Senin, 25 Mei 2015

Peduli Kebersihan

Kebersihan kos sebenarnya tanggung jawab kita bersama. Apalagi kos yang kami tempati tidak satu rumah dengan pemilik kos nya, jadi harus bisa tahu apa harus dilakukan terhadap kos yang di tempati ini, terutama dalam hal kebersihan. Dimana-mana ternyata kebersihan ini menjadi masalah yang krusial. Prinsip yang mengotori, yang membersihkan belum sepenuhnya tertanam kuat  dalam pribadi kita. Kebanyakan dari kita sukannya mengotori saja, tanpa ada rasa tanggung jawab untuk membersihkannya. 
Karena kebanyakan sifat kami yang kurang memiliki kesadaran atau tanggung jawab akan kebersihan ini membuat pemandangan kos, khususnya di pagi hari yang cerah ini terasa tak nyaman. Bak sampah yang di pasang di setiap kamar yang sudah pada penuh. Di halaman depan, debu-debu yang memenuhi meja dan kursi itu pasti akan mengganggu tamu atau teman-teman yang akan datang ke kos ku, tempat itu menjadi sasaran utama mereka untuk bersinggah jika sewaktu-waktu mereka datang. Belum lagi terlihat keadaan dapur yang begitu rusuh, beberapa peralatan dapur belum sempat di bersihkan sehabis masak.
Pagi ini kebetulan hari ini saya tidak masuk kuliah, sedangkan kebanyakan teman saya banyak yang masuk kuliah, jadi suasana di kos begitu sepi pagi ini. Saya niatkan senin pagi yang sepi ini untuk bersih-bersih. Setelah semua teman sekamar saya pada bubar ke kampus, saya memulai aktivitas bersih-bersih saya dengan membereskan buku-buku yang berserakan di lantai dan kasur. Saya tata buku-buku dan juga kertas-kertas itu sesuai dengan tempat yang telah tersedia. Setelah semuannya tertata, kulanjutkan dengan membersihkan lorong-lorong bawah tempat tidur. Sudah lama saya tidak membersihkannya, sehingga kotoran dan debu sudah mulai membanyak, ku bersihkan hingga kincloong. Rasannya setelah bersih, hati jadi nyaman, pandangan mata pun juga tidak sesak lagi. Berharap setelah teman-teman pulang dari kampus nanti bisa senang karena kamarnya sudah bersih.
        Sekarang menuju ke depan kamar, ku bersihkan kotoran-kotoran sampah yang masih berserakan, yang belum terbuang ke tempat sampah. Berjalan  dari halaman kamar menuju halaman kamar selanjutnya untuk membersihkan sampah-sampah itu. Sebelum kubuang,  sampah-sampah itu terlebih dahulu ku taruh di tempat sampah yang sudah disediakan per kamarnya. Setelah semuannya terkumpul, kuangkat satu persatu tempat sampah itu menuju ke tempat pembakaran sampah yang juga telah tersedia. Setidaknya ada 6 keranjang sampah yang harus kuangkut, semuannya penuh dengan dengan tumpukan sampah. Tidak bisa jika keranjang sampah ini harus kuangkat dua sekaligus, karena berat. Jadi mengharuskan saya untuk bolak-balik. Sebenarnya tugas untuk bersih-bersih ini sudah di buatkan jadwal rutin, sudah terpampang nyata di depan kamar masing-masing. Sehari dua hari jadwal piket itu ditaati, tapi setelah waktu terus berjalan jadi terabaikan. Sebagai rasa iba saya terhadap kondisi semacam ini, sayapun ikhlas melakukan hal ini. Tidak apa-apa, demi kepentingan bersama. Ronde terakhir yaitu membersihkan dapur. Semua peralatan dapur yang masih belum di cuci, ku bersihkan semuannya. Dapurpun juga terlihat bersih dari sebelumnya.…Clinggg. 
          Setelah semuannya beres, hati ini rasannya senang. Semoga apa yang telah saya lakukan bisa membuat semuannya senang. Ingat kembali… Bersih Pangkal Sehat!

