Tampilkan postingan dengan label Citizen Reporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Citizen Reporter. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2016

Menulis di Harian Surya (5)





Menulis di Harian Surya (5)

Reportase sederhana tentang lebaran ketupat yang tayang di harian surya hari ini tenyata menjadi cerita ke lima saya. Berharap sekali bisa menuliskan cerita yang keenam, ketujuh, hingga kesekian kalinya. Pokoknya terus belajar menulis saja dan media ini sepertinya memang cocok sekali untuk belajar. Sebenarnya sudah ada Ide selanjutnya yang ingin saya ceritakan lalu saya kirimkan, namun masih dalam bayang. Semoga segera saja saya bisa menuangkanya. Tunggu reportase saya selanjutnya ^_^

Sebenarnya, kunci pentingnya hanya kemauan untuk menulis saja. Namun, usut pnya usut “mau menulis” bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan, khususnya seperti halnya saya yang masih perlu memaksakan diri. Apalagi setelah menulis sebebas-bebasnya, harus diedit sesuai aturan yang dianjurkan, lalu mengirimkannya dengan segenap persyaratan yang ditentukan. Aneh dan unik pokoknya ...

Tulungagung, 20-07-2016



 Tulungagung, 20-07-2016

Senin, 18 Juli 2016

Reportase Lebaran Ketupat



LEBARAN hari ketujuh, di tempat saya tinggal sudah lengang dari para tamu yang bersillaturrahmi. Puncak keramaian terjadi pada lebaran pertama hingga kelima, untuk hari selanjutnya sudah seperti hari-hari biasanya. Orang-orang sudah mulai melakukan rutinitas kesehariannya.

Namun pemandangan berbeda terjadi di Durenan, kecamatan yang berada di sebelah timur Kota Trenggalek ini memiliki daya tarik tersendiri ketika lebaran memasuki hari ketujuh atau dikenal dengan lebaran ketupat.

Sungguh unik cara warga Durenan dalam merayakan puasa syawal ini dan berlangsung sangat meriah. Nuansa lebaran masih sangat terasa, bahkan jauh lebih marak dibandingkan lebaran Ramadan kemarin.

Dan Rabu (13/7/2016) itu menjadi momen yang tak bakal saya lupakan, karena telah berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana kemeriahan pesta kupatan di sana. Jalur lalu lintas di Durenan tampak padat. Ribuan orang membanjiri rumah-rumah warga di sana.

Memang lebaran ketupat bagi warga Durenan telah menjadi tradisi turun-temurun yang sudah dikenal luas, sehingga pada momen ini banyak orang dari luar daerah berbondong-bondong ke Durenan, baik untuk bersillaturrahim dengan sanak saudara atau sekadar menikmati kemeriahan lebaran ketupat.

Sesampainya di rumah teman yang berada di Durenan, terlihat rumahnya sudah dipenuhi para tetamu yang datang. Rombongan sanak keluarga datang silih berganti. Tuan rumah menyambut dengan ramah.

Kata teman saya, tuan rumah pada lebaran ketujuh ini tidak keluar rumah untuk bersillaturrahim di rumah tetangga atau saudara karena hal itu sudah dilakukan pada saat lebaran hari pertama hingga hari keenam. Khusus untuk lebaran ketupat ini, mereka manfaatkan untuk menyambut para rombongan tetamu yang datang, lalu menjamunya.

Aneka jajanan masih tersedia lengkap di meja. Yang istimewa, tuan rumah akan menjamu siapapun yang bersillaturrahim ke rumahnya dengan sajian ketupat secara cuma-cuma. Ketupat disajikan dengan sayur beserta lauknya, seperti opor ayam, lodeh nangka dan kacang, soto ayam, dan sebagainya.  Saya dan teman memilih menikmati ketupat dengan soto ayam.

Kemeriahan pesta lebaran ketupat di Kecamatan Durenan ini memang dari tahun ke tahun selalu mengundang daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung. Sehingga ketika lebaran ketupat tiba, suasana kemeriahan begitu terasa.  Menarik bukan?

Selasa, 14 Juni 2016

Harian Surya Hari Ini

Harian surya edisi 14 Juni 2016 

 

Satu minggu yang lalu, sudah kuanggap tulisan saya tidak dimuat. Akhirnya kuposting saja di blog, bisa dilihat di sini. Lalu, berpikir tulisan yang ingin saya kirimkan selanjutnya. Bikin ketagihan juga ternyata…lagian sih dapat bonus untuk nangkring di Koran, kan sesuatu banget. 


Ternyata kemarin Ibu. Tri Hatma, editor harian surya menandai saya dalam kirimanya. Wahh, ternyata beneran kalau reportase saya dan beberapa teman yang lain sudah diupload di surya online. Segera saja saya membukanya. Pastinya masih banyak edit sana-sini, dan disini juga letak keasyikannya. Saya bisa belajar dari naskah yang telah diedit tersebut. 


Sehari setelah dimuat di surya online, tepatnya hari ini secuil reportase tersebut dimuat dalam bentuk paper. Biasanya dalam satu kolom ada tiga tulisan yang dimuat. 


Hmmm, jangan lewatkan untuk membaca Harian Surya hari ini ya, he he. Untuk reportase selengkapnya bisa dilihat di sini


Tulungagung, 14.06.2016

Rabu, 08 Juni 2016

Nulis Blog Ala Surya


Menulis di blog cenderung bebas, bahkan bisa saya menulis sebebas-bebasnya. Saya bisa menulis dari mana saja, tidak harus mengikuti kaidah atau aturan menulis (berita) yang memuat unsur 5W + 1H. Ibaratnya, saya seperti anak kecil yang tengah menemukan lahan bermain yang luas, sehingga saya bisa berlarian sebebas mungkin disana. 
 
