Sabtu, 07 Oktober 2017

PESONA DAMAI TAMAN NGRONGGO, KEDIRI




Sederhana, namun bukan berarti biasa-biasa saja. Menyaksikan raut wajah bahagia segerombolan anak kecil yang sedang bermain di bawah langit taman Ngronggo, Kediri memberikanku inspirasi tersendiri. Hatiku tiba-tiba berbisik, “Tempat yang sangat bersahabat.” 


Sederhana yang mereka lakukan, seperti menikmati wahana permainan: ayunan, papan seluncur, dll, bahkan hanya sekedar bermain kejar-kejaran. Lain halnya dengan yang dewasa, bagi mereka duduk-duduk bersantai sambil ngobrol atau makan dan menyaksikan anak-anaknya bermain menjadi kebahagiaan tersendiri. Bukan itu sudah umum dilakukan bagi setiap pengunjung taman, maka tak heran lagi? 


Oh tidak, aku merasa ada hal yang berbeda. Memang gobrol, makan-makan, menikmati wahana permainan anak itu sudah biasa dilakukan oleh pengunjung taman. Tapi, ketika mereka melakukan hal itu di tempat yang bersahabat akan terasa berbeda.

Apakah melihat sampah di tempat ini?

Tadi malam adalah kali pertama masuk ke taman yang berada di Jl. Perintis Kemerdekaan, Ngronggo Kota Kediri ini. Sebelumnya aku hanya lewat saja, tidak sampai bersinggah. Selepas sholat maghrib dan kebetulan badan ini terasa lelah karena perjalanan dari Tulungagung membuat diri ini ingin beristirahat sebentar. Akhirnya berhentilah di taman Ngronggo. 

Aku menyaksikan seorang Ibu yang sedang menyuapi kedua anaknya sambil bermain di taman yang bersahabat ini
Sesi curhat setelah kelas berakhir


Aku memang sudah sering ke taman, seperti taman alun-alun. Tapi, aku merasakan sesuatu yang damai di taman ini. Lokasinya tidak terlalu luas, namun begitu mendamaikan. Masuk di taman ini, aku langsung dibuatnnya kagum dengan rerumputan yang mengiasi pelataran taman. Hijau dan bersih. Aku tidak menemukan sampah satu pun disana. Bahkan daun-daun yang jatuh pun sedikit sekali. Benar-benar sangat bersih. 

Rerumputan yang tumbuh damai di taman Ngronggo, tanpa satu pun sampah yang mengganggu





Di setiap area taman, beberapa tong sampah diletakkan. Tong sampah bukan sekedar tong sampah, namun oleh pengunjung benar-benar difungsikan dengan sangat baik. Bahkan aku menyaksikan anak kecil yang membuang sampahya di tempat sampah. Ya, aku kagum saja dengan tempat ini, pengunjung setiap harinya sangat ramai, tapi tempat ini tetap bersih. Kebanyakan taman, misalnya di alun-alun banyak sampah bekas bungkus makanan yang berserakan dimana-mana. 

Taman Ngronggo di bawah langit malam

Aku duduk di gazebo taman dan menikmati damainya malam. Taman ini selain bersih juga sangat tenang. Meskipun pengunjung banyak, suasana tidak riuh. Ditambah dengan iringan musik lama Tetty kady yang diputar tidak terlalu keras. 


Tidak ada setengah jam aku duduk disana, karena keburu malam. Meskipun hanya sebentar, namun rasa lelahku perlahan hilang, karena terobati dengan pesona damai taman ini.

Kamis, 05 Oktober 2017

SUDAH KHUSUKKAH SHOLATKU?



“Sholat adalah upaya untuk pemenuhan kebutuhan kalbu, jiwa, dan perasaan.”
~Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA~

Saya malu pada-Nya karena terkadang sholat saya masih ada yang bolong dan enggan untuk segera memenuhi panggilan-Nya. Seruan azan tidak lantas segera mengambil air wudhu dan menghadap pada-Nya. Sholat dengan rutin walau hanya lima kali sehari dan dalam beberapa menit saja rasannya masih belum bisa. Padahal sehari selama lima kali itu sudah termasuk sangat ringan.  

Sholat wajib pada mulanya hingga 50 kali dalam sehari semalam. Namun, Rasulullah bolak-balik meminta keringanan dan akhirnya dalam sehari lima kali saja. Ini sebenarnya bertujuan agar tidak ada lagi dalih bagi siapa pun yang masih menilainya sebagai kewajiban yang berat dan mengabaikan kewajiban itu. Berupaya untuk bisa sholat secara rutin dan tepat waktu adalah sebuah misi yang harus saya tanamkan dalam diri setiap waktu. 

