Rabu, 30 Maret 2016

About Peter’s English Camp in Thailand





 English Camp "Dare to Speak English with Mr. Peter

Setelah saya mengikuti acara demi acara di hari pertama akhirnya saya berhasil menemukan informasi lengkap dari agenda English Camp, seperti tujuan di adakan kegiatan ini, bagiamana pelaksanaanya, dll.
 
Mr. Peter adalah seorang native speaker yang menggagas agenda ini. Bekerja sama dengan kedua sekolah, yaitu Susksasat School, Rattaphum dan Thayaiwittaya school, Hat Yai, akhirnya agenda bisa bisa terlaksana. Pelaksanakan English Camp berlangsung dua hari, mulai tanggal 29 Maret hingga 02 April. Dua hari pertama dilaksanakan di Suksasat School, Ratthapum, sedangkan tiga hari terakhir  di gelar di Thayaiwittaya School. 

Ada beberapa tujuan mengapa English Camp dilaksanakan. Pertama, teknik menyenangkan yang dipakai guru dalam menyampaikan materi, sehingga diharapkan siswa menjadi tertarik dan senang ketika belajar Bahasa Inggris, Kedua, sesuai tema yang diusung dalam English Camp kali ini adalah Dare to speak English”. Dengan ini, diharapkan siswa bisa percaya diri ketika berbicara Bahasa Inggris di depan banyak orang. Ketiga, tentunya siswa maupun guru yang mengikuti kegiatan agar punya pengalaman yang sangat berharga. Keempat, sebagai penutup kegiatan ini, semua siswa akan unjuk kebolehan akan apa yang telah di dapat dalam selama mengikuti English Camp di hadapan orang tuannya. Di akhir acara, orang tua siswa akan diundang untuk hadir di sekolah dan melihat penampilan anak-anaknya.

Dalam kegiatan ini tentunya materi yang disajikan oleh siswa menggunakan tekhnik mengajar yang menyenangkan, sehingga siswa akan senang dan mudah dalam memahami materi yang di berikan.

Semua siswa dibagi menjadi tiga kelompok, grup A, grup B, dan grup C. Setiap grup akan berkesempatan untuk masuk di kelas yang disediakan. Ada empat kelas, yaitu the drama class, songs class, reading class, dan art class. Masing-masing kelas diisi oleh guru yang memiliki potensi di bidang  tersebut.

Ada salah satu topik khusus yang sangat menarik, yang diajarkan siswa dalam hal ini, yaitu The very hungry caterpillar. Setiap kelas, baik kelas drama, menyanyi, membaca, maupun kelas seni mengajarkan topik tersebut. 

The very hungry caterpillar punya versi cerita. Dengan masuk kelas drama, siswa akan belajar how to act out the story. Masing-masing siswa punya peran masing-masing dan selama empat hari penuh mereka akan belajar untuk memerankan cerita tersebut agar di hari terakhir bisa tampil dengan maksimal.

The very hungry caterpillar ternyata juga ada yang versi nyanyian. Ketika masuk kelas menyanyi, siswa bisa menyanyikannya lagu tersebut dengan baik dengan di sertai gerakan yang tepat. Dengan begitu, maka siswa akan mengetahui isi yang terkandung dalam lagu tersebut. Untuk kelas menyanyi, tidak ada lagu itu saja yang diajarkan. Kurang lebih ada sepuluh lagu yang direkomendasikan oleh Mr. Peter untuk diajarkan kepada siswa. Hari pertama saya berkesempatan untuk mengajar di kelas ini bersama Mrs. Nurhayatee.

Reading class di handel oleh Mr. Peter sendiri. Dengan bergabung di kelas ini, siswa akan belajar langsung dengan native speaker bagiamana melafalkan kata-kata dalam Bahasa Inggris dengan benar, dan yang di fokuskan adalah bagaimana membaca cerita The very hungry caterpillar  dengan baik. Siswa yang bisa membaca cerita tersebut dengan baik, maka ketika bermain drama dari cerita itu akan lebih menarik lagi.

