Kamis, 22 September 2016

Ada yang Berbeda



Terdapat serangkaian kegiatan bernuansa islami yang diadakan sebagian besar tempat kursus di kampung Inggris Pare pada Malam Jum’at, tak terkecuali di tempat saya mengajar. Ini menjadi malam Jum’at yang pertama kali saya saksikan, jadi sekiranya maklum kalau saya cukup terkesan dengan kegiatan yang menurut saya tidak biasa dilakukan oleh tempat-tempat kursus yang biasa saya jumpai. 

Setelah mengajar sore hari, saya diberitahu kalau ada serangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada setiap malam Jum’at. Jika bersedia, saya diminta untuk datang. Saya tidak tinggal di asrama atau camp bersama siswa dan juga tenaga pengajar disitu, karena katanya sudah penuh. Jadi saya harus mencari tempa lain. Maka kalau ada kegiatan selain mengajar seperti halnya yang dilakukan pada malam Jum’at ini, saya perlu info dari teman-teman atau dengan bertanya. 

Sayapun bersedia datang pada malam harinya. Saya membawa Al-Qur’an dan mukena. Sebelumnya saya diberitahu kalau ada acara mengaji bersama. Saya membawa mukena juga siapa tahu akan dilanjutkan Sholat Isya berjamaah. 

Ternyata sampai disana, mengaji bersama -membaca yasin dan tahlil- telah dilaksanakan, tepat setelah Sholat Maghrib. Mereka yang tinggal di asrama sholat berjamaah, lalu dilanjutkan mengaji bersama. Saya telat datang. Menuju ruangan saya langsung duduk. Saya tidak tahu persis kegiatan apa saja yang bakal dilakukan. Saya ikuti saja apa yang ada. 

Dengan didampingi Mr. Gio, yaitu head dari kursus ini acara demi acarapun mulai dilaksanakan. Yang tadinya lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan Sholawat diputar, dimatikan terlebih dahulu dan berganti MC untuk memandu jalanya acara.

Teks Asmaul Husna dibagikan. Secara bersama-sama, tentunya dengan salah seorang yang menjadi imamnya, Asmaul Husna tersebut dilantunkan. Ya, Asma-asma Allah itu tengah berkumandang di tempat kursus, keren bukan? Setelah selesai teksnya dikumpulkan lagi untuk dipakai pada malam Jum’at selanjutnya.
 
Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Sebelumnya peralatan makan-makan sudah siap sedia. Kami membentuk lingkaran dan peralatan makan ditaruh di tengah-tengah. Setelah membaca Asmaul Husna bersama-sama, dua orang segera maju dan membagi-bagikan makanan itu. Pertama yang dibagikan minumannya dan selanjutnya nasinya. Lalu siapa yang masak ini? Karena saya penasaran, sayapun bertanya pada teman saya yang duduk di sebelah saya terkait makanan itu.

Ada maksud tersendiri rupanya dari makan bersama ini. Sebagian besar yang berada di tempat kursus ini adalah orang-orang jauh sana. Ada yang dari Pati, Brebes, Jakarta, Ternate, Ambon, Sulawesi, dll. Malah jarang yang dari kota Tetangga. Pokoknya dari wilayah dengan  berbeda-beda. Setelah masuk disini, kami menjadi teman tanpa memandang perbedaan. Saling tanya menanya adalah sesuatu yang mengesankan, karena menjadi tahu tentangnya.

Kembali ke makanan, bahwa masakan tersebut adalah wujud saling meghargai. Bagaimana bisa? Setiap malam Jum’at dua orang dipilih secara acak untuk bertugas memasak di minggu berikutnya. Semua mendapat giliran, baik siswa mau tentor, baik laki-laki maupun perempuan. Hmmm, saya juga bersiap menunggu giliran. Bisa tidak bisa, harus memasak. Masakan itu dinikmati bersama dan tidak boleh ada yang protes. Makanan yang dibagikan harus dimakan dan dihabiskan. Sebelum menikmati makanan yang disajikan itu, kami berdoa bersama. 

