Jumat, 28 Juli 2017

MENDENGARKAN BERARTI MENJADI PENDENGAR YANG BAIK



Tahukah kalian jika antara "mendengar" dan "mendengarkan" itu punya makna yang berbeda? Keduanya sama-sama bentuk kata kerja, namun secara makna berbeda sekali. Dalam bahasa Inggris, istilah keduanya pun dibedakan. Mendengar diartikan dengan istilah "hear(ing), sedangkan mendengarkan itu "listen(ing)". Kalau mengenal istilah salah satu kecakapan berbahasa "menyimak" atau mendengarkan" memang tidak disebutkan "hearing skill" tetapi "listening skill". Mengapa demikian?

Jujur saya mengenal perbedaan keduanya belum lama ini. Sebual judul tulisan "Hearing but Not Listening" dalam buku "Path of Life" karya Komaruddin Hidayat menyadarkan saya tentang hal itu. Buku tersebut sudah lama saya punya dan tulisan tersebut rupanya juga sudah lebih dari dua kali saya baca. Tapi sayang saya baru paham maksud tulisan itu setelah saya baca yang kesekian kalinya ini. Apa mungkin sebelum-sebelumnya saya tidak tuntas membacanya? Ah, ya sudahlah.

Inti yang saya tangkap jika mendengar itu seperti angin lalu yang kemudian beberapa saat kemudian terlupakan. Suara yang terdengar hanya sekilas mampir di telinga, sehingga tidak sengaja di dengarkan dengan baik-baik dari awal hingga akhir. Berbeda dengan mendengarkan, istilah ini lebih dimaknai sebagai mendengar secara aktif. Kita benar-benar fokus dan penuh perhatian terhadap apa yang kita dengarkan.

Orang yang mampu mendengarkan ternyata adalah mereka yang punya ketulusan hati untuk menjadi pendengar yang baik (good listener). Diakui atau tidak menjadi pendengar yang baik itu susahnya luar biasa. Kita lebih sering minta didengarkan, lebih suka dihargai. Kan, menjadi pendengar yang baik berarti kita telah menghargai pembicaranya. Bukankah kita juga akan mendapat ilmu atau pelajaran darinya jika mampu mendengarkan. 

Kadang memang kita itu merasa sudah tidak perlu diajari lagi, apalagi diajari oleh mereka yang lebih rendah posisinya. Gengsi dong, mungkin begitu pikir kita. Stop, stop! Semua orang itu punya sesuatu yang spesial. Mungkin kita adalah seorang yang sudah kuliah. Kita belum tentu lebih tahu dari mereka. Pasti ada suatu ilmu yang belum pernah kita ketahui darinya. Dengan semua orang pun, saya kira penting untuk mendengarkan apa-apa yang baik darinya.

Antara "mendengar" dan "mendengarkan" jangan sampai juga tukar. Keduanya punya tempat yang pas masing-masing. Ditukar balikkan itu begini contohnya. Berita gosip atau yang seharusnya cukup terdengar sambil lalu, malah kian asyik dan menarik didengarkan, direkam, lalu disebarkan dengan sangat antusias baik lewat obrolan, SMS, wasap, atau yang lain. Malah berita atau informasi yang bermutu hanya didengar saja, tidak didengarkan. "Mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo" begitulah orang jawa mengatakan.

Diambil dari catatan facebook,
Pare, 15 Juli 2017

BEGINI CARA MENGURUS SURAT KETERANGAN SEHAT


Mengurus surat keterangan sehat adalah pengalaman pertama saya, sebelumnya saya tidak pernah karena memang belum dibutuhkan. Jangan khawatir akan rumit saat mengurus surat keterangan sehat. Awalnya saya kira juga begitu, namun tidak. Beberapa tahapan bisa diurus dengan mudah.

Mungkin mengurus surat keterangan sehat ini bisa dilakukan di puskesmas, tempat praktik dokter, poliklinik, atau rumah sakit. Namun tempat saya pilih kali ini adalah rumah sakit. Salah satu rumah sakit umum di Kota Tulungagung menjadi tujuan utama saya, yaitu RS Dr. Iskak.

Tepatnya hari Selasa (25/07) pagi-pagi saya berangkat dari Kediri menuju Tulungagung untuk mengurus surat keterangan sehat. Hari sebelumnya sebenarnya saya sudah datang, namun karena saya kurang tahu jadwalnya, jadi gagal. Waktu itu saya langsung menemui security untuk menyampaikan keperluan saya. Ternyata untuk Poli GCU(General Check Up) hanya buka sampai jam 11 saja. Ia menyarankan untuk datang pagi agar di loket tidak mengantri panjang.

