Rabu, 03 Februari 2016

Bukan (Buku) Cerita Biasa


Namanya Mr. Ahmad, salah seorang guru Bahasa Inggris di sekolah yang saya tempati, Thayai Wittaya School. Beliau adalah guru Bahasa Inggris yang mengajar kelas M-4,5,6 atau setara SMA. 



Suatu siang setelah mengajar, beliau mampir dulu ke ruang guru untuk sekedar beristirahat sejenak sebelum dilanjutkan mengajar di jam berikutnya. Ketika beliau memasuki ruang guru, sesuatu yang beliau bawa mencuri peratianku. Pandanganku tertuju pada kertas bergambar warna-warni yang ditenteng di tangan kirinya. Yang semula saya duduk santai karena kebetulan pada jam tersebut tidak ada jam mengajar, saya berbegas menghampiri beliau untuk melihat kertas bergambar menarik tersebut.



Apalagi kalau bukan pekerjaan siswa...Setelah beliau duduk lalu saya menghampirinya, beliau menyodorkan kertas bergambar yang saya maksud dan memberikan sedikit penjelasan mengenai pekerjaan siswa itu. 



Memang seringkali saya tertegun dengan melihat beberapa guru yang memberikan tugas menarik kepada siswa. Meminta siswa mengerjakan tugas dengan cara yang menarik dan siswa senang ketika mengerjakannya. Banyak sekali saya jumpai kreasi siswa dari hasil mengerjakan tugas dari guru yang seringkali membuat saya melongo, berdecak kagum dengan kreasi mereka. Salut dengan ide yang guru berikan kepada siswa, dan salut juga kepada siswa bisa menyelesaikan tugas yang guru berikan dengan baik. Saya kok membayangkan jika saya berada diposisi mereka, diberi tugas seperti itu bukannya saya senang mengerjakannya, mungkin malah adhem panas yang saya rasakan, he he.



Kembali pada kertas bergambar tadi … hasil pekerjaan siswa yang diberikan oleh Mr. Ahmad ini adalah salah satu contoh kreasi mereka yang mebuat saya melongo. Materi yang telah ia berikan yaitu tentang “Story”, salah satunya yaitu mengenalkan kepada siswa tentang unsur-unsur suatu cerita. Setelah beberapa kali pertemuan membahas materi tersebut, pada akhirnya beliau memberikan tugas kepada siswa kelas M-6 (SMA kelas 3) untuk membuat sebuah cerita singkat, tentunya Berbahasa Inggris yang didalamnya memuat unsur-unsur cerita yang telah dijelaskan sebelumnya. 



Bukan cerita biasa yang mereka buat, menurut saya luar biasa. Perlu proses yang menurut saya tidak mudah sampai mereka bisa menyelesaikannya. Karena beberapa tahapan harus dilalui, jadi diberi rentang waktu yang cukup lama untuk mengerjakan tugas ini. Perlu tahap demi tahap sampai akhirnya tugas mereka bisa terselesaikan dengan baik.



Pertama, Mr. Ahmad memberikan worksheet kepada setiap siswa. Setelah saya Dalam worksheet tersebut berisi tentang tata tertib mengerjakan, identitas siswa, dan juga beberapa sosal yang harus dijawab oleh siswa. “Moral Cartoon” menjadi tema yang beliau berikan untuk tugas ini. Siswa diminta untuk membuat cerita bertema “Moral Cartoon”. Siswa tidak langsung membuat cerita Berbahasa Inggris, melainkan mereka terlebih dahulu mengisi kerangka cerita yang ada di worksheet, yang terdiri dari; Tittle, Characteristics, Plot dan Lesson dengan menggunakan Bahasa Thai. Siswa melakukan tahap ini juga perlu waktu, tidak sekali jadi, karena harus mengarang cerita singkat yang didalamnya berisi moral cerita.



Setelah tahap pertama sudah mendapat persetujuan dari guru mengenai kerangka cerita yang mereka buat, barulah menuju tahap selanjutnya, yaitu mengubahnya ke dalam Bahasa Inggris. Lagi-lagi siswa harus melewati proses yang tidak mudah. Setelah saya melihat beberapa pekerjaan dari siswa banyak coretan yang menghiasi pekerjaan mereka, artinya ada kata-kata atau kalimat yang perlu diperbaiki.



