Jumat, 07 Oktober 2016

Terimakasih Buku dan Blog



Feeling saya di Minggu sebelumnya ternyata benar kan? Tinggal bersiap menunggu giliran. Sebelumnya simak ceritaku yang ini. Agenda setiap Malam Jum’at itu memang mengharuskan untuk setiap yang ada di tempat kursus, baik tutor atau member mendapat giliran menjadi pengisi acara. Malam Jum’at (06 Oktober 2016) saatnya saya mendapat giliran. Pada malam sebelumnya saya dipilih bersama beberapa teman saya yang mengisi acara di malam itu.

Dua orang mendapat tugas memasak untuk dimakan bersama, dua orang yang bertugas membersihkan peralatan makan sehabis acara, satu orang jadi entertainer, dan dua orang lainnya menjadi motivator (lebih tepatnya berbagi pengalaman atau sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain). Berati kami punya waktu satu minggu untuk persiapan.

Tidak tahu saya harus bicara apa nantinya. Apa yang ingin saya sampaikan belum tergambar dalam benak. Berawal dari kebingungan itu akhirnya saya berusaha untuk mempersiapkan, agar waktu tampil tidak demam panggung. Cara yang saya lakukan tidak lain adalah dengan membaca blog-blog inspiratif dan membaca buku. Mungkin kalau teman-teman yang sudah sering bicara, menanggapinya sesuatu yang gampang.

Sebuah topik yang menarik perhatian saya  kutemukan dari blog milik seseorang secara tidak sengaja. Blog dengan visinya “Beriman Sempurna, Berilmu Luas, dan Beramal sejati” ini cukup menarik dan membuat saya ingin membacanya lebih mendalam dan memahami maksudnya. Setelah saya temukan, kemudian saya mencari topik itu kembali lewat HP. Saya ingin menyimpannya di HP agar sewaktu-waktu bisa saya baca. Karena saya tidak tahu menyimpan dengan “save page as” lewat HP, jadi saya biasanya menggunakan screenshot. Yang penting tulisanya jelas kan beres. 

Masih sangat jelas dalam ingatan saya bahwa saya pernah membaca buku yang berkaitan dengan topik ini. Saya sangat ingat, tapi buku yang mana saya lupa. Saya lalu mencoba membaca catatan resensi sederhana saya, siapa tahu bisa saya temukan. Satu per satu saya buka, saya baca lagi. Yeeaahhh…telah kutemukan buku yang saya maksud. Ingatan saya tidak salah lagi. 

Masalahnya tinggal beberapa hari lagi dan bukunya saya tinggal di rumah. Bagaimana saya bisa pulang, sementara saya punya jadwal mengajar. Akhirnya saya SMS adik saya. Saya memintanya pulang kampung. Dan kebetulan hari itu memang ia ingin pulang, katanya mau ziarah haji ke gurunya waktu di Pondok. Saya mengirim SMS kepada adik saya tentang barang-barang yang saya perlukan, terutama buku. Kalau sudah balik lagi, saya akan mengambilnya.

Pada Malam Selasa kemarin, saya menuju ke tempat kos adik saya di Tulungagung. Saya memberanikan diri untuk berangkat malam hari, karena sekitar jam setengah tujuh kegiatan saya baru selesai. Saya mengirim SMS ke adik saya kalau saya meluncur kesana. Selepas Sholat ‘Isya baru beangkat. Kurang lebih dua jam perjalanan yang saya tempuh. Biasanya 1,5 jam sudah sampai, karena perjalanan malam jadi ya harus pelan asal selamat. 

Sampai di Tulungagung saya cukup kesal. Kamar adik saya di kunci. Saya buka HP saya. Waladalah adik saya tidak di kos, katanya lagi di Trenggalek. Malam-malam begini ngapain kesana? Lalu saya telphon. Oh ternyata ia bersama seorang temannya menghadiri acara Sholawat Habib Syech di alun-alun Trenggalek. Esuk paginya, sekitar pukul lima saya harus balik lagi karena ada jam mengajar pagi. Saya tidak yakin kalau adik saya berani pulang tengah malam itu, paling tidak sholawat berakhir pada jam 11 malam. Tapi kalau tidak pulang mau menginap dimana? Tapi saya yakin mereka pulang. 

Saya menuju kamar teman adik saya dan beristirahat disana. Ada SMS masuk dari adik saya kalau ia bersama temannya sudah perjalanan pulang. Sebenarnya pengen menunggu hingga ia datang, namun mata saya sudah tidak kuat. Akhirnya saya tidur di kamar teman adik saya dan tidak tahu mereka sampai di kos jam berapa. 

