Selasa, 06 Desember 2016

Mendadak Anwar Zahid




Suasana semarak pengajian KH. Anwar Zahid di Kampung Inggris-Pare

Malam Rabu (06/12) saya berkesempatan hadir di majlis pengajian yang dihadiri lansung oleh KH. Anwar Zahid. Pengajian ini dihelat di kampung Inggris-Pare dalam rangka menyambut peringatan maulid Nabi. Saya sebenarnya sudah lama ingin menyaksikan langsung bagaimana beliau ketika berceramah, namun berkali-kali kesempatan itu datang saya belum bisa hadir. Kehadiran saya malam itu tanpa saya rencanakan jauh-jauh hari, bisa dibilang sangat mendadak. Sebelumnya saya tidak melihat banner yang terpampang di pinggir jalan tentang acara itu. Saya juga tidak mendengar info pengajian itu dari orang-orang di sekitar saya. 

Lalu, bagaimana saya tahu?

Awalnya dari sebuah penutup jalan yang terbuat dai bambu menghalangiku (juga para pengendara yang lain) untuk lewat. Jalan itu biasa saya lewati, jalur terdekat dengan camp saya. Saat saya berangkat ke tempat kursus belum ada palang jalan, tapi waktu pulang di siang hari palang jalan terpasang rapi dengan tanda peringatan “ada hajatan”. Pikir saya ada warga disekitar situ yang punya gawe. Saya mencoba menggeser palang jalan itu sedikit agar saya bisa lewat. Karena hanya butuh beberapa meter saja, sayang memang jika harus putar balik. Akhirnya saya bisa lewat.

Sore harinya, saya putuskan untuk lewat jalur yang berbeda. Sampai di ujung jalan, tepatnya perempatan yang menghubungkan beberapa gang ada tenda yang cukup megah terpasang disana. Sayang saya lewat dibelakangnya. Karena saya penasaran, saya mencoba mencari celah-celah jalan agar saya bisa menerobos dan lewat tanpa harus balik arah. Berhasil menerobos namun akhirnya harus balik arah juga karena jalannya dikasih palang pintu. Berkat menerobos itulah akhirnya saya tahu acaranya. Back drop sudah terpasang rapi di panggung dan saya tidak sengaja melirik dan membacanya. Pengajian yang mendatangkan kyai lucu Anwar Zahid ini untuk menyongsong peringatan maulid Nabi. 

Setelah sepanjang sore diguyur hujan, syukurlah ketika malam tiba hujan mulai reda. Saya berangkat pukul delapan lebih. Alhamdulillah hujan benar-benar berkompromi malam ini. Sengaja saya berangkat mendadak karena saya tahu acara mau’idhohnya belum dimulai. Dari tempat tinggal saya sangat terdengar, karena lokasi acaranya yang tidak jauh. Sebelum berangkat saya pamit pada teman saya. Ternyata setelah saya kasih tahu mau ke acara pengajian ia mau ikut juga. Memang saya tidak mengajaknya, karena ia tidak bisa berbahasa Jawa. Ia dari Manado. Sedangkan ceramahnya KH. Anwar Zahid mayoritas dengan Bahasa Jawa. Khawatirnya nantinya teman saya mengantuk, bosan, atau  tidak nyaman dengan suasananya. Alhamdulillah ternyata ia beneran mau ikutan.

Saya pergi dengannya naik sepeda motor. Setelah mendekati lokasi, berhadapan dengan palang jalan lagi. Intinya kami diminta untuk parkir. Saya rasa parkirnya tidak efektif. Haraganya cukup mahal dan itupun masih harus jalan lagi. Akhirnya motor saya kembalikan pulang dan kami berdua jalan kaki. Para warga juga banyak yang masih baru berdatangan. Sampai disana KH. Anwar Zahid sudah mulai memasuki panggung dan membuka ceramahnya. Karena berada persis di perempatan, pengunjungnya ditempatakan di gang jalan. Kiri, kanan, depan panggung sudah dipenuhi dengan para pengunjung. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli alas plastik lalu mencari tempat duduk yang nyaman agar bisa memperhatikan ceramahnya dengan baik.

Layaknya yang saya dengar dari radio, saya lihat dari youtube, beliau ketika berceramah suka ngelawak. Punya bahasa yang khas, yang memang bisa mudah diterima oleh warga. Karena teman saya tidak terlalu paham ketika beliau menyampaikan ceramahnya, sesekali saya memberitahunya. Tapi, syukurlah ia cukup menikmati. 

Selama pengajian berlangsung, saya mendengarkan dengan baik-baik apa yang beliau sampai. Selembar kertas dan pen saya keluarkan untuk mencatat poin penting dari ceramahnya. Hal ini menjadi ilmu penting yang tidak ingin saya lewatkan begitu saja. Pastinya, juga bisa menjadi pengingat bagi diriku sendiri untuk bisa menjadi lebih baik.

Dari pengajian ini, ada beberapa hal poin penting yang beliau sampaikan yang sempat terekam dalam catatan saya. Pertama tentang taqarrub (pendekatan). Kyai mengatakan bahwa taqarrub bisa menjadi jalur tengah bagi kita, sebagai umat manusia yang tidak lepas dari dosa namun selalu menginginkan nikmatnya surga. Maka, berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul adalah solusi terbaiknya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan rahmat dari Allah dan syafat dari Rasululluah. Meskipun telah banyak dosa, kalau berusaha taqarrub dosanya akan tertutup dan yang terlihat adalah sisi baiknya.

Kedua, kita tidak boleh menyepelekan kebaikan-kebaikan atau amal kecil. Masih ada hubunganya dengan poin pertama. Poin yang bisa saya garis bawahi adalah taqarrub bisa dimulai dari melakukan amalan-amalan kecil. Mungkin itulah kebaikan yang bisa rahmat Allah dan bisa menuntun kita menuju ridha Allah. Beliau mencontohkan amalan kecil misalnya mematikan kran air masjid yang sudah penuh, matika kipas angin masjid yang masih nyala, dsb.

Ketiga, cinta kepada Rasullulah. Karena Rasullullah lah kita bisa menikmati kehidupan ini. Beliau adalah sebab dari penciptaan alam semesta. Allah berfirman di dalam hadits qudsi “Jika bukan karena engkau (Muhammad) tidak akan Kuciptakan alam semesta ini”. Ya, segalanya yang ada di kehidupan ini adalah cahaya Rasulullulah. Beliau sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, maka kita juga harus berusaha dekat dengannya agar bisa mendapatkan anugerah cintanya. 

Keempat, kita diperingatkan untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama. Itulah jembatan penyelamat di zaman ini. Beliau adalah pewaris perbendaharaan ilmu agama dari Nabi. Beliau adalah orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabb-nya, yang menuntun kita menuju cinta dan ridha Allah. Maka menjadi tugas kita untuk selalu menghormati dan senantiasa selalu mengikuti apa yang diajarkanya. para ulama. Termasuk guru ngaji kita. Kita bisa tahu tata cara sholat, mengaji Al-Qur’an, tak lain adalah berkat ilmu dari beliau semua. 

Dalam kasus ini kyai menyuguhkan dengan kisah Nabi Nuh. umat kafir, dan banjir besar yang mengingatkan kita untuk selalu mengikuti ajaran Allah, “sebaik-baik bekal adalah taqwa.” 

Malam itu menjadi malam yang sangat bermanfaat kiranya. Kita mendapatkan ilmu yang tentunya setidaknya bisa menjadi pengingat diri untuk senantiasa berbuat kebaikan, berimana, dan bertaqwa. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berada di jalannya.

Pare, 07/12/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...