Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2025

DAPUR YANG HARUS TETAP MENGEPUL!

Untungnya suami bisa mengolah sawah, sehingga saya tidak perlu membeli beras. Pernah suami menjual sawah ke tetangga selama satu tahun, alhasil uangnya tidak cukup saya belikan beras untuk satu tahun. Tidak sepenuhnya uang tersebut tidak untuk membeli beras saja, tapi juga untuk keperluan yang lain. Waktu itu persediaan beras pas habis. Sangat terasa jika saya harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak jika saya harus membeli beras juga.

Kebutuhan dapur memang perlu biaya yang tidak sedikit. Apalagi saat ini banyak harga bahan pokok naik beberapa kali lipat. Kulkas yang biasanya penuh dengan stok bahan makanan untuk beberapa hari ke depan, untuk saat ini bersih. Saya hanya membeli bahan makanan dalam jumlah sedikit. Terkadang tidak sampai tersisa untuk disimpan di dalam kulkas.

Karena besok hari Senin dan harus berangkat pagi, saya harus punya persediaan bahan makanan sebelum pagi tiba, agar saya tidak terburu-buru. Malam ini saya pergi ke toko aneka sayuran untuk membeli bahan-bahan yang saya butuhkan. Beberapa macam sayuran saya beli, jumlahnya tidak banyak, seperti yang ada di foto. Berapa harga yang harus saya bayarkan? Seharga 54 ribu! 

Gambar: Stok kebutuhan dapur

Kali ini, saya hanya beli cabe rawit 1 0ns dengan harga 12.000. Mahal sekali. Berarti harga cabe 1 kilo 120. 000.  3 Biji jagung 4000. ¼ telur 7.500. Dua buah Pir seharga 9.000, dll.  Belum lagi jika esuk hari ingin membeli stok daging atau ikan lauk, yang harganya juga tidak murah.

Meskipun harga bahan pokok naik, dapur harus tetap mengepul. Setiap hari saya harus membuat beberapa menu makanan yang berbeda meskipun dalam jumlah sedikit. Dua anak saya punya selera menu makanan yang berbeda. Apapun yang saya masak untuknya, Adik suka, padahal ia masih berusia 1 tahun. Semoga sampai dewasa ia tidak pilih-pilih makanan. Berbeda dengan kakak, yang karakternya plek ketiplek (sama) dengan bapaknya. Terjikan. Hanya menu makanan tertetu yaang mereka mau. 

Panggul-Trenggalek, 05 Januari 2025





Senin, 20 November 2017

BELAJAR MENERIMA KEKALAHAN


Temanku di bangku kuliah, Mbak Amik sedang menemaniku saat akan memasuki ruangan ujian. So sweet


Gagal lagi! Begitulah kata hatiku ketika menyaksikan pengumuman seleksi studi di Universitas Sebelas Maret Solo yang kuikuti beberapa Minggu yang lalu. Aku cermati baik-baik pengumuman itu, ternyata namaku tidak ada. 


Tiga teman yang aku kenal waktu tes rupannya diterima. Aku masih ingat nama mereka. Aku sempat meminta nomernya juga. Kami berkenalan waktu sesi istirahat di sela-sela tes berlangsung. Seketika itu juga aku mengetik pesan dan memberi ucapan selamat kepadannya. 


Di semester genap, memang UNS yang masih membuka pendaftaran gelombang terakhir. Karena ada niatan untuk kuliah, aku ikuti saja petunjuk seleksi masuknya. Selain seleksi berkas, juga ada seleksi ujian tulis.


Lumayan rumit ketika seleksi berkas, karena harus upload ini itu dan juga mempersiapkan berkas yang dikirim. Pengumpulan berkas sudah beres aku lakukan, tinggal menunggu tes seleksi.


Seleksi ujian tulis berlangsung satu hari saja. Ada dua jenis ujian tulis, yaitu Bahasa Inggris dan TPA. 