Pukul tiga, saya pindah ke kamar adik saya. Ia masih tidur pulas. Saya mencoba bertanya tentang barang-barang yang saya minta bawakan, ada buku, baju, jllbab, dll. Dengan menanggapi lirih, ia menunjukkan letak barangnya itu. Sayapun mengambilnya. Yey, ini yang barang yang saya tunggu-tunggu. Sebuah buku untuk persiapan hari Kamis. Saya mencoba membaca sekilas buku itu. Saya cari halaman yang saya maksud. Saya tidak tidur lagi, karena saya harus berangkat pagi. Ada jam mengajar di pagi hari. Pukul lima saya berangkat dengan bahan bicara yang sudah di tangan tinggal mengeksekusinya.

Memang sebenarnya apa topik yang saya bicarakan? Dalam blog milik seseorang itu saya temukan ceritanya berjudul “memaksimalkan nikmat”. Saya tertarik untuk membacanya karena apa yang diceritakan kasusnya memang sangat persis apa yang sering saya alami dan mungkin oleh kebanyakan teman-teman. 

Terkadang hal-hal yang biasa itu malah yang sangat luar biasa dan berharga dan kita tidak selalu menyadarinya akan nikmat itu. Beliau mencontohkan tentang kesehatan (Sesuatu itu akan menjadi mahal ketika ia dibutuhkan). Saat sehat dan bisa menjalankan aktivitas keseharian, terkadang saya memang sering tidak menyadari kalau itu adalah sebuah nikmat yang sangat luar biasa. Malah apa  yang bisa saya jalani sehari-hari itu bukan hal yang luar biasa, tetapi biasa saja bahkan sangat biasa. 

Baru kalau pas ada sesuatu yang spesial, yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya itu namanya luar biasa. Dan ternyata saya telah melakukan kesalahan besar dalam hal ini. Yang sering kita anggap biasa (salah satunya adalah nikmat diberikan kesehatan) itulah yang spesial. Karena apapun yang telah kita anggap luar biasa, kalau tidak diimbangi dengan kesehatan?? Begitulah…

Saya masih sangat ingat bahwa saya pernah membaca buku yang juga membahas tentang hal ini,  akan sangat pas jika saya dijadikan kutipan untuk cerita dari blog yang akan saya sampaikan itu. Tidak salah lagi, saya memang pernah membacanya dan masih terngiang dalam memori saya akan pesan dari tulisan itu. Namun, saya masih bingung bagaimana merangkai dalam sebuah kata-kata waktu bicara nanti. Karena buku sudah ditangan dan sangat pas dengan topik itu, akhirnya saya berusaha untuk memahaminya. Saya sengaja mengutip satu paragraph dari tulisan yang ada di buku tersebut. Itulah kata-kata yang saya maksudkan. Karena tinggal merangkai kata-kata yang tepat saja, sedangkan intinya sudah saya dapatkan menjadi tidak sulit untuk saya hafalkan.

“Rasa syukur itu tidak perlu menunggu datangnya momentum yang menjadikan kita secara natural harus bersyukur, tetapi kita sendiri yang menciptakan momentum itu. Membangun momentum itu harus dilakukan dengan memandang segala hal yang kita terima, sampai pada hal yang paling kecil sekalipun sebagai anugerah dan nikmat luar biasa yang dianugerahkan oleh Allah SWT.” Itulah ungkapan yang sangat inspiratif, saya kutip dari buku menipu setan yang ditulis oleh Bapak Ngainun Naim. 

Cukup deg-degan saja ketika sudah detik-detik acara dimulai. Kelihatanya saya tenang, namun dibaliknya saya telah berusaha keras untuk mengingat kata-kata kunci yang akan saya sampaikan. Semoga saja tidak demam panggung, karena ini yang pertama kalinya saya berbicara di depan mereka. Tentu berbeda sikonnya dengan pada saat mengajar.

Setelah mic saya pegang, rasa deg-degan saya hilang begitu saja. Saya sangat menikmati apa yang saya sampaikan malam itu. Sepertinya para teman-teman juga cukup antusias untuk merenungkannya. Dalam kesempatan ini, tentu saya lakukan tidak semata-mata untuk menggugurkan tugas saja, tetapi juga bisa saya jadikan koreksi diri dan berkomitmen untuk menjalankan apa yang telah saya pelajari itu. Begitu juga harapan saya untuk teman-teman. 

Sebagai penutup tulisan saya kali ini, saya sungguh berterimakasih pada buku dan blog. Inspirasinya telah menyelamatkanku.

Pare, 07-08 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJIAN KESABARAN: RESEP SEMBUH PENDERITA HIPERTIROID

Oleh: Eka Sutarmi Periksa rutin ke dokter saya lakoni sejak saya mengetahui penyakit tiroid yang menyerang organ tubuh saya. Tepatnya 6 Ju...