Senin, 05 Mei 2014

Ada Tugas Membuat Karangan

          Topik: Mahasiswa dan Tradisi Menulis

       Menulis merupakan bentuk komunikasi secara tidak langsung dimana penulis dituntut untuk menyatakan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak kepada orang lain untuk mencapai maksud dan tujuannya.[1] Berbicara soal menulis, hal ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, terutama baginkalangan mahasiswa  selama menempuh perguruan tinggi. Menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Menulis menjadi bagian penting dari mahasiswa karena dalam proses perkuliahan mahasiswa dituntut untuk membuat karya tulis, seperti artikel, makalah, hasil observasi, hingga skripsi/thesis yang mana hasilnya tidak akan maksimal jika tidak ada penguasaan ketrampilan dalam dunia tulis-menulis. Dengan demikian, secara tidak langsung mahasiswa dituntut untuk mahir dalam menulis.
Namun kenyataanya tidak sedikit mahasiswa yang kurang menyukai akan dunia tulis-menulis ini. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi ketidakminatan mahasiswa dalam menulis, kemauan adalah salah satunya. Sebenarnya semua orang itu mampu untuk menulis, apalagi mahasiswa pasti bisa menulis. Menulis juga dapat diartikan sebagai ketrampilan yang gampang-gampang susah. Gampang bagi mereka yang sudah terbiasa, hanya dalam hitungan detik saja mereka mampu menuangkan apa yang terpikirkan di benak ke dalam beberapa lembar halaman kertas. Sebaliknya bagi yang belum terbiasa menulis, rasanya selalu timbul banyak kesulitan saat ingin mengungkapkan apa yang terpikirkan. Tema sudah ada, gambaran yang ingin ditulis juga sudah ada, tetapi setelah memulai menulis, tangan mendadak berhenti dan suasana hati (mood) untuk menulis juga kurang.[2] Banyaknya tugas kuliah seringkali juga menjadi alasan yang menjadikan mahasiswa enggan untuk menulis, waktu yang kita punya punya habis untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut sehingga waktu untuk menulis tidak ada.
Selain itu kurangnya budaya membaca mahasiswa juga mempengaruhi budaya menulis, kurangnya budaya membaca mahasiswa ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang lebih memilih untuk menonton film daripada pergi ke perpustakaan untuk membacaa buku. Padahal dengan membaca, kita akan memperoleh pengetahuan lebih yang bisa digunakan untuk ide atau referensi saat menulis. Mungkin bagi sebagian mahasiswa enggan untuk menulis karena merasa referensi yang mereka miliki unutk membuat sebuah tulisan masih kurang.
Seiring dengan perkembangan tekhnologi yang semakin canggih, sebenarnya juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa unutk menulis. Namun kesempatan ini belum disambut sepenuhnya oleh mahasiswa, mereka masih banyak yang memanfaatkan IT yang canggih, seperti jejaring social (FB, Twitter, dll) untuk meng-update status atau komentar yang berisi curahan hati atau keluh kesah belaka. Jarang dari mereka yang memanfaatkanmedia sosial untuk menulis tulisan yang sekiranya berbobot dan bisa memberikan inspirasi kepada orang lain.[3]
Situasi yang membuat mahasiswa enggan akan tradisi menulis ini sebab banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari menulis:
1.    Sabagai instrument untuk menjaga ilmu, pendapat, pemikiran, opini, dan argument dari keraiban, serta untuk menyebarkanya secara luas.
Tersebarnya beragam madzhab fiqih di berbagai belahan dunia adalah lewat tulisan. Para ulama bekerja keras untuk mengumpulkan pendapat dan argument  mereka dengan cara menulis, lalu membukukanya. Kita semua sudah sama-sama maklum bahwa kekuatan otak untuk mengingat sesuatu sangat terbatas. Adapun satu-satunya jalan untuk mengabadikan apa yang pernah terpikirkan adalah menulis. Ilmu yang diabadikan dalam bentuk tulisan akan terus memberikan manfaat yang lain sampai bergenerasi-generasi banyaknya, meskipun saang penulis telah lama tiada. Tulisan tersebut ibarat diri sang penulis yang masih hidup, terus menjadi guru, dan bisa terus memberikan ilmunya ke orang lain.
2.    Sebagai media dakwah yang sangat bermanfaat
