Minggu, 22 Juli 2018

BERKEBUN DI PEKARANGAN RUMAH


 
Memanfaatkan pekarangan untuk berkebun



Rumahku terletak di desa yang lumayan jauh dari pasar. Berbeda dengan di kota yang jika perlu kebutuhan memasak tinggal pergi ke pasar atau menunggu tukang sayur lewat depan rumah. Tidak ada tukang sayur yang berkeliling di  daerah tempat tinggalku. Alhasil memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur adalah salah satu solusinya.

Di desaku penduduknya belum padat, jarak antar rumah masih banyak yang berjauhan. Sehingga, lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berkebun masih terbilang luas. Orangtuaku memilih berkebun di pekarangan rumah. Banyak macam sayuran yang ditanam, ada kangkung, bayam, jagung, mentimun, buncis, kemangi, sawi, kacang, terong, pepaya, cabe, tomat, singkong, dll. 


 

Agar tanaman sayur tidak layu tentunya harus disiram. Emakku sangat telaten menyiramnya setiap dua kali sehari, pagi dan sore. Di pekarangan rumah juga ada kandang kambing yang pupuknya bisa dimanfaatkan untuk memupuk sayuran. Orangtuaku tidak pernah memakai pupuk organik, hanya pupuk kandang. Katanya sayur bisa bertahan lebih lama. Rasa cabe pun memang lebih pedas dari cabe yang biasanya di jual di pasar.

Sayur-sayuran tersebut tidak untuk dijual, karena jumlahnya sedikit. Pernah sekali emakku membawa tomat ke toko kelontong untuk dijual, karena tidak habis dikonsumsi sendiri. Berkebun di pekarangan rumah banyak sekali manfaatnya. Selain bisa menghemat pengeluaran kebutuhan sayur, juga kesegarannya berbeda dengan sayur yang dijual di pasar. Jika perlu memasak sayur, memetiknya bisa mendadak.



Rabu, 27 Juni 2018

SATU BULAN PENUH RAMADHAN DI KAMPUNG HALAMAN


Setelah sekian lama aku hanya merasakan nikmat puasa ramadhan saat liburan saja,ramadhan kali ini aku menjalaninya di kampung halaman. Sejak bulan Mei kemarin secara mendadak aku mendapat panggilan kerja di salah satu sekolah menengah di kecamatan tempat tinggalku. Sehingga aku harus move on untuk menjalankan tugas baruku dari tempatku berlabuh sebelumnya. Kembalilah aku ke kampung halaman. Tidak terasa sudah satu bulan lebih aku di rumah. Puasa ramadhan aku jalani sepenuhnya di kampung halaman. 

Senang tentunya, karena aku bisa berkumpul dengan keluarga, apalagi pada momen yang luar biasa ini, yaitu momen ramadhan. Banyak sekali keseruan-keseruan yang kurasakan menjalani puasa ramadhan bersama keluarga di rumah. Mulai dari membantu emak memasak buat berbuka dan sahur, berbuka bersama, dll. Momen yang tentunya sangat kurindukan. 

Suasana ramadhan di kampung halamanku memang tidak seriuh suasana di kota, namun semarak bulan ramadhan sangat terasa. Tidak ada bazar takjil berbuka, jauh dari keramaian toko-toko yang menjual baju baru, dan masih masih keriuh rendahan suasana lebaran di kota yang tidak ditemukan di kampung halamanku. Meskipun begitu, aku tetap merasakan nikmat datangnya bulan ramadhan kali ini, salah satunya aku bisa menjalani satu bulan penuh ramadhan di kampung halaman bersama keluarga. Kegiatan-kegiatan sederhana terkesan luar biasa jika dijalani dengan penuh suka cita. 

Senin, 25 Juni 2018

RAK BUKU DARI KAKEKKU






Sebelum aku suka membaca, sama sekali tidak terpikir dalam benakku untuk punya rak buku. Buku bacaan saja tidak punya, jadi ya tidak sampai kepikiran untuk punya rak buku. Namun pelan-pelan aku mulai menyadari bahwa membaca buku itu sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan diri. 

Aku mulai membeli buku. Dari yang semula aku hanya nengandalkan buku koleksi perpusatakaan ketika mengerjakan tugas kuliah, aku jadi punya keinginan membeli buku sendiri. Ternyata ada untungnya. Aku bisa membaca buku itu sewaktu-waktu dan bisa aku pelajari sesukaku tanpa takut atau khawatir hilang, kena coretan, atau kucel. 