Untuk kelas seni, materi pokoknya adalah menggambar. Membuat properti dan backdrop. Di kelas ini, siswa akan belajar  isi cerita The very hungry caterpillar dengan wujud visual gambar yang mereka buat. Sekolah sudah menyediakan beberapa gulung kertas karton, dan peralatan lengkap menggambar, seperti pensil warna, cat air, kuas, dll. Hasil karya mereka juga akan dipakai untuk properti pendukung saat pementasan drama atau menyanyi jika perlu. Selain itu, di kelas ini siswa juga belajar untuk membuat cerita singkat lewat gambar yang mereka buat. menyenangkan pokoknya…

Selama sehari, tentunya siswa akan belajar Bahasa Inggris sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan.  Akhir pembelajaran yaitu pukul 16. 00, jadi tidak menginap di sekolah. Sampai di tempat acara kurang lebih pukul 09. 00, lalu satu jam kedepan diisi oleh Mr. Peter sendiri (large group activities). Pukul 10. 00, siswa dan guru mulai masuk kelas masing-masing. Mereka akan belajar selama 90 menit ke depan bersama tutor masing-masing, setelah selesai makan mereka akan pindah kelas lagi. Misalnya, 10-11.15, siswa belajar di kelas A, makan di jam berikutnya bel mereka akan bergabung di kelas lain, hingga jam berakhir. 

Pada pukul 11. 15 kami semua berisitirahat sebentar selama lima belas menit, di beri makanan ringan dan minum, lalu mulai lagi hingga pukul 12. 00 dan dilanjutkan dengan istirahat, yaitu makan siang dan sholat Dhuhur hingga pukul 13. 00 dan selesai pada pukul 16. 00.

Agenda ini sangat menarik. Di kemas dengan sangat menyenagkan, sehingga siswa senang dalam mengikuti setiap aktivitas yang di berikan oleh pendamping. Guru yang bertugas mengisi materi juga sangat senang ketika mengajar mereka. 

Siswa senang, begitu juga dengan gurunya.

Thailand, 30.03.2016

Selasa, 29 Maret 2016

Rezeki Pas Uang Mepet




Sebenarnya uang makan yang diberikan sekolah untuk aku hidup disini setiap bulannya memang lebih dari cukup,  bahkan aku masih bisa menyisihkan sebagian kecil dari uang tersebut. Beberapa bulan lalu, memang sengaja saya menyisihkannya untuk membayar tiket pesawat pulang, karena ini yang sangat penting. Bagimana jadinya saya kalau tidak ada uang buat bayar tiket? Tidak mungkin sekali kan kalau pulang jalan kaki. Setelah bayar tiket, rasanya sudah ploong artinya kalaupun hanya ada uang pas-pasan tidak jadi soal.


Berbicara soal biaya hidup saya disini, sebisa mungkin saya harus bisa memanfaatkan uang yang diberikan oleh sekolah (bukan uang gaji tetapi uang makan). Lagian saya membawa uang baht cuma sedikit, karena sebelum berangkat kampus sudah memberitahu kami, bahwa selain fasilitas tempat tinggal, juga mendapat fasilitas berupa uang makan. Jadi biaya hidup sehari-hari menggunakan uang yang dari sekolah.


Biaya hidup sehari-hari yang paling krusial memang makan, kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Lewat cerita teman-teman, ada beragam cara bagaimana untuk makan sehari-hari, ada beberapa dari mereka yang beras disediakan oleh keluarga angkatnya, sementara sayur serta lauknya masak sendiri, ada lagi yang makan gratis setiap harinya karena serumah dengan keluarga angkatnya, ada juga yang beli setiap hari, dll. 


Waktu sekolah masih aktif, saya mendapat jatah makan dari asrama sekolah yang disedikaan oleh kantin sekolah selama dua kali, makan pagi dan malam. Makan bersama-sama dengan murid yang tinggal di asrama. Kalau tidak puasa, makan siang beli. Untuk harganya masih lumayan. Tapi dibandingkan dengan teman-teman saya yang tinggal di wilayah Pattani, Yala, Narathiwat, harga makanan di tempat saya lebih mahal.


He he, pembuka ceritanya panjang amat. Langsung saja sekarang ke inti cerita saya. 

Begini … Kan satu bulan terakhir ini sekolah sudah libur, otomatis jatah makan saya sudah di cut, lha kantin sekolahnya saja juga sudah tidak lagi beroperasi. Otomatis untuk makan sehari-harinya selama itu, saya membeli. Itulah mengapa, pengularan saya akhirnya membengkak yang membuat uang bulan ini jadi mepet. Benar-benar mengkhawatirkan he he

Mungkin hanya saya saja dari sekian persen yang pergi ke tempat-tempat tertentu, ke tempat wisata atau tempat yang lain hanya membawa cukup untuk hal-hal penting saja, misalnya untuk membayar kendaraan, makan (jika harus bayar), atau iuran bersama. Benar-benar cukup untuk itu saja, tidak lebih. Kalau mau pengen beli apa begitu, berarti ya sudah tidak bisa. Kaalu saya sih tidak masalah tidak bawa uang, yang penting bisa foto-foto, dan syukur-syukur kalau saya bisa membuat cerita tentangnya, hmm sudah lebih dari cukup, ha ha.
 