Makan selesai, dua orang yang mendapat giliran tadi dengan sigap langsung membereskan semuanya. Piring-piring dikumpulkan dan dibawa ke belakang. Tempat kembali bersih.

Tempat disulap menjadi sebuah panggung pementasan. Acara ini berada di kelas, namun tidak menggunakan bangku. Biasanya saat belajar, kami memakai meja belajar lipat. Panggung pementasan hanya dengan dibatasi meja-meja itu, yang ditata sedemikian rupa agar ada beda antara panggung dan bukan. Kami duduk membentuk setengah lingkaran besar dengan menghadap ke pangggung itu. 

Acara demi acara sungguh mengejutkanku.  Panggung itu adalah untuk pementasan oleh dua orang yang bertugas. Mereka juga tengah dipilih secara acak pada malam Jum’at sebelumnya. Satu orang untuk menampilkan hiburan dan satu orang lagi untuk memberikan ceita syarat motivasi, baik lewat pengalaman pribadi, cerita dari buku, refleksi, self-reminder atau yang lain. 

Hiburan yang ditampilkan bisa bermacam-macam juga, bisa menyanyi, membaca puisi, atau yang lain. Pada malam ini salah seorang teman membawakan puisi. Kalau tidak salah judul puisinya air mata terakhir. 

Pada kesempatan ini kami tidak perkenankan mengambil gambar atau merekam. Semua HP dikumpulkan, agar bisa konsentrasi menyaksikan penampilan mereka. Begitu aturanya. Tepuk tangan meriah diberikan sesaat setelah menutup penampilanya di sesi entertainment ini. 

Lalu, MC mempersilahkan salah seorang lagi untuk maju. Dengan bahasa gaul ala Yusuf Mansyur begitu, salah seorang teman ini sangat mengusai apa yang ia sampaikan. Pembawaanya enak di dengar, memang ia sudah terbiasa dengan Bahasa Indonesia. Yang ia sampaikan ada bermacam-macam. Untuk catatan dari hasil mendengarkan cerita mereka, mungkin akan saya tuliskan pada catatan selanjutnya. Insya Allah

Setelah selesai, dibukalah pertanyaan dari kami. Kami bebas bertanya apa saja, yang penting masih seputar materi yang ia sampaikan. Kalau ada ide lain, kami juga bisa menyumbangkanya. 

Terakhir, sambutan dari Mr. Gio sendiri. Beliau memberikan penjelasan lebih jauh terkait apa yang teman sampaikan dan juga ada beberapa tambahan yang beliau berikan. 

Tepat pukul 20. 30, acara diakhiri dan ditutup dengan doa. Malam Jum’at yang berbeda dan sangat mengesankan …

Pare, 23 September 2016

Rabu, 21 September 2016

RABU HORAS !



Hari yang cukup membuatku terburu-buru dan saya sendiri yang telah membuatnya. Hari itu pikiranku lebih terfokus pada Briefing Class yang diadakan setiap malam. Brieifing class hanya diperuntukkan untuk tentor saja. Kami yang menjadi tentor di tempat kursus itu pada setiap selepas Maghrib hingga pukul 20. 30 mendapatkan pengarahan tentang metode mengajar dan berkesempatan juga untuk belajar bersama tentang materi Bahasa Inggris dengan dipandu oleh sang master. Hari Rabu adalah kedua kalinya saya bergabung di kelas ini. 

Pada malam sebelumnya kami berdiskusi tentang tenses dari bukunya Betty Azhar. Saya sangat menikmati kelas ini, apalagi Grammar yang menurut saya sangat mengasyikkan. Di akhir pertemuan, kami diberitahu untuk membuat video sebagai tugas speaking kami. Ternyata setiap pertemuan itu kami harus mengumpulkan video yang berisi presentasi tentang suatu topik yang telah diberikan pada malam sebelumnya, lalu didiskusikan pada malam berikutnya. Sepertinya tidak terlalu keberatan juga menlakukannya. Pikir saya gampang, karena mungkin hanya perlu menjelaskan 4-7 menitan saja. Pada pertemuan ini, kami diberitahu untuk membicarakan mengenai perbedaan istilah “Dinner” dan “Supper”. Topik-topik yang diberikan memang lebih berkaitan dengan dengan CCU (Cross Culture Understanding) atau budaya barat.