Senang, karena akhirnya aku punya buku koleksi, meskipun masih sangat sedikit. Lama-kelamaan bukuku semakin bertambah, karena aku sering berkunjung ke toko buku dan membelinya. Beberapa kali aku juga membeli buku murah di bazar. Dengan berbagabung ke komunitas menulis juga membuatku berkenalan dengan buku-buku bacaan, misalnya membeli buku dari penulisnya langsung, mengikuti event antologi, dll. Koleksi bukuku pun semakin bertambah.

Semula buku-bukuku memenuhi kamar kos ketika kuliah. Ruangan kamar yang cukup sempit dengan penghuni yang maksimal membuatku harus mengemasnya agar tidak memenuhi kamar. Terkesan egois jika aku harus meletakkan buku-buku di sana-sini. Karena bukan kamar pribadi, jadi aku bersedia berbagi dengan teman-temanku. Buku-buku dan berkas-berkas yang sekirannya belum terlalu penting aku masukkan kardus dan aku bawa ketika pulang kampung. Kardus demi kardus menumpuk di sudut kamar. Bertambah beberapa kardus lagi ketika aku lulus kuliah karena semua barang-barang di kos kubawa pulang.

Dari situlah aku punya ide untuk mempunyai rak buku sederhana. Aku semula membayangkan senangnya hatiku jika punya rak buku, lalu buku-buku di kardus tertata rapi di rak buku yang kuletakkan di sudut kamarku. 

Waktu itu aku punya sedikit tabungan hasil kerjaku dan ingin aku buat untuk membeli rak buku sederhana. Aku bercerita kepada Emak, Bapak, Kakek tentang keinginanku itu. Siapa tahu mereka punya ide dimana aku harus membeli rak itu. 
Membuatku terkejut setelah selang beberapa hari aku bercerita kepada mereka, dua orang datang ke rumahku dan mengukur tempat yang akan dibuat rak buku. Ternyata diam-diam Kakekku menyuruh Bapak memberitahu tetanggaku yang menjual etalase untuk datang ke rumah. Aku dimintai keterangan bagaimana rak buku yang kuinginkan serta ukurannya. 

Beberapa minggu kemudian rak buku diantar ke rumah dan Kakekku membelikan rak buku itu untukku. Aku sebenarnya ingin memberikan sedikit tabungan yang telah kukumpulkan untuk membeli rak buku kepada Kakek, namun ia tidak mau. Kakek memintaku untuk mempergunakan uang tersebut buat kepentingan yang lain.

Aku sangat senang. Langsung saja, aku menata bukuku yang ada di kardus ke rak buku. Tidak banyak jumlahnya. Namun aku sangat senang karena aku bisa punya buku bacaan. Dan aku sangat berterimakasih kepada Kakekku atas hadiah rak bukunya.


Kamis, 31 Mei 2018

PPDB SMKN 1 PANGGUL



Akhir-akhir ini sekolah-sekolah, terutama sekolah SMA/SMK sederajat sibuk melaksanakan serangkaian kegiatan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Setiap personil dikerahkan untuk mensukseskan kegiatan tersebut, misalnya ada yang ditugaskan memasang banner di beberapa titik yang strategis, sosialisasi ke sekolah-sekolah, dll.


Menjadi kali pertama bagi SMKN 1 PANGGUL dalam menjalankan kegiatan PPDB ini. Sepertinya sudah memasuki tahun kedua sekolah menengah negeri dibawah Kemendikbud menjalankan serangkaian kegiatan PPDB sesuai dengan alur yang telah ditetapkan. Sementara SMKN 1 Panggul adalah sekolah yang ada di kecamatan saya yang baru diresmikan beberapa bulan yang lalu dan tahun pelajaran baru 2018/2019 ini siap menerima peserta didik baru.



Saya bersama teman-teman yang telah mendapatkan amanah dari cabang dinas untuk mengabdi di sekolah tersebut diberikan tanggungjawab untuk mengurus kegiatan PPDB ini. Karena untuk kali pertama, lumayan rumit menurut saya. Dulu sewaktu saya masuk SMA, seleksi dengan menggunakan tes PMDK. Ternyata Sekarang sudah sangat berbeda. Semua dihandle dengan program di komputer. Tapi Alhamdulilah segala sesuatunya berjalan lancar. Salah seorang teman guru ditugaskan untuk mengikuti bimtek PPDB sehingga ilmunya bisa ditularkan kepada yang lain.



