Jumat, 28 Juli 2017

MERUMPUT PUN SEBUAH TUGAS ISTIMEWA



Di saat pulang kampung, aku sering merumput
Sebagai seorang petani yang punya kambing sebagai hewan peliharaan, tentu tugas pokok orang tuaku di rumah adalah mencari rumput. Biasanya merumput dilaksanakan pada siang menjelang sore. Ya, kambing adalah hewan yang orang tuaku pelihara dari dulu. Banyak para tetangga yang lebih suka memelihara sapi daripada kambing. Namun, orangtuaku lebih memilih memelihara kambing yang katanya lebih ringan dalam hal memberi makannya.

Bentuk ketelatenan orangtuaku dalam memelihara hewan peliharaan dibuktikan dengan hingga sekarang orangtuaku masih bersedia merawat hewan itu dengan baik. Hingga suatu saat kambing itu bisa tumbuh besar dan sehat dan akhirnya beranak-pinak. Beberapa bulan sekali para kambing diundangkan seseorang untuk dimintai tolong memberikan suntikan vitamin. Kebetulan ada tetangga yang ahli dalam hal itu.

Beberapa bulan sekali kambing-kambing itu juga dimandikan. Setiap kali simbok sering terlihat sibuk di kandang kambing, ternyata ia lagi membersihkan kandang kambing kesayangannya. Kotoran kambing itu lalu dikumpulkan dan dibawa ke ladang untuk pupuk tanaman. Konon pupuk yang diambil dari kandang sendiri adalah pupuk sehat, karena tidak ada campuran di dalamnya, murni pupuk kandang yang efeknya bagus untuk tanaman.

Di ladang berbagai menu makanan kambing tersedia yang sengaja oleh orangtuaku ditanam. Bahkan rerumputan pun sengaja diberi pupuk agar bisa tumbuh lebat dan bisa dipanen untuk pakan kambing. Rumput pun bisa dengan mudah dipanen, tanpa harus membelinya. Tetumbuhan pun juga tak ketinggalan, ada singkong, pisang, nangka, sengon, dll yang sesekali daunnya bisa diambil untuk pakan kambing. Kata simbok makanan favorit kambingnya ada daun singkong dan nangka. Saat sayur atau makanan yang sisa, biasanya simbok juga menyisihkannya untuk pakan kambing.

Merumput pun menurutku adalah sebuah tugas mulia yang dikerjakan orang tuaku. Kalau aku dan adikku sedang dirumah tak jarang kami ikut simbok atau bapak ke ladang untuk membantu mereka merumput. Masing-masing bawa karung, dan sabit sendiri-sendiri. Sebenarnya adikku lebih ahli merumput ini. Namun tetep saja aku yang dapat rumput lebih banyak. Tanpa sepengatahunnya sesekali aku jail dengan mengambil rumput yang telah ia kumpulkan dibelakangnya, sementara ia serius merumput. Memang kami sering bercanda saat merumput bersama. Sehingga tak terasa karung besar pun hampir penuh.

Meskipun hanya sebatas pekerjaan merumput, namun pekerjaan ini terkadang menggugah kerinduan untuk pulang kampung.

Pare, 19/07/2017

SANG PEJUANG KEHIDUPAN


Buku "Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali

Dalam sebuah pertemuan dengan Pak Guru J. Sumardianta di acara SLG STKIP Ponorogo (12/02), membuat saya sedikit tahu tentang buku yang berjudul "Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali". Saat memperkenalkan diri, beliau menunjukkan beberapa karyanya yang telah terbit, maupun masih proses terbit. Salah satunya buku "Jatuh 7 Kali Bangkit 8 Kali" itulah yang pada bulan itu masih digarap penerbit. Dan akhirnya buku tersebut terbit pada bulan Maret 2017. 

Tidak sengaja saat ke toko buku, kalau tidak salah satu bulan yang lalu saya dipertemukan dengan buku ini. Langsung saya beli tanpa basa-basi. Membaca buku-buku Pak Guru J. Sumardianta, seperti "Mendidik Pemenang Bukan Pecundang", "Guru Gokil Murid Unyu", dan "Habis Galau Terbitlah Move on" membuat saya penasaran kisah-kisah apa lagi yang selanjutnya beliau tuliskan.

