Senin, 13 Juli 2015

Catatan Ramadhan #21: Menu Hari Ini


         Selama di rumah, setiap sore saya selalu membantu ibu saya memasak untuk menu berbuka puasa. Ibu saya sangat ahli dalam hal masak-memasak, apapun yang di masak, rasannya begitu enak. Karena saya masih belum begitu bisa untuk memasak, maka di saat berlibur seperti ini, apalagi bulan puasa bisa menjadi kesempatan saya untuk belajar memasak dengannya. Biasannya kami memulai ke dapur untuk memasak itu setelah sholat ‘asar, agar sholatnya tidak telat.  Sangat cocok memang menunggu bedug maghrib dengan memasak. Setiap hari menu yang kami buat selalu berbeda, kalaupun sama di buat berapa hari sekali begitu. Yang paling sering kami buat yaitu menu yang seger-seger (berkuah), seperti sop, sayur asem, soto, sayur bayam, dll.
       
   Menu berbuka untuk hari ini yaitu sayur sop, sambal kecap, kerupuk, dan bregedel kentang. Tugas saya yaitu membuat bregedel-nya. Sangat simple untuk membuat menu yang satu ini. Saya sangat suka ketika diminta untuk membuatnya, karena asyik. Selain itu, saya juga sangat suka dengan bregedel, rasannya enak.

  

 
        Untuk membuat bregedel, pertama-tama kentangnya harus di kupas terlebih dahulu, lalu dicuci. Agar mudah menumbuknya, satu kentang lebih baik di jadikan dua saja, di belah secara vertical. Kalau sudah selesai, langkah selanjutnya adalah menggorengnya hingga empuk. Goreng juga bawang putih dan irisan bawang merah secukupnya. Dalam keadaan kentang masih panas, langsung saja di tumbuk. Setelah halus siapkan bumbu-bumbunya, seperti garam, merica, dan pala. Ya, cuma itu seingat saya bumbu-bumbu-nya. Bumbu-bumbu tersebut lalu di haluskan.
Agar tampilan bergedel lebih menarik, ibu saya menyuruhku untuk mencampurkan ke dalam bergedel tersebut irisan cabai merah dan seledri. Setelah semuanya siap, maka campurkan dengan kentangnya hingga bercampur rata, kemudian di bentuk bulat-bulat berukuran sedang. Kalau sudah jadi, bentuknya akan seperti pada gambar yang telah saya ambil itu, cantik bukan?. Langkah terakhir yaitu menggorengnya. Sebelum di goreng lumuri terlebih dahulu dengan kocokan telur agar sat di goreng tidak hancur. Agar hasilnya bisa baik, cukup 3 atau 4 saja setiap penggorengannya.
          Itulah sedikit caritaku hari ini tentang pengalaman memasak menu berbuka dengan ibu saya. 