Satu Minggu yang lalu prosesi PPDB sudah mulai dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah tersedia yang dimulai dari pengambilan PIN yang akan dipakai siswa untuk mendaftar online di sekolah yang akan dituju.


SMKN 1 Panggul telah membuka dua jurusan, yaitu Pariwisata dan Perikanan. Untuk angkatan tahun pelajaran ini SMKN 1 Panggul  membuka empat kelas dengan jumlah siswa masing-masing kelas 36.


Itulah sekilas tentang PPDB di SMKN 1 Panggul. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar sehingga pada tanggal 16 Juli mendatang sebagai hari pertama masuk sekolah siap menyambut para peserta didik baru dengan suka cita. Aamiin.






Kamis, 07 Desember 2017

KORBAN SERANGGA MISTERIUS

Minggu yang lalu hujan turun sangat deras dengan jangka waktu yang lama. Pipa saluran air yang terpasang kurang tepat membuat aliran air jadi terhambat. Air hujan meluap dan akhirnya masuk ke rumah tanpa disadari. 

Banjir kecil terjadi. Bahkan pada saat air masuk ke kamar-kamar, belum juga disadari. Hingga seorang temanku tiba-tiba menyelamatkan kasurnya keluar. Malah kukira ia mau membersihkan kamar. Ternyata ada air masuk. Itu terjadi pada siang hari. Baru setelah itu sang pemilik rumah mencari penyebabnya dan ternyata ada pipa yang belum terpasang dengan baik.

Setelah banjir kecil itu terjadi, kami beres-beres hingga berjam-jam untuk mengeringkan lantai yang basah. Kasur-kasur yang sempat terendam air diselamatkan. Setelah pipa diperbaiki, air pun surut, meskipun hujan masih turun deras. 

Selepas kejadian tersebut, aku merasakan bahwa keadaan rumah menjadi lembab dan lebih dingin dari biasanya. Yang semula aman dari nyamuk, beberapa hari setelahnya nyamuk seakan membawa rombongannya. Setiap malam aku dan temanku selalu sibuk dengan keberadaan nyamuk-nyamuk tersebut. Lotion anti nyamuk kirannya sedikit bisa mengatasi. 

Beberapa hari setelahnya kami kena gatal-gatal. Kami yakin gatal itu karena gigitan nyamuk. Tapi biasanya ketika kena gigitan nyamuk, tak selang lama bentolnya akan hilang. Ini tidak. Yang gigitan lama belum pulih, gigitannya tambah lagi dan ruam. Aku dan temanku bingung. Ini bukan nyamuk biasa. 

Lalu, keesokan harinya aku pergi ke apotik. Aku bercerita kepada petugas apotik. Ia menyarankanku untuk memakai bedak salicyl. Aku pun menuruti. Namun, rasa gatal tak juga reda. Malah ketika rasa gatal itu digaruk akan lecet dan mengeluarkan air. Barulah yakin kalau gatal tersebut bukan karena gigitan nyamuk.

Aku sengaja tidak ke dokter dulu, karena malas minum obat. Tengah malam, karena tidak bisa tidur, aku membuka laptop dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang serangga. Jenis-jenis serangga yang bisa menggigit kulit manusia. Setelah mendapatkan infonya, lalu aku mencocokkan gejala dan akibatnya. Ada beberapa nama serangga yang kucurigai. Namun, aku pun belum menemukan bentuk pasti serangga tersebut. 

Hari berikutnya, aku dan temanku bekerja bakti bersihkan kamar. Bisa jadi kasur yang sempat terendam air belum sepenuhnya kering. Kami menjemur lagi. Syukurlah, beberapa hari terakhir ini udara siang sangat panas, jadi bisa kering dengan sempurna. Dan benar, serangga misterius tersebut hilang dengan sendirinya. Buktinya, setelah dijemur dan tidak hujan, gatal-gatal itu tak muncul lagi. Lengan dan kaki yang menjadi korban serangga nakal pun, sedikit demi sedikit mulai pulih.

Top of Form
Bottom of Form


ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...