Menulis tentang sholat, jadi teringat tingkah saya dulu saat masih belajar sholat membuat saya senyum-senyum sendiri. Mata jelalatan melihat kanan kiri, suka mencolek-colek kawan sebelah, atau mengerjakan sholat dengan sangat cepat seperti ayam yang sedang mematuk beras. Begitulah sholat masa kecil saya. Namun, sebagai seorang yang masih dalam fase belajar, hal itu masih dimaklumi, meskipun sesekali mendapat teguran dari orang tua agar sholatnya tidak main-main. 

Ada istilah unik masih saya ingat hingga sekarang tentang sholat ala anak yang sedang belajar, yaitu sholat rubuh gedhang  (seperti pohon pisang tumbang).  Istilah ini sering disebutkan orang tua saya, entah apa hubungannya. Meskipun sholat rubuh gedhang, tapi sangat dianjuran oleh orang tua ketika saya masih mulai tahap belajar sholat. Cukup sekedar menirukan gerakan orang lain atau ikut-ikutan gerakan sholat orang lain tanpa mengetahui substansinya. 

Lama-kelamaan orang tua tidak hanya memperkenalkan gerakan sholat saja, namun setahap demi setahap mulai diajarkan mengenai gerakan yang benar, syarat dan rukun, hingga bacaannya. Guru TPA juga telah mengenalkan tentang sholat yang baik dan benar sesuai dengan syarat dan rukunnya. 

Seiring dengan kedewasaan beragama, semestinya sholat yang semula ‘rubuh gedhang’ itu, menjelma menjadi sebuah interaksi spiritual antara makhluk dan sang Khalik. Sehingga sholat menjadi salah satu ritual yang mampu menuntunnya menuju jalan Tuhan. Tapi menuju ke tahap tersebut tidaklah mudah bagi saya.
 

Rukun dan syarat sholat, serta bacaan-bacaan dalam setiap gerakan sholat sudah dikuasai dengan baik. Namun, sholat yang seringkali saya lakukan belum sepenuhnya khusyuk. Mengerjakan sholat dengan fokus atau khusyu adalah hal yang masih sulit  saya lakukan, meskipun sudah sekuat mungkin mengusahakannya. Hati ini seakan masih berpaling. Astaghfirullah hal’azim. 

 

Melakukan sholat dengan khusyuk tentu sebuah dambaan yang ingin saya tunaikan setiap kali mengerjakan sholat. Meskipun seringkali saya gagal fokus atau tidak khusyuk, namun saya tetap berupaya untuk senantiasa memperbaiki sholat saya. Membaca tulisan-tulisan para sahabat SPN mengenai inspirasi sholat khusyuk yang telah beliau bagikan di grup WA memberikan angin segar terutama bagi saya yang belum bisa mengerjakan sholat dengan khusyuk.

 

Salah satu yang seringkali saya lakukan sebelum sholat adalah  mensugesti diri saya bahwa sholat yang akan saya lakukan ini merupakan sholat terakhir saya, sehingga saya harus mengerjakannya dengan baik. Agar bisa menjalankan sholat dengan khusyuk, sebenarnya yang harus dilakukan adalah dengan  mengingat kembali akan ruh dan inti dari mengerjakan sholat itu sendiri, yaitu menghadapkan diri kepada Allah. Jadi, sholat tidak bisa dikerjakan dengan seenaknya saja. Gerakan-serakan sholat beserta bacaan-bacaan di dalamnya harus mampu menyertakan kalbu, harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan sang Khalik.

 

Sebenarnya jika mampu mengerjakan sholat dengn khusuk, nilai dan makna yang terkandung dalam sholat itu dapat terimplementasikan dalam sikap dan perilaku keseharian. Tidak ada lagi adigum STMJ, sholat terus maksiat jalan. Ini harus kita pahami betul-betul, utamannya saya sendiri yang dalam mengerjakan sholat masih belum bisa khusyuk. Sungguh tidak gampang menegakkan sholat dengan khusyuk.