Beberapa hari terakhir ini aku sungguh merasakan mendapat nikmat yang luar biasa dikala uangku bulan ini mepet, yaitu dapat makan gratis. Dengan mendapat makan gratis tersebut, sehendaknya bisa mengurangi jatah pengeluaran makan saya dibulan ini dan bisa digunakan untuk hari selanjutnya. Makan gratis seraya datang dari segala penjuru di beberapa hari terakhir ini, ha ha


Sampai-sampai saya ingin menuliskan hal ini, karena atas heran saya dan Alhamdulillah karena makan gratis tersebut seringkali hadir secara tiba-tiba dengan berbagai cara. Antara lain, tetiba diajak keluar kepala sekolah, sudah pasti kalau makan gratis dengan beliau dan beberapa hari terakhir ini saya sering di ajak keluar. Ada yang tetiba memberi nasi pagi di sekolah. Beberapa hari ke depan ini ada acara English Camp, para guru yang bertugas di agenda ini mendapat jatah makan siang yang luar biasa, saya mengira makan beli sendiri. Meskipun dinamakan camp, namun acara tersebut hanya selesai sampa pukul empat sore saja, setelah itu pulang ke rumah dan esoknya balik lagi. Dengan begitu berarti masih perlu makan malam kana? Eeeh … tetiba malam ini Baboo saya datang ke asrama, lalu mengajak saya pergi ke kenduri slametan meninggal dunia di dekat sekolah. Kalau tidak sungkan dan (isin), saya bisa datang di jam yang sama ke tempat tersebut selama tujuh hari ke depan. Sepertinya ini sudah menjadi skenario terbaik yang Allah berikan. Alhamdulillah, Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.




Thailand, 29.03.2016

Senin, 28 Maret 2016

Dari Songkhla Central Masjid Menuju Klong Hae Floating Market


Berawal dari Mrs. Robi’ah, seorang guru Bahasa Inggris yang telah menjadi partner mengajar saya memberi tahu kalau esok Jum’at selepas pulang sekolah pergi bersama para guru lainnya ke floating market atau pasar apung di Klong Hae, Songkhla. Dalam hatiku bergembira mendengar ajakannya karena saya memang belum pernah kesana. Ia memberitahu hal tersebut ketika kami berpapasan di jalan waktu pulang sekolah. Esoknya, saya bertanya lagi kepada salah satu guru yang waktu itu telah disebut oleh Mrs. Robi’ah kalau beliau ikut juga, ya, iseng untuk memastikan saja. Ternyata beliau juga memberitahu hal yang sama. 


Hari Jum’at tiba,


Seperti biasa, setiap pulang sekolah saya tidak langsung pulang karena ingin memanfa’atkan wifi gratis sebelum ditutup, biasanya akan wifi akan diputus sekitar pukul 16. 30. Kebetulan hari itu paketan internet saya pas habis, jadi sekalian saya ingin posting tulisan di blog. Namun karena waktunya hanya sebentar dan masih baru memulai membuat cerita, belum edit, belum ini belum  itu, pada akhirnya wifi sudah keburu mati. Namun saya masih tetap melanjutkannya karena hanya kurang sedikit lagi. Saya kurang tahu berangkat ke floating market jam berapa, karena belum juga ada yang memberi kode, jadi saya sedikit santai. Kalau ada yang sudah panggil-panggil baru cap cus.


Tak lama kemudian, teriakan menggema dari lantai bawah terdengar sampai  lantai atas tempat saya duduk. Sayapun membalasnya. Lalu beliau menemui saya. Teriakan tersebut ternyata sedikit bernada kesal, karena sempat dipanggil di asrama tidak datang juga, eh malah masih duduk manis disitu. Kabuurrrrrr …langsung saja saya lari ke asrama untuk Sholat ‘Asar dan ganti baju. Tidak ada sepuluh menit selesai dan langsung menuju ke mobil yang sudah siap menunggu di depan kantor sekolah. 


Sepertinya ini rencana Mrs. Robi’ah yang sengaja mengajak saya beserta guru yang lain pergi ke floating market, karena yang atur-atur beliau dan juga yang banyak memberikan info tentang tempat tersebut beliau juga.


Sore itu kami naik mobil bak Ust. Ahmad. Di depan ada Ustadz bersama istrinya, sementara saya bersama beberapa guru yang lain duduk di bak belakang. Kami berangkat tepat menjelang waktu maghrib. Sebelum menuju Klong Hae floating market, terlebih dahulu ke Songkhla central masjid untuk menunaikan jama’ah sholat maghrib disana. Keduanya lokasinya tidak terlalu jauh, untuk ke masjid tersebut melewati floating market.