Langsung saja, saya mencari informasi sebanyak-banyak tentang hal ini. Setelah mencarinya, langsung saya catat poin-poin yang penting. Saya juga harus memahaminya, karena saya memang belum terlalu akrab dengan perbedaan makna kata-kata ini. Tapi yang tadinya saya pakir gampang membuat videonya, namun menjadi tantangan tersendiri. Saya membuatnya benar-benar mepet dan kepepet. 

Pulang dari mengajar sore hari menjelang Maghrib baru saya persiapkan. Itupun saya harus membaca sekilas materi grammar yang akan dibahas malam itu dan mengerjakan PRnya. Belum harus Sholat Maghrib. Belum lagi dandan, OTW, de el el. Untuk Hari Rabu saya khilaf. Biasanya saya lansung menuju ke Masjid untuk menunggu Sholat Jamaah Maghrib disana, namun hari itu tidak. Saya langsung pulang dan beberes tugas untuk malam itu.

Yeah, pada akhirnya tugasnya bisa saya buat, namun entah bagaimana hasilnya. Yang penting sudah saya kerjakan dan kumpulkan. Kulihat jam sudah menunjukkan terlambat hampir lima belas menit. Langsung saya cabut. 

Usut punya usut kepepet ini terjadi akibat saya yang malas keluar bolak-balik, akhirnya saya memutuskan untuk membeli peralatan membuat video pada saat akan berangkat mengajar sekalian. Karena di kos tidak ada papan tulis, saya membeli kertas karton putih. Sekalian markernya. Jadi barulah saya bisa eksekusi selepas pulang mengajar. Tapi, Alhamdulillah semua teratasi, meskipun dengan segala kekurangan itu. Ploongg … itulah yang saya rasakan sesaat setelah semua selesai di hari itu.

Pare, 22 September 2016

Senin, 19 September 2016

Saatnya Belajar “Greeting”, Salam Sapa dalam Bahasa Inggris



Hari ini adalah pertemuan ketigaku bersama siswa di tempat saya mengajar, Platinum English Clinic-Kampung Inggris, Pare. Untuk satu bulan pertama atau satu periode saya diberikan kesempatan untuk mengajar di basic (elementary) speaking class. Materi yang diberikan terlihat sangat gampang, karena memang masih dasar. Sesuai dengan silabus yang diberikan, materi yang diberikan seperti introduction, greeting, spelling words, numbers, telling time, telling daily activities, retelling short stories, dll. 

Namun dalam kesempatan yang berbeda, dimana saya harus menyampaikan materi itu, jadinya tidak lagi gampang.  Segampang apapun, tetap perlu persiapan atau rencana pembelajaran yang matang agar sampai di kelas materi tersebut siap diterima oleh siswa dengan nyaman dan menyenangkan. Tujuan pembelajaran harus jelas, teknis mengajarnya harus terstruktur, activity siswa juga tidak boleh ketinggalan untuk dipersiapkan sebelumnya. Ya, saya harus melakukannya. Apalagi notabene saya yang masih belajar, semua itu harus tercatat jelas agar sampai di kelas tidak speechless

Materi greeting menjadi materi lanjutan dari introduction. Untuk perkenalkan saya lakukan selama dua kali pertemuan; pertemuan pertama untuk introducing yourself. Siswa dihadapan teman-temannya diminta untuk menceritakan tentang dirinya, mulai dari identitas dirinya, keluarga, maupun hal lain tentangnya, bebas bercerita apa saja. Salah tidak masalah. Untuk pertemuan berikutnya adalah introducing friends. Untuk yang ini dilakukan secara berkelompok. Siswa harus mencatat identitas temannya saat memperkenalkan diri, lalu ia ceritakan kepada teman yang lainya dan dilakukan secara bergantian.