IN HAPPY WRITING

13-7-2105

Catatan Ramadhan #20: Serangkaian Kegiatan Maleman

            Maleman adalah salah satu kegiatan yang dilakukan di Bulan Ramdhan ini. Saya sebenarnya juga kurang tahu betul kanapa kegiatan ini diberi nama maleman, bukan daluan, atau yang lain. Maleman dilaksanakan pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan, mulai malem 21 hingga malem 29 yang tujuannya untuk mapak (menyambut) datanganya malam lailatul qodar. Di tempat saya, salah satu kegiatan maleman ini dilaksanakan secara bergantian diri satu rumah ke rumah yang lain, istilahnya yaitu genduren. Tuan ruman yang akan megadakan maleman ini mengundang tetangga terdekat untuk ikut genduren tersebut. Pelaksanakan maleman ini hampir sama sebenarnya seperti megengan saat menyambut bulan ramadhan kemarin, hanya saja waktunnya yang berbeda. Ada yang berbeda lagi, jika saat megengan orang tua saya  membuatkan menu special untuk para undangan genduren, tapi pas maleman ini hanya di buatkan menu seadannya. Yup, sebenarnya menu tidaklah menjadi persoalan, yang terpenting adalah niat kita untuk selalu mencari ridha Allah akan datangnya malam lailatul qadar ini.
            Ada yang unik di tempat saya saat kegiatan maleman maupun megengan ini yang mungkin di tempat lain tidak ada bahkan tidak mengenalnya. Yang pertama, yaitu membuat apem kukus yang berbungkus daun nangka. Aneh bukan, biasannya kan buat apem itu pakai cetakan yang bentuknya bermacam-macam itu … lha yang ini malah pakai daun nangka sebagai cetakannya, orang desa itu memang kreatif, bisa menfa’atkan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya, he e.
            Cukup mudah untuk membuat apem berbungkus daun nangka ini, hanya mencampurkan bahan-bahannya, seperti tepung terigu, pisang, gula merah, dan garam secukupnya di dalam ember dan di buat adonan hingga halus. Setelah semua tercampur lalu di diamkan beberapa menit untuk menunggu adonanya mengembang, setelah adonan mengembang adonan di tuangkan ke dalam cetakan daun nangka, dan yang terakhir yaitu di kukus. Agar tidak tumpah, biasannya ibu saya mengukusnya barengan dengan nasi. Hmm,,simple dan alami, tanpa bahan pengawet …^__^
Setiap kegiatan genduren, juga dibuatkan AMBENG, istilah ini digunakan untuk menamai nasi serta lauk yang akan dijadikan menu para undangan genduren. Sebelum memakan ambeng bersama-sama, tentunnya sang imam membacakan hajatnya melakukan genduren ini dan memanjatkan do’a.
Di siang hari, mengadakan saya dan keluarga mengikuti kegiatan khataman Al-Qur’an dan kirim do’a kepada para leluhur yang diadakan oleh muslimat fatayat di desa saya. Seperti halnya  saat megengan, di kegiatan maleman, pada malam hari-nya para jama’ah sholat taraweh juga diminta untuk membawa takir (nasi bungkus) seikhlasnya. Setelah selesai sholat tarawih, Ustadz memberikan ceramahnya seputar malam lailatur qadar dan keutamaan-keutamaannya. Hampir satu jam beliau menyampaikan tausiahnya. Setelah selesai, takir yang telah kami kumpulkan itu di bagikan dan dimakan bersama-sama.

Itulah serangkaian kegiatan maleman ditempat saya, bagaimana dengan serangkaian kegiatan maleman di rumah kalian?

Catatan Ramadhan #19: Quote Memaknai Membaca-3




Catatan Ramadhan #18: Quote Memaknai Membaca-2




Ada beberapa tipologi orang membaca:
1.      Membaca buku knowledable: Tujuan pembaca ini murni semata-mata untuk menelaah, mendalami, dan memahami isi buku yang tengah dibacannya. Bagi pembaca yang masuk kategori ini , hal yang terpenting adalah menguasai dengan baik isi buku tersebut.
Kelemahan membaca tipe ini adalah kurang memberi perhatian terhadap bidang lain. Dalam batas-batas tertentu, mengetahui bidang-bidang lainnya juga penting artinnya agar diperoleh wawasan dan pengetahuan yang seimbang. (Pg. 16)
2.      Membaca karena keingintahuan: Pembaca model semacam ini lebih mengejar rasa keingintahuan atas sebuah fenomena secara mendalam. Motif utama pembaca buku kategori ini adalah memenuhi dahaga keingintahuan. (Pg. 17)
3.      Membaca sebagai sarana mencari hiburan: Mereka yang termasuk dalam kategori ini biasannya mencari buku-buku ringan yang sesuai selerannya. Orientasi hiburan menjadikan membaca sebagai sebuah aktivitas yang umumnya sebatas pemuasan dan rasa senang semata. (Pg. 18)
4.      Membaca sebagai kebutuhan: Pembaca jenis ini menjadikan membaca sebagai salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. (Pg. 18)