Karena sampai di masjid belum terdengar adzan, terlebih dahulu kami mengabadikan foto disana, tepatnya di depan halaman Masjid. Lokasi Masjid yang berada di tanah lapang yang luas, membuat view-nya sangat menarik, layaknya berada di atas awan he he. Ditambah lagi kami kesana tepat matahari akan terbenam, tambah eksotis lagi. 


 Di halaman depan masjid, tampak langit sore disana

Suasana hari itu tampak sepi, terlihat hanya beberapa saja mobil yang parkir di halaman. Katanya pada waktu-waktu tertentu banyak pendatang yang seringkali singgah kesini, baik untuk bersinggah menunaikan sholat atau hanya mengabadikan gambar. saja Tampak sekilas, memang Masjid Agung yang ada di Songkhla ini seperti Masjid Taj Mahal. Ada empat menara yang mengelilinginya, dua menara di bagian depan dan dua lainnya di bagian belakang dan tepat di depan masjid ada kolam yang cukup luas, serta di sekililingnya ditanami pohon. Karena ambil gambarnya dari jarak dekat, jadi tidak bisa terlihat semuannya. 

Songkhla central masjid dengan empat menara

 Kolam yang luas berada tepat di depan masjid dan dikelilingi oleh Pohon Palm



Suara Adzan sudah terdengar dari dalam Masjid. Kami langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu menunaikan Sholat Maghrib berjama’ah. Senang sekali bisa berkesempatan untuk menunaikan Sholat di masjid yang megah ini. 


Setelah selesai Sholat, saatnya menikmati perjalanan malam yaitu ke Klong Hae Floating market, sebuah pasar apung yang terletak di Klong Hae subdistrict. Floating market ini termasuk salah satu destinasi pilihan para pelancong jika pergi ke Thailand. 


Eka, What is on your mind about floating market?” sebelum sampai di tempat, Mrs. Robi’ah meminta saya untuk memberikan sedikit gambaran tentang pasar apung, apa yang ada dalam benakku tentang pasar apung yang ada di Klong Hae ini.


Langsung saja, pikiran saya menuju pada ikon RCTI oke yang pernah ada beberapa tahun silam, dimana ada banyak pedagang yang menjual barang dagangannya di perahu, he he. “I think It’s very nice place. There are many sellers who have trading activity using waterways transportation”. Sebatas itu saja yang ada dalam benak saya tentang pasar apung.

Mrs. Robi’ah memberikan sedikit cerita tentang pasar ini, bahwa Klong Hae Floating market memang sangat terkenal di kalangan para pendatang dengan segala keunikan di dalamnya. Biasanya pengunjung yang datang adalah dari Malaysia, dan warga Thailand Selatan sendiri. Untuk turis yang datang dari selain negara tersebut, biasannya mereka mengunjungi floating market yang ada di Bangkok. 


Tidak terlalu jauh jarak dari Masjid ke pasar apung, sekitar lima belas menit saja. Lokasinya tepat berada dikiri jalan utama jika perjalanan di tempuh dari Masjid Agung. Menuju Klong Hae Floating Market, di bagian pintu masuk di sambut dengan tulisan warna-warni  Klong Hae Floating Market” dengan hiasan taman bunga di sekelilingnya. Kami tidak turun disitu, tetapi masih masuk lagi menuju area parkir. Disana berbaris rapi mobil para pengunjung beserta angkutan umum yang jumlahnya cukup banyak. 


Saya kira kami langsung dihadapkan oleh para penjual barang dagangan di atas perahunya, namun sebelum menuju kesitu kami melewati gerai para penjual beraneka macam barang dagangan, ada souvenir, pakaian, makanan, dll yang berada di sepanjang jalan menunju floating market. Menarik sekali karena tempat para penjual tersebut dibuat seragam, seperti gubuk atau angkringan, dari bambu dan atapnya menggunakan anyaman daun kelapa kering. Bernuansa tradisional banget. 



  Gerai pedagang yang berada di jalan menuju floating market


Dari tempat tersebut kami harus menuruni beberapa anak tangga untuk menuju ke sungai tenpat para pedagang bersampan berjualan. Ada lagi pintu masuk yang kedua, saya bersama salah satu teman saya mengabadikan foto disana. Sangat ramai para pengunjung yang datang dan memenuhi jalanan menuju pintu masuk ke bibir sungai.