Good morning, good afternoon, good day, good evening, good night.” Mungkin  seperti itu gambaran besar salam sapa atau ucapan greeting dalam Bahasa Inggris. Ternyata memang tidak segampang mengartikan bahwa good morning itu selamat pagi, good afternoon itu selamat siang, dst. Namun saya harus mesti tahu seluk beluknya. Mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang ungkapan-ungkapan itu. Saya tidak boleh menyepelekan yang sekilas terlihat gampang. Jika dipelajari lebih jauh, banyak hal yang belum saya ketahui dan itu menjadi ilmu baru bagi saya setelah mempelajarinya.

Beberapa daily ekspression yang berhubungan dengan greeting telah saya persiapkan untuk kelas ini. Dibawah ini saya berikan contohnya:

- Apa kabar (How are you? / How’s life? / How is it going?)
- Kabarku baik (I feel great / I am very well)
- Biasa saja (Just so so)
- Saya lagi tidak enak badan (I am not really well)
- Hati-hati di jalan! (Take care on the way!)
- Salam buat temanmu ya! (Say hello to your friend!)
- Saya pergi duluan! (I am leaving!)
- Sampai jumpa disana (See you there)
- Semoga harimu indah (Have a nice day!)
- Semoga perjalananmu lancar (Have a nice trip!)
- Senang bertemu dengamu (Nice to meet you / Very pleased t meet you)
- dll (Mungkin ada siswa yang punya ide untuk menambah ungkapan-ungkapan itu, maka sebelum beranjak ke aktivitas berikutnya, saya akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menambahkan).

Saya juga membuatkan beberapa kartu untuk aktivitas ini. Kertas buffalo warna-warni yang ukuran F4 saya potong menjadi empat bagian. Saya menyediakan sekitar 10 potongan kertas. Saya isi dalam kartu tersebut semacam prolog yang mengharuskan siswa untuk mengekspresikannya menjadi sebuah mini acting, tentunya disertai dialog yang menyertakan ungkapan-ungkapan greeting yang telah mereka pelajari sebelumnya.  Siswa bebas mau membikin percakapannya bagaimana. Terakhir, dipresentasikan.


Bismillah, semoga hari ini berjalan lancar ^_^

Pare/Kediri, 20-09-2016

Jumat, 16 September 2016

Jobseeker in Action

Setelah test yang saya lakukan beberapa hari sebelumnya, yang saya tuangkan dalam cerita ini, akhirnya kemarin, 16 September 2016 saya dihubungi oleh pihak terkait. Saya diminta datang kembali untuk menerima penjelasan lebih lanjutnya. Sayapun bersedia datang, dengan senang hati tentunya.  Ya, siapa tahu kesempatan ini akan menjadi jalan bagi saya untuk belajar lagi. Sudah pasti kalau saya diterima, keadaan mengharuskan saya untuk mengetahui tentang banyak hal baru yang kemungkinan besar bisa bermanfaat di kemudian hari. Jadi, anggap saja kesempatan ini menjadi bagian dari proses belajar saya.

Pukul delapan saya berangkat dari rumah. Sampai di sana tepat setelah Sholat Jum’at selesai. Saya berhenti di Masjid untuk menunaikan Sholat Dhuhur, lalu makan siang dari bekal yang saya bawa dari rumah. Setelah selesai sayapun berangkat. Masjid ini berada tidak jauh dari tempat yang akan saya tuju, hanya ratusan meter saja.

Saya langsung menemui Mr. Gio, beliau direktur salah satu tempat kursus di Kampung Inggris Pare ini. Awal perbincangan kami, beliau membahas tentang test yang diberikan beberapa hari sebelumnya. Dari test itu memang cukup banyak yang harus saya benahi dan kesalahan yang paling banyak ada pada penguasaan kosakata. Memang beberapa pertanyaan tentang kosakata tidak saya jawab, karena belum familiar. “Yes, I think so” kiranya menjadi tanggapan yang pas untuk situasi ini. Begitu kenyataanya. Beliau menyarankan untuk meningkatkan kemampuan saya dalam hal itu, misalnya dengan cara membaca artikel atau novel, boleh juga dengan menonton film.