Pukul 08. 00 saya sudah bersiap di rumah sakit. Saya langsung menuju ke loket umum untuk mengurus administrasi, sekaligus pembayaran. Di ruang tunggu loket itu sudah sangat banyak yang mengantri dengan tujuan masing-masing, ada yang ke poli anak, poli mata, poli bedah, poli kandungan, poli GCU, dll.

Pertama tentu saja harus mengambil nomor antrian dan harus menunggu sampai nomor antrian dipanggil. Tidak berselang lama nomor 113 dipanggil, giliran saya untuk menghadap petugas.

 “Mau periksa apa Mbak?” tanya petugas.

“Ga periksa Bu,...,” Jawab saya.

 Langsung saya petugas memotongnya, “Lha terus mau ngapain kesini..” Katanya dengan nada sedikit gemas menurut saya.

Saya pikir mengurus surat keterangan sehat tidak melalui periksa segala. Langsung saja petugas memberi surat keterangan yang menyatakan saya sehat. Oh tidak, tidak.

“Ada kartu berobatnya, Mbak?” Tanya petugas

“Belum punya bu.” Jawab saya

Karena sebelumnya saya belum pernah periksa di rumah sakit itu, jadi saya belum punya kartu berobat. Petugas meminta saya untuk mengisi formulir dulu untuk membuat kartu berobat. Jika di lain waktu periksa ke rumah sakit itu lagi kartu tersebut bisa dibawa tanpa harus buat lagi.

Di loket umum ini, pertugas minta KTP asli saja dan uang pembayaran. Biayanya lima belas ribu saja. Setelah membayar saya menerima form keterangan sehat yang harus diisi oleh dokter yang bersangkutan. Kemudian, saya langsung menuju ke ruang periksa. Ruangan MCU namanya (Medical Check Up), lokasinya tidak jauh dari loket umum itu.

Di dalam ruangan tersebut telah ada orang-orang yang juga mengantri periksa untuk meminta surat keterangan sehat. Selain itu di ruangan ini juga melayani SKBN (surat keterangan bebas narkoba). Karena saya hanya perlu surat keterangan sehat saja, jadi saya tidak meminta SKBN.

Masuk ke ruangan tersebut, saya lalu diperiksa, diantaranya diukur tinggi badan, berat badan, golongan darah, dll oleh asisten dokter. Sambil diperiksa saya juga ditanyai dengan beberapa pertanyaan ringan misalkan pernah punya penyakit serius atau tidak? alasan buat surat sehat, dll. Hasil cek kesehatan tersebut, kemudian ditulis. Terakhir, saya diberi satu lembar hasil tes keehatan tersebut.

Jumat, 14 Juli 2017

CATATAN YANG TERTINGGAL

Entah kenapa, aku sepertinya tengah krisis ide untuk menulis. Melototi layar word berjam-berjam, tidak juga aku segera menemukan ide untuk segera kutuliskan. Rasanya kosong. Ya, aku tengah menyadari kekosongan itu akibat aku sempat terlena menggunakan pikiranku untuk menggali ide, lalu kutuliskan. Ketika membaca tulisan orang lain, yang muncul dalam benak ini hanyalah, "kok bisa ya?" Aku sejenak terheran. Kagum seharusnya tidak sebatas kagum, namun harus segena menirunya, kalau aku bisa menulis sesuat, lalu dibagikan.

Ya, Aku tertinggal beberapa bulan terakhir ini soal menulis. Sungguh belajar menulis itu perlu sebuah komitmen dan usaha yang serius, tidak main-main. Dan rasanya tidak mudah untuk kulakukan. Benar-benar tertatih. Salut kepada mereka yang senantiasa istiqomah dalam menebarkan ilmu lewat tulisan. Aku yakin semua itu mereka lalui dengan proses yang tidak singkat.

Memaksa diri untuk bangkit kembali seringkali kulakukan. Namun seringkali ada saja yang membuatku terlena hingga berhari-hari, sehingga menggagalkan rencanaku untuk menulis. Sebenarnya aku sangat menyesalinya. Kini saatnya memompa niat kembali. Kukira niat yang kususun lalu sudah usang, sehingga tidak ampuh lagi untuk menghidupkan obor semangat diri. Semuannya memang tergantung diri sendiri. Tinggal memilih saja, antara iya dan tidak. Ketika ego sebagai musuh kita, maka tugas kita adalah melawannya. Jangan samapai dibiarkan berlarut-larut.

Salah satu jalan yang sering kutempuh untuk menghidupkan obor semangat adalah membaca buku motivasi kepenulisan dari para guru menulis. Dengan menghayati buku-buku tersebut, aku jadi tersadar akan sebuah kesungguhan dan komitmen kala menjalani proses belajar.