Faktor yang menyebabkan rendahnya budaya membaca:
1.      Tidak punya waktu
Membaca memang membutuhkan perjuangan. Kesibukan dan minimnya waktu luang memang menjadi hambatan yang serius untuk membaca. Tetapi bukan berarti membaca tidak bisa dilakukan. Membaca merupakan persoalan kemauan dan kemampuan untuk memanfa’atkan waktu dan kesempatan. Kesibukan, sesibuk-sibuknya pekerjaan, tetap menyisakan waktu luang. Mungkin memang sangat terbatas, tetapi keterbatasan itu tetap dapat dimanfa’at untuk membaca. (Pg. 21)
2.      Tidak memanfa’atkan waktu luang
Seharusnya waktu luang itu dimanfa’atkan untuk melakukan hal-hal positif bagi kehidupan mereka, salah satunnya adalah dengan membaca. Membaca dan waktu luang merupakan sebuah rangkaian yang saling membutuhkan. (Pg. 23)
3.      Terlalu banyak menonton TV
      Dalam batas-batas tertentu, televise sebenarnya mempunyai beberapa pengaruh positif terhadap perkembangan sosial anak.Pada sisi inilah yang seharusnya dioptimalkan demi kemajuan anak-anak. Menjadi hal yang mustahil untuk memutus keberadaan televisi dalam kehidupan anak-anak. (Pg. 25-26)
      Menonton televisi dalam tahap yang wajar bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tetapi bagaimana anak juga memiliki minat membaca di tengah kepungan media televisi merupakan tantangan berat yang harus dihadapi oleh orang tua. (Pg. 26-27)
4.      Keasyikan menonton bola
      Menonton pertandingan sepak bola memang mengasyikkan. Tetapi jika dicermati, semaik banyak tontonan pertandingan sepak bola memberikan efek lain berupa tergerusnya satu kegiatan yang sangat penting yaitu membaca.
      Tidak ada orang yang melarang menonton sepak bola. Toh itu memang menjadi hobi. Tetapi bagaimana pengembangan minat membaca, banyaknya waktu yang harus digunakan untuk menonton sepak bola menjadi hambatan bagi pengembangan minat baca. (Pg. 28)
5.      Harga buku mahal
      Murahnya harga buku menjadi sebuah anugerah tersendiri bagi pembaca sejati. Bagi mereka, memiliki buku dengan harga murah adalah sebuah kenikmatan. (Pg. 28)
6.      Mitos
·       Membaca itu hanya milik orang yang berpendidikan tinggi: Mitos ini tidak benar. Membaca itu hak setiap orang. Siapapun, tanpa memandang jenjang pendidikannya, memiliki hak membaca. (Pg.29)
·       Membaca itu bikin sumpek: Apapun aktivitasnya kalau sudah ada kesan negatif akan membuat sumpek. Jika memandang membaca secara negative, tentu saja sumpek. Tetapi jika membaca menjadi aktivitas yang dinikmati, dihayati, dan dijadikan hobi, tentu tidak akan sumpek lagi. Mitos membaca membikin sumpek sebenarnya tidak tepat. Tergantung kepada bagaimana cara menghadapi dan menjalaninnya. (Pg. 30)
·       Membaca hanya membuang-buang waktu dan tenaga: Pandangan atau mitos kalau membaca membuang-buang waktu biasannya muncul dari orang yang memang tidak mengetahui terhadap manfa’at besar membaca. (Pg. 31)
·       Membaca itu membikin ngantuk: Sebenarnya, kantuk itu muncul karena secara psikologis ia tidak memiliki daya tarik dan semangat untuk membaca. Kalau anda menikmati membaca, ngantuk tidak akan datang. Anda akan berbinar, penuh semangat dan bergairah. (Pg. 31)



Catatan Ramadhan #17: Memaknai Membaca-1 (Quote This Night)



             Buku inspiratif ini sering saya baca ketika istirahat sambil menunggu waktu sholat tarawih. Ada beberapa point yang saya garis bawahi ketika membaca bab awal dari buku the power of reading. Di bagian potret buram membaca yakni membahas tentang budaya baca yang masih rendah dibalik pentingnya membaca, sehingga menimbulkan berbagai macam persoalan. 

