Selasa, 06 Oktober 2015

Gara-Gara Simbah



            Gara-gara simbah, surat untuk pengajuan beasiswa saya hilang. Masih sangat kuat ingatanku ketika meletakkan selembar kertas beramplop itu. Saya keluarkan dari tas lalu saya taruh di atas tumpukan buku-buku paling atas agar esoknya saya bisa mudah mencarinya. Saya juga menyesal kenapa tidak saya taruh di tas saja, toh juga tidak berat-berat amat. Karena tas akan saya bawa keluar, ke rumah dosen saya dan menginap, jadi saya putuskan untuk saya tinggal saja biar tidak lungset.
Selain ada suratnya, di dalam amplop itu sebenarnya ada uang sebesar dua ratus ribu. Tetangga saya minta tolong untuk mengasihkan uang itu ke anaknya, yang juga teman saya kuliah. Mulai panic ketika teman saya mengirim SMS menanyakan uang titipan dari bapaknya itu, ia akan mengambilnya segera. Waktu itu juga saya bergegas pulang dari rumah dosen untuk mengambilkan uang untuk teman saya itu.
            Saya begitu panic ketika berkali-kali saya cari amplopnya tidak ada. Satu per satu buku saya angkat berharap amplopnya terselip di salah satu buku itu. Tetap saja tidak ada. Siapa lagi kalau bukan simbah yang menyembunyikan, padahal jelas-jelas saya taruh amplopnya di situ. Soal surat pengajuan beasiswa belum saya pikir, tapi masih soal uang yang dua ratus ribu itu, karena sebentar lagi teman saya akan datang untuk mengambilnya.
            Untungnya masih ada uang lebih, jadi saya bisa mengganti uang teman saya itu. Yang penting saya bisa mengasihkan uang titipan itu ke teman saya, anggap saja sudah beres, insya’allah ikhlas. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya menyalahan diri saya karena begitu ceroboh meletakkan tidak pada tempat yang jelas. Saya anggap yang salah adalah simbah, karena telah menyembunyikan amplop itu.
            Satu persoalan sudah beres, tinggal surat dari desa untuk pengajuan besiswa itu yang sangat saya sayangkan. Saya masih khusnudhon, jika besok pasti akan ketemu. Masih ada waktu tiga hari untuk menantinya. Setiap hari saya mencarinya hingga hari terakhir pengumpulan itu, tapi tetap saja belum ketemu. Hingga hari terakkhir itu saya ingin memutuskan pulang kampung lagi untuk mengurus surat itu lagi ke balai desa. Membayangkan 8 jam PP, membuatku enggan untuk berangkat. Berharap di detik terakhir pengumpulan berkasnya, yiatu tanggal  30, jam 3 sore bisa ketemu.  Jika surat ini hilang beneran, kasihan juga Bapak. Saya yang meminta tolong bapak untuk memintakan surat ini ke balai desa, dan ternyata sekarang surat itu entah kemana.
            Tidak salah kirannya  jika saya harus memburu beasiswa yang keluar setiap semester ini . Meskipun tidak seratus persen di jamin bisa di terima, yang penting saya mengumpulkan berkas-berkasnya. Hingga semester 6 kemarin, Alhamdulillah saya menjadi salah satu dari ratusan orang yang terdaftar untuk mendapatkan besiswa tiap semester ini. SPP tiap semesternya saya gunakan uang beasiswa itu.  Tapi kesempatan untuk mendapatkan besiswa di semester ini hangus sudah. Batas pengumpulan akhir sudah tanggal 30 kemarin, dan sampai detik ini surat pengajuan besaiswa  itu belum ketemu juga.
            Semoga Simbah membaca catatan kecilku ini, sehingga mau mengembalikan amplop itu, ada jatah uang saku-ku selama sebulan  Simbah, Mohon untuk di kembalikan.

            Tulunggagung, 5 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...