Memang saat beberapa Minggu berhasil menulis secara rutin, disitulah ketidak kekosongan malah terjadi. Seakan ada saja ide yang ingin dituliskan. Lalu, suatu saat ada iming-iming untuk tidak menulis, disitulah aku tidak tahan. Yang akhirnya aku terlena akan sebuah komitmen. Lagi-lagi hari tidak ada yang bagus untuk memulai. Catatan pun akhirnya tertinggal jauh. Hanya momen bagus yang kunanti untuk memulai lagi. Tapi benar, nihil adanya jika momen itu ditunggu saja, tidak segera beraksi.

Dalam sunyinya malam, 14-07-2017

Selasa, 11 Juli 2017

BELAJAR MENDIDIK KEPADA PAK GURU J. SUMARDIANTA

BELAJAR MENDIDIK KEPADA PAK GURU J. SUMARDIANTA
Oleh: Eka Sutarmi


Apakah kalian mengenal Pak guru hebat yang satu ini, yaitu Pak J. Sumardianta? Yang selain guru hebat, beliau juga penulis hebat. Beberapa bukunya diantaranya merefleksikan kepiawaian beliau menjadi seorang pendidik yang istimewa. Saya mengenal Pak J. Sumardianta belum lama ini. Pada 04 September 2016 saya berhasil mengabadikan inspirasi kepenulisan bersama beliau saat acara bedah buku “Mendidik Pemenang Bukan Pecundang” karyanya.

Saya dipertemukan kembali pada acara SLG (Sekolah Literasi Gratis) di STKIP Ponorogo pada 12 Februari 2017. Waktu itu kebetulan beliau menjadi moderator saat Pak Hernowo menjadi narasumber di acara tersebut. Berkat pertemuan dengan Pak J, saya jadi berkesempatan membaca buku beliau yang luar biasa, diantaranya mendidik pemenang bukan pecundang, habis galau terbitlah move on, dan guru gokil murid unyu.

Sebagai seorang guru yang sudah berpuluhan tahun mengajar, pastinya Pak J. Sumardianta sudah melalui proses yang panjang, yang pada akhirnya beliau menjadi guru yang hebat. Beliau telah mampu menjadikan anak didiknya menjadi pemenang. Hal ini telah beliau buktikan kala mengajar para siswanya di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ya, Pak J adalah seorang guru yang sangat piawai dalam membangun karakter murid-muridnya.

 “Prinsip saya dalam mengajar tidak hanya sekadar menjadikan siswa cerdas dan terampil. Tetapi, tugas guru itu sebenarnya harus delivering happiness, membuat murid bahagia. Kalau muridnya bahagia, mereka akan menjadi orang yang berhasil. Berhasil dalam studi maupun dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ada kecenderungan sekolah-sekolah di Indonesia itu modelnya mengindoktrinasi, karena telah terperangkap dengan istilah materialisme kurikulum. Karena terlalu banyak materi, sehingga anak-anak itu mudah boring,” tuturnya pada suatu kesempatan ketika Pak J diundang dalam sebuah program acara Rumah Perubahan Rhenald Khasali.

Dari pendapat diatas, ternyata murid cerdas versi Pak J itu bukanlah ketika murid-murid itu bisa   mendapatkan niliai UN yang tinggi atau berhasil menghafalkan materi di kelas. Itu penting, namun yang lebih penting lagi menurut beliau adalah menyelesaikan persoalan hidup sehari-hari. Istilahnya menjadi pemenang kehidupan. Menurut saya itu wujud pendidikan karakter yang seungguhnya. Pak J juga pernah mengatakan bahwa memang itulah pendidikan yang lebih dibutuhkan oleh generasi anak mami di era gawai atau multimedia ini. Pendidikan nilai sangat diperlukan.

Pendidikan karakter yang sangat kuat yang diterapkan di SMA De Britto adalah lewat program imersi (immersion program). Bagaimana murid-murid belajar tentang kehidupan. Mereka diberikan tantangan-tantangan kehidupan yang bisa menyentuh hati nuraninya. Berkesempatan belajar dengan Pak J. Jumardianta di dua kesempatam lalu, saya bisa mengenal istilah program imersi ini. Beliau bercerita mengenai program pendidikan karakter yang ada di sekolah Kolese De Britto Yogyakarta.

Tulisan beliau terntang program imersi yang berjudul “Melawan Budaya Casting” pernah dimuat di Koran Jawa Pos pada 10 maret 2013. Berkesempatan membaca tulisan beliau ini juga berkat pertemuan saya dengan Pak Guru. Lewat tulisan tersebut beliau menjelaskan bagaimana program imersi yang berjalan di sekolah tempat beliau mengajar. Siswa harus menjalani sebuah situasi yang keluar dari zona nyamannya. Bagaimana siswa yang mempunyai watak jijik harus mengatasi raa jijiknya dengan hidup dipanti jompo. Murid-murid yang hidupnya sangat wemah, mereka harus hidup bersama kaum gelandangan yang bermukim di kolong jalan tol Pluit dan kolong jembatan Kampung Melayu, menjadi tukang gali kubur di pemakaman Kebon Nanas, hidup bersama buruh pelabuhan di Tanjung Priok, dll. Kegiatan seperti itu diyakini bisa menyentuh tapal batasnya dan bisa mengatasi kelemahannya tersebut.

