Jumat, 28 Juli 2017

MENDENGARKAN BERARTI MENJADI PENDENGAR YANG BAIK



Tahukah kalian jika antara "mendengar" dan "mendengarkan" itu punya makna yang berbeda? Keduanya sama-sama bentuk kata kerja, namun secara makna berbeda sekali. Dalam bahasa Inggris, istilah keduanya pun dibedakan. Mendengar diartikan dengan istilah "hear(ing), sedangkan mendengarkan itu "listen(ing)". Kalau mengenal istilah salah satu kecakapan berbahasa "menyimak" atau mendengarkan" memang tidak disebutkan "hearing skill" tetapi "listening skill". Mengapa demikian?

Jujur saya mengenal perbedaan keduanya belum lama ini. Sebual judul tulisan "Hearing but Not Listening" dalam buku "Path of Life" karya Komaruddin Hidayat menyadarkan saya tentang hal itu. Buku tersebut sudah lama saya punya dan tulisan tersebut rupanya juga sudah lebih dari dua kali saya baca. Tapi sayang saya baru paham maksud tulisan itu setelah saya baca yang kesekian kalinya ini. Apa mungkin sebelum-sebelumnya saya tidak tuntas membacanya? Ah, ya sudahlah.

Inti yang saya tangkap jika mendengar itu seperti angin lalu yang kemudian beberapa saat kemudian terlupakan. Suara yang terdengar hanya sekilas mampir di telinga, sehingga tidak sengaja di dengarkan dengan baik-baik dari awal hingga akhir. Berbeda dengan mendengarkan, istilah ini lebih dimaknai sebagai mendengar secara aktif. Kita benar-benar fokus dan penuh perhatian terhadap apa yang kita dengarkan.

Orang yang mampu mendengarkan ternyata adalah mereka yang punya ketulusan hati untuk menjadi pendengar yang baik (good listener). Diakui atau tidak menjadi pendengar yang baik itu susahnya luar biasa. Kita lebih sering minta didengarkan, lebih suka dihargai. Kan, menjadi pendengar yang baik berarti kita telah menghargai pembicaranya. Bukankah kita juga akan mendapat ilmu atau pelajaran darinya jika mampu mendengarkan. 

Kadang memang kita itu merasa sudah tidak perlu diajari lagi, apalagi diajari oleh mereka yang lebih rendah posisinya. Gengsi dong, mungkin begitu pikir kita. Stop, stop! Semua orang itu punya sesuatu yang spesial. Mungkin kita adalah seorang yang sudah kuliah. Kita belum tentu lebih tahu dari mereka. Pasti ada suatu ilmu yang belum pernah kita ketahui darinya. Dengan semua orang pun, saya kira penting untuk mendengarkan apa-apa yang baik darinya.

Antara "mendengar" dan "mendengarkan" jangan sampai juga tukar. Keduanya punya tempat yang pas masing-masing. Ditukar balikkan itu begini contohnya. Berita gosip atau yang seharusnya cukup terdengar sambil lalu, malah kian asyik dan menarik didengarkan, direkam, lalu disebarkan dengan sangat antusias baik lewat obrolan, SMS, wasap, atau yang lain. Malah berita atau informasi yang bermutu hanya didengar saja, tidak didengarkan. "Mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo" begitulah orang jawa mengatakan.

Diambil dari catatan facebook,
Pare, 15 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...