Just these words in my mind …… He e bingung mau nulis apa … Besuk nulis apa ya????? thuing …thuing …

T. Agung, 25-5-2015

Sabtu, 23 Mei 2015

Catatan Minggu Pagi: Now reading “Path of Life”

       
Let'e read
Pagi ini keinginan saya tertuju pada membaca buku saya yang berjudul Path of Life karya  Komaruddin Hidayat. Sebenarnya buku ini sudah saya beli sejak beberapa bulan yang lalu. Ada banyak topic yang di bahas dalam buku ini, tapi sampai hari ini masih beberapa judul saja yang sudah saya baca. Buku ini berisi tentang kumpulan catatan-catatan  dan juga refleksi terhadap fenomena-fenomena yang terjadi  dalam kehidupan sehari-hari, yang oleh orang lain mungkin danggap sebagai hal biasa atau sepele, tetapi sebenarnya memiliki makna yang luar biasa. Ya, buku ini sebenarnya sangat menarik untuk dibaca, karena lewat catatan-catan yang beliau tulis, bisa melaukan introspeksi  diri terhadap apa yang telah kita lakukan. Beberapa judul buku ini masih enggan saya baca karena menurut saya beberapa diantarannya sulit untuk di pahami, mungkin masih perlu suasana dan hati yang tenang untuk membacannya. Jadi saya masih membaca beberapa judul saja yang bagi saya bisa saya pahami dengan mudah.

Salah satu judul yang menarik perhatian untuk saya baca pagi ini adalah “Betapa Megahnya Istanaku”, yang dibahas yaitu tentang kesehatan. Ya … hidup sehat adalah dambaan bagi setiap orang. Kesehatan adalah bagaikan harta karun yang sangat berharga. Tapi saat dalam keadaan sehat seringkali kita melupakan dan tidak mampu mensukurinnya, contoh hal yang kecil yang seringkali kita lupakan begitu saja adalah saat kita bisa minum dan buang air kecil. Penulis begitu lihai merangkai kata-kata tentang 2 hal kecil ini. Beliau mengibaratkan bahwa kesehatan itu bagaikan mahkota raja, seseorang menyadari kehilangan mahkotannya ketika terkena sakit.

Saking berhargannya kesehatan, apapun itu mungkin saja bisa terjadi. Sampai istana megahpun rela untuk diberikan secara cuma-cuma ke tangan orang lain. Dikisahkan oleh penulis, ada seorang raja yang sedang tersesat di padang pasir karena tengah menegejar kijang sebagai sasaran buruannya, Tak sadar kalau ternyata kijang itu telah lari jauh dari lingkungan istana. Karena berburu kijang yang sangat jauh, akhirnya sang raja capek, harus, dan lapar yang luar biasa. Di tempat itu, tak ada penduduk, sehingga dengan kondisi seperti itu satu-satunnya harapan bagi sang raja adalah menunggu musafir lewat untuk minta bantuan makan dan minum agar tenagannya bisa pulih kembali. Tak lama lagi ada musafir yang datang yang menawarkan bekalnya pada sang raja, tapi dengan sarat ia bisa memberikan bekal itu kepada raja kalau ia menggantinnya dengan sesuatu. Dalam kisahnya itu sang raja terkenal dengan sosok yang pelit, tak sedikit rakyat yang membencinnya. Jadi saat musafir meminta ganti itu, sang raja agak kesal. Tapi berhubung raja sudah dalam kedaan tidak berdaya, dan kesehatannya semakin memburuk akhirnya ia setuju. Di luar dugaan sang saja, karena musafir itu meminta untuk mengganti bekal itu dengan sebuah istana. Memang tak tanggung-tanggung, karena musafir itu tahu jika raja itu pasti kaya raya dan punya banyak istana. Sang raja sudah menyerah, tidak ada pilihan lain, kecuali sebuah istanannya harus diberikan secara cuma-cuma dan hanya di tukar dengan sebotol air minum.

Masih dengan tokoh yang sama yaitu sang raja. Tapi kali ini ceritannya sang raja itu terserang sakit yang membuatnya tidak bisa buang air kecil. Berkali-kali di undang tabib istana untuk mencoba mengobati penyakitnya itu, tapi tidak berhasil. Terakhir, datanglah tabib yang juga ingin menyembuhkan raja dari penyakitnya itu. Tabib itu akan berusaha untuk bisa menyembuh raja, tapi biayannya mahal. Tawarannya, tabib itu juga meminta sebuah istana kepada raja jika penyakitnya berhasil sembuh. Karena sudah tak tahan lagi menaggung rasa sakit karena tidak bisa buang air kecil itu, raja pun menerima tawaran itu. Akhirnya rajapun sembuh bisa sembuh, dan akhirnya bisa buang air dengan lega, tetapi satu istanannya sudah berpindah tangan lagi.

