Sabtu, 11 April 2015

#NoteInThreeDays



Belajar Ngaji Al-Qur’an : Metode Praktis  ‘Ustmani

Belajar itu tidak mengenal usia, tidak ada batasan waktu untuk belajar. Seperti halnya belajar untuk membaca Al-Qur’an. Untuk menjadikan bacaan Al-qur’an kita bisa lebih baik dan lebih baik lagi maka kita perlu untuk terus belajar. Mungkin saat kita masih kecil, TPA adalah tempat yang pernah dijadikan untuk belajar membaca Al-Qur’an. Dari situ kita belajar mulai dari nol, iqro’ juz 1 hingga bisa untuk membaca Al-Qur’an. Tapi jika kita tidak mencari tahu lebih lagi, tidak terus belajar lagi seringkali apa yang telah kita anggap benar itu mungkin masih banyak yang salah. itulah perlunnya kita perlu untuk belajar. Membaca Al-Qur’an adalah suatu yang sangat krusial, jika kita salah sedikit saja dalam membacannya, maka akan memberikan makna yang berbeda, bahkan memiliki makna yang berlawanan. Sehingga ketika membaca Al-Qur’an, kita harus memperhatikan aturan-aturan yang ada, seperti tajwid dan juga makharijul hurufnya. Contoh dari hal yang kecil saja seperti kata Qoodim” dan “Qodiim”, memang sepele kelihatannya, tetapi makna dari dua kalimat sangatlah jauh berbeda yaitu yang akan datang dan yang lampau. Contoh lain yang saya ingat yaitu, saat membaca aurat Al-fatihah ayat ke-5. Jika dibaca “IYYaaka na’budu” dengan tasydid huruf “ya” artinya: “Hanya kepada-Mu Kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, tetapi jika kita membacannya dengan “iYaaka na’budu” tanpa tasydid huruf “ya” maka artinnya sudah beda jauh sekali, yaitu “kepada cahaya matahari  kami menyembah dan kepada cahaya matahari kami meminta pertolongan.” Sangat fatal sekali bukan? Maka dari itu, sangat penting sekali kirannya bagi kita untuk selalu memperhatikan bacaan-bacaan Al-Qur’an, salah satunnya dengan terus belajar.
            Saya begitu beruntung sekali saat bisa bergabung dengan pusat lembaga pendidikan Al-Qur’an. Saya bisa belajar memperbaiki bacaan Al-Qur’an yang kirannya masih kurang pas. Saya bisa langsung belajar lengsung dengan seorang guru bagaimana cara membaca Al-qur’an dengan benar. Pusat lembaga pendidikan Al-Qur’an itu bertempat di Blitar, tepatnya di pondok pesantren Nurul Iman Garum Blitar dibawah pimpinan Kyai Saiful Bahri. Meskipun saya harus melakukan perjalanan jauh, namun saat itu saya sangat semangat menjalaninnya. Kegiatan ini saya mulai saat saya masih semester awal dulu. Saya bisa mengikuti kegiatan ini, mulannya saya hanya iseng untuk mengantarkan teman saya untuk kegiatan mengaji ke Pondok tersebut, dan ternyata kegiatannnya itu begitu asyik, mengaji bersama-sama dengan panduan lagsung dari guru.  Pesertannya banyak sekali, mulai dari remaja, hingga para ibu-ibu sekalipun. Mereka semua begitu memiliki semangat besar untuk belajar membaca A-Qur’an. Akhirnya saya berkeinginan besar untuk ikut lagi. Mengaji Al-Qur’an bagi saya memang sebuah kesenangan tersendiri, dan kebetulan metode praktis yang digunakan oleh pusat lembaga pendidikan Al-Qur’an ini menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang ingin belajar.
          Metode praktis yang digunakan oleh lembaga ini adalah metode usmani. dengan metode ini diharapkan kita bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai dengan ilmu tajwid sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Untuk mengikuti kegiatan belajar Al-Qur’an metode praktis usmani ini, kita harus belajar mulai dari awal lagi, di mulai dari pengenalan  huruf Hija’iyah, mengenal makharijul huruf, hingga memahami tajwid. Dalam tahap ini adalah tahap awal sebelum kita membaca Al-Qur’an. Biasannya kita menyebutnya Iqra’, tapi dalam metode ini menggunakan nama juz. Jadi ada 8 juz, mulai juz pemula hingga juz 7, yang sitiap juz-nya memiliki ketentuan dan tingkatan yang berbeda-beda. Tahap ini disebut PGPQ (Pendidikan Guru Pengajar Al-Qur’an). Dalam tahap ini yang mana akan dibina lebih lanjut bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar menggunakan metode praktis usmani ini. Dengan mengetahui cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar, maka kita bisa  dicetak untuk menjadi guru yang bisa mengetahui cara mengajar Al-Qur’an yang baik dan benar juga. Dengan mengikuti kegiatan ini, juga diharapkan agar kami bisa membuka dan mengajar TPQ dengan metode praktis ini di dalam masyarakat, sehingga bagaimana cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar bisa di tularkan. Pembinaan tahap pertama berlangsung sekitar 10 bulan, dimulai bulan syawal dan diakhiri bulan rojab. Masuknya seminggu sekali yaitu hari minggu. Dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 2 sore. Setelah tahap ini berhasil saya lalui, lalu saya melanjutkan tahap selanjutnya, yaitu PTQ (Pendidikan Tartil Al-Alqur’an). Tahap ini yaitu sebagai tindak lanjut tahap pertama, jadi ilmu yang telah kita dapatkan di tahap awal, diterapkan ke tahap selanjutnya ini untuk membaca Al-Qur’an.