Meskipun sudah cukup lama saya beli, namun belum saya baca sepenuhnya, beberapa kali hanya saya baca sekilas saja. Hari ini buku itu saya pandangi lagi dan saya baca. Baru bagian depannya saja yang saya cermati, diantaranya biografi kedua penulis, kata pengantar oleh Anindito Aditomo, Ph.D. yang berjudul "Belajar Menghayati Kehidupan" dan juga kata pengantar yang ditulis oleh dua penulis buku ini, G. Sutarto dan J. Sumardianta berjudul "Kehebatan Sehari-hari", serta prolog yang berjudul "Kesulitan Menuntut Kreativitas". Bagian intinya masih saya baca sekilas dan acak. 

Membaca bagian-bagian yang saya sebutkan di atas saja banyak inspirasi kehidupan yang luar biasa tentang kedua penulis tersebut, belum lagi jika kisah-kisah kehidupan dalam buku ini bisa dibaca tuntas. Sungguh buku yang bagus sekali karena memang ditulis based on true stories. Buku ini ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga yang lebih condong membahas seputar kisah kehidupan G. Sutarto atau lebih dikenal dengan Sutarto. Berbagi tantangan kehidupan, peliknya kehidupan yang pernah beliau alami dulu tersaji rapi dalam buku ini.

Menurut Anindito Aditomo, Ph. D. Sutarto ini punya "mindful awareness" alias kemampuan dalam menghayati tiap momen kehidupan. Berkat keahlian itulah yang tengah membuat beliau sadar akan arti pahitnya hidup yang dialami. Kegagalan seakan menurutnya sebagai anugerah dalam hidup yang harus disyukuri setiap saat. Beliau yang pada akhirnya menjadi orang yang hebat, segaligus guru hebat berkat kegigihan beliau dalm memaknai kesulitan dan tantangan hidup.

Kisah-kisah dalam buku ini juga karena dilatabelakangi oleh beberapa hal. Dalam buku ini disebutkan ada tiga diantaranya, pertama, berkat pertemuan Sutarto dengan para guru yang menginspirasinya waktu duduk di bangku sekolah. Kedua, karena kebaikan-kebaikan kecil yang seringkali datang dari orang tak dikenal. Menurut Sutarto kebaikan kecil seperti inilah yang mampu memberikan kekuatan pada dirinya yang hidup di tengah kemalangan dan seakan dalam kehidupan yang tak adil tersebut. 

Ketiga, Sutarto punya kemauan untuk menghayati setiap momen kehidupan, bahwa ada akar spiritual yang kuat. Beliau punya segudang keyakinan bahwa dibalik itu semua ada rahasia kebaikan sang Maha Agung. Beliau percaya kalau kehidupan yang Tuhan anugerahkan adalah sumber pelajaran yang tak ada habisnya. "Tidak ada proses belajar tanpa kegagalan".

Kisah-kisah beliau ini benar-benar ditulis dengan sangat detail, baik nama, lokasi, waktu, dan kejadian. Ceritanya menjadi sangat hidup. Tentunya hal itu tak lain juga berkat kepekaan Pak J. Sumardianta dan Pak G. Sutarto dalam merangkai setiap peristiwa menjadi kisah unik nan inspiratif itu. 

Jatuh 7 kali bangkit 8 kali (Bentang, 2017) punya pesan yang sangat mendalam tentang tantangan dan pengalaman getir kehidupan yang tidak mudah. Itulah yang dialami oleh G. Sutarto mulai dari masa anak-anaknya hingga beliau sekarang menjadi guru hebat di SMA Kolese Kanisius Jakarta. Dibalik pahitnya hidup yang membelenggu, Sutarto sangat gigih dan punya semangat tinggi untuk bisa sekolah SMA dan kuliah. Waktu itu ayahnya hanya meminta untuk sekolah SPG saja setelah lulus SMP agar bisa langsung menjadi guru. Namun, beliau tidak setuju.

