kandas di meja sidang. Cerita berjudul “ Semua Telah Membeku di dalam Waktu” menceritakan bagaimana Sabari mendapat gugatan cerai dari Lena. Kemudia cerita berlanjut “Ruang Sidang III”. Sabari tenggelam dalam berupa-rupa detik, pasal demi pasal UU perkawinan, kata menimbang, mengingat, memutuskan ini itu Hal. 211. Sudah secara resmi hubungannya dengan Lena khatam.

Kebahagiaan sabari bersama keluarga kecilnya benar-benar serasa berakhir saat marlena datang bersama pacar barunya dan mengambil paksa anaknya Zorro.

“Satire Akhir Tahun” mengisahkan bagaimana banyak cobaan yang menimpa Sabari di akhir tahun itu. Setelah Zorro diambil oleh Marlena darinya, dua minggu setelahnya ibunya meninggal. Berselang tiga minggu, ayahnya meninggal. Yang tersisa hanyalah dia dan sepi. “Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadap daripada kebosanan. Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih Hal. 250.”

Kini Marlena tengah hidup bersama keluarga barunya, yang penulis kisahkan bersama cerita yang berjudul “Kisah Keluarga Langit”, yaitu Jon Pijareli (Suami baru Lena), Lena, dan Zorro. “Biarlah kita jatuh cinta dan biarlah waktu mengujinya Hal. 253.” Benar saja, waktu tengah menguji kesabaran akan cinta Marlena terhadap Jon. Bahtera rumah tangga mereka berdua tidak bertahan lama.

Kesepian, hidup Sabari makin tak tentu. Badan tak terawat, rumah tak diurus, dan ia tak mau kerja. Dia stress berat hingga membuat kedua sahabatnya iba dan berinisiatif mencari Zorro. Tamat dan Ukun rela mencari Lena dan Zorro ke seantero Sumatera. Perjuangan mereka mencari ibu dan anak tersebut penuh liku. Mereka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Sabari dan persahabatan yang telah lama terjalin.

Pada akhirnya, Ukun dan Tamat berhasil menemukan Lena dan Zorro. Ternyata, Lena sudah menikah lagi dengan lelaki bernama Amirza. Zorro pun dinamai ulang dengan nama Amiru.

Zorro alias Amiru segera mengenali ayahnya. Kedua belahan jiwa itu akhirnya kembali berpelukan dan saling mengisi rumah mereka yang tak ditinggali bertahun-tahun itu. Amiru yang cerdas dan mencintai puisi seperti ayahnya, Sabari, sering menghabiskan waktu berdua dengan Amiru, menunggu matahari tenggelam dan berbalas puisi

Kulalui sungai yang berliku
Jalan panjang sejauh pandang
Debur ombak yang menerjang
Kukejar bayangan sayap elang
Di situlah kutemukan jejak-jejak untuk pulang
Ayahku, kini aku telah pulang
Ayahku, lihatlah, aku sudah pulang
~Zorro~
(Novel Ayah – Hal. 384)

Cerita yang berjudul “Purnama Kedua Belas” yang menjadi pembuka cerita, ternyata juga menjadi penutup cerita dalam novel ini. Benar-benar akhir cerita yang penuh dengan kejutan.

Pada pertengahan 2013, Sabari meninggal dunia. Saat Sabari meninggal, Lena masih berumah tangga dengan Amirza, dan di makam Sabari tertulis, “Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu”. Amiru-lah yang mengukir puisi itu sesuai permintaan Sabari sebelum meninggal.

Dan, setahun berikutnya, Marlena meninggal. Sebelumnya, ia tengah berpesan pada Amiru, anaknya untuk menguburkan jasadnya di Belantik, sebelah makan Sabari dan ia juga berpesan untuk menulis “Purnama kedua belas” di nisannya. Purnama kedua belas adalah panggilan kesayangan Sabari pada Marlena sejak pertamakali mereka bertemu. Akhirnya, Amiru menurutinya, diukirnya tulisan itu pada nisan ibunya.

Meskipun Lena sempat menikah beberapa kali, namun bagi Sabari Lena adalah cinta pertama dan terakhirnya. Hanya Lena hingga akhir hayatnya. Sebelumnya, saat ayahnya masih hidup, Amiru bertanya pada ayahnya, apakah ayahnya masih mencintai ibunya? Sabari menjawab, “Ingat, Boi, dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu.”

Datangkan seribu serdadu untuk membekukku!
Bidikkan seribu senapan, tepat ke ulu hatiku!
Langit menjadi saksiku bahwa aku disini, untuk mencintaimu
Biarkan aku mati dalam keharuman cintamu....
(Novel Ayah, Halaman 110


Ketika menikmati kejutan demi kejuta cerita dari novel ini, apalagi sampai pada endingnya, sungguh membuatku haru. Kesetiaan Sabari pada Lena membuat saya merinding membaca akhir cerita ini. Sungguh!

Berkat didikan baik dari sang Ayah, Sabari yang penuh dengan perjuangan, rela bekerja keras, merawat, dan memberikan yang terbaik untuk Zorro, membuat Zorro atau Amiru tumbuh menjadi pribadi yang bisa dibanggakan, selain pintar dan juga sangat pandai berpuisi seperti ayahnya.


Keluarga juga berarti sahabat. Zorro akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan ayahnya juga tidak lepas dari perjuangan sohib Sabari, yaitu Ukun dan Tamat. Mereka mencoba melakukan yang terbaik untuk sahabatnya, yang rela berjuang keliling Sumatera dengan biaya yang pas-pasan demi kebahagiaan Sabari. Juga, demi melihat hidup Sabari seperti semula.

Dijamin tidak bosan membacanya, karena selian banyak kisah yang bisa kita ambil pelajaran, pembaca akan terhipnotis dengan tebaran kalimat-kalimat indah nan melankolis dalam novel ini. Kita juga akan dimanjakan oleh beruntai-untai puisi  indah.

Selamat membaca ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...