Tidak berhenti disitu dalam menanamkan pendidikan karakter kepada murid-muridnya, dalam pembelajaran di kelas pun juga sama. Inspirasi saat proses pembelajaran tak ada henti-hentinya ditebarkan. Menjadi sikap yang penting untuk diteladani dari beliau adalah punya tradisi membaca yang sangat baik. Beliau menularkan tradisi baik itu kepada murid-muridnya.

Metode mengajarnya pun sangat menarik. Pak J. Sumardianta pernah menceritakanpengalaman beliau saat mengajar PKN, yang membuat pelajaran yang membosankan ini dikemas menjadi pelajaran yang membuat siswa terkesan saat mempelajarinya. Bahkan sampai ada siswa yang menangis, tersentuh hatinya ketika tengah memperesentasikan tugas tentang patriotisme yang beliau berikan. Cerita itu juga beliau tulis dalam buku yang ditulisnya bersama guru hebat juga, Bu Ditta Puti Sarasvati, Putri Rizal Ramli, Mendidik Pemenang Bukan Pecundang (Benatang Pustaka: 2016).

Kisah lain yang mengesankan bagi saya adalah bagaimana bu Dhitta Puti menggunakan sms untuk mengajar bahasa Inggris. Setiap beberapa hari, Bu Puti menuliskan sesuatu yang menarik dalam bahasa Inggris untuk dikirim ke murid-muridnya. Saya bayangkan sebagian muridnya adalah membalas sms tersebut dan berlatih berdialog dalam bahasa Inggris. Bila bingung hendak menulis apa, bu Dhitta Puti mencari inspirasi dari bacaan atau apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Ketika Jakarta dilanda hujan badai, ia menelusuri internet untuk belajar tentang petir, kemudian merangkumkan hasil belajar tersebut dalam bentuk sms kepada murid-muridnya. nApa yang beliau lakukan itu menurut saya adalah wujud ketulusan sebagi pendidik. Ia mau meluangkan energy dan wwaktu untuk mengirim SMS agar murid-muridnya bersemangat belajar.

Berkaca pada kisah dan refleksi-refleksi di buku mendidik pemenag bukan pecundang, saya juga semakin yakin bahwa syarat utama dari keberhasilan guru menumbuhkan kasmaran belajar pada muridnya adalah dengan terlebih dahulu menjadi pecinta pengetahuan, menjadi orang-orang yang ingin menjadi lebih tahu tentang murid-muridnya, tentang cara mengajar yang lebih baik, dan tentu tentang ilmu yang diajarkan.

*Tulisan berikut adalah naskah buku antologi bersama SPN bertema pendidikan karakter 

Senin, 10 Juli 2017

HALAMAN RUMAH PAMAN: DARI TAMAN BUNGA HINGGA TEMPAT PARKIR

Salah satu yang menjadi perhatian kita dari masalah rumah adalah halamannya. Bahkan bisa jadi menjadi perhatian utamanya. Coba jika ada pertanyaan begini, “Jika anda punya uang berlebih, bagian rumah mana yang kamu renovasi terlebih dahulu?” Sangat mungkin jawaban banyak orang adalah halaman rumahnya, tentu dengan berbagai alasan. Mungkin agar tamu nyaman datang ke rumah atau biar terlihat indah. Jadi tak heran jika banyak orang yang mendesain halaman rumahnya sebagus mungkin, ada taman bermain, kolam, berbagai jenis bunga, gazebo, dll.

Bercerita tentang halaman rumah, tentu saya teringat dengan halaman rumah sendiri. Karena berada di desa, sepertinya bunga berpot tidak begitu mainstream. Ketika saya masih SD aku pernah menanam bungan di halaman rumah yang bibitnya saya dapatkan dari teman. Namun ketika SMP dan tidak tinggal di rumah, bunga-bunga itu dibersihkan, bahkan ada yang tumbuh di kebun sampai sekarang. Tinggalah pepohonan di halaman rumah, seperti kelapa, cengkeh, rambutan, pisang, durian, kopi, kecombrang, belimbing, singkong, dan masih banyak lagi.