Gara-gara kehausan sang raja telah kehilangan satu istanannya, dan kini gara-gara tidak bisa buang air kecil hilang lagi satu istannya yang lain. Karena kejadian yang sepele itu, lagi-lagi sang raja merenung, betapa nikmat dan mahalnya bisa minum dan buang air kecil yang nilainnya seharga dua istana.

Sang raja telah sadar dan bisa introspeksi, selama ini sang raja tidak pernah bersyukur. Sebenarnya bisa makan, minum dan tidur adalah nikmat yang luar biasa. Sang raja selalu mengejar harta dan membanggakan pada istananya yang megah. Dalam waktu sekejap kedua istanannya telah hilang hanya karena ingin minum dan buang air kecil. Sejak kejadian itu, sang raja menjalani hidupnya penuh rasa syukur dan menjadi orang yang dermawan terhadap rakyat-rakyatnya.

Itulah cerita yang saya pahami dari hasil membacaku pagi ini. Dari bacaan yang berjudul betapa megahnya istanaku ini, pelajaran yang sangat berharga bisa kita ambil. Intinnya kita harus merayakan kesehatn, atau mensykuri kesehatan yang di berikan oleh Allah itu setiap saat, tidak harus sakit terlebih dulu untuk mensykurinya.

Setiap langkah yang kita pilih di hari ini kemarin menentukan apa yang terjadi pada diri kita di masa sekarang. Namun, seringkali kita melupakan keniscayaan itu dan meyesali hari ini.

Hari ini adalah kesempatan yang di berikan untuk melakukan introspeksi dan perbaikan atas kesalahan masa lalu agar di masa depan menjadi lebih baik

“PATH OF LIFE”


            
Nice Morning on Sunday ... I'm still in happy writing

T. Agung, 24-05-2015

Kamis, 21 Mei 2015

Motivasi Pagi (2)

Hmmm, di pagi yang masih berselimut ini tak sengaja ku temukan artikel yang menurut saya sangat menarik, apalagi kalau bukan tentang manulis. Sejauh ini rasa penasaran akan dunia menulis masih cukup tinggi, saya  masih ingin tahu lebih tentang menulis. Pada saat menemukan bacaan yang berkaitan dengan menulis seperti ini, rasannya bisa menjadi menu spesial saya untuk dijadikan sebagai pemicu semangat dan motivasi saya dalam menulis. Saya benar-benar kagum terhadap mereka, para orang-orang hebat yang mampu mengeluarkan idennya dalam bentuk tuliasan, dan bisa bermanfa’at bagi orang lain. Dalam artikel ini tertuliskan penulisnya adalah Deka Amalia, seorang penulis aktif di komunitas Women Script & Co dan Writing training centre. 

Dalam artikel ini,  (http://www.republika.co.id/berita/komunitas/women-script-co/13/03/14/mjn3d4-menulis-atau-menjadi-penulis) disebutkan bahwa menulis itu merupakan sebuah ketrampilan. Pernyataan ini sangat familiar sekali, bukan?. Ya…berlatih dan berlatih untuk bisa menulis. Semakin sering beratih, maka akan semakin terampil dalam mengolah kata. Sepertinya hal ini sudah paten, sudah menjadi patokan bagi siapapun yang ingin bisa menulis. Berarti, selama kita mau berlatih, maka siapapun itu pasti bisa menulis dan bisa jadi penulis. 

Keinginan dan kemauan sebenarnya adalah factor terhebat yang bisa memunculkan semangat dalam menulis. Dalam artikel ini di jeaskan bahwa keinginan dan kemauan itu  akan menumbuhkan rasa suka yang akhirnya lama kelamaan menjadi cinta. Seseorang yang menikmati apa yang dilakukannya itu akan merasa bahagia. Seperti hal nya dalam menulis, kebahagiaan bisa berbagi, bisa menularkan motivasi dan wawasan atau sekadar berbagi saja sudah menjadi hal yang sangat luar biasa. Maka, semua akan menjadi candu yang membuatnya ingin menulis... menulis dan menulis...

Proses memiliki peran yang sangat penting dalam menulis dan juga untuk mengembangkan diri kita jika hendak menjadi penulis. Yup, pesan yang sangat inspiratif kirannya dari beliau “Jangan pernah puas, jangan pernah berhenti belajar, maka kita tak akan pernah berhenti berkarya”.