1.       Lewat membaca, disadari atau tidak, orang dapat meningkatkan mutu kualitas hidupnya. (Pg. 1)
2.       Hernowo, dalam bukunya menyerukan kepada semua orang agar dalam kondisi bagaimana pun, sebagai pembaca yang baik, selalu menyempatkan diri untuk membaca. Membaca seharusnya menjadi bagian yang sudah sedemikian lekat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca tidak harus dalam waktu yang lama. Lima menit pun jika mampu dimanfa’atkan untuk membaca sudah memberikan manfa’at yang nyata. Apalagi jika membaca itu dilakukan secara rutin setiap hari. (Pg 2-3)
3.       Membaca bukan sekedar aktivitas menelusuri deretan huruf yang tercetak rapi di atas kertas saja, tetapi lebih dari itu, membaca sesusungguhnya juga dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur yang menentukan kualitas dan kemajuan hidup. (Pg. 3)
4.       Membaca dapat dijadikan sebagai titik pijak untuk meraih hidup yang lebih bermutu (Pg. 3)
5.       Kalau anda ingin maju, syarat mendasarnya memang harus membaca, terutama membaca buku-buku yang bermutu, akan menjadi “amunisi” penting untuk membangun dan mengembangkan berbagai potensi dalam diri. (Pg. 3)
6.       Membaca juga akan memperkaya jiwa dan memberikan kepada kita kekayaan kata-kata. (Pg. 3)
7.       Menetahui manfa’at membaca saja tidak cukup. Dibutuhkan kesadaran dan kemauan yang keras untuk mewujudkan membaca sebagai sebuah aktivitas rutin. (Pg. 3)
8.       Persoalan yang selalu mengemuka berkaitan dengan rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia adalah persoalan bagaimana minat membaca dapat ditumbuhkembangkan secara lebih luas kepada masyarakat. Minat membaca bukan hanya berkaitan dengan harapan dan kampanye, tetapi bagaimana membaca dapat tumbuh menjadi budaya yang mengakar kuat. (Pg. 5)
9.       Idealnya, siapapun orangnya, apaupn profesinnya memiliki tradisi membaca. Tidak peduli apakah itu pejabat, pekerja, wiraswasta, ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, dan semua profesi lainnya seyognyanya berkontribusi positif untuk membangun budaya membaca. (Pg. 6)
10. Guru memiliki budaya baca rendah àGuru semacam ini tentu tidak akan mampu memberikan wawasan luas dan mendalam kepada muridnya. Selain itu, guru senacam ini juga tidak mungkin menginspirasi dan mencarehkan. Apa yang disampaikan adalah hal-hal yang standard normative. Oleh karena itu, guru yang baik akan terus membaca untuk memperbarui dan menambah wawasan dan pengetahuannya. (Pg. 7)
11. Dosen memiliki budaya baca rendah à Nurudin ( Dunia dosen adalah dunia yang berkubang dengan ilmu. Maka, dalam aktivitasnya, ia tidak akan lepas dari ilmu yang digelutinnya untk diajarkan kepada mahasiswa. Karena ilmu pengetahuan terus berubah setiap waktu, mengakses informasi baru tidak bisa di hindarkan. Itulah sebabnya, membaca buku wajib hukumnya bagi dosen. (Pg. 7)
12. Dosen memiliki budaya baca rendah à rendahnya karya tulis yang dihasilkan yang merupakan akumulasi wawasan dan pengetahuannya yang disebarkan kapada para mahasiswa. (Pg. 7)
13. Mahasiswa à Jika berkaitan dengan aktivitas membaca, banyak yang menghindarinya. Sekolah atau kuliah hanya diisi dengan aktivitas mengikuti pelajaran dan mengerjakan tugas. Sementara membaca dalam dalam maknanya yang luas jarang dilakukan. Mereka lebih suka  menghabiskan uangnya untuk memenuhi gaya hidup. (Pg. 8)