Sutarto adalah orang yang percaya bahwa dengan mengenyam pendidikan akan bisa merubah nasibnya dan memberikan jalan keluar akibat pahitnya kehidupan yang membelenggu. Beliau menjadi orang pertama di kampung halamannya yang mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Berkat kesungguhan, beliau menjadi sosok yang berpengaruh di bidang pendidikan, khusunya di sekolah tempatnya mengajar.
Ya, buku yang mengisahkan perjalanan hidup Pak G. Sutarto ini terdiri atas 3 bagian, bagian pertama berjudul Mensyukuri Keuntungan Tak Adil. Kisah yang diangkat pada bagian pertama ini lebih ke pengalaman masa lalu Sutarto saat kecil hingga remaja yang cukup pahit. Pada bagian kedua berjudul 3M: Menemani, Melayani, dan Membela. Orang- orang yang berjasa besar bagi kesuksesan Sutarto diceritakan pada bab ini. Bagian terakhir berjudul Stay Hungry, Stay Foolish. Terus lapar (hungry) dan bodoh (foolish) selalu dijadikan motivasinya agar selalu menjadi manusia pembelajar.

Sedikit demi sedikit bagian demi bagian pada bab satu saya baca meskipun belum semuanya. Ceritanya yang memang sangat hidup, membacanya seakan diberi cerita langsung oleh yang bersangkutan, Pak G. Sutarto dan Pak J. Sumardianta. Kisah pahit, sedih, haru dibalut dengan cara menghadapi sebuah persoalan yang bijak membuat segala pahit getirny hidup terselesaikan dengan baik.

Seperti contohnya pada sebuah kisah yang penuh perjuangan bagaimana beliau baru pertama kali masuk SMA. Kisah dramatis saat Sutarto mendapatkan celana pramuka diceritakan pada bagian pertama berjudul "bersiap diri menerima keberuntungan".

Alkisah awal-awal sekolah ia kebingungan mendapatkan seragam sekolah pramuka. Orangtuanya tidak punya uang untuk membelikanya. Satuasi dan kondisi serumit apa pun selalu megandung jalan keluar. Baju atasan pramuka waktu SMP menurutnya masih pantas dipakai. Celananya, ia membujuk simboknya agar menjual ayam lancur dan uangnya dibelikan kain celana Famatek coklat. Namun uangnya cukup untuk dipakai menjahitkan kain itu. Untung ada Yu Ngadiyem, seorang penjual tempe yang bersedia meminjamkan uangnya. Itulah pakaian terbaik yang pernah Sutarto miliki.

Menghayati kisah demi kisah dalam buku Jatuh 7 Kali bangkit 8 Kali menyadarkan saya tentang sebuah arti kehidupan yang sebenarnya. Sebenarnya banyak hal yang bisa kita raih dari sebuah kegagalan atau pahitnya hidup. Salah satunya menurut saya mampu menjadikan pribadi yang bersyukur karena kegagalan telah menjadikan pribadi yang kuat. Kita juga harus percaya bahwa rencana Tuhan akan indah pada waktunya. Kesuksesan yang menghampairi Sutarto saya kira juga buah dari sebuah kegagalan yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat dan tahan.

MOVE ON DARI LIBUR PANJANG



Sebulan kiranya waktu yang sangat panjang untuk menikmati libur sekolah, khususnya untuk mereka yang kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Dibandingkan jaman saya dulu, libur lebaran dua mingguan saja.
Apa yang kalian rasakan saat menikmati libur panjang itu? Malah menyenangkan atau justru mmembosankan? Menurut saya tergantung bagaimana cara menyikapinya.

Jika libur panjang itu diisi dengan kegiatan dan hobi yang bermanfaat, misalnya membantu meringankan pekerjaan orang tua, membaca buku, menulis, berolah raga, rekreasi, saya kira libur panjang akan terasa singkat. Namun sebaliknya, saya kira banyak juga saat liburan itu malah tidak betah karena bosan. Yang ada hanyalah bingung bagaimana membunuh waktu agar waktu liburan cepat selesai. 

Alangkah baiknya jika waktu liburan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga ketika waktunya masuk sekolah biar bisa move on dari libur panjang. Kalau datangnya hari libur disambut dengan sangat antusias dan bahagia, begitu juga dengan menyambut hari masuk sekolah lagi. Bukannya malah tambah malas dan gelisah karena libur sekolah akan usai. 

Sikap antusias dan senang harus dimunculkan oleh para siswa. Ingat kembali apa yang membuatmu bersemangat dan senang saat sekolah, misalnya saya akan bertemu kembali dengan kawan-kawan dan bisa belajar bersama lagi, akhirnya saya bisa belajar dengan guru idola, bisa belajar mata pelajaran lagi, dapet uang saku hehe, dll. 