Untuk tes Bahasa Inggris memakai EAP (English for Academic Purposes), jadi tidak terlalu rumit. Teks yang dipakai masih seputar descriptive, procedure, argmentative, dll. Bacaanya tidak terlalu ilmiah layaknya TOEFL. Sehingga bisa terkondisikan dengan baik.


Tes TPA dilaksanakan terlebih dahulu. Selesai tes TPA hanya ada waktu istirahat 30 menit sebelum dilanjut tes Bahasa Inggris. Aku memanfaatkan untuk ngobrol dan berkenalan dengan teman baru.


"Tadi gimana tes TPA, kamu kerjakan semua?" Tanyaku membuka obrolan.

"Iya, lagian tidak ada pengurangan nilai di TPA." Jawab seorang teman.

"Tes TPA itu sebenarnya tidk perlu belajar, cukup makan yang bergizi dan istirahat cukup." Sahut teman satunya. Tentu mendengar jawaban itu aku dan temanku sontak tertawa.


Aku lagi-lagi gagal fokus dengan tes TPA. 


Soal deret aritmatika berhasil kutemukan jawabannya semua. Di rumah, aku juga sempat berlatih berkali-kali mengerjakan soal logika yang menurutku rumit. Aku cukup senang karena tipe soal logika paling banyak muncul. Tapi aku dibuat gagal fokus dengan jaring-jaring bangun ruang yang beberapa sisinya dipotong, lalu diminta mencari bangun ruang yang sesuai dengan jaring-jaring tersebut jika posisinya diputar. Ada sekitar tiga pertanyaan tentang hal itu. Aku dibuatnya bingung, tapi penasaran jawabannya. Aku belum punya trik jitu masalah ini. 


Di sinilah waktuku terbuang. Karena penasaran, aku menggambar jaring-jaring tersebut di kertas coretan. Lalu, kupotong dengan hati-hati. Karena tidak ada gunting, aku memotong pakai tangan. Satu gambar aku temakan jawabannya, tapi dua lainnya tidak. Sisi gambar yang tidak lurus, membuatku sulit mencocokkan. Maklum karena terburu waktu. Akhirnya kulewati saja soal itu. 


Nahasnya, ada soal psikotes di bagian terakhir. Tidak ada jawaban yang paling benar dari soal psikotes ini. Namun, jawaban yang aku pilih tentunya akan menunjukkan diriku seperti apa. Soalnya berupa problem solving. Ada pernyataan dan diminta mencari jawaban yang sesuai kehendak. Soal yang sempat aku baca dengan baik, aku temukan jawabannya. Namun, karena waktu sudah habis dan masih ada beberapa soal psikotes yang belum terjawab, akhirnya aku jawab asal. 


Setelah aku kumpulkan, aku baru tersadar soal tersebut tidak boleh dijawab asal, meskipun semua jawaban tidak ada yang paling benar. Tapi, kalau jawabanku pas bertolak belakang dengan pikiranku, kan jadi misunderstanding. Ya sudahlah. Sudah terlanjur. Sebenarnya score TOEFL yang aku gunakan untuk mendaftar memang belum memenuhi syarat juga. Namun, aku bersikeras mencobanya. Modal nekat rupannya tidak cukup hehe. 


Selagi masih ada kesempatan, aku akan mencoba lagi. Konon, mencoba lagi adalah satu-satunya hal yang harus kita lakukan di kala gagal. I believe impossible is nothing in the world.

Sabtu, 18 November 2017

SEBUAH INSPIRASI




 
Perpustakaan Mas Trip (Sumber Gambar)


Aku lagi tidak ada kegiatan hari ini. Ketika mulai suka menulis, tak ada kegiatan pun beraktifitas. Yang pasti, berada di depan laptop (ngadep laptop). Niat baiknya ya ingin menulis meskipun terkadang melenceng ke niat yang lain. Kalau tidak di depan laptop, aku sering membaca buku, hehe sok banget diriku ini. Tapi, memang melakukan dua hal tersebut bisa jadi kegiatan rekreasi yang menyenangkan dan bebas biaya. 