Ketika diwawancarai, saya mengatakan kalau saya sangat suka dengan ilmu phonetic. Alasan saya karena asyik saja mempelajarinya. Ya, ketika diajar Bahasa Inggris waktu duduk di bangku sekolah, saya hanya dibuat penasaran kenapa kata-kata Bahasa Ingris itu dibaca seperti itu. Karena waktu guru saya mengajar berbicara atau membaca, beliau tidak memberitahu asal-usulnya darimana. Setelah duduk di bangku kuliah, ternyata saya tengah menemukan jawabanya. Ada pelajaran tentang makharijul huruf untuk Bahasa Inggris. Akhirnya membuat saya senang mempelajari ilmu ini. Paling suka ketika membaca kata-kata di kamus yang sudah ada cara bacanya sekalian. Sering juga dari sebuah bacaan lalu saya transkripkan per kata dari kamus bagaimana cara bacanya, lalu saya baca sendiri.

Nahasnya, pada saat test kemarin yang berbau pronunciation beberapa jawaban saya meleset. Ketika membaca di kamus atau dari transkrip bacaan memang bisa, tetapi pada saat mencoba mengucapkan, lalu menulsikan ucapan saya itu ke dalam simbol Bahasa Inggris sudah berbeda. Logat Bahasa Jawa masih sering saya bawa-bawa, he he.  Intinya dari hasil test itu saya diminta untuk terus upgrading, entah bagaimanapun caranya.

Meskipun masih ada beberapa hasil test yang perlu diperbaiki, namun saya masih diberikan kesempatan. Katanya ada pertimbangan lain selain test, terutama lewat berkas lamaran kerja yang saya buat. Seiring berjalannya waktu, mungkin hal ini bisa saya perbaiki. Dan selanjutnya ada test lagi untuk mengetahuinya.

Kemarin kami sudah melakukan kontrak kerja. Artinya ketika saya bersedia untuk mengambil kesempatan ini, saya harus punya komitmen untuk melakukanya. Berkewajiban untuk menjalankan tugas saya dengan penuh disiplin adalah salah satu yang harus saya terapkan. Ketika saya senang melakukannya dan menikmatinya, kemungkinan besar semuanya akan berjalan dengan lancar. Semoga. Selain itu juga ada sedikit briefing atau pengarahan mengenai kegiatan belajar-mengajar yang harus saya lakukan.

Untuk sementara waktu saya masih diberi satu kelas saja untuk periode ini, yaitu kelas speaking. Dan kemarin menjadi pertemuan pertama saya dengan mereka. Waktu 90 menit tidak terasa. Tetiba sudah berada di penghujung waktu saja.

Karena saya mulai jam empat, maka selesai menjelang waktu Maghrib. Keluar dari ruangan, langsung disambut riuhnya kampung Inggris di sore itu. Semuanya keluar dari tempat-tempat kursus yang ditempati untuk mempersiapkan aktivitas selanjutnya, yaitu Sholat Maghrib. Sayapun menuju Masjid terdekat untuk menunaikan Sholat Maghrib berjamaah disana.

Rencana, saya baru berpindah kesana minggu depan. Jadi setelah Sholat Maghrib itu, saya langsung bergegas pulang.

Selasa, 13 September 2016

Perjalananku Ala Jobseeker

Segera mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan adalah keinginan kuat saya setelah lulus kuliah. Sepertinya banyak teman-teman juga yang terjun ke dunia ini, ada yang mengabdikan dirinya di TK, SD, SMP, maupun LBB. Saya terkesan sekali pada teman-teman, lebih utamanya pada mereka yang sudah memberanikan diri untuk mengajar di sekolah-sekolah.

Entah kenapa, saya masih belum siap saja untuk mengajar di sekolah. Saya masih takut, saya takut kalau belum bisa menjalankan tugas saya dengan baik. Saya memutuskan untuk pemanasan dulu, tidak langsung mengajar di sekolah. Saya mendaftarkan diri di lembaga kursus. Beberapa lembaga kursus yang saya masuki diantaranya, Primagama dan GO di Trenggalek dan beberapa kursus Bahasa Inggris yang ada di Kampung Inggris Pare.