14. Persoalan minat membaca hanya bisa diselesaikan dengan membangun berbagai sarana dan usaha yang dapat semakin mendorong tumbuhnya budaya membaca secara subur. Persoalan minat membaca tidak bisa berubah jika hanya menjadi wacana dan perdebatan di kalangan para pemerhati dunia membaca-menulis semata, sementara bagaimana usaha intensif untuk membangun budaya baru ini kurang memperoleh perhatian yang memadai. (Pg. 9)
15. Penulis mengutip bukunya Suherman, Membacalah! Menghidupkan Kembali Semangat Membaca Para Mahaguru Peradaban (2010) yang menyatakan bahwa ada 3 faktor yang menjadi penyebab rendah atau tidak adannya minat baca.
·        Pertama, Determinisme genetis (Tidak senang membaca karena kondisi warisan dari orang tua yang memang mereka tidak mewarisi kecintaannya pada membaca)
·        Pertama, Determinisme psikis (Tidak senang membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh oleh orang tua yang tidak pernah mendekatkan dirinnya pada bacaan. Pengasuhan dan pengalaman masa kanak-kanaknya pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter)
·        Pertama, Determinisme lingkungan (Tidak senang membaca karena  memang atasan atau bawahan, teman, guru tidak senang membaca. Seseorang atau sesuatu yang ada di lingkungan bertanggungjawabatas tidak adannya minat membaca pada diri seseorang)  (Pg. 10)
16. Dengan dukungan tradisi membaca yang kokoh, kualitas pekerjaan yang dijalankan akan menjadi lebih bermutu dan berkkualitas (Pg. 11)
17. Kunci penting yang mendasari kemajuan adalah budaya membaca. Kata Joseph Brodsky bahwa ada beberapa kejahatan yang lebih daripada membakar buku. Salah satunnya adalah tidak membaca buku. (Pg. 11)
18. Ada beberapa hal yang mendasari akan pentingnya membaca buku: Pertama, arus globalisasi; kedua, jumlah buku yang berkembang pesat (akan mubadzir jika buku yang terus-menerus terbit setiap waktu jika tidak di baca dengan baik); ketiga, internet; keempat, koran. (Pg 11-12)
19. Pendapat Suherman, “Tragedi kemiskinan dan kemelut pendidikan di Indonesia sekarang ini di sebabkan karena rendahnya kesadaran dan minat membaca. PENDIDIKAN TANPA MEMBACA BAGAIKAN RAGA TANPA RUH.” (Pg. 13)
20. Ulama besar Ibn Jauzi yang menggilai membaca: “Jalan kesempurnaan dalam menuntut ilmu ialah suka menelaah kitab-kitab yang sarat dengan ilmu.” (Aku ingin memeberitahukan tentang keadaanku sendiri bahwa aku tidak merasa kenyang untuk membaca kitab. Setiap kali melihat sebuah kitab yang belum pernah aku lihat, aku seakan-akan berada di sebuah gudang penyimpanan harta. Selama menuntut ilmu, aku telah membaca kitab sebanyak dua puluh ribu jilid. Dengan rajin membaca kitab, aku bisa mengetahui sejarah para ulama salaf, cita-cita mereka yang tinggi, hafalan mereka yang luar biasa, ketekunan ibadah mereka, dan ilmu-ilmu mereka yang aneh-aneh. Semua itu jelas tidak diketahui oleh orang yang malas membaca). (Pg. 13-14)
21. Budaya membaca juga memiliki implikasi sosial yang lebih luas. Rasa tanggung jawab. disiplin, dan sikap-sikap kemajuan selalu mewarnai perilaku masyarakat yang tradisi membacannya tumbuh dengan kuat, sebab membaca sesungguhnya memiliki relasi timbal balik dengan karakteristik dan perilaku masyarakat. Membaca yang telah tumbuh dan mendarahdaging akan menjadikan seseorang sebagai insan yang sarat dengan nila-nilai dan mentalitas positif. (Pg. 15)



ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...