Pada tahap inilah saatnya mereka berkarya. Mereka menuliskan cerita yang telah mereka buat pada tahap sebelumnya menjadi mini book. Cukup menyiapkan beberapa lembar kertas HVS tebal (sesuai kebutuhan), lalu dilipat tepat ditengah-tengah, menumpuk kertas yang telah dilipat tersebut dan menembakkan steples ke dalamnya agar bisa menyatu seperti layaknya buku.



Dalam lembaran-lembaran manual yang telah mereka buat, lalu dituliskan ceritanya. Setiap halamannya berisi narasi cerita dan diserti ilustrasi cartoon yang menggambarkan cerita tersebut. Masing-masing anak memiliki cerita yang berbeda-beda tentunya isi mini book-nya juga variatif. Tidak hanya menuliskan ceritannya saja buat, melainkan harus menuliskan moral cerita dari cerita yang mereka buat.









Cerita yang variatif
Itulah tahap yang berhasil saya rekam lewat pembicaraan sesaat kami sambil melihat-lihat hasil pekerjaan mereka siang itu. 



Yang lebih menggembirakan lagi, saya diberikan kesempatan untuk membaca cerita yang berhasil mereka buat. Membawa pulang mini book nya,tapi pintanya harus segera dikembalikan karena pekerjaan tersebut belum di koreksi dan di beri nilai. Ada 14 anak yang sudah mengumpulkan dihari itu, jadi saya membawa pulang semuannya. 



Tidak membutuhkan waktu berhari-hari melahap 14 buku yang dibuat siswa itu … ha a rakus sekali. Memang cerita yang mereka buat singkat dan padat, bahkan rata-rata tidak lebih dari 10 halaman masing-masing bukunya, dengan halaman bolak-balik. Setiap halamannya berisi narasi singkat beserta gambar. Bagaimana tidak cepat membacannya?



Meskipun ceritannya sangat singkat, saya benar-banar hanyut kedalam cerita mereka. Imajinasi mereka begitu tinggi untuk mengemas cerita sederhana mereka menjadi istimewa. Belum lagi ilustrasi cartoon yang mereka buat bagus sekali, sangat sesuai dengan narasi cerita mereka



Itulah ceritaku hari ini. Kirannya menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk belajar membuat cerita dengan mereka dengan menyertakan ilustrasi cartoon sebagai pendukung ceritannya seperti apa yang telah mereka kerjakan. Ha a, aku sebenarnya iri, pengen bisa membuat kayak gitu tuuuu.



Thailand, 03-02-2016




Selasa, 02 Februari 2016

Ketika Huruf “P” Berubah Jadi “F”



Ide ini berasal dari salah seorang temanku yang berulah konyol akhir-akhir ini. Kaypad HP-nya lagi error, sehingga ada beberapa huruf dan angka yang terpaksa tidak bisa digunakan, salah satunya adalah huruf “P”. Ketika ia mengirim pesan makan setiap huruf “P” dirubah menjadi “F”, yang membuat saya dan para pembaca yang lain terpingkal-pingkal saat membacannya, karena jadi lucu.

Namanya Pak. Karyadi. Ia adalah salah satu dari dua cowok seangkatan kami yang ikut ke Thailand. Panggilan “Pak” memang lebih cocok untuk-nya. Meskipun masih duduk semester yang sama, tetapi ia sudah menikah dan juga baru saja dikarunai seorang putra sesaat sebelum berangkat ke Thailand. 

Jiwa seorang ayah dari teman saya yang satu ini memang setiap kali hadir diantara kami. Seringkali lewat pesan pribadi atau grup WA, ia selalu memberikan semangat dikala ada teman yang sedikit mengeluh. Tak jarang juga ia memberikan dalil-dalil khusus layaknya seorang Ustadz. Selain memiliki jiwa seorang ayah, ia juga berjiwa Kyai he he.

Yang tak kalah seru berteman dengannya, ia juga sering melucu yang kadang bisa memecahkan suasana lewat guyonannya. 