T. Agung, 22-05-2015

Rabu, 20 Mei 2015

Berusaha Tenang

Suatu siang, saya dimintai tolong oleh salah satu teman saya untuk menjemputnya di terminal bis Tulungagung. Sebagai teman, saya berusaha untuk sebisa mungkin membantu. Jadi saya menyanggupi permintaannya. Karena ada urusan lain yang harus saya selesaikan saat itu,  jadi saya berangkat agak terlambat. Ia sebenarnya sudah beberapa kali SMS ke saya kalau sudah sampai di terminal. Saya lihat SMS itu ternyata sudah beberapa menit yang lalu. Setelah mau berangkat, saya balas SMS nya, saya katakan jika ini sudah OTW, meskipun sebenarnya saya masih belum berangkat. Itu saya lakukan agar teman saya merasa lebih tenang. Karena kita tahu sendiri kalau sedang menunggu seseorang, dan yang ditunggu tak kunjung datang, pasti akan merasa kesal. Sudah capek dan harus menunggu. Saya mencoba mengerti akan keadaan itu. 

Saya sedikit tidak enak jika ia harus menunggu saya terlalu lama. Jadi sesegera mungkin saya harus berangkat. Saya berangkat dengan terburu-buru. Akibatnya ada something wrong di tengah perjalan saya menuju ke terminal itu. Ceritannya, Perjalanan saya dari kos untuk menuju ke terminal itu melewati sekitar perempatan jalan yang lumayan besar. Melewati perempatan pertama aman, karena lampu dalam keadaan hijau, jadi bisa mempersingkat waktu. Jika keadaan terburu-buru seperti itu, rasannya menunggu lampu merah selama satu menit terasa sangat lama sekali. Perjalanan saya kulanjutkan. Saat itu kedaan jalan dari arah timur kebetulan  tidak terlalu ramai, kecepatan saya tambahkan agar bisa cepat nyampai di terminal. Selama di perjalanan, pikiran saya tertuju ke teman saya itu, saya merasa bersalah karena harus membuatnya menunggu terlalu lama. Fikiran saya tidak fokus, sampai-sampai saya tidak sadar saat saya lewat perempatan lagi. 

Saat saya melewati perempatan itu, tiba-tiba terdengar suara bapak-bapak yang berteriak, seperti sedang marah-marah. Dengan helm tertutup saya menoleh ke arah suara itu terdengar. Saya begitu syok,,,Salah seorang bapak menunjuk-nunjuk saya, intinya ia bilang, apa tidak tahu itu kalau ada lampu merah. Ia adalah salah seorang yang berada pada barisan paling depan. dari pasukan sepeda motor dan mobil yang baru menjalankan kendaraannya dari arah utara. Seraya ada yang ingin megeroyok saya. Saya kaget seketika, ternyata saya sedang berada di tengah-tengah perempatan Tamanan. Pada waktu itu, saya juga tidak sadar kalau melewati lampu merah, dan kebetulan sedang sepi, dan kebetulan kendaraan yang dari sebelah utara belum mulai berjalan, jadinnya kayak jalan lurus biasa. Saya berusaha tenang setelah mengetahui saya telah menerobos lampu merah. Mau gimana lagi, mau mundur lagi saya malu. Akhirnya dengan izin Allah, saya bisa melewati perempatan itu dengan selamat. Sangat beruntung juga saat itu tidak ada Polisi yang sedang berjaga. Untungnya, juga saat saya melewati perempatan itu, helm saya dalam keadaan tertutup, sehingga rasa malu saya cukup berkurang. Benar-benar membuatku syok, karena baru kali itu melakukan hal ini. 

      Ini ceritaku … cerita yang sebenarnya tidak cocok untuk di ceritakan. Tapi meskipun sederhana, semoga bisa menjadi pelajaran bagi saya khususnya, dan bagi semua pada umumnya agar selalu berhati-hati dalam berkendara. Konsentrasi saat berkendara, dan semoga kita bisa menjadi pengendara yang bijak.


T. Agung, 20-05-2015


Senin, 18 Mei 2015

Demam Batu Akik



Akik dimana-mana, disana akik, disini akik, dimana-mana akik. Begitulah kirannya kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan kehebohan masyarakat dengan batu akik ini.  Akhir-akhir ini batu akik telah menjadi trend tersendiri dan juga telah menjadi bahan pembicaraan masyarakat yang cukup menarik. Keberadaan batu akik ini mulai menjadi trend semenjak saat itu Presiden SBY memberikan hadiah cinderamata kepada Presiden Amerika Obama berupa akik itu. Hmmm, sebenarnya sudah agak lama sich trend batu akik ini muncul,mungkin sekitar bulan februaru yang lalu, tapi entah kenapa saya menanggapinnya dengan biasa-biasa saja, sepertinya tidak ada yang special dengan akik itu. 