Mengamati rumah Pamanku yang berada di kota Kecamatan juga menarik. Dari SMP hingga SMA aku tinggal di sana. Halaman rumahnya juga cukup unik dan membuatku ingin menuliskan di ini. Ada-ada saja yang ia lakukan dengan halaman rumahnya. Bisa juga istilah DIY (Do It Yourself) cocok untuk menamainya, kerena memang dilakukan sendiri. Halaman rumahnya dulu penuh dengan tanaman bunga, dari yang ditanam di tanah hingga yang di pot besar maupun kecil. Setiap sore biasanya saya menyiramnya agar tumbuh subur. Tak jarang bunga itu di pinjam sekolah untuk mendekorasi penggung acara. Kebanyakan bunga yang ditanam adalah Eforbia dan Kamboja, ada juga bunga Melati dan Pucuk merah.

Selain bunga, ada juga kolam ikan lele raksasa di halaman rumah itu. Hanya lima ekor saja kalau tidak salah. Beberapa hari sekali kolam itu oleh Paman dibersihkan. Kolam itu diletakkan di sebelah kanan-kiri pintu pagar. Selang beberapa bulan, pamanku membuat kandang ayam yang cukup besar mengelilingi kolam ikan itu. Hiduplah lele serumah dengan ayam. Sisa-sisa nasi tidak lagi dibuang, tapi dipakai pakan ayam. Ayam itu beranak pinak jadi banyak. Kadang diambil telurnya dan ayamnya juga disembelih untuk lauk.

Sisi samping halaman
Tak selesai disitu, sekarang kisah kolam ikan lele berakhir, karena lelenya sudah mati, saya lupa penyebabnya. Tinggalah ayamnya saja. Tidak hanya ayam kampung saja di kandang itu. Belum lama ini Pamanku membeli dua ekor ayam kalkun besar dan dimasukkan di kandang itu. Setiap ada suara bising, dua kalkun itu selalu bersuara. Karena ketidak tahuan Pamanku, akibat ayam kalkun dijadikan satu dengan ayam kampung, satu ayam jago besar menjadi korbannya karena dipatok. Akhirnya kandang itu diberi tembok pemisah dari kayu.

Tentang kolam selesai, sekarang saya akan bercerita tentang tanamannya. Bunga-bunga itu juga tidak bertahan lama. Sedikit demi sedikit Paman mengalihkan bunga-bunga itu menjadi bibit buah dan tanaman sayur. Berbagai bibit buah (nangka, durian, sawo) dan sayuran serta rempah-rempah (bayam, sawi, cabe, salam, singkong, jeruk nipis, kunyit, dll). Hanya ada dua pot bunga yang tersisa sekarang.
Terlihat beberepa bibit nangka di halaman depan rumah

Pernah Pamanku mencoba menyulap halaman rumah itu menjadi tempat membudidayakan buah naga. Memang Pamanku itu suka mencoba sesuatu Ia membuat papan dari kayu untuk merambatkan buah naga itu. Entah kenapa buah naga itu tak lama kemudian dipindah ke kebun. Belum lama ini Pamanku juga membuat tempat untuk membudidayakan tanaman hidroponik. Lumayan rumit sepertinya membuatnya. Tanaman yang ditanam ada kangkung, selada, sawi, dll. Never try never know. Meskipun tanaman hidrponik itu tidak bisa tumbuh maksimal, yang terpenting Paman sudah mencobanya. Entah apa yang kurang, sehingga tanamannya tidak tumbuh subur.

Sisa hidroponik dan kandang ayam

Terakhir yang ingin saya ceritakan, halaman rumah itu kini dibuat tempat parkir pasar malam. Halaman yang cukup luas dibersihkan agar memuat motor banyak. Sering pasar malam diadakan di lapangan depan rumah Paman. Begitu juga kegiatan lain, misalnya sholawat, pengajian, dll, sehingga tak salah memanfaatkan halaman rumah itu untuk tempat parkir. Lalu, apa yang selanjutnya terjadi dengan halaman rumah ini? Let’s wait and see!

Senin, 05 Juni 2017

INSPIRASI KOPDAR SAHABAT PENA NUSANTARA (SPN) #1



Bersama Sahabat Kopdar IV SPN di ITS Surabaya

Kopdar selanjutnya komunitas Sahabat Pena Nusantara (SPN) berlangsung pada hari Minggu, 21 Mei 2017 kemarin. Senang sekali tentunya saya bisa hadir di kopdar keempat SPN. Ini adalah rejeki.

Ajang kopdar ini memang begitu saya tunggu-tunggu. Saya semakin penasaran karena kopdar yang keempat SPN dihelat di kampus ITS Surabaya. Ya, kampus bergengsi yang berada di Kota Pahlawan ini yang menjadi tuan rumahnya.

Pengalaman kopdar SPN ketiga di Ponpes Darul Istiqomah yang pertama kali saya ikuti lalu juga menghadirkan buah candu untuk bisa bergabung lagi di kodpar selanjutnya. Bagi saya kopdar ini salah satu yang istimewa bersama SPN.