 

Minggu, 01 Oktober 2017

PENGENDARA MOTOR TEMPERAMEN




Tingkat kesabaran yang tinggi sangat dibutuhkan saat berkendara. Khususnya ketika kondisi jalan lagi tidak bersahabat, baik saat macet atau persoalan yang lain. Jalan adalah milik bersama, jadi dalam kondisi apapun dan situasi bagaimanapun tidak boleh bersikap egois.

Aku masih sedikit trauma apa yang terjadi tadi malam. Bus yang kunaiki bersama para tutor dan anak-anak Al Azhar yang habis piknik tipis-tipis dari Blitar bermasalah dengan seorang pengendara motor yang temperamen. Padahal kami sudah hampir mau sampai. 

Persoalannya sebenarnya sederhana. Jika aku berada di posisinya, tidak ada yang dipermasalahkan. 

Malam itu sampailah kami di Jl. Brawijaya, kampung Inggris, Pare. Setiap harinya jalan itu memang selalu ramai dipadati para pelajar kursus yang bersepeda maupun warga yang naik motor atau mobil. Apalagi tadi malam adalah malam Minggu. Suasananya lebih ramai lagi. 
Dari Jl. Brawijaya sopir bus memperlambat laju kendaraan karena akan belok kanan menuju Jl. Dahlia. Di saat yang bersamaan ada seorang pengendara motor. Ia sudah bapak-bapak yang mengendarai motor bersama kedua anaknya yang masih kecil dan istrinya.
Ia berusaha mendahuli bus. Tapi karena sangat ramai motor itu tidak bisa langsung belok kanan. Harus menanti dulu kendaraan yang berlawanan arah sepi. Akhirnya motor berhenti tepat di depan bus dengan jarak yang sangat dekat. Bus dan motor sama-sama ingin belok kanan.
Sopir bus membunyikan klakson agar motor bisa sedikit maju. Suara klaksonnya sangat pelan. Klakson bus iseng dibunyikan yang kedua kalinya agar yang depan segera jalan karena kendaraan dari arah berlawanan sudah lengang. Aku perhatian sopir bus tidak sambil kesal ketika membunyikan klakson itu. Namun, pengendara motor itu menanggapi dengan cara yang berbeda.
Tiba-tiba pengendara motor naik darah. Padahal tidak ada yang perlu dipersoalkan. Bus tidak mengenai motornya. Kalau saja motor itu tersenggol bus pasti sudah oleng dan jatuh, tapi tidak sama sekali. Kemarahannya tidak terkendali. Ia turun dari motor dan melontarkan kata-kata yang tidak jelas pada sopir dan kondektur bus. 
Sopir bus dan kondektur tak lantas membalas amarah pengendara motor itu, karena memang tidak bersalah. Kalau saja dibalas dengan amarah, pasti suasananya sudah kacau. 
Namun, suasana makin kacau dan tegang ketika pengendara motor itu melakukan hal yang gila. Ia menggedor bus agar sopir dan kondektur itu mau keluar. Kami semua ketakutan. Kejadian ini membuat warga dan pengendara jalan melihat.
Tak berhenti disitu, amarah pengendara itu memuncak dan memecahkan kaca pintu kiri dengan helmnya sekuat tenaga. Dharrrrrrr. Serpihan kaca itu menyembur ke dalam bus yang posisi di dalamnya masih ada orang.
Sebelumnya ia sudah berusaha memcahkan kaca bus yang bagian depan, namun beberapa kali dipukul dengan helmnya tidak juga pecah. Malah kaca helmnya yang pecah Lalu, memukul kaca pintu sebelah kiri dan langsung pecah. Kondektur terluka karena duduknya tepat di sebelah kaca depan. Sopirnya hanya luka kecil. Dan beberapa penumpang yang duduk di bangku depan juga terkena, termasuk aku. Tanganku tiba-tiba berdarah karena kena kaca. Segera kubalut luka dengan tisu. Antara takut dan kesal jadi satu.
Tanpa bertanggung jawab, pengendara motor langsung pergi. Tak lama lagi polisi datang untuk menyelidiki kejadian itu. Sopir menjelaskan kronologinya dibantu warga yang menyaksikan. Yang di dalam bus juga ditanya. Konon pengendara motor itu ya warga yang rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian. Setelah ditangani, akhirnya bus jalan lagi untuk mengantar kami pulang yang tinggal beberapa menit.
Sungguh pengendara motor itu tidak bijak sama sekali. Kenapa harus marah tanpa alasan yang jelas. Kayaknya akhir bulan lagi kurang piknik. Semoga bapaknya segera khilaf.

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...