Hati ini ingin pergi ke suatu tempat yang sehendaknya sedikit melegakan hati dan pikiran. Keputuskan pergi ke Gramedia Kediri. Kiranya tempat yang tepat untuk mengisi hari libur. Dua bulan lalu, terakhir kali aku kesana. Kalaupun tidak membeli buku, hanya membaca kan tidak dilarang selama membaca buku yang sudah dibuka. Ruangannya bersih, ada sofa, sangat pas untuk bersantai sambil membaca. 


Setelah sarapan, aku bersiap dan pergi. Namun, saat sudah melaju kendaraan, aku berubah pikiran. Aku mengurangi laju motorku. Pikirku siang hari bakal hujan dan aku tidak ingin pulang pas hujan.


Aku putar balik. Aku seketika ingat kalau ada perpustakaan daerah. Tapi, aku tidak tahu tempatnya. Biasanya sih lokasinya di pusat kota. Aku menuju alun-alun dan tanya orang di sekitar situ. Aku tanya di tempat dan pada orang yang tepat. Ternyata memang tidak jauh dari alun-alun. Kali pertama aku berkunjung disana. 


Sesi curhat setelah kelas berakhir
Sebagai pengunjung baru aku pun bertanya dulu ke petugas yang jaga. Tinggal mengisi buku tamu saja di komputer, beres. Aku bisa langsung menuju ke tempat koleksi buku di lantai dua. Pengunjung cukup ramai, ada yang terlihat sedang kerja kelompok, browsing, bahkan ada segerombolan anak SD yang hanya bermain-main disana. 


Cukup lama aku duduk di kursi empuk di ruang baca dan menikmati buku-buku yang kuambil dari rak. 


Meskipun ada beberapa buku yang kuambil, tidak mungkin aku membaca hingga tuntas, karena waktu yang terbatas. Kan teknik membaca juga ada banyak. Dengan membaca cepat dan mencari informasi penting saja. Aku juga sempat mencatatnya.


Dari beberapa buku yang kuambil, satu buku menarik perhatianku. Aku ambil buku tersebut dari rak buku biografi. Penampakan bukunya memang menarik. Ilustrasi sampul dan judul bukunya membuat diriku penasaran dan tergerak mengambilnya. Buku itu berjudul "Aku, Anak Matahari" karya Gola Gong. 


Nama Gola Gong tidak asing ditelingaku, namun aku memang belum tahu siapa beliau sebenarnya. Yang kutahu beliau adalah sastrawan terkenal. Hingga kini belum juga aku membaca buku karya beliau. Berkesempatan ke perpustakaan daerah di Kediri aku berkesempatan membaca buku karyanya. Buku "Aku, Anak Matahari" memberiku inspirasi baru akan sosok Gola Gong. Berkali-kali aku menghela nafas panjang saat membaca kisahnya. Ternyuh dan mengharukan. 


Satu halaman pun dari buku ini tidak kulewatkan. Aku terhipnotis dengan buku tersebut. Karena sudah siang dan hujan hampir turun, aku bersiap pulang. Padahal belum dapat setengahnya. Ingin sekali kulanjutkan membacanya di rumah. Sayangnya ketika ingin kupinjam, aku tidak membawa identitas. 


Besok aku akan kembali kesana lagi dan menuntaskan membaca buku keren itu. Rasa penasaran akan kelanjutan kisahnya masih menghantuiku. Berkesempatan membaca buku Aku, Anak Matahari mengawali perkenalanku dengan sosok hebat, Gola Gong. Tentu dalam diri ini, ada hasrat atau mimpi untuk bisa berjumpa dan belajar dengan beliau. Siapa tahu suatu saat, aku juga akan berkesempatan berkunjung ke Rumah Dunia yang beliau dirikan. Aamiin.


Di tulisan selanjutnya aku akan menuliskan hasil dari membaca buku Gola Gong, Aku, Anak Matahari.

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...