Beberapa hari yang lalu, tepatnya sebelum mudik, saya mencoba (lagi) menulis untuk saya kirimkan di Surya. Itu lhoo media yang bisa buat belajar menulis, bonus nangkring di Koran, he he begitulah aku menyebutnya. Jadi tidak bebas lagi, karena ada beebrapa aturan yang harus dipatuhi. 


Saya suka membaca tulisan para kontributor di rubrik CiPo Surya (versi online). Berbagai macam variasi tulisan bisa dimunculkan disana, salah satunya ada beberapa citizen reporter yang melaporkan hasil dari mengikuti kegiatan seminar atau workshop. He he, intinya saya ingin tiru-tiru mereka. 


Sehari sebelumnya memang saya tengah mengikuti serangkaian kegiatan seminar yang diadakan di kampus. Kiranya kesempatan ini saya bisa gunakan untuk coba-coba. Beberapa poin penting yang saya catat dari hasil seminar tersebut, sampai di rumah saya olah. Awalnya memang saya tulis dengan bebas, agar apa yang ingin saya tuliskan bisa dengan mudah diungkapkan. Baru sekiranya semua sudah keluar, saya baca ulang dan dibuat tulisan ala-ala berita begitu.Ternyata belum berhasil.


Daripada mengendap di email, sepertinya alangkah baiknya diposting di blog, hitung-hitung buat nambah postingan he he. Maka jadilah blog ala surya …




Kenali Problematika Belajar Anak Sejak Dini

Oleh: Eka Sutarmi

 Bersama pemateri



Setiap pembelajar pasti memiliki problematika belajar, khususnya ketika anak mulai memasuki usia sekolah.” Demikian ungkap Ibu. Ayu  Imasria Wahyuliarmi, M. Si, M. Psi, sebagai pemateri seminar psikologi bersama himpunan mahasiswa jurusan tasawuf psikoterapi IAIN Tulungagung, Selasa (31/05/2016).


Seminar yang di gelar di aula utama IAIN Tulungagung itu bertemakan pendidikan, “mengoptimalkan belajar dan mengatasi problematika belajar pada anak.” Sebagai calon pendidik maupun orang  tua, kesempatan ini sangat tepat sekali diikuti.


Materi yang banyak dibahas adalah bagaimana mengenali anak yang mengalami problematika belajar, serta bagaimana membuat perencanaan dan penangananya. Problematika belajar dalam kesempatan ini lebih ditekankan pada bidang kognitif atau akademik anak.


Ketika menjadi pendidik, khususnya untuk anak yang baru memasuki usia sekolah, pasti akan mendapati para peserta didik dengan berbagai macam karakteristik, ada yang memiliki daya tangkap cepat ataupun sebaliknya, bahkan ada yang belajar mengenal angka dan huruf saja kesulitan. Itu lazim dialami oleh anak-anak dan menjadi bagian dari proses belajar.


Problematika belajar yang dibahas kali ini, terlepas dari anak yang memiliki keterbelakangan mental, authisme, atau anak hiperaktif. Namun, mereka layaknya murid pada umumnya, yang mampu berbicara normal, bisa berinteraksi sosial dengan teman sebayanya, bisa menyampaikan ide dengan baik, dll, akan tetapi ada yang menjadi persoalan di dalamnya, ketika dihadapkan pada aspek kognitif, seperti membaca, menulis dan berhitung ia tidak mampu. 


Ibu. Ayu yang merupakan dosen tetap IAIN Tulungagung sekaligus praktisi anak ini memberikan sekilas contoh tentang gejala pada anak yang memiliki problematika belajar. 


Beliau menunjukan karya siswa, sebuah paragraf singkat. Dari tulisan tersebut telah menunjukkan indikasi bahwasanya ada problematika belajar dari anak ini. 


Saat para audien diajak membaca bersama-sama karangan anak tersebut, tulisanya cukup sulit dipahami; banyak kesalahan bahasa, beberapa huruf ditulis terbalik, kata yang digunakan tidak terstruktur, ada beberapa suku kata yang hilang, dsb. Permasalah seperti ini, ranah psikologi menyebutnya disgrafia atau anak mengalami kesulitan menulis. Selain kesulitan menulis (Disgrafia), hambatan kognitif yang sering dialami siswa adalah kesulitan membaca (Disleksia), dan kesulitan mengenal angka (Diskalkulia).                  
   

Ketika menemukan indikasi dari ketiga permasalahan tersebut, guru atau orang tua tidak boleh serta merta memberikan label bodoh pada anak karena akan malah mempengaruhi kondisi psikologisnya. Maka, menjadi keharusan orang tua maupun guru untuk segera mengambil tindakan, seperti dengan memberikan support, menumbuhkan motivasi belajarnya, atau dengan memberikan serangkaian treatment yang dapat mengubah pola belajar anak, sehingga kemampuan akademiknya bisa meningkat. Pada akhirnya, anak yang mengalami problematika belajar akan mampu seperti anak-anak pada umumnya. 


“Problematika belajar pada anak harus dikenali sedini mungkin oleh para pendidik, baik orang tua maupun guru, karena jika terlambat akan timbul masalah lebih besar lagi yang dihadapi oleh anak tersebut.” Pungkasnya.

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...