Saya tidak langsung menyerahkan surat lamaran, namun terlebih dahulu saya bertamu dan bertanya-tanya. Jika sekiranya memungkinkan untuk merekrut tutor baru, maka keesokan harinya saya menyempatkan diri untuk datang lagi sambil membawa surat. Saya tidak tahu, kesempatan mana yang datang lebih dulu.

Setelah menunggu, akhirnya ada nomor baru masuk dan memberitahukan lewat pesan singkat berbahasa Inggris yang intinya saya diminta untuk datang ke tempat kursus binaanya di kampong Inggris Pare untuk adakan test wawancara dan test tulis. Test tersebut berlangsung kemarin.

Sesuai dengan kesepakatan, saya meminta untuk datang pukul 10. 30. “Assalamualaikum…Excuse me Mr, I think I will have got there about at 10. 30 am.” Beliau mengiyakan. Perjalanan sebelumnya yang telah saya tempuh menuju Pare, Kediri kurang lebih hampir enam jam. Itu yang pertama kali. Jadi banyak waktu yang saya habiskan untuk bertanya-tanya arah menuju kesana, belum lagi kalau salah arah dan harus putar balik. Namun, untuk kali berikutnya perjalanan sudah lancar. Waktu lima jam setengah bisa saya tempuh dari rumah. Saya berangkat dari rumah pukul 05. 30.

Kemarin hujan cukup deras. Saya tetap berangkat dengan senang hati dan semangat. Siapa tahu kesempatan ini bersahabat di pihak saya. Dari rumah saya membawa bekal untuk makan siang dan juga baju ganti.

Ternyata sampai disana pukul 11. 00. Saya langsung menuju ke kantor, lalu meminta izin untuk menemui Mr. Gio. Saya diminta masuk ke ruanganya. Hmmm pertama kali berjumpa, saya langsung dihadapkan dengan Bahasa Inggrisnya yang cas cis cus. Saya kira berbincang-bincang dan wawancaranya pakai Bahasa Indonesia begitu. Tapi saya tidak nervest waktu ditanya-tanya. Saya jawab saja sesuai dengan kata hati saya. Banyak pertanyaan yang dilontarkan, mulai dari pertanyaan personal hingga menyangkut pengalaman mengajar saya, tentang akomodasi, quality time, dsb. Setelah berbincang-bincang dan interview agak lama, akhirnya satu tahapan selesai.

Dilanjutkan setelah Sholat Dhuhur adalah untuk test tulis. Selama istirahat saya menuju Masjid terdekat, setelah selesai kembali lagi. Saya diberikan soal-soal Bahasa Inggris yang menyangkut berbagai aspek. Ada sekitar 100 pertanyaan. Ada pronunciation, grammar, pengusaan kosa kata, translating, dan open question untuk pengetahuan umum. Hampir dua jam saya mengerjakannya. Tidak semua soal bisa saya kerjakan. Ada yang sangat mudah, tapi karena lupa akhirnya jadi blank. Ada juga yang tidak saya kerjakan karena memang belum tahu. Namun, sudah saya kerjakan semaksimal mungkin, entah bagaimana hasilnya.

Ternyata tidak selesai sampai disini. Padahal saya sudah mau berpamitan untuk pulang. Hari itu juga saya masih ingin di test seberapa jauh kemampuan saya untuk meng-handle kelas. Test microteaching akhirnya dilaksanakan pada hari yang sama. Beliau menjelaskan kalau ada kelas speaking di jam sore, yaitu jam 4. Kebetulan mentornya tidak datang, jadi saya diminta untuk adakan test microteaching di kelas tersebut.

So, I will teach in real class Mr?” Saya bingung saja kalau harus mengajar, karena tidak ada persiapan sebelumnya.

Yes, because Mss. Sisil as speaking teacher couldn’t come today, I will give you chance to change her class.”