Apalagi memulai tahun ajaran baru, meskipun tidak hanya tahun ajarannya yang baru, namun seolah semuannya jadi baru, fresh from the oven, tak terkecuali. Tidak ada alasan lagi untuk malas-malasan menyambut pagi yang cerah esuk hari, bukan? Siswa baru pun juga akan memulai babak baru, dari yang semula TK menjadi SD, dari SD menjadi SMP, begitu seterusnya. Pastinya jauh lebih bersemangat lagi. 

Mau tidak mau libur panjang lebaran telah usai. Kalian harus menerima kenyataan ini. Sambutlah harimu esuk dan selanjutnya dengan riang gembira. Kerjakan tugas dan tanggung jawabmu sebagai siswa dengan sebaik-baiknya. 

Diambil dari catatan facebook,
Pare, 16/05/2017

MENDENGARKAN BERARTI MENJADI PENDENGAR YANG BAIK



Tahukah kalian jika antara "mendengar" dan "mendengarkan" itu punya makna yang berbeda? Keduanya sama-sama bentuk kata kerja, namun secara makna berbeda sekali. Dalam bahasa Inggris, istilah keduanya pun dibedakan. Mendengar diartikan dengan istilah "hear(ing), sedangkan mendengarkan itu "listen(ing)". Kalau mengenal istilah salah satu kecakapan berbahasa "menyimak" atau mendengarkan" memang tidak disebutkan "hearing skill" tetapi "listening skill". Mengapa demikian?

Jujur saya mengenal perbedaan keduanya belum lama ini. Sebual judul tulisan "Hearing but Not Listening" dalam buku "Path of Life" karya Komaruddin Hidayat menyadarkan saya tentang hal itu. Buku tersebut sudah lama saya punya dan tulisan tersebut rupanya juga sudah lebih dari dua kali saya baca. Tapi sayang saya baru paham maksud tulisan itu setelah saya baca yang kesekian kalinya ini. Apa mungkin sebelum-sebelumnya saya tidak tuntas membacanya? Ah, ya sudahlah.

Inti yang saya tangkap jika mendengar itu seperti angin lalu yang kemudian beberapa saat kemudian terlupakan. Suara yang terdengar hanya sekilas mampir di telinga, sehingga tidak sengaja di dengarkan dengan baik-baik dari awal hingga akhir. Berbeda dengan mendengarkan, istilah ini lebih dimaknai sebagai mendengar secara aktif. Kita benar-benar fokus dan penuh perhatian terhadap apa yang kita dengarkan.

Orang yang mampu mendengarkan ternyata adalah mereka yang punya ketulusan hati untuk menjadi pendengar yang baik (good listener). Diakui atau tidak menjadi pendengar yang baik itu susahnya luar biasa. Kita lebih sering minta didengarkan, lebih suka dihargai. Kan, menjadi pendengar yang baik berarti kita telah menghargai pembicaranya. Bukankah kita juga akan mendapat ilmu atau pelajaran darinya jika mampu mendengarkan. 

Kadang memang kita itu merasa sudah tidak perlu diajari lagi, apalagi diajari oleh mereka yang lebih rendah posisinya. Gengsi dong, mungkin begitu pikir kita. Stop, stop! Semua orang itu punya sesuatu yang spesial. Mungkin kita adalah seorang yang sudah kuliah. Kita belum tentu lebih tahu dari mereka. Pasti ada suatu ilmu yang belum pernah kita ketahui darinya. Dengan semua orang pun, saya kira penting untuk mendengarkan apa-apa yang baik darinya.

Antara "mendengar" dan "mendengarkan" jangan sampai juga tukar. Keduanya punya tempat yang pas masing-masing. Ditukar balikkan itu begini contohnya. Berita gosip atau yang seharusnya cukup terdengar sambil lalu, malah kian asyik dan menarik didengarkan, direkam, lalu disebarkan dengan sangat antusias baik lewat obrolan, SMS, wasap, atau yang lain. Malah berita atau informasi yang bermutu hanya didengar saja, tidak didengarkan. "Mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo" begitulah orang jawa mengatakan.

Diambil dari catatan facebook,
Pare, 15 Juli 2017

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...