 Pintu masuk Klong Hae Floating Market


Ah, ternyata sangat jauh dari yang saya bayangkan tentang Klong Hae floating market. Saya bayangkan kalau para penjual itu menjalankan perahunya ketika berjualan, lalu pengunjung yang datang akan naik perahu tersebut ketika ingin membeli. Sama sekali tidak benar, para penjual dengan perahu yang digunakan berjejer rapi di tepi sungai, sehingga kalau ada pengunjung yang datang tidak perlu naik ke perahunya. Kalaupun mau naik tetap juga tidak bisa, karena yang dipakai untuk berjualan adalah perahu kecil yang di dalamnya sudah penuh dengan barang dagangan. Perahu tidak akan bergoyang-goyang karena berada di atas air sungai yang sangat tenang.



 Penjual bersampan berjejer rapi di tepi sungai siap melayani pembeli yang datang

Di tempat tersebut saya kira juga ada berbagai macam barang yang dijual, ternyata disini hanya para penjual makanan yang ada. Berbagai jenis makanan yang dijual dengan harga lumayan murah. Lebih tepatnya, sangat cocok untuk mencoba kuliner tradisional dan ragam cemilan khas Thailand di Khlong Hae Floating market. Terdapat kurang lebih 50 penjual bersampan yang menjual berbagai macam makanan Thailand, antara lain tomyam, sup daging, ketan mangga, telur panggang, jagung bakar, aneka masakan mi, dll. Pembeli tidak perlu bingung untuk mengetahu harga makanan, karena dibagian ujung belakang setiap perahu  di beri papan harga lengkap dengan menu makanan yang yang dijual. 

 Variasi makanan dijual disini, lengkap dengan nama makanan dan label harganya


Saya perhatikan beberapa para penjual ketika melayani pembeli sangat unik, dimana ketika memberikan makanan yng dibeli kepada para pengunjuang, mereka tidak perlu repot-repot berdiri, sudah ada alatnya. Penjual memberikan barang kepada pembeli dengan menggunakan tongkat yang ujungnya diletakkan keranjang. Pembeli juga akan memasukkan uang di dalamnya.


Khlong Hae floating market tidak buka setiap hari melainkan seminggu hanya buka tiga hari saja, yaitu pada Hari Jum’at sampai Hari Minggu mulai jam tiga sore hingga pukul Sembilan malam.  


Kami menghampiri dari penjual ke penjual yang lainnya untuk melihat makanan apa saja yang mereka jual. Berjalan dari ujung kanan hingga ujung kiri, lalu kembali lagi untuk membeli makanan yang menarik hati. 



 Menyusuri jalan floating market untuk pilih-pilih makanan yang disuka
Ketika aku sedang pilih-pilih makanan di beberapa pembeli, tiba-tiba Mrs. Robi’ah mengikuti saya dan beliau akan memberikan free untuk makanan yang saya pilih. Saya sudah berusaha untuk menolak karena tidak enak saja dengan beliau, tapi tetap saja memaksa, jadi ya Alhamdulillah dapat rezeki. 


Kami memilih menu makanan yang berbeda-beda. Saya pilih es krim kelapa dengan wadah yang unik yaitu tembikar mini dengan berbagai bentuk, ada yang berbentuk kura-kura, labu, lumping, dll. Saya pilih yang berbentuk labu. Selanjutnya saya juga memilih camilan yang bahannya kacang hijau yang dibuat dengan variasi bentuk dan warna. Uniknya lagi, ada juga tempat minuman yang dijual disana menggunakan buluh atau bambu muda. Memang, semua tempat untuk menaruh makanan yang dipakai oleh para penjual hanya sekali pakai saja. Selain tembikar dan buluh, juga ada daun pisang, mangkuk sterofom, tempurung kelapa, dll.
 Setelah selesai memilih makanan, kami menuju gazebo yang disediakan di sepanjang floating market yang memang tempat tersebut untuk beristirahat sambil menikmati makanan yang dibeli. Disana sudah ada tempat duduk yang dilengkapi dengan meja. Hampir setiap tempat duduk ada yang menempati karena ramainya pengunjung yang datang di malam ini. 

Kami tidak terlalu lama disana, karena waktunya juga sudah malam. Setelah menikmati makan malam, kami langsung bergegas pulang.Ada juga yang masih membeli makanan  terlebih dahulu untuk dimakan di rumah.

Dari floating market menuju rumah, kurang lebih 25 menit.  Karena perjalanannya di malam hari, jadi jalannya lumayan longgar, tidak ada macet.

Ini ceritaku ketika diajak pergi ke tempat yang sangat menarik di Songkhla, yaitu Songkhla Central Masjid dan Khlong Hae Floating Market pada beberapa hari yang lalu, Jum'at 25.03.2016




ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...