Untuk menunggu jam empat, saya berkekliling-keliling di sekitar kampung inggris Pare untuk mencari warnet. Saya ingin mencari informasi tentang pengajaran speaking. Kalau misalnya mengajar pronunciation, grammar, reading atau writing, saya masih sedikit punya gambaran. Namun untuk speaking class, saya benar-benar tidak punya gambaran untuk mengajar apa. Kebetulan hari itu saya lupa membawa HP, jadi repot juga kalau cari informasi mendadak begini. Ada dua warnet yang saya temukan, pertama yang berada di sekitar kampus STIKES Karya Husada, namun beberapa kali saya datangi tidak juga buka. Lalu, ada lagi di tempat lain namun setelah saya tanyakan sudah tidak ada yang kosong karena telah dibuat untuk main PS.

Buku yang saya bawa hanya berupa kamus, panduan pronunciation, dan buku grammar. Di kompleks Kampung Inggris itu ada agen menjual buku-buku Bahasa Inggris. Saya mencoba mendatangi toko buku itu. Saya langsung saja bertanya tentang buku pembelajaran speaking. Ia meminta untuk mencarinya di deretan rak buku nomor dua. Saya menemukan buku yang kiranya cocok untuk sikon saya saat ini. Tanpa ba bi bu, buku berjudul menarik : 100 Games for Teaching English (Pusparagam Permainan Seru untuk Mengajar Reading, Listening, spekin, Writing, dan Developing Vocabulary) saya beli. Saya tidak bisa mengintip isinya terlebih dahulu, karena masih di bungkus plastik.

Segera saya larikan buku itu ke mushola SPBU terdekat untuk saya nikmati isinya sambil istirahat dan menunggu waktu ‘Asar tiba. Buku ini cukup menenangkan saya, karena sehedaknya saya telah menemukan gambaran tentang pengajaran di speaking class. Untuk materi yang akan saya ajarkan, masih diberitahukan sesaat sebelum kelas dimulai.

Dua jam diberikan sepenuhnya untuk saya dan member yang ada di kelas speaking. Tema yang kami pelajari adalah seputar Daily Activities. Yups, waktu satu jam setengah benar-benar sangat menyenangkan. Sudah tidak ada lagi rasa nervest yang saya rasakan, karena hilang seketika setelah berada di kelas. Meminta mereka untuk membuat jadwal harianya, lalu mencoba untuk menceritakan kepada teman-temannya. Di akhir presentasinya, siswa lain harus membuat satu pertanyaan tentang kegiatan harianya dan ia harus menjawab pertanyaan dari teman-temannya tersebut. Masing-masing member mendapatkan kesempatan yang sama.

 Di akhir, saya memberikan contoh-contoh pertanyaan tentang daily activities. Ide masing-masing siswa saya tulis di papan tulis, tapi jika ada susanan katanya yang salah saya memberitahukanya. Saya sertakan juga jawaban-jawaban dari pertanyaan itu. Sebagai penutup, tugas mereka adalah membuat pertanyaan tentang daily activites sebanyak-banyaknya di sebuah kartu dan untuk pertemuan selanjutnya dijadikan acuan untuk bercakap-cakap dengan temanya. Begitulah gambaran skenario pembelajaran yang saya susun untuk test microteaching kemarin.

Adzan maghrib telah berkumandang. Saya berpamitan untuk segera pulang.

Okey, for the next information I will text you soon. Take care on the way.”Kata-kata terakhir beliau setelah saya menyelesaikan serangkaian tahapan test itu.

Secercah harapan untuk bisa diterima pasti ada, namun tetap saja itu adalah kebijakan pihak yang bersangkutan. Berdoa saja apapun hasilnya.

Perjalanan malam saya lalui. Karena sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah, akhirnya saya memutuskan untuk menginap di kos Adik saya. Sedikit ada kendala sebenarnya perjalanan malam saya kemarin, karena tetiba ban saya bocor. Untungnya beberapa meter lagi ada tukang tambal ban yang baik hati. Meskipun sudah tutup, bersedia untuk melayaninya. Akhirnya saya pulang dengan selamat.

That’s my story

Tulungagung, 14 September 2016


ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...