          Sangat menyenangkan sekali rasannya mengikuti kegiatan ini, pengen untuk mengulanginnya lagi. Kangen juga dengan Yai Saiful yang super gokil. Dalam menjelaskan materinya, yai begitu lihai untuk mnghipnotis pusat perhatian siswannya. Materi-materi Al-Qur’an itu tidaklah ia sampaikan dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa arab dengan baik dan benar, tapi cukup dengan bahasa sederhana dan unik yang mudah dimengerti oleh siswannya. Bisa dibayangkan disitu banyak sekali yang ikut, dengan berbagai latar belakang. Jadi harus disesuikan dalam menjelaskan materinnya. Saya ingat sekali seperti saat menjelaskan tajwid. Yai saiful tidaklah menerangkan apa itu pengertiannya, kami pun juga tidak diminta untuk menghafalnya. Cukup dengan mengingat kata-kata ini, misalnya Gunnah: Genah suwe, Idhar: Genah dhiluk, Idghom: Ora genah suwe, Ikhfa’: Luweh ora genah suwe. Selain itu saat menerangkan sifat-saifat huruf hija’iyah, bagi orang yang awam untuk memahami seperti sifat jahr, hams, syiddah, rokhowah itu sesuatu yang sulit. Tapi ada bahasa unik yang mudah dimengerti oleh kami semua saat memberikan penjelasan tentang itu, yaitu: ditahan, dilepas, ditahan, dilepas, mentul, ndengngok, ndlongsor, ngamplok, renggang, abot, entheng, nenet, nyleot, ngeses, ngeder, ngosos, modhot. Adalagi …Ndomah itu mecucu, kasroh itu meringis, fathah itu mangap. Istilah-istilah itu akan dijelaskan oleh yai sampai kami bisa paham. Jika saat waktunnya pemberian materi, yang punya stress jika ikut mengaji ini dijamin langsung hilang pokoknya. Bayangkan duduk bejam-jam tidaklah terasa lama. Berkumpul dengan para ibu-ibu yang memiliki semangat tinggi untuk belajar menjadi semangat tersendiri bagi saya. Itulah salah satu metode praktisnya.
Selain itu metode praktis lainnya yaitu mushaf Al-Qur’an yang kami gunakan. Kami belajar metode ini dengan menggunakan mushaf usmani. Jika memakai mushaf Al-Qur’an usmani yang diberikan langsung dari lembaga itu memang benar-benar praktis. ada tanda-tanda khusus yang mempermudah cara membaca Al-Qur’an kita. Tidak perlu untuk menghafalkan teorinya, hanya dengan mengingat tanda-tanda yang ada dalam mushaf itu. Misalnya bacaan idhar dan ikhfa’: Nun dibacaan idhar itu ditandai dengan sukun, sedangkan nun di dalam bacaan idghom itu ditandai dengan tanpa harokat, sehingga saat bertemu dengan nun yang betanda sukun maka cara membacannya harus jelas, tidak boleh mendengung, dan masih banyak tanda-tanda praktis yang lain. Kenapa harus menggunakan tanda sebagai metode praktisnya? Karena beliau menjelaskan bahwa tanda itu sudah menunjukkan perintah, sehingga jika kita sudah paham dengan tanda-tanda itu maka juga akan mudah untuk memahami perintahnya, dan akhirnya kita membaca Al-Qur’an dengan benar. Praktis sekali bukan?
Sangking praktisnya metode ini, lembaga yang dipimpin oleh yai saiful ini sudah menghipnotis orang-orang yang mulannya belum bisa sama sekali baca Al-Qur’an, mereka menjadi suka dan akhirnya bisa. Metode ini di kemas dengan begitu sistematis dan praktis, sehingga sangat cocok ntuk semua kalangan, mulai anak-anak hingga dewasa. Yang juga tidak kalah menariknyanya saat mengaji dengan yai saiful, yaitu setiapkali beliau selalu memberikan ijazah, setiap kali bertemu ayat Al-Qur’an yang disitu terdapat ijazahnya. Sehingga kalau lulus dari lembaga ini disamping bisa jadi guru mengaji yang yang professional juga bisa jadi dukun, he e.
Sangat berharap sekali, nantinnya saya bisa mengikuti jejak beliau, saya sangat salut kepada beliau. Saya bisa mendirikan lembaga semacam ini, yang tentunya bisa bermanfa’at bagi orang lain terutama orang-orang terdekat, yaitu keluarga, Amiin. Wallaahu a’lam.
Pojok Minggu : T.agung, 12-04-2015

           

           
           
           
           
           
           
           

                       







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...