Karena sering guyon, saya kira cuman bercanda ia menulis pesan text di grup WA dengan mengubah huruf “P” menjadi huruf “F”, ternyata setelah beberapa teman saya ada yang komentar, ia manggapi memang beberapa huruf di keypad HP-nya lagi error, dan kebetulan huruf “P” adalah salah satunya.

Meskipun pembicaraannya serius ketika huruf “P” nya diganti huruf “F” jadi sambil senyum-senyum bacanya, apalagi huruf “P” lebih sering digunakan.

Karena setiap kali mengirim pesan huruf “P” diganti huruf “F”, teman-teman yang lain yang menanggapi ikut-ikutan juga. Bahkan dosen saya yang tergabung dalam grup ini juga ikut-ikutan, ha ha….
 
Cuplikan Percakapan Kami

*Sebelum menuliskan cerita ini, saya sudah meminta ijin terlebih dahulu lhooo kepada orang yang bersangkutan, he he

Thailand, 2 Februari 2016

Senin, 01 Februari 2016

Aku, Tugas, dan Deadline



Akhir-akhir ini saya menghubungi satu per satu teman seangkatan yang ikut PKL di Thailand untuk menanyakan tugas yang  diberikan oleh kampus pada beberapa waktu yang lalu. Tugas yang harus kami kerjakan yaitu membuat artikel dengan tema pengembangan sosial, pendidikan, sosial, dan budaya berdasarkan apa yang telah kami ketahui selama di Thailand. Setelah itu mengirimkan artikel tersebut ke alamat e-mail kampus. 

Apa hubungannya tugas dengan menghubungi teman-teman?, mau minta tolong suruh mengerjakan?, Oh, tidak, saya hanya ingin mencari tahu apakah mereka sudah selesai mengerjakan apa belum. Satu per satu dari mereka ternyata memberikan jawaban yang berbeda tetapi intinya sama, mereka sudah selesai mengerjakan bahkan sudah mereka kirimkan juga. Harapanku untuk mencari teman yang juga belum mengerjakan seperti saya rupannya pupus sudah. Aneh ya...kok malah mencari teman yang belum mengerjakan ??#$%^$$$

Ah...Aku, kenapa mau mengerjakan tugas saja harus ribet meng-introgasi teman-teman segala …. sebenarnya sudah ada ide yang ingin aku tuliskan sebagai bahan artikel ini, tapi aku lagi-lagi tidak yakin dengan kemampuanku sendiri. “Benarkah tugas yang dimaksud seperti ini?” Padahal meskipun tidak yakin dengan apa yang akan saya tuliskan, biasannya tetep saja dituliskan, karena tak ada ide yang lain, hiks hiks hiks.

Jika saya sudah mengintrogasi teman-teman apakah mereka sudah selesai apa belum, kan saya jadi sadarkan diri, he he he. Ketika mereka sudah selesai semua, jadi ada greget untuk segera mengerjakan. Hmmmm sama saja dengan menunda-nunda pekerjaan ya sebenarnya, OMG….Yang lebih parah lagi, sudah tahu teman-teman sudah selesai mengerjakan, malah belum juga dikerjakan, karena deadline yang diberikan belum pasti.

Kalau mengerjakan tugas harus menunggu deadline habis emangnya, lebih cepat lebih baik kan? "Kenapa harus dengan “KEPEPET ?”. Ah … Aku. Penyakitku tak hilang-hilang juga …. he he kadang deadline memang memacu adrenalin ku untuk semangat mengerjakan tugas. Sudah tidak ada pilihan lain jika sudah mencapai deadline yang ditentukan, mau tidak mau harus selesai pada waktu itu juga. Menjadi keberuntungan saya kalau dalam keadaan kepepet, ada magic happen, hasil pekerjaan saya bisa memuaskan, bagaimana jika dengan mengerjakan dalam waktu yang terbatas malah membuat pikiran nge-blank, yang ada akhirnya kecewa karena di awal-awal tidak dikerjakan.

          Okelah, setelah nulis ini mau saya coba mengerjakan...



Thailand, 01-02-2016

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...