Di zaman yang bertekhnologi canggih seperti sekarang ini kita bisa menulis sebagai sebuah rutinitas keseharian. Tulisan merupakan media dakwah yang efektif tanpa harus terjun langsung ke objek dakwah. Baik menulis di atas kertas maupun menulis di lembaran-lembaran akun dunia maya.
3.    Menulis adalah media belajar
Tidak lengkap rasanya jika belajar tanpa menulis. Kurang lengkap rasanya jika ilmu yang kita punya tidak kita lengkapi dengan menuliskanya. Jika kita melihat kisah hidup para ulama salaf, ulama kontemporer, dosen dan guru, orang-orang besar serta para pemimpin dunia, hidup mereka tidak lepas dengan yang namanya menulis. Salah satu contohnya yaitu Ibnul Qoyyim yang telah menulis kitab Zaadul Maad hanya dalam waktu yang singkat (tidak sampai satu tahun). Padahal kitab itu sampai terdiri atas empat jilid. Berapa puluh lembar ilmu yang beliau tuliskan dalam seharinya. Sekali lagi, menulis adalah media belajar. Aktvitas menulis akan mendorong dan menuntut kita untuk menyerap, menggali, dan mengumpulkan infrmasi sebanyak-banyaknnya untuk menopang tema yang hendak kita tulis.
4.    Menulis akan membuat hidup menjadi  produktif dan usia tak terbuang sia-sia
Banyak orang yang beranggapan bahwa menulis adalah kegiatan yang membosankaan dan sia-sia. Tapi justru sebaliknya, aktivitas menulis dapat membuat hidup lebih produktif dan usia lebih bermanfaat sebab tak terbuang sia-sia. Dengan menulis, wawasan kita akan terus bertambah, serta di setiap detik dan kehidupan kita akan terisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kita sendiri dan orang lain.[4]
Sebenarnya masih banyak lagi manfaat menulis yang bisa di petik dari tradisi menulis. Apa yang tersampaikan di atas hanya sebagian kecilnya. Akan tetapi dari yang sedikit itu, semoga sudah bisa menjadi motivasi bagi kita sebagai mahasiswa untuk menghidupkan kembali tradisi menulis.
Kita menjadi kreatif memang butuh paksaan, terutama dari diri saya sendiri . Saya mampu untuk menulis seperti apa yang telah saya tuliskan ini, sayangnya menulisnya ini karena tugas mata kuliah dari dosen, bukan atas kesadaran sendiri.
Menghadapi masalah yang seperti ini memang gampang-gampang susah untuk diatasinya. Radisi menulis ini harus segera di tata kembali agar para generasin selanjutnya tidak lagi malas-malasan untuk menulis seperti yang terjadi pada mahasiswa saat ini. Semoga bagi mahasiswa yang kurang menyukai akan tradisi menulis menjadi sadar bahwa menulis itu sangat penting bagi mahasiswa. Aamiin.
Sebagai motivasi untuk mahasiswa, khususnya saya sendiri. Saya kebetulan menemukan cerita tentang seseorang yang berhasil dalam menulis. Ia bernama June yang telah mampu berusaha keras untuk mendobrak hambatanya saat menulis. Dalam ceritanya June ini adalah seorang yang berasal dari keluarga penulis, tapi dalam kenyataanya June ini merasa kalau bakat penulis dari keluarganya telah habis, ia tidak suka akan menulis. Namun, June ini memiliki kelebihan yatu terkenal sebagai pembicara hebat (ahli pidato) di kantornya. Suatu hari, temannya menyuruhnya untuk membuat artikel. Ia bingung bagaimana cara untuk memulainya. Namun temanya menyarankan kepada  June untuk duduk tenang, berpura-pura sedang berpidato-hanya saja itu disampaikan di atas kertas. Cara tersebut telah berhasil dilakukan June, sekarang ia teah menyandang gelar baru yaitu sebagai seorang penuis terbaik di kantoranya. Dari cerita itu saya memperoleh motivasi untuk meningkatkan menulis. Menulis kalau seperti caranya seperti itu rasanya mudah, karena diibaratkan pada saat kita bicara yang hanya saja medianya di atas kertas.[5]


[1] Ngainun naim, Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media), hal. 169.
[2] Agustina soebachman, 4 Hari Mahir Menulis (artikel, jurnal, cerpen, skripsi) (Yogyakaarta: Syura Media Utama), hal. 18.
[3] Imam FR Kusumaningati, Jadi Jurnalis itu Gampang (Jakarta: PE. Elex Media Komputindo, hal. 13.
[4] Ibid., Hal 18-22
[5][5] Bobbi Depotter & Mike Hernacki, Quantum Learning (Bandung: Mizan Media Utama (MMU), hal. 193.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...