Entah kenapa nge-tren akik itu baru akhir-akhir ini, padahal sudah dari kecil dulu saya mengetahuinnya. Saya ingat sekali, saat saya masih kecil ada orang-orang yang sudah sepuh biasannya pakai cincin akik ini. Mbah kakung saya juga pernah pakai. Pernah,  saat saya pulang kampong, saya menanyakan tentang keberadaan cincin akik itu, ternyata masih disimpannya baik-baik. Saya bilang kalau sekarang, cincin beginian ini telah menjadi trending topic dimana-mana. Dan ternyata hal ini telah diketahui olehnya. Begitu cepatnya informasi ini tersebar, padahal kalau dipikir-pikir orang desa itu kurang melek akan informasi seperti ini, tapi sangking fenomenalnya tentang akik ini, sehingga informasinnya cepat bisa menyebar secara luas. 

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata keberadaan batu akik ini tidak hanya digandrungi oleh orang yang sudah tua saja, tetapi juga anak-anak, bahkan di semua kalangan, baik itu bawah, menegah, hingga kalangan atas. Betapa tidak menggejutkan, suatu hari ketika saya momong keponakan saya yang masih berumur 3 tahun di halaman rumahnya. Di situ terdapat batu-batu hiasan yang berwarna putih yang menghiasi taman depan rumahnya. Sedikit konyol ini, ia mengambil satu batu mungil berwarna putih itu dan ditunjukkan ke saya, “Dhek …atu akik” … meskipun lebih tua saya, ia memanggilnya dhek karena ia adalah anak dari Pak dhe saya. Saya hanya bisa tertawa tak bermakna mendengarnya, karena meskipun saya tertawa, ia masih belum memahami betul tentang apa yang sedang saya tertawakan. Anak sekecil itupun sudah cukup paham tentang istilah batu akik. Akiiiik…akiiik, begitu beruntungnya kau, digandrungi oleh banyak orang.

Selain banyak orang yang berminat akan batu akik ini, ternyata juga banyak masyarakat yang berniat untuk mempelajari bahkan medalami informasi terkait batu akik ini. Setelah mereka punya segudang informasi tentang batu akik itu, bisa dipastikan mereka, para pencinta batu akik, atau istilah kerennya gems stone itu akan berkreasi untuk mengolahnya. Sehingga bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka.

Ya, sebenarnya batu akik ini bukan hal yang baru. Aksesoris yang pada umumnya menghiasi jari jemari sebagai cincin ini, yang dulu biasanya hanya identik dengan dipakai oleh orang tua, namun sekarang menjadi tren di kalangan anak muda dan menjadi kebanggaan tersendiri. Karena batu akik ini bisa dikatakan batu yang begitu indah, bisa memancarkan warna yang beraneka ragam, dan bentuknya yang elegan membuat harga jual dari batu akik ini juga lumayan mahal. Berikut ini adalah beberapa contoh aksesoris dari akik yang harga jualnya begitu luar biasa … mungkin bagi orang yang benar-banar pencinta akik, harga segitu itu bisa jadi oke-oke saja …. Hmmm,,, saat membacannya begitu bikin bulu kuduku merinding,



Keberadaan akik antara zaman dulu dengan sekarang itu kelihatannya juga berbeda. Mungkin banyak dari kita yang pernah tahu tentang hal ini, bahwa dahulu batu akik atau batu cincin itu dikenal dari segi supranaturalnya atau sebagai jimat, he e syok tahu. Ya, mungkin setelah memakai cincin akik bisa menambah kepercayaan dirinya, atau bisa juga dapat menambah karismatik bagi yang memakainnya. Dari yang tadinnya ganteng, setelah pakai cincin itu bisa berubah jadi ireng, he e bercanda. Namun akhir – akhir ini pemburu batu akik lebih cenderung menyukai bentuk dan corak dari batu akik itu sendiri, serta keunikan dari setiap jenis batu itu. 