Bagaimana tidak, bermula dari komunikasi maya lewat grup WA itu dapat terjalin hubungan persahabatan literasi yang terjalin erat dan terbina hangat di kehidupan nyata. Ini sangat berkesan dan luar biasa sekali.

Kali ini, lokasi kopdar yang tidak dekat dari tempat tinggal, saya memutuskan untuk bermalam sebelum menjelang acara. Sesuai dengan informasi sebelumnya bahwa penginapan untuk peserta kopdar berlokasi di asrama haji Sukolilo yang tidak jauh dari ITS. Saya pun memutuskan untuk menginap disana.

Saya yang semula janjian sama sepupu yang sedang sekolah di Surabaya gagal. Ternyata waktu hari-H ia tidak diijinkan keluar dari asrama kampus. Akhirnya saya berangkat sendiri. Jarak Kediri-Surabaya yang katanya hanya 3-4 jam, saya tidak naik bus. Saya ingin naik motor saja.

Saya berangkat selepas Dhuhur, sekitar jam 12 lebih. Panas perjalanan Kediri-Jombang tidak seberapa, saya nyaman-nyaman saja. Begitu sampai di Mojokerto hingga Surabaya, perjalanan siang hari itu disambut udara yang sangat panas.

Sungguh, berkendara di Kota Surabaya sangat rumit. Selain sangat ramai, juga banyak cabang jalan yang membuat saya bingung karena belum pernah melaluinya. Tulisan di papan penunjuk arah pun juga sangat asing bagi saya. Tapi, Alhamdulillah berkat kesabaran saya menakhlukkan keramaian kota dan jalan rumit Surabaya membuat saya lega ketika hampir lima jam saya berhasil sampai di lokasi.

Asrama haji yang saya kira hanya untuk penginapan calon haji saja, ternyata bisa untuk umum. Lucu juga menginap di asrama haji, serasa jadi rombongan yang mau berangkat haji. Langsung, saya menuju kamar yang sudah dipesan. Rupanya disana sudah ada Ibu Nyai dan putrinya (Ning Faila), Bu Hiday, dan Bu Sita. Hati ini rasanya bersyukur sekali bisa berjumpa dengan mereka. Tidak lama kemudian datang Ibu Rita dan Bu Atiqoh.

Malam harinya kami diajak ke kampus ITS untuk melihat lokasi acara, tepatnya di gedung rektorat. Setelah sebelumnya kami makan malam bersama. Pak Dr. Choirul Mahfud selaku pihak ITS menunjukkan lokasi acaranya. Tempatnya bagus. Disana sudah ada beberapa meja bulat dan kursi berhias selendang mengelilinginya.

Foto bersama di depan gedung rektorat UNS

Namun, tempat tersebut ternyata belum sepenuhnya beres, masih perlu perbaikan lagi. Ada yang mengangkat meja dan kursi dan ditata sedemikian rupa, ada yang memasang banner dan LCD, mengarahkan jika ada yang kurang pas, dan melengkapi kekurangan lainnya. Hal teknis semacam itu malam hari dipersiapkan semaksimal mungkin agar esok harinya acara bisa berlangsung dengan sukses.

Menyiapkan ruang acara
Saya sempat tertegun ketika ada bapak dan Ibu SPN dengan sigapnya menjadi bagian dari persiapan teknis tersebut. Betapa tidak, mereka sekelas Dr Choirul Mahfud, Dr Arfan, Ust Husnaini, Bu Atiqoh, Bu Hiday, Bu Rita, Bu Sita yang melakukannya. Orang-orang seperti mereka kiranya seribu satu. Dengan kerendahan dan keikhlasan hati, mereka bersedia melakukannya. Mereka sungguh extraordinary people.


Dari kiri; Bu Lina, Bu Rita, Bu Sita, Bu Hiday, Bu Atiqoh, dan Aku



Pengalaman Pertama Ikut Test TOEFL ITP

Jum’at (21/4) aku berkesempatan untuk mengikuti tes TOEFL ITP di Universitas Sebelas Maret, Solo (UNS). Ini adalah kali pertama aku ikut real test. Lucu kataku pengalaman ini. Seakan aku lagi mengikuti ujian nasional, karena teknis ujiannya yang sangat rumit.

Seperangkat peralatan harus dipersiapkan dengan baik sebelum memasuki ruang ujian. "Before entering the room, make sure that you have these equipments "soft pencil, sharpener, and eraser" in a good quality.

Aturannya sangat ketat sekali. Mulai dari posisi duduk, posisi tas, mengisi data diri di lembar jawaban, kapan harus berhenti sejenak dan kapan harus memulai lagi, kapan membuka soal, dll semuanya harus dilaksanakan sesuai dengan instruksi. Jika tidak, maka akan mendapat teguran dari pengawas ruangan.

Di setiap ruangan ada dua pengawas. Tugas mereka tentunya mengawasi peserta tes. Disamping itu, pengawas ruangan juga bertugas untuk memperjelas instruksi dari instruktor yang perintahnya terdengar lewat speaker. Instruksinya semua pakai Bahasa Inggris. Ketika ada yang kurang jelas, peserta tes diminta untuk angkat tangan dan pengawas ruangan akan memberikan informasi secara personal.

Waktu kuliah kemarin aku sebebarnya sudah mencoba tes TOEFL sebagai mata kuliah prasyarat. Namun sayang, waktu itu aku masih percaya bahwa semua jawaban yang tersedia di dalamnya benar. Aku mengerjakan berdasarkan feeling saja. Ternyata tidak, dari pilihan A, B, C, dan D tentunya hanya salah satu saja yang benar. Jika sebelum real test berkesempatan mengikuti kelas pelatihan mengerjakan soal TOEFL akan sedikit tahu. 




[Memori Perjalanan] Solo yang Terkenang


Part#1

Tepatnya pada 20 April, aku pergi ke Surakarta, Solo untuk test TOEFL di Universitas Sebelas Maret. Rupanya perjalan yang baru pertama kalinya ini perlu dikenang . Sebelumnya aku sudah mencari info untuk menuju kesana. Karena infonya sudah jelas, aku memutuskan untuk berangkat.

Aku berangkat lewat Pacitan, sebab lebih dekat. Dari rumah menuju terminal Pacitan, aku diantar. Dua jam perjalanan kutempuh dari rumah menuju Pacitan lewat JLS.

Bus jurusan Pacitan-Batu-Solo rupanya sudah bersiap terminal, yaitu bus Aneka Jaya. Aku langsung masuk ke dalam bus. Aku duduk di bangku paling depan pojok kiri. Meskipun bus ini tidak ber AC tapi nyaman.

Jam 8 bus mulai melaju. Aku pun siap menikmati suasa jalan yang sebelumnya belum pernah kulalui ini. Di tengah perjalan sang kondektur menarik ongkos bus. Aku harus membayar Rp. 30.000.

Tiga jam kemudian sampailah aku di Surakarta. Namun bus tidak lewat depan kampus UNS. Sang kondektur memintaku untuk turun di perempatan Gemblegan dan naik bus kota.

Bus yang kunaiki selanjutnya adalah bus Damri. Busnya bagus dan ber-AC. Dari perempatan Gemblegan ke kampus UNS yang berada di Palur cukup dekat. Ongkosnya 4.000 saja. Sampai di depan kampus aku dijemput dosenku yang sedang kuliah disana. Kami sudah janjian sebelumnya. Aku bermalam di kosnya.

Esuk harinya aku pun diantar ke kampus, tempat test dilaksanakan. Test selesai pukul 10.30. Setelah selesai, Aku langsung keluar ruangan. Aku pulang jalan kaki. Sekitar 15 menit menuju kos dosenku.

Karena hari itu adalah hari Jumat aku memutuskan untuk pulang setelah Dhuhur. Pukul 1 aku diantar ke terminal bus. Terminal terdekatnya adalah Tirtonadi. Karena bus waktu itu belum datang, aku pun menunggu terlebih dahulu. 15 menit kemudian bus datang. Aku segera masuk bus dan bus pun siap berangkat. Hujan mengiri perjalanan dari Solo menuju Pacitan.

Sampai di Pacitan sudah malam. Tidak mungkin aku langsung pulang. Lagian tidak ada kendaraan menuju rumahku kecuali jasa ojek. Aku memutuskan untuk bermalam disana dan pulang esuk harinya.

Karena malas mencari tempat menginap, aku beristirahat di RSUD Pacitan. Tempat itu tempat terdekat dari terminal. Entah kenapa aku terbesit untuk menginap disana. Aku beristirahat di ruang tunggu. Syukurlah aman.

Part#2

Dua Minggu kemudia aku pergi ke Solo lagi. Ada pemberitahuan dari UPT Bahasa UNS kalau score TOEFL sudah keluar dan sertifikat bisa diambil.

Kalau sebelumnya diantar sampai Kota Pacitan, kini aku memilih berangkat sendiri. Dari naik bus, berganti naik motor. Yang pada akhirnya aku "klenger".

Aku berangkat dari rumah pukul 5 pagi. Sesampainya di sepanjang tepi pantai Soge JLS Pacitan saat matahari pagi mulai muncul. Sungguh indah pemandangannya. Aku mengurangi kecepatan. Selain agar bisa menikmati sunrise Pantai Soge, juga untuk menghangatkan badan.

Pukul 7 aku sudah sampai di Pacitan Kota. Sempat ada pemeriksaan kelengkapan berkendara disana, tepatnya di halaman pasar Minulyo, Pacitan. STNK dan SIM kutunjukkan, beres. Aku bisa melanjutkan perjalanan kembali.

Aku tidak menitipkan motorku di Pacitan, karena tidak lagi berencana naik bus. Aku ingin menikmati perjalananku dengan motor. Kiranya lebih berkesan, pikirku.

Aku juga berpikir kalau naik motor akan lebih cepat dari naik bus, dan aku bisa langsung pulang. Tidak perlu bermalam dulu di perjalanan.

Waladalah, rupanya aku sudah salah perkiraan. Pantas saja aku naik bus terasa sangat cepat, karena aku bisa santai dan tiduran. Jadi aku tidak bisa menyaksikan keseluruhan rute jalan menuju kesana. Hanya jalan-jalan tertentu saja yang kuingat.

Maka bayanganku menuju kesana sangat dekat, bahkan lebih dekat dari naik bus. Aku akan melewati jalan mana saja sudah ada dalam bayangan.

Namun semuanya berkebalikan dengan perkiraanku sebelumnya. Perjalanan terasa lama dan tentu sangat melelahkan.

Kota Pacitan dan Wonogiri serasa tidak ada habisnya. Sudah berjam-jam perjalanan, masih saja di Wonogiri. Melewati wono satu ke wono lainnya.

Kalau di bus mengantuk bisa diatasi, namun kali ini tidak bisa. Bahaya bukan, jika mengendarai motor sambil tidur. Aku membawa sebotol kopi dari rumah. Sehendaknya bisa mencegah ngantuk. Aku juga berhenti berkali-kali untuk istirahat dan sholat.

Karena sudah capek, aku berkeinginan sekali menitipkan motor dan aku bisa menunggu bus. Tapi aku takut. Aku khawatir kalau pas mengambil motornya lupa tempatnya. Soalnya aku belum familiar dengan lokasi disana. Pelan-pelan aku terus melaju kendaraanku mengikuti papan penunjuk arah hingga sampai di tempat.

Setelah Pacitan, lalu sampai di Wonogiri, maka selanjutnya aku akhirnya sampai di kabupaten Sukoharjo. Dari Sukoharjo ke Surakarta aku berhenti dan bertanya berkali-kali. Kepada tukang becak, tambal ban, dan pengendara jalan aku bertanya. Aku pun mengikuti arah yang mereka tunjukkan.

Sampailah aku akhirnya di Pom dekat kampus. Kulihat Pom tersebut berada 13 km sebelum kampus. Saat itu pukul 12. 15. Aku berhenti disana untuk sholat dhuhur dulu. Kalau mau langsung ke kampus pasti masih istirahat jam segitu. Jam 1 aku baru ke kampus.

Langsung saja aku menuju kantor UPT Bahasa dan menemui petugas untuk mengambil sertifikat. Banyak juga teman lain yang mau mengambil sertifikat. Pelayanannya cepat. Setelah aku menyodorkan formulir pengambilan, petugas langsung malayani. Aku diminta tanda tangan dan selesai. Begitu saja tujuan kesana sebenarnya.

Bisa sebenarnya pengambilan sertifikatnya diwakilkan. Tapi sayangnya formulirnnya saya bawa. Jadi, harus kesana sendiri.

Setelah berkas sertifikat kuterima, aku tidak sabar membukanya. Aku menuju perpustakaan untuk istirahat sambil melihat score yang kuperoleh. Aku memilih kesana karena perpustakaannya sangat nyaman untuk istirahat. Ada kursi empuk dan ber-AC hehe. Di lantai bawah semua orang boleh masuk tanpa harus menunjukkan identitasnya.

Kuamati scorenya dan sebenarnya lumayan ada peningkatan dari test prediksi sebelumnya (ini akan kubahas di cerita selanjutnya).

Jangan enak-enakan duduk manis saja. Aku hampir lupa jika aku tidak di rumah dan harus pulang. Oh aku masih harus mengulangi perjalanan yang sebelumnya. Tapi aku yakin jika perjalanan pulang akan lebih cepat. Aku ingin naik bus saja, tapi kan bawa motor. Hmmm serba salah. Rasanya aku ingin terbang saja hehe.

Berjam-jam perjalanan sampailah aku di Pacitan. Saat perjalanan pulang aku sudah lebih hafal jalannya, jadi tidak perlu tanya lagi. Sudah malam sampai di Pacitan, hampir jam 7. Sungguh lelah sekali. Aku tidak mengulanginya lagi dengan naik motor. Ternyata naik motor pun juga tidak bisa langsung pulang dan harus bermalam lagi.

Bermalamnya tidak di RS lagi tapi aku memilih di masjid agung Pacitan. Disana banyak orang yang juga kemalaman dan memilih istirahat disana. Esok paginya setelah sholat subuh aku melanjutkan perjalanan lagi. Dua jam perjalanan kutempuh dengan sangat terpaksa.

17/05/2016



ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...