I think that’s all my writing, begitu lega rasannya ketika seperti disaat ini dimana saya bisa mengulunkan kata-kata yang bisa membentuk sebuah cerita. Semua beban pikiran rasannya hilang begitu saja saat apa yang kita pikirkan, bisa dengan mudah tertuangkan dalam sebuah tulisan. Memang begitu apa yang telah saya rasakan, akhir-akhir ini sebenarnya tugas kuliah sudah menumpuk, tapi rasannya ada sesutau yang masih kurang jika pikiran kita belum menyumbangkan idennya untuk di tuangkan dalan sebuah. tulisan, Ya, Meskipun masih sebatas kata-kata sederhana, sehendaknya bisa melatih diri saya untuk menumbuhkan tradisi menulis. Let Guys … We starts to writing about everything from now on? Ternyata asyik lho ...bikin ketagihan pokoknya,,, 


^__^ In Happy writing ^__^

        T. Agung, 19-5-2015



Minggu, 17 Mei 2015

Pagi Membaca

Buku yang ku baca pagi ini berjudul “everyone can be happy” karya Ade Wulan. Dalam buku ini membahas tentang seluk beluk suatu kebahagiaan, mulai dari hakikat kebahagiaan, saat kesulitan untuk menemukan kebahagiaan, resiko bagi orang yang sulit merasa bahagia, dan kisah-kisah inspiratif yang mengajak kita untuk berbahagia.

Sering sekali kita merasakan ketidakbahagiaan. Ternyata kegtidakbahagiaan itu kita alami karena kita tidak bisa menyikapi suatu keadaan dengan sikap positif. Sebenarnya ada banyak sekali hal yang yang bisa membuat manusia itu merasa bahagia, bahkan dari hal-hal kecil pun. Kita kurang bisa melihat sisi baik yang tersimpan di balik suatu peristiwa. Sehingga, hal ini mengakibatkan hati serta pikiran memunculkan rasa marah, benci, kecewa, dan sedih yang selanjutkan kita menjadi benar-benar merasa merana, dan serba salah terhadap suatu keadaan.

Tentang kebahagiaan juga telah di bahas oleh Pak. Ngainun Naim dalam bukunnya “Menipu  Setan”, beliau juga mengatakan bahwa bahagia itu harus di usahakan dan ada kemauan untuk membangun paradigm yang tepat dalam memahami setiap fenomena. Sikap semacam ini penting agar bahagia itu betul-betl hadir dalam kehidupan kita.

Dalam buku “Everyone can be happy” ini ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menghilangkan rasa tidak bahagia, yang pertama adalah tentang cara pandang, dalam hal ini kita harus mencari sudut pandang yang berbeda untuk menggali segala nilai-nilai positif agar bisa merasa bahagia. Contohnya saat kita memandang suatu musibah itu dari sudut pandang penderittaan, kita akan merasakan penderitaan sepanjang waktu. Namun jika kita memandang musibah itu dari sudut sebagai bentuk peringatan Allah, maka kita akan merasakan kebahagiaan karena Allah masih menaruh perhatian kepada kita. 

Poin yang kedua adalah belajar bersyukur, cara yang paling sederhana untuk membahagiakan hati adalah dengan bersyukur. Jadi kita harus bersedia menyukuri segala sesuatunnya yang telah ada pada diri kita. Kita tidak boleh membanding-bandingkan nikmat kita dengan orang lain.

Selanjutnya adalah rajin memberi. Sesekali boleh saja kita bisa merasa bahagia saat menerima pemberian dari orang lain. Namun jangan sampai terlena sehingga kita lupa untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain. Kita akan merasakan kebahagiaan dua kali lipat saat bisa berhasil membuat orang lain gembira dan merasa tercukupi.

Ternyata bergaul juga menjadi salah satu poin penting untuk menghilangkan rasa tidak berbahagia. Sudah menjadi hal yang lumrah sebagai manusia untuk bergaul, karena kita tidak hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Sangat tidak mungkin kita bisa hidup sendiri di muka  bumi ini. Apapun itu perlu bbantuan dari orang lain, kita tidak mengatasinnya hanya seorang diri. Bahkan pada suatu hal terkecilpun.

Yang kelima adalah optimisme. Saat hati dan pikiran kita optimis untuk mencapai sesuatu, maka hal itu akan menimbulkan target pencapaian yang bagus, semangat kita menjadi tinggi, tekad kita juga akan meningkat, sehingga apa yang kita jalani terasa mudah. Sehingga dengan optimis itu, peluang untuk memperoleh hasil yang maksimal tinggi. Jadi, optimism seseorang akan memengaruhi hasil akhir pencapaian. Makin besar rrasa optimis kita, maka peluang kita untuk merasakan kebahagiaan juga besar.

Yang terakhir adalah berani mengaku salah dan bersedia untuk mema’afkan kesalahan. Dalam hal ini, tidak ada yang benar-benar bisa merasa bahagia selama ia masih bersembunyi di balik kesalahannya sendiri. Berarti kita harus jujur untuk mengakui kesalahan kita, apapun itu. Karena mungkin hari ini orang lain tidak tahu, pasti suatu hari nanti akan ketahuan juga. Makin takut untuk mengakui kesalahan, makin banyak ketakutan-ketakutan yang akan kita hadapi nanti. Jadi kita tidak akan merasa bahagia selama ketakutan-ketakutan itu masih membayangi diri kita. Poin yang juga tak kalah penting addalah bersedia untuk mema’afkan kesalahan. Pepatah Arab mengatakan, Al-Insanu Mahalul Khoto wan Nisyan, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Jadi tak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memberi ma’af kepada orang lain. Mema’afkan orang lain bisa meluluhkan kemarahan dalam diri kita akibat kesalahan orang lain. 

HATI DAN PIKIRANMU SENDIRI. Hanya dua hal penting itu yang dapat mengeluarkanmu dari setiap rasa ketidak bahagiaan. Ketika keduannya bisa berkolaborasi dengan baik, maka kamu akan merasa hidupmu menyenangkan
Happy Morning,


T. Agung, 18-05-2015

Sabtu, 16 Mei 2015

Salam Rinduku untuk Ibu



Mother, How are You Today?



Tentang kerinduan ini memang rasannya cukup sulit untuk diartikan, dan cukup susah juga untuk diungkapkan dalam kata-kata. Tapi, saya yakin apapun itu yang terjadi pasti ada sebab dan alasannya. Saya rindu pada ibuku, secara otomatis ini terjadi karena ada penyebabnya. Saya check di dalam kamus bahasa inggris (Cambridge), arti kata rindu atau dalam bahasa inggris miss itu artinya merasakan kesedihan dikarenakan ada seseorang atau suatu hal yang tidak hadir. (to feel sad that a person or thing is not present). Ya, benar sekali, seperti itu yang kurasakan pada ibuku. Ibuku saat ini tidak hadir bersamaku, ia berada jauh dengan aku, rasannya ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya saat ini. Jadi aku sangat menanti kedatangannya dan ingin segera bertemu untuk melepaskan rasa sedih atau rinduku. Yah, begitulah kira-kira. 

Saya sangat berharap sekali akan kembali lagi apa-apa yang biasa terjadi dalam hidup saya saat bersama ibuku, entah itu suasana yang menggembirakan, yang menyedihkan, atau apaapun yang menakjubkan pada saat bersama ibu. Ku rindu itu semua, semakin tidak sabar untuk ingin bertemu. Memang saat rindu telah datang begini ini, terasa sedih, membuat diri termenung, atau bahkan bisa sampai menangis. Tapi saya yakin kesedihan ini nanti akan berujung manis, karena suatu hari nanti ada kebahagiaan yang luar biasa saat apa yang sedang saya harapkan bisa tercapai, yaitu bertemu dengan ibu. 

Mungkin apa yang sedang saya rasakan dan ibuku rasakan saat ini sama, saling rindu satu sama lain. Bagaimana tidak, kita saat ini terpisah dengan jarak yang begitu jauh dan juga waktu yang begitu lama. Dubai adalah tempat dimana saat ini ibuku sedang berada, saya juga tidak tahu persis negara itu berada di bagian mana, lokasi persisnya dimana, tetapi saya yakin jika jaraknya sangat jauh. Tidak bisa ditempuh hanya satu atau dua jam saja. 

Sudah hampir dua tahun ini ibu saya bekerja disana. Sebenarnya ia berada disana sudah bertahun-tahun, hanya saja setiap 2 tahun sekali harus pulang. Menunggu waktu dua tahun ini adalah waktu yang tidak sedikit bagi saya khususnya, dan juga bagi keluarga. Sehingga wajar jika perasaan rindu itu sering hadir dalam diri saya. Terkadang saya menghilangkan rasa rindu saya itu dengan seolah-olah bersikap cuek tentang apa yang sedang saya rasakan, saya tidak terlalu memikirkan. Aktivitas sehari-hari juga seolah kujalani dengan biasa. Selain itu, rasa rinduku pada ibu juga kuhilangkan dengan memanjatkan do’a kepada Allah, semoga ibuku selalu diberikan kesehatan serta keselamatan. Selalu berpikir positif, yakin bahwa Allah akan menjaga baik-baik ibu saya. 

Ada yang kurang lengkap rasannya jika belum tahu keadaan yang sebenarnya terjadi, untuk menghilangkan rasa kangen saya pada ibu sering saya menanyakan kabarnya lewat SMS. Itupun saya lakukan baru akhir-akhir ini karena baru tak lama ini ia bisa ngetik SMS. Sehingga dulu saya hanya bisa nunggu telphon darinnya. Sebenarnya bisa saja jika sewaktu-waktu saya kangen, lalu menelponnya, biayannya yang cukup mahal begitu enggan untuk menelpon hanya untuk menanyakan kabar. Tak jarang saya hanya miscall, dan ibu saya yang telphon balik. Karena biaya yang cukup mahal itu, hanya sedikit waktu yang bisa kami pakai untuk melepas rasa rindu itu. Jika kami sudah memberikan kabar satu sama lain cukup. Padahal banyak sekali sebenarnya yang ingin saya ceritakan pada ibu. Pengen cerita tentang ini-itu dengannya. Setidaknya tahu keadaan ibu saya yang dalam keadaan sehat bisa membuat hati saya terasa lebih lega, dan bisa sedikit mengurangi rasa rindu saya.

Saat ini tekhnologi semakin canggih. Saya menghubungi ibu saya lewat video call. Kebetulan anak asuh Ibu saya punya alamat untuk dihubungi lewat video call (Skype) ini. Sehingga saya hanya mengirim SMS ke Ibu saya untuk diberitahukan kepada anak asuhnya jika ingin memanggilnya. Dengan begini, sewaktu-waktu saya kangen kepada ibu saya, kami bisa ngobrol dengan ibu saya sepuasnya, tanpa harus membayar, cukup pake jaringan wifi. Sangat membantu sekali via ini untuk melepaskan rasa rindu saya, tak hanya bisa mendengar suarannya tapi juga bisa melihat kondisi ibu saya.

Dalam obrolan kami, Ibu hanya selalu menanyakan segala sesuau yang bersifat umum saja , misalnya menanyakan kabar, kuliahnya lancar atau tidak, dll. Ibu sepenuhnya percaya padaku bahwa saya bisa menjalaninnya dengan baik. Ia juga percaya bahwa aku bisa menjaga diri tanpa ada ibu di sebelah saya. Ibu saya tak pernah menghalangi aku untuk mengikuti segala kegiatan, selama itu baik. Sejauh ini ibu sama sekali tak mengerti tentang teman-temanku, sistem pendidikan kuliahku, matakuliah-matakuliahku, organisasiku, ataupun segala kegiatan kampus yang kujalani di bangku kuliahku ini, menanyakan nilai-nilaiku itu pun jarang juga dilakukan, sekedar memberikan kabar kalau nilainnya bagus itu saja sudah cukup bagi ibuku. 

Dalam obrolan kami, jarang saya menceritakan tentang hal-hal yang akan membuatnya sedih atau kecewa. Semua yang saya katakana jika ngobrol dengan ibu saya adalah sesuatu yang baik-baik, dan bisa membuatnya senang. Di tempat yang begitu jauh, saya berpikir tidak perlu Ibu saya tahu tentang cerita kekecewaan yang saya hadapi, misalnya IP saya turun, saya pusing mengerjakan tugas, uang saya tinggal dikit, dll. Karena kalau itu terjadi pasti ibu saya akan cemas, dan jadi beban pikirannya. Jadi, sebisa mungkin saya hindari. Meskipun kadang hal itu terjadi padaku, dan kebetulan ia menannyakan tentang hal itu, kujawab baik-baik saja meskipun saya sedang dalam keadaan bingung atau sedih atau kecewa saat itu. Dosakah aku? Ma’afkan aku mak …

Sebulan lagi Ibu akan pulang, tal sabar rasannya ingin segera melihat Ibu. Tak sabar untuk ingin segera memeluk Ibu, melihat senyum kebahagiaan dari wajah ibu. Tak sabar ingin berbicara banyak, berbicara ini-itu dengan Ibu, banyak sekali cerita pokoknya yang segera ingin kucurhatkan pada ibu. 

Salam rindu padamu mamak ku sayang, kutunggu kedatanganmu. Nice to see you  …:) :) :)
 
Renungan malam minggu,

T.Agung, 17-05-2015

ANUGERAH, KEBAHAGIAAN, DAN HARAPAN

Perasaan bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 minggu. Sedikit